The Rival Beside Me

The Rival Beside Me
Terjebak dalam Kondisi


__ADS_3

" Kamu benar-benar hanya rivalku dimasa lalu. Tidak lebih dari itu." Jelas Lala berusaha menyakinkan Bangkit.


" Benarkah? Tapi kenapa Kau begitu mengingatku? Apa Kau menyimpan perasaan terhadapku dulu?"


" Sama sekali tidak." Lala berbohong.


Bangkit tidak begitu mudah mempercayainya. Di masih memandang mata Lala penuh selidik.


" Kamu, ... "


Namun perkataan Bangkit terpotong karena getaran ponsel disaku jasnya. Bangkit ingin mematikan teleponnya. Namun, disaat Dia melihat siapa yang meneleponnya. Dia pun memutuskan untuk menjawabnya.


Bangkit pun segera menggeser simbol telepon dilayar hpnya. Lalu Dia mendekatkan hpnya ke telinganya.


" Akhirnya Kamu menjawab." Suara Ayahnya.


" Ada apa Ayah?"


" Harusnya Ayah yang tanya, Kamu dimana? Kata Andra Kamu sudah pulang dadi USA." Ayahnya bicara panjang lebar.


" Aku membantu Om David. Menggantikan tugasnya sementara sekaligus belajar."


" Kamu terlalu bucin sama Devina. Perusahaan Ayahmu sendiri tidak Kamu bantu." Omel Pak Sanjaya.


" Maaf Ayah, Aku bukan bucin. Aku hanya penasaran dengan perusahaannya Om David yang biasa dibangga-banggakan Ayah."


" Jadi Kamu sampai diam-diam dan menginap di apartement?"


" Aku hanya belum ingin ketemu Kak Andra."


Lala terlihat terkejut mendengarnya.


' Andra?'


Lala langsung menyelinap keluar dari ruangan disaat Bangkit terlihat sibuk teleponan.


Bangkit langsung melirik melihat ke arah tempat duduk. Lala sudah tidak ada. Dia langsung mengambil remote jendela otomatis ruangannya. Dan Lala sudah terlihat duduk ditempat kerjanya.


"Sial. Cepat sekali." Celetuk Bangkit spontan.


" Anak kurang ajar. Pakai acara bilang sial ke Ayahnya." Nada kesal terdengar dari suara Ayahnya.


" Bukan Ayah. Maksudnya..."


" Ayah tidak mau tahu. Hari ini juga pulang kerumah. Nenekmu sudah sangat khawatir."


Telepon langsung ditutup.

__ADS_1


Bangkit terlihat kesal dan menutup jendela ruangan kerjanya kembali.


' Mungkin dengan Aku pulang. Ingatan-ingatan yang hilang bisa kembali secara penuh.' Pikir Bangkit menyemangati diri sendiri.


Lagi-lagi bunyi hpnya berdering namun bukan dari Ayahnya melainkan dari Devina.


...***...


Lala melamun, pikirannya sedang tidak fokus.


Bagaimana bisa Dia seakan dikembalikan ke posisi masa lalunya. Dimana Dia tidak menginginkan Bangkit ada dalam kehidupan selanjutnya setelah lulus kuliah. Walaupun Dia sempat merasa kehilangan saat mengetahui kehidupan broken home yang Bangkit alami. Sampai balapan liar menjadi hobinya. Namun faktanya saat ini sepertinya lebih baik. Bangkit lebih dewasa dan fokus dalam menghadapi kehidupan.


Lala berpikir sejenak, bagaimanapun juga Dia tidak ingin menjadi pihak ketiga dalam hubungan Bangkit dan kekasihnya itu. Menghilang dari perusahaan saat ini adalah jalan yang terbaik. Lala langsung mengemas barang-barangnya. Dia melirik ke jendela ruangan Bangkit yang tertutup.


Sebuah nota Dia tinggalkan diatas meja beserta surat pengunduran diri, yang belum ditandatangani oleh Bangkit selaku pengganti Pak David sementara. Lala melangkahkan kaki. Dia menuju ke Vira dan sahabat-sahabat kantornya untuk berpamitan.


" Kak Lala..." Semua merasa tidak rela.


Lala melambaikan tangan lalu menuju ke lift dan basement tempat mobilnya terparkir.


Dia menelepon Sani sesuai perjanjian Mereka. Bahwa Mereka akan bertemu untuk membahas tentang usaha impian Lala.


Lala langsung menuju tempat perjanjian Mereka.


" Lala! Hey." Panggil Sani yang sudah memesan meja.


Lala tersenyum dan menghampiri Sani.


Lala terkejut. Namun nasi sudah menjdi bubur. Dia sudah terlanjur resign juga dari perusahaan.


" Jadi pendanaan investasi yang Ayahku miliki. Itu 50 persen saja, 50 persennya punya Sanjaya Group yang kebetulan saat ini dipegang oleh Andra." Jelas Sani.


" Jadi begini, Mau tidak mau Kamu kerja sama dulu dengan Andra. Dan kalau Kamu mau 100 persen. Jadilah kekasih Andra. Menurut Ayahku Andra orang yang royal dan bucin kalau Kamu bisa menaklukkan dirinya. Namun ternyata Dia tidak suka berkomitmen."


" What???" Lala terkejut setengah mati mendengar hal gila dari Sani.


" La, Andra itu tidak bakalan mau berkomitmen. Kalau Kamu bisa menaklukkan Dia demi investasi 50 persen itu. Why not?"


" Setelah itu?" Lala tidak tahu jalan pikiran Sani


" Tinggalkan." Saran Sani membuat Lala gila.


" You are very crazy." Lala mengomel.


" Itu namanya mengorbankan diri dikandang harimau. " Tambah Lala.


" Belum lagi bertemu adiknya. Sepertinya Aku cari solusi lain saja San. Itu bukan ide yang bagus." Lala memegang keningnya. Jelas Dia terlihat bingung. Faktanya rencana kadang memang tidak sesuai dengan keinginan.

__ADS_1


" Maafkan Aku La. Aku benar-benar tidak tahu asal pendanaan yang dimaksud Ayahku. Pantas saja waktu itu menjodohkan Aku dengan Andra." Keluh Sani.


Lala berpikir kembali. Pikirannya tiba-tiba kacau. Belum lagi masalah Ibu tirinya yang membuatnya tambah kacau. Setelah membuka restoran dan bangkrut.


Flash Back seminggu yang lalu.


Lala pulang kerja. Dia terlihat lelah.


" Ada yang ingin kubicarakan denganmu."


Lala duduk seraya mendengarkan.


" Apa itu ?"


" Pak Bagas melamarmu."


Lala terlihat syok.


" Aditama Group itu besar loh La." Tambah Ibu tirinya.


Ibu tirinya, sekali lagi membujuk Lala untuk menikah dengan duda kaya raya. Namun Lala masih tetap pada jawaban yang sama, menolaknya. Ibu tirinya mengata-ngatai. Sebagai seorang anak, Lala harusnya menunjukkan bakti kepada orang tuanya. Hingga akhirnya kata yang seharusnya tak terucap atau bisa dikatakan sengaja diucapkan terlontar.


" Kau hanya anak adopsi Lala, Jadi berbaktilah pada Ayahmu."


“Aku juga belum lama ini mengetahuinya La. Ibumu menemukanmu di suatu tempat." Ucap Ibu tirinya mulai menjelaskan.


“Aku? Dimana?” Tanya Lala. Kemudian berusaha tertawa. Seolah itu tidak benar.


“Ibu pasti sengaja mengatakan ini agar Aku mau menikah dengan pilihan Ibu.” Tambah Lala.


“Baiklah jika itu yang Kamu pikirkan. Ambil saja rambut Ayahmu dan lakukanlah tes DNA. Apa Kamu tidak ingat saat bertanya perihal tentang dirumah sakit mana Kamu dilahirkan? Ayahmu terlihat tegang dan tak bisa menjawabnya. Aku terus menanyakan hal tersebut dan akhirnya Dia mengakuinya” Jelas Ibu tirinya.


Lala melangkah ke dalam kamarnya dengan langkah berat. Sebuah cerita yang tak masuk akal baru saja didengarnya. Ini pasti tidak mungkin, semuanya hanya omong kosong belaka yang sengaja diciptakan Ibu tirinya untuk menggoyahkan hatinya. Tapi kenapa semuanya terasa nyata. Bahkan Ayahnya sekarang terlihat berbeda. Dia lebih percaya dengan kata-kata Ibu tirinya.


Flash back the end.


" Sepertinya Aku ikuti saranmu saja. " Tiba-tiba pikiran Lala menjadi dangkal.


" Kamu yakin?" Sani tidak ingin Lala menyesali keputusannya.


Lala mengangguk penuh keyakinan.


" Ok kalau begitu besok Kau temui Ayahku dikantor. Aku akan menemanimu." Jelas Sani.


Setelah makan, Mereka langsung pulang.


Rasa stres membuat Lala sejenak mampir ke sebuah taman dipinggir kota dekat pantai. Berkali-kali hpnya berdering. Namun Lala tak menghiraukannya. Dia duduk dipinggir pantai. Rasa lelah dan jenuh membuat Lala merasa ingin menyerah. Rasanya Dia seperti sendirian di dunia ini. Tiada yang mengerti akan dirinya.

__ADS_1


Sesimpul senyum mekar diwajahnya, kala Dia melihat senja tepat dihadapannya. Rasanya Dia ingin kembali ke masa-masa kecil. Dimana Dia tidak mempunyai beban kehidupan. Namun sekarang timbul pertanyaan dalam benak diri Lala. Siapa orang tua kandungnya?


To be Continued


__ADS_2