
Pagi-pagi Lala terlihat buru-buru. Dia habis dari rumah sakit dahulu. Sampai dikantor Dia langsung melangkahkan kaki menuju ruangannya. Saat mau membuka pintu, Pak Rio memanggilnya.
" La, Ada yang mau bertemu dengan Anda?"
Lala terlihat bingung dan melirik jam ditangannya. Waktu masih menunjukkan pukul 09.00 pagi.
" Siapa Pak?"
" Pak Andra, Beliau menunggu diruangannya." Jelas Pak Rio sekaligus menunjukkan ruangan diseberang ruang kerja Lala. Lala terlihat terkejut dan baru Lala tahu. Ruangan Andra ternyata disitu.
Lala langsung mengetok pintu.
" Masuk."
Lala langsung masuk ruangan. Terlihat Andra masih serius dengan laporan-laporan akhir tahun yang baru dibahas kemarin.
" Selamat pagi Pak. "
" Pagi. Bagaimana dengan laporan anggaran awal tahun ini. Apa sudah disusun?"
" Sudah Pak. Tinggal Saya cetak dan laporkan ke Bapak dan Pak Ridwan." Jelas Lala.
" Apakah Kamu sudah bertemu Adikku?" Pertanyaan Andra membuat Lala terkejut.
" Saya disini membahas pekerjaan. Bukan masalah pribadi. Kalau tidak ada masalah pekerjaan lagi. Saya pamit keluar." Ucap Lala.
" Tunggu!" Pinta Andra sebelum Lala beranjak dari ruangannya.
" Bagaimana keadaan Ayahmu?"
Lagi-lagi Lala terkejut.
" Masih tahap pemulihan. Bagaimana Anda mengetahuinya?"
Andra tersenyum. Lala berpikir sejenak dan menerka-nerka.
" Apakah Anda yang membayar administrasi rumah sakit itu?"
Andra menganggukkan kepala.
" Berapa no.rekening Anda? Biar Saya ganti." Ucap Lala tidak ingin berhutang budi.
" Tidak perlu. " Andra menggelengkan kepala.
" Saya tidak ingin berhutang budi dengan orang lain."
Andra tersenyum.
" Tentu saja, Saudari Lala tidak perlu berhutang budi. Karena semua didunia ini tidak ada yang gratis bukan?" Tanya Andra sangat ambigu. Lala jadi tidak mengerti maksud Andra.
" Saya ingin menukar dengan tubuh Anda." Tambah Andra dengan senyuman yang sulit diartikan.
Lala langsung terlihat emosi.
" Maaf. Saya tidak semurahan itu." Tegas Lala.
__ADS_1
" Anda pasti salah paham. Saya hanya ingin Anda berpura-pura menjadi kekasihku, tidak lebih." Jelas Andra.
" Tidak! Saya tidak bisa!" Lala lagi-lagi menegaskan ke Andra.
Andra tersenyum.
" Ok. Sekarang Aku tidak mau basa basi. Aku mengetahui masalah keluargamu. Ibumu membuat bangkrut restoran keluarga kan? Dan itu yang membuatmu bekerja keras karena kebangkrutan restoran keluarga Kalian. Aku bisa membantu melunasi semuanya. Dengan syarat beraktingnya menjadi kekasihku." Jelas Andra panjang lebar.
" Tetap tidak!" Tegas Lala menolak tawaran Andra.
" Aku bisa membuatmu keluar dari perusahaan ini." Tegas Andra sudah mulai kesal.
" Apa hakmu? Bukannya saham Kalian 50 banding 50?"
Andra tertawa.
" Aku bisa menjadikan 100. Kata persahabatan yang membuat Ayahku hanya membeli 50 persen saja Nona Lala." Jelas Andra membuat Lala terancam.
Lala memutar otak, Namun pikirannya buntu. Bagaimanapun juga dirinya sangat terpojok. Semua ini tidak sesuai rencananya sama sekali.
" Bagaimana? Berpikirlah untuk menerima tawaranku." Andra menatap Lala dengan tatapan tidak bisa diartikan.
" Kenapa Kamu memilih cara ini untuk mengancamku?"
“Oh, itu karena nenekku. Dia sakit dan ingin melihatku terikat dengan seseorang.” Cerita Andra dengan wajah menyakinkan.
" Nenek sakit?"
Andra menganggukkan kepala.
Lala menyerngitkan dahinya, masih terlihat bingung dengan ancaman Andra kali ini. Keluar dari kandang Singa. Nyatanya masuk ke kandang harimau. Pikirannya kacau, bagaimana bisa Dia berpura-pura menjadi kekasihnya Andra didepan keluarganya. Dan pastinya didepan Bangkit. Namun Nenek Mereka dulu sangat baik terhadap Lala. Bagaimanapun Lala merasa iba mendengar Beliau sakit.
"Ok."
Akhirnya perjanjian hitam diatas putih, Mereka buat.
