
Pakaian yang Tamayra kenakan sangat berbanding jauh dengan pakaian yang biasa orang lain kenakan. Tamayra mengenakan pakaian yang mirip seperti laki-laki. Lebih tepatnya, seperti seorang Prajurit.
"Menjawab Ayahanda, Tamayra tidak ingin acara di Balai Kota menjadi kacau. Sehingga, Tamayra meminta bantuan kepada Prajurit yang menolong Tamayra. Kenapa mengenakan Pakaian ini, karena bagian lengan kanan Tamayra terdapat luka." jawabnya.
Mendengar kata terluka, Sang Ratu segera berdiri. "Siapa yang melukaimu, Penggal Badit itu!"
Ucapannya membuat semua orang tidak berani bernapas. Terasa sekali aura kemarahan yang diberikan oleh sang Ratu.
Raja tahu apa yang terjadi dan memutuskan untuk mendekati orang yang sangat dicintai. Dibelai rambut sang Ratu dan kemudian Raja memberinya sebuah senyuman.
"Tenanglah, kita akan mencari tahu siapa dan mengapa semua ini terjadi. Duduklah, Permaisuriku."
Mendengar dan mendapatkan perhatian dari Raja membuat Ratu mengangguk. Dia segera kembali ke kursi miliknya dengan wajah serius.
Sedangkan di tempat duduk yang lain, Selir Vian-Ji mengeluarkan keringat karena tidak tenang dan takut tertangkap basah.
Tidak hanya dirinya, Selir yang ikut bergabung juga mulai merasa ketakutan. Tapi, tidak dengan Selir Fa-Nay yang duduk tenang dengan memperhatikan yang terjadi.
Setelah melihat Permaisuri yang dicintai duduk kembali, sang Raja mulai fokus pada permasalahan yang ada.
"Putriku Tamayra, bisakah kau menunjukkan luka mu?" tanya Sang Raja.
Tamayra mengangguk dengan cepat, "tentu."
Dengan perlahan, Tamayra membuka kain yang menutupi lengan kanannya. Setelah itu, lengan kanannya tampak jelas hingga memperlihatkan bagaimana Badit itu melukainya.
Darah yang mengalir membuat keanehan terjadi didalam ruangan. Tamayra yang meletakkan kain dari penutup lukanya segera tertegun. Dia melihat mata semua orang merah menyala.
Tidak hanya Tamayra, Lestayra dan Melyra juga merasakan hal yang sama. Mereka melihat semua orang begitu memperhatikan luka tersebut.
"Kenapa?" benak Lestayra.
"Mereka seperti hewan buas!" benak Melyra.
Tamayra meneguk salivanya dan merasa takut dengan pandangan mereka. Tiba-tiba ada bayangan dari pikiran yang muncul. Tamayra merasa seperti pernah melihat semua ini.
Disaat suasana yang sudah penuh keheningan dengan hausnya tenggorokkan. Sang Raja segera membuka suara.
__ADS_1
"Panggilkan Salah satu, Pemimpin Badit itu!"
Ketegangan segera teralihkan dan pengawal bergegas pergi membawa Badit yang merupakan sang pemimpin.
Badit itu terikat dan berlutut di depan Raja. Kepalanya menunduk dan ada beberapa luka ditubuhnya.
"Katakanlah, siapa yang menyuruh kalian melakukan semua ini. Aku, akan memaafkan kalian jika kalian mengatakan yang sebenarnya."
Perkataan Raja sangat tegas tapi mengandung rasa kewibawaan dan pemaaf. Tapi, Badit yang merupakan pemimpin itu menggeleng kepala dan menjawab.
"Tidak! Aku tidak akan mengatakannya."
Jawaban dari Badit membuat semua pengawal mengerahkan pedang mereka ke lehernya. Siap memenggal kepalanya kapan pun.
Mendengar penolakkan itu, Raja melihat kearah Prajurit bertopeng yang dia punya. "Lev, Kemarilah."
Prajurit bertopeng yang menolong Tamayra segera melangkah ke tengah Aula. Dia berdiri dibelakang bagian samping kanan Tamayra.
Tamayra yang melihat kedatangannya berbenak, "Jadi, namanya Lev?"
Melihat Prajurit kesayangaan semua orang berdiri di tengah Aula. Raja mulai membuka suaranya lagi.
Prajurit bertopeng dengan nama Lev, segera menjawab.
"Menjawab Yang Mulia, Hamba sedang berada di luar untuk memeriksa keadaan. Hamba sadar bahwa ada satu kereta kerajaan yang belum tiba.
