
Sore hari yang cerah untuk ketiganya menikmati pemandang di halaman depan Istana. Ketiga gadis sedang terlihat tenang dengan pikiran yang berjalan.
Disaat ketiganya sibuk dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba saja mereka mendengar suara mengaduh tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Terlihat seorang Selir yang tidak sengaja tersandung ditangga kecil. Hal itu membuat Prajurit biasa segera menolongnya.
“Selir Rosita tidak apa-apa?” tanya Prajurit biasa tersebut.
Tamayra, Lestayra dan Melyra segera melangkah mendekati Selir Rosita.
“Ah, tidak apa-apa. Aku yang ceroboh karena tidak berhati-hati.” kata Selir Rosita.
Prajurit itu mengangguk dan segera membungkuk hormat lalu kembali ke posisinya.
Selir Rosita yang ditinggalkan seperti itu membuat dirinya terus melirik kearah Prajurit. Tindakannya menarik perhatian Tamayra dan Lestayra.
“Tidak apa-apa, Selir Rosita?” tanya Melyra dengan mengenggam tangan Selir tersebut.
Mengangguk kepala, Selir Rosita tersenyum manis. “Tidak apa-apa, aku hanya terjatuh kecil. Tidak ada yang terluka, tenang saja.”
Meski begitu, Melyra yang merupakan anak penuh dengan obat-obatan segera menggeleng. Dia menarik Selir Rosita dengan sopan menuju ke gazebo istana.
Lestayra mendorong Tamayra yang terdiam karena memikirkan sesuatu.
Ketiganya bersama Selir Rosita duduk di gazebo. “Aku sudah bilang bukan? Aku baik-baik saja dan tidak perlu mengkhawatirkanku.” ucap Selir Rosita saat melihat Melyra yang menatapnya dengan wajah serius.
“Tidak ada yang baik-baik saja. Menurut penelitianku, jika seseorang tersandung, akan ada sedikit goresan di lutut atau telapak tangannya. Perlihatkan kepadaku, telapak tangan Anda.” pinta Melyra.
Selir Rosita tertegun melihat tingkah Melyra yang begitu serius. Seperti seorang tabib yang siap mengobati luka apa pun.
Lirikan mata Selir Rosita tertuju kepada Tamayra dan Lestayra yang berdiri di samping kanannya. Sedangkan Melyra berdiri di samping kiri.
Hanya ada senyuman yang Selir itu dapatkan dari Tamayra dan Lestayra. Seakan tahu seperti apa sikap Melyra yang sebenarnya.
“Tapi-,”
Melyra tersenyum dan menggeleng. Tidak ada yang ingin penolakkan setelah apa yang dia pinta.
Karena mendapatkan senyuman seperti itu, Selir Rosita akhirnya mengangguk dan menunjukkan telapak tangannya.
__ADS_1
Melyra dengan serius memperhatikan telapak tangan sang Selir. Sedangkan Tamayra dan Lestayra hanya bisa melirik satu dengan yang lain.
“Nah, ada satu goresan di sini. Selir Rosita, perempuan itu harus menjaga dirinya. Tergores sedikit saja, tidak akan ada yang tertarik dengan wanita tersebut.” ucap Melyra yang mulai membuat obat tanpa meninggalkan bekas.
Selir Rosita menatap keseriusan Melyra dengan tersenyum tipis. Bagaimana bisa ada gadis muda yang begitu memikirkan tentang bekas luka.
“Jika seperti itu, kenapa kalian tidak memperdulikan tangan kalian? Aku merasakan ada tekstur kasar ditelapak tanganmu, Putri Melyra.” ucap Selir Rosita dengan tersenyum.
Melyra menatap telapak tangannya dan mengakui bahwa dirinya memang tidak semulus seperti telapak tangan Selir ini.
“Oh, ini karena aku sering memegang sesuatu dan mengerjakan semua tugas di asrama.” sahut Melyra.
“Asrama?” kening Selir Rosita berkerut ketika mendengar perkataan itu. Dia baru pertama kali mendengar kata asrama. “Apa itu Asrama?”
Melyra tersadar dengan perkataannya yang salah. Dia tersenyum sembari mengobati goresan yang ada ditelapak tangan Sang Selir.
“Asrama itu adalah tempat tinggal yang berisikan anak-anak perantau. Mereka mendapatkan tempat tinggal tanpa perlu membayar uang bulanan.” jelas Melyra.
Selir Rosita menatap lagi dengan wajah bingungnya. Terlihat sekali dirinya belum mengerti dengan penjelasan tersebut.
Melyra segera menatap Tamayra untuk meminta bantuan. Mengerti tatapan tersebut membuat Tamayra menghela napas.
Selir Rosita mengangguk pelan dengan wajah yang masih sedikit bingung. “Aku mengerti....” katanya.