Flash back
Bangkit mengendarai mobil sportnya yang berwarna hitam. Sedangkan Andra mengendarai mobil sportnya yang berwarna putih. Mereka berdua sama-sama mendapatkan pesan dari Nenek Mereka.
“Datanglah tepat pukul 15.00. Ada yang penting. Kalau kalian tidak datang, Aku akan menahan kartu kredit Kalian dan mengubah ahli waris selanjutnya.”
Dua mobil mewah pun bersamaan datang ke parkiran rumah. Dan dua pria yang terlihat seperti cucu berbakti masuk ke dalam rumah. Terlihat Ayah, Ibu Mereka ada didalam sedang pesta melirik keduanya yang masuk bersamaan. Keduanya bertemu dengan seorang Nenek yang sudah menunggu disebuah ruangan. Akhirnya semuanya duduk dengan cara terpisah dan memegang sebuah kartu undangan ulang tahun ditangan. Bangkit tak percaya hanya karena semua ini, maka Neneknya bisa mengancam untuk menahan kartu kreditnya. Andra mengeluh kalau Dia harus membatalkan rencana kencannya hari ini karena ancaman Neneknya.
“Karena kalau bukan begitu, Aku takkan bisa melihat kalian berdua sekaligus.” Kata Nenek Mereka.
Bangkit dan Andra saling memalingkan muka.
" Datanglah Kalian dengan pasangan. Terutama Kamu Andra. Jangan main-main terus dengan wanita. Atau Hak waris dialihkan semua." Ancam Nenek membuat Andra memutar otaknya.
Flash Back off
Lala memejamkan matanya. Dia terlihat gelisah. Bagaimanapun juga, Dia pasti akan bertemu dengan Bangkit. Orang yang ingin Dia jauhi untuk saat ini dan selamanya.
Andra terlihat sudah menjemputnya sesuai perjanjian. Andra langsung menuju ketempat acara. Lala terlihat bingung.
__ADS_1
" Memangnya rumah sakit mana?"
Andra terlihat bingung. Lupa, Kalau Dia telah berbohong.
" Kebetulan Nenek sudah pulih dan meminta acara ulang tahunnya."
" Ulang tahun?"
Andra menganggukkan kepala.
" Aku tidak bawa apa-apa."
" Tenang saja. Kamu pasti kado terindah baginya. " Ucap Andra.
Tidak selang lama Mereka sampai ditempat tujuan. Terlihat semua keluarga besar hadir. Bahkan semua kolega juga hadir. Bangkit dan Devina terlihat terkejut melihat Lala.
" Selamat malam." Sapa Lala mencoba tetap sopan.
" Kamu?" Devina terlihat mau emosi.
Namun Andra disampingnya.
" Jangan buat ulah dengan wanitaku." Jelas Andra membuat Devina tidak berkutik.
Bangkit tersenyum sinis dan menatapnya dengan penuh tanda tanya. Lala mengalihkan pandangannya.
" Ayo! Nenek pasti senang melihatmu." Ajak Andra membuat Bangkit menahan emosinya.
Sedangkan Devina menatap dengan tatapan kesal.
" Wanita tidak tahu diri. Tidak kena adiknya. Ternyata ngejar kakaknya." Gerutu Devina lalu menggandeng Bangkit.
Nenek terlihat terkejut.
" Lala?"
" Iya Bu."
" Formal sekali. Panggil saja Nenek. Jadi Kamu ternyata dengan Andra?" Nenek terlihat bahagia.
Andra terlihat bangga. Sedangkan Lala langsung berpura-pura tersenyum.
" Kamu membohongiku." Bisik Lala ditengah-tengah acara. Karena Nenek terlihat sangat sehat.
Andra merasa tidak bersalah sama sekali.
Dua jam berlalu,
Lala merasa penat dikeramaian orang-orang. Dia pun keluar menuju halaman. Berjalan didekat kolam dan taman ikan.
“Apa kau datang jauh-jauh ke sini karena uang? Apa kau seputus asa itu?” Suara Bangkit tiba-tiba terdengar dibelakang Lala. Lala membalikkan tubuhnya, menatap ke Bangkit. Lala ingin membantah tuduhannya. Namun Bangkit terlihat memberikan uang dan menjatuhkan didepan wajah Lala. Lala menatap Bangkit, Dia menahan air matanya yang terlihat sudah mulai berkaca-kaca. Lala benar-benar tidak mengenali Bangkit yang sekarang. Sangat berbeda dengan Bangkit yang dahulu Dia kenal.
“Bangkit! Jangan menghina calon tunanganku!” Suara Andra tak terduga mendekati Mereka.
“Kau bilang calon tunangan?” Tanya Bangkit menatap sinis.
__ADS_1
Keduanya akhirnya saling menatap dan siap berkelahi. Lala berteriak menyuruh keduanya berhenti lalu memilih untuk keluar dari acara tersebut.
To be Continued