Karena tidak ingin membuat keributan, Hamba mencari keberadaan Kereta tersebut dengan mengingat aromanya."
Lestayra dan Melyra yang duduk dibagian kanan Aula berbenak bersamaan,"Kereta ada bau?"
"Di hutan bagian selatan, Hamba menemukan bahwa Putri Tamayra sudah diserang dengan kumpulan Badit ini. Lalu, Prajurit yang lain dalam keadaan sekarat karena kalah menghadapi mereka."
Raja mengangguk dan wajahnya serius mendengar setiap perkataan yang Prajurit Bertopeng ucapkan.
"Hamba memohon maaf kepada Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu. Hamba telah membuat Putri Tamayra menganti pakaiannya. Hamba mohon maaf karena bertindak sendiri."
Apa yang Lev katakan dimengerti semua orang. Tidak ada yang ingin Acara di Balai Kota bermasalah. Apa lagi, masalah sepele tapi penting untuk perasaan Raja dan Ratu.
__ADS_1
"Tidak masalah, sangat terbantu dengan tindakkanmu yang cepat itu. Tapi Lev, apakah dirimu yakin bahwa ini semua karena perbuatan seseorang?" tanya Raja.
Sebelum kembali ke Istana. Prajurit Lev menjelaskan semua peristielwa yang dialami oleh Tamayra. Sebab itulah, Tamayra terkejut ketika tiba di kereta dan Sang Ratu ingin mengajaknya berbincang.
Mendengar pertanyaan Raja. Tamayra yang sedari tadi diam, memutuskan untuk berpikir. Dia tidak merasa ada yang salah dengan perjalanannya. Hanya, ada satu hal yang membuatnya penasaran.
Lirikkan mata Tamayra tertuju ke arah Selir Fa-Nay yang tampak tenang. Dia merasakan perasaan yang aneh. Ada keraguan dan keyakinan didalam hatinya.
"Tidak mungkin seorang Selir berbuat hal seperti ini," benak Tamayra.
"Menjawab Yang Mulia, Hamba tidak bisa meyakinkan semua ini dengan baik. Tapi, satu-satunya yang membuat Badit ini berani bertindak, itu pasti karena perbuatan seseorang. Mungkin, ada yang membayar mahal untuk hal ini." jawab Prajurit Lev.
Raja mengangguk dan segera mengangkat tangannya tanda untuk Prajurit Lev, bahwa ucapannya dan penjelasannya diterima.
"Tetua, aku mengharapkan kalian menyelidiki kasus ini. Itu lebih baik daripada kita mengunakan cara yang tidak berbelaskasih." ucap Raja setelah memahami semua yang terjadi.
Tetua segera mengangguk kepala mendengar perintah dari Sang Raja.
Disaat semua urusan yang mulai usai itu, Selir Fa-Nay berdiri. "Yang Mulia, Fa-Nay memohon izin untuk berbicara." ucapnya.
Keadaan tenang seketika berubah karena perkataan dari Selir Fa-Nay.
"Silahkan," sahut Raja.
Selir Fa-Nay tersenyum dan segera menatap Tamayra. "Putri Tamayra, apakah kau tidak penasaran dengan apa yang terjadi? Aku ingat dengan jelas bahwa Kau berangkat terlebih dahulu dari Putri Lestayra dan Putri Melyra."
Pertanyaan Selir Fa-Nay membuat Tamayra mengerutkan alisnya. Dia tidak tahu apa yang dimaksud dari ucapan Selir ini.
"Menjawab Selir Fa-Nay, Tamayra sejujurnya tidak tahu apa yang dimaksud oleh Selir. Tamayra saat ini tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Apa, Selir Fa-Nay tahu sesuatu dengan hal ini?"
Suasana yang seharusnya mengguntungkan, Kini berbanding jauh dengan apa yang diharapkan.
Selir Fa-Nay seketika diam mendengar apa yang Tamayra pertanyakan.
"Selir Fa-Nay, jawablah apa yang ditanyakan oleh Putriku Tamayra." ucap Raja seakan menimpali pertanyaan Tamayra kepada Selir Fa-Nay.
Dalam keadaan seperti ini, Selir Vian-Ji yang duduk tidak jauh dari Selir Fa-Nay menghela napas. "Apa yang sedang dia lakukan, Dia ingin membongkar semua yang terjadi?" benaknya.
__ADS_1
Selir Fa-Nay meneguk salivanya dengan perasaan gugup dan takut. Jika seseorang berdiri dekat dengannya, maka mereka akan melihat keringat mulai membahasi kening dan pelipisnya.
"Em, Aku-."