The Rival Beside Me

The Rival Beside Me
Pengalihan


__ADS_3

Bangkit memarkirkan motor sport nya. Terlihat Andra sudah berdiri menunggu didepan pintu sambil tersenyum sinis.


" Apa Kau benar-benar termakan perkataanku?"


Bangkit hanya memandang Andra dengan penuh kebencian.


Andra tertawa.


" Kau benar-benar sudah kembali."


" Itu bukan urusanmu. Minggirlah!" Bangkit langsung masuk kerumah tanpa permisi.


Ia mengabaikan Andra dan langsung masuk kamarnya. Lalu menyambar handuk dan masuk kamar mandi. Setelah selesai, Dia terlihat langsung istirahat. Namun matanya belum mau terpejam. Sesekai Dia memandang hpnya. Berharap ada sebuah dering panggilan dari Lala. Namun sepertinya harapan itu sia-sia. Sebuah ketukan pintu kamarnya membuat Dia beranjak dari tempat tidurnya.


" Masuk."


Terlihat Ayahnya dengan wajah tanda tanya.


" Apa yang Kau lakukan. Kenapa Kau ingin memutuskan pertunangan?"


" Aku tidak mencintainya. Aku sudah ingat semua Ayah."


" Tapi, Ini semua demi kebaikanmu."


" Untuk kebaikanku atau untuk kebaikan keluarga Kita?"

__ADS_1


" Apa maksudmu?"


" Aku sudah besar Ayah. Aku sudah mengetahui mana yang baik buatku. Jadi mohon tinggalkan Aku sendiri. Atau Aku yang akan keluar."


" Kau! Ok. Ayah akan keluar. Tapi jangan harap Ayah akan merestui Kamu dengan wanita itu."


Bangkit berjalan menutup pintu kamarnya dan membanting dirinya di atas tempat tidur. Membenamkan wajahnya di permukaan bantal.


Aku harus mengakuinya! Dan Aku harus menyelesaikan semua ini. Dan Aku tidak mau menikah dengan wanita yang tidak Aku cintai.


Bangkit terlihat berpikir sejenak. Selang lima menit, Dia langsung beranjak dari tempat tidurnya. Dan melangkah keluar kamar menuju kamar neneknya.


...***...


Lala menghembuskan nafas panjang. Ia tak dapat berpikir jernih untuk saat ini. Memang Dia sudah mengenal Bangkit. Namun faktanya Bangkit sekarang adalah sosok orang lain, Bukan teman rivalnya dulu. Bukan juga seseorang yang pernah membuatnya berharap lebih.


Sinar matahari pagi menerobos ventilasi jendela kamarnya. Lala tersentak, kemudian langsung menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Setelah selesai, kemudian pandangan matanya tertuju pada jarum jam dinding. Jam delapan lewat sepuluh menit.


Lala buru-buru mengambil kunci kendaraannya dan menuju kantor.


Begitu sampai kantor, Lala langsung buru-buru ke ruangannya dan menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu ruangan kerjanya.


" Silahkan masuk." Ucap Lala.


Pintu terbuka dan diambang pintu muncul Bangkit. Perhatian Lala segera tertuju pada pria yang melangkah masuk ruangannya saat ini.

__ADS_1


Saking syoknya, jantung Lala rasanya mau copot.


" Kau? Ada perlu apa?"


" Aku menggantikan Andra disini."


" Apa maksudmu?"


" Maksudnya, Aku mengambil alih kepemimpinannya disini. Nenek sudah mengizinkan."


" Lalu Kakakmu?"


" Kakakku? Kenapa? Apa Kau merindukannya?"


Lala tersenyum masam.


" Bukan itu maksudku."


" Tentu saja Kakakku senang dengan kebebasannya. Dia paling tidak suka mengurus urusan perusahaan seperti ini. Jadi mana laporan bulan ini. Aku ingin menganalisisnya." Pinta Bangkit membuat Lala langsung gelagapan mencari laporan bulanannya.


" Ini Pak." Lala langsung menyodorkan sebuah dokumen.


" Ok. Thanks you very much. Dan tidak usah formal seperti itu. Aku sudah mengingat semuanya La." Ucap Bangkit. Setelah berkata demikian, Bangkit melangkah keluar dari ruangan Lala.


Lala benar-benar syok. Sorot matanya penuh dengan pertanyaan. Ada firasat tak nyaman di hati Lala. Lala jadi termenung.

__ADS_1


...To be Continued...


__ADS_2