Melyra terkekeh mendengar perkataan Selir Rosita. Setelah mengobati luka goresan ditelapak tangan, dia segera menatap Selir yang ada didepannya ini.
“Apa lutut Anda juga ingin diobati?” tanya Melyra.
Selir Rosita menggeleng dengan cepat. “Tidak, aku rasa lututku tidak terluka sama sekali.”
Melyra sedikit cemberut mendengar perkataan itu. Tapi, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena semua harus pada batasannya.
“Terima kasih sudah mengobatiku. Ini sudah sangat membantu diriku.” Selir Rosita mengusap rambut Melyra dengan tersenyum manis.
Ketiga gadis segera membalas senyuman tersebut. Tapi, setelah tenang beberapa saat, Tamayra membuka mulutnya.
“Selir Rosita, apa Anda menyukai Prajurit tadi?”
Selir Rosita tampak tertegun mendengar perkataan Tamayra. “Ee, apa yang kau katakan Putri Tamayra.” Wajah Selir Rosita menjadi merah muda hingga kehidungnya.
__ADS_1
Semua yang memperhatikan dirinya segera tahu apa yang terjadi kepada Selir Rosita.
“Selir Rosita maafkan diriku bertanya tentang hal ini kepadamu, apa Anda tidak mencintai Ayahanda?” tanya Lestayra tanpa berpikir panjang.
Pukulan melayang tepat dikepala bagian belakang. Lestayra segera menoleh kearah Tamayra dengan wajah terkejut dan tangannya yang mengusap bagian belakang kepala.
Melyra pun ikut melotot kearah Lestayra, menegur dirinya karena pertanyaan tersebut.
Hanya tercengir dan mengaruk tengkuk, Lestayra merespon kesalahannya sendiri.
Selir Rosita diam sesaat, lalu menatap ketiga gadis dengan bergantian. “Aku jujur kepada kalian. Tidak ada perasaan yang tumbuh dihatiku saat menjadi selirnya Raja. Aku tahu, aku sudah melakukan kesalahan.”
Kepala Selir Rosita menunduk kearah tangannya yang mengepal. “Aku, aku tidak bisa mencintai satu pria disaat pria itu telah mencintai orang lain.”
Tamayra melirik Melyra dan Melyra melirik Lestayra. Ketiganya saling merasakan kesedihan dan mengerti dengan perasaan Selir Rosita ini dan lagi, Selir ini masih terbilang muda. Umur mereka mungkin tidak berbeda jauh.
“Lalu, bagaimana kalian bisa menikah? Maksudku, bisa menjadi Selir Raja?” tanya Tamayra.
Melyra dan Lestayra menegur sahabat mereka dengan memberi tatapan tercengang bersama. Tamayra yang melihat hal itu segera membuang muka. Dia hanya penasaran saja, kenapa bisa wanita muda menjadi seorang selir.
Tamayra sendiri lupa, dia sudah membaca banyak novel yang menceritakan gadis-gadis muda menikah dengan orang-orang penting. Dari Raja, Pembisnis, hingga Penjabat terkenal sekalipun.
“Untuk itu, Ayahku tidak sengaja melakukan kesalahan dengan berutang kepada Raja. Tidak sanggup membayar semua itu, Dia akhirnya menjadikanku sebagai pembayaran utangnya.”
“Sejujurnya, aku tidak ingin menerima diriku menjadi selir, tapi utang itu begitu banyak. Aku tidak bisa mencari lima ratus koin emas dalam waktu satu bulan. Aku hanya, gadis desa yang hidup sederhana.”
Cerita Selir Rosita benar-benar menarik perhatian ketiga gadis. Mereka duduk di gazebo dengan memperhatikan wajah Selir Rosita.
“Tapi tidak apa-apa, bagiku saat ini adalah kehidupanku. Sudah diberikan napas oleh Raja, itu merupakan berkah yang luar biasa. Untuk jatuh cinta dan mencintai, aku akan berusaha memendamnya.” ucap Selir Rosita setelah berbicara banyak hal.
“Jatuh cinta dan mencintai, tidak ada yang bisa menghindari semua itu. memendamnya pun akan terasa sulit, seperti Tamayra.” Lestayra melirik Tamayra yang ada disampingnya.
Menjadi acuan masalah, Tamayra tersenyum dengan mata menegur. Melihat itu membuat Lestayra menatap kearah lain.
“Putri Tamayra pernah jatuh cinta?” tanya Selir Rosita.
Tamayra tersenyum. “Pernah, tapi berakhir seperti apa yang Anda katakan Selir Rosita. Aku memendamnya.”
Selir Rosita tertegun mendengar perkataan itu. “Lalu, siapa pria yang beruntung itu?”
__ADS_1
“Dia, dia tidak ada di dunia ini.” sahut Tamayra yang membuat wajah Selir Rosita menjadi bingung.