
Tamayra berhenti disebuah lorong udara yang ada di luar Istana. Bersama dengan Selir Rosita, dia menatap bagaimana gelapnya lorong udara itu.
"Masuk di sini, seperti yang ku katakan," ucap Selir Rosita dengan menatap kepada Tamayra.
Anggukkan kepala menjadi respons dari ucapan Selir Rosita. Tamayra segera masuk setelah meninggalkan beberapa pesan kepada Selir muda itu.
"Berhati-hatilah dan semoga apa yang dirimu cari bisa kamu dapatkan." Selir Rosita menatap khawatir saat melihat Tamayra masuk ke dalam lorong udara.
Setelah memastikan semua aman, Selir menempatkan diri untuk bersembunyi agar penjaga kerajaan tidak mengetahui keberadaannya.
Di dalam lorong udara, Tamayra memperhatikan sekitar dengan mata telanjangnya. Kegelapan lorong itu seharusnya membuat mata menjadi sakit. Tapi, Tamayra tidak merasakan hal itu dan penglihatannya justru berbeda.
"Seharusnya aku ketakutan dengan melihat gelapnya semua ini," Tamayra merangkak dengan perlahan. Dikarenakan lorong udara yang begitu kecil, dirinya harus masuk ke dalam lorong dengan merangkak.
Tamayra merasa aman dengan pakaiannya yang telah dia lepaskan sebelum masuk. Dia hanya mengenakan baju hingga dada itu dan celana khas yang memang dikenakan oleh dirinya.
Menyusuri lorong dengan tenang Tamayra memperhatikan apa yang ada. Dia harus bisa menemukan jalan rahasia itu agar secepatnya mendapatkan jawaban dari semua yang mereka Alami.
Mengikuti saran dari Selir Rosita, Tamayra akhirnya tiba di tempat yang rahasia itu. Dia mendorong penutup lorong dan segera masuk ke ruangan yang tampak berbeda dari dugaannya.
Ruang rahasia yang ada di dalam bayangan Tamayra, besar dan mewah. Tapi, apa yang ada di depan matanya saat ini berbeda. Ruang rahasia itu kecil dan sempit.
Namun, ada kemewahan yang masih terlihat di dalam ruang rahasia ini. Tamayra segera melihat sekitar sambil mencari buki yang penuh kerahasiaan itu.
"Aku tidak tahu di mana petak buku itu. Biasanya, buku bersejarah akan terletak di rak yang paling istimewa. Tapi, di dalam sini, rak istimewah itu tampak bersembunyi." Tamayra melanjutkan langkahnya sambil menyusuri tiga rak buku yang berhadapan.
Selama pencarian, Tamayra merasa sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia segera menghampiri satu rak yang menyusun satu jenis buku.
Buku di depan mata Tamayra bersampul ungu dengan ukiran emas. Barisan buku itu tampak biasa tapi aura dibalik buku itu menarik perhatian Tamayra.
Perlahan jemarinya menyentuh buku yang berbaring rapi itu dan berhenti di ukiran yang terasa lebih dalam. Ukiran emas yang ada di buku ini tampak berbeda, Tamayra segera menarik buku tersebut dan berhasil membuat dirinya kaget.
Langkah kaki Tamayra menuntunnya mundur hingga tersandung di rak yang lain. Mata Tamayra terbelak melihat bagaimana tiga rak tertata rapi itu berubah