The Rival Beside Me

The Rival Beside Me
Curahan Hati


__ADS_3

Setelah selesai makan. Bangkit menawarkan diri untuk mengantar Lala pulang.


" Dimana alamatmu?"


" Jl.Mawar No.08."


Bangkit membelokkan mobilnya menuju jalan mawar. Dimobil tiada percakapan apapun. Hening dan sunyi. Sesekali Lala terlihat main hp dan menjawab chat-nya Sani.


Bangkit sesekali melirik Lala. Namun Lala terlihat sibuk dengan hpnya. Akhirnya Bangkit menghentikan mobilnya tepat didepan rumah.


Lala langsung membuka pintu mobil.


" Terima kasih Pak." Ucap Lala.


" Sama-sama." Bangkit tersenyum dan membelokkan mobilnya kembali menuju jalan raya.


Lala masuk rumah. Ibunya bertanya-tanya.


" Itu putra sanjaya kan? Yang dulu itu?


Lala menganggukkan kepalanya.


" Lama sudah tidak terlihat."


" Dia kuliah diluar negeri."


Ibu tirinya tersenyum penuh kelicikan.


***


Pagi ini Lala sudah memakai mobilnya sendiri. Dia mengendarai sampai basement gedung kantornya.


Lala keluar dari mobilnya dan langsung menuju ke tempat finger print. Setelah itu melangkah menuju lift. Dia bertemu Vera.


" Pagi La."


" Pagi."


Mereka masuk ke lift bersama. Lalu menuju ke devisi masing-masing.


Lala langsung duduk di tempat kerjanya seraya merapikan dokumen yang terlihat tidak rapi. Bangkit terlihat baru datang. Dia tersenyum dan menyapa Lala, dan langsung masuk ke ruangan.


Lala hanya terlihat balik menyapa dan sedikit memperhatikannya.


Seraya bertanya-tanya.


'Benarkah Dia lupa atau amnesia? Aiish lama-lama Aku disini tidak serius bekerja kalau memperhatikannya terus.' Pikir Lala kembali fokus berkerja.


Suara telepon kantor dimeja Lala berdering.


" Hallo Pak. Ada yang bisa Saya bantu?"


" Tolong bawakan schedule bulan ini ke ruanganku."


" Ok Pak."


Lala meletakkan gagang telepon ditempatnya.Lalu Dia mengambil buku schedule  selama seminggu ini.


Lala beranjak dari tempat duduknya.


Dia mengetok pintu sebelum masuk keruangan.


" Selamat pagi Pak."


" Pagi. Silahkan masuk."


Lala masuk dan langsung menyerahkan buku schedule yang diminta.


" Ini jadwal yang Anda minta."

__ADS_1


Entah mengapa tiba-tiba detak jantung Yoona abnormal dari biasanya.


" Terima kasih." Ucap Bangkit seraya mengambil buku schedule.


" Sama-sama. Apa ada yang bisa Saya bantu lagi?"


" Untuk sementara belum."


" Kalau begitu Saya kembali ke tempat kerja."


" Ok."


Lala langsung  keluar dari ruangan tersebut.Dia terlihat langsung menghempaskan tubuhnya di tempat duduk.


'Mengapa Aku jadi salah tingkah saat didekatnya. Aneh.' Batin Lala berkecambuk gelisah dan resah sendiri.


'Bangkit tak mengenaliku lagi. Ini sungguh menyakitkan buatku. Ada apa sebenarnya? Ini sungguh tidak masuk akal.' Lagi-lagi batin Lala tidak stabil.


Lala mencoba kembali fokus ke kerjaannya. Tapi rasanya tak bisa.


Lagi-lagi telepon dari Bangkit berdering.


" Hallo Pak. Ada yang bisa Saya bantu?"


" Siapkan semua dokumen untuk bertemu clien hari ini. "


" Ok."


Lala langsung menyiapkan semua dokumen dan memasukkan ke dalam tas. Sesekali melihat pintu ruangan yang belum terbuka.


Akhirnya Bangkit terlihat keluar dari ruangan tersebut.


" Ayo! " Ajaknya seraya masih membenarkan tali tas rangselnya.


Bangkit terlihat melangkah dengan tenang dan menatap Lala untuk mengikutinya.


Mereka akan bertemu investor. Bangkit sepertinya sudah mulai lihai dalam pekerjaannya.


" Tidak bisakah Kau disampingku Nona Shabila?" Bangkit menoleh dan menatapnya.


" Maaf Pak."


Lala sedikit berlari kecil untuk sampai disampingnya.Mereka sampai area parkir.


Lala masuk ke dalam mobilnya. Dan suasana ini sudah tak asing lagi baginya. Sepertinya bau parfum kesukaan Bangkit mendominasi didalam mobilnya.


Lala melirik kearahnya.


Terlihat Bangkit yang sedang serius menyalakan mobilnya.


"Sebelumnya Kau dibagian divisi apa?" Bangkit membuka keheningan diantara Mereka


" Manager personalia."


Lala menjawab seperlunya.


" Ok. Aku harap kita bisa menjadi patner kerja yang baik. Dan Kau jangan terlalu formal denganku. Aku tidak suka terlalu formal dalam bekerja. " Jelas Bangkit seraya tersenyum.


Dan lagi-lagi detak jantung Lala abnormal dari sebelumnya.


" Ok." Ucap Lala


Mereka terdiam kembali. Bangkit terlihat sesekali melihat hpnya yang sering berdering. Tapi sepertinya enggan untuk mengangkatnya.


" Wanita yang tak mengerti kesibukkanku. Sungguh menyebalkan. Sangat merepotkan." Gerutunya.


Lala terkejut. Wanita? Berarti Dia memang benar calon menantunya Pak David.


" Apa Kau sudah mempunyai kekasih? " Pertanyaan Bangkit membuat Lala sedikit tidak nyaman.

__ADS_1


" Belum."  Lala menggelengkan kepala seraya tersenyum sopan pada Bangkit.


" Really ? I don't believe It . Kau cantik. Kau pasti berbohong padaku." Bangkit sungguh tidak percaya.


"Aku masih suka kesendirian. "Ucap Lala menyakinkan dan terkesan kaku karena pertanyaan itu.


" Apa Kau mempunyai masalah masa lalu dan membuatmu memilih sendiri?" Bangkit kelihatan benar-benar penasaran dengn kehidupan pribadi Lala saat ini.


" Iya." Lala mengganggukkan kepalanya. Berharap tidak ada pertanyaan lagi.


Bangkit sedikit terkejut dengan pengakuan Lala. Dan sedikit meliriknya lalu fokus menyetir kembali.


" Boleh Aku tahu apa masalahmu? Setidaknya sebagai patner kerja. Tidak masalah bukan kita saling berbagi cerita." Bangkit mencari alasan untuk pertanyaannya. Mencoba berkata lebih hati-hati terhadap Lala sepertinya.


Lala berpikir sejenak. Rasanya tidak masalah jika Dia sedikit bercerita. Sepertinya ini bisa mengurangi beban perasaannya.


" Ok. Aku rasa tidak masalah jika Aku menceritakannya. Dulu Aku belum pandai menilai sebuah rasa. Dan Aku kehilangan orang yang kucintai ." Jelas Lala .


" Lalu apa hubungannya ceritamu itu dengannya. Kau masih memilih sendiri sampai saat ini? " Sepertinya Bangkit semakin penasaran


" Iya karena Aku sadar mencintainya, Setelah Dia menghilang dari kehidupanku ."


Lala benar-benar mengeluarkan isi hatinya dan itu rasanya melegakan.


Walaupun kepada orang yang terbilang baru dikenal Lala.  Tapi setidaknya itu yang membuat Lala merasa nyaman mengatakan perasaannya.


Bangkit terlihat sangat terkejut dengan kejujuran Lala.


" Benar-benar stupid."


" What do you said?"


" You are very stupid." Jelas Bangkit.


"Up to You." Lala kesal.


Lala memalingkan muka ke arah jendela. Dia merasa kesal dengan pernyataan Bangkit. Bagaimana bisa, Dia dianggap bodoh dengan sikapnya.


Bangkit melirik Lala.


" Are you Ok?" Tanya Bangkit.


" No!!!" Lala membuang muka.


Bangkit langsung tertawa.


" Lucu dan unik." Tambah Bangkit


Lala diam. Males rasanya Dia merespon Bangkit.


Perjalanan yang cukup lama. Akhirnya Mereka sampai disebuah perusahaan cukup ternama.


" Pak Jay. Silahkan masuk! Mr.Brian sudah menunggu Anda." Seorang sekretaris mempersilahkan Mereka masuk.


Ruangan yang cukup elegan untuk sebuh kantor. Lala memperhatikan dengan kagum.


" Good afternoon Mr.Brian. "


" Good afternoon bro. Please, Come in!"


Mr. Brian terpana melihat Lala.


" She looks beautiful. Who she is? Are you girls friend?" Tanya Mr.Brian penasaran.


" No Sir. He is my friend. Just friend." Jelas Bangkit.


Meeting Mereka dimulai dengan sebuah presentasi, tentang proyek baru apartement yang akan dibangun.


Satu per satu Lala menjelaskan dengan detail. Bagaimana apartement akan dibangun dipinggir laut. Dengan nuansa pemandangan laut. Apalagi ditambah fasilitas lengkap disekitar apartement. Ada mall, bioskop, tempat perbelanjaan, taman dan fasilitas lainnya.

__ADS_1


" Ok. That's a great idea. I like it." Mr Brian menyetujui untuk investasi.


To be Continued


__ADS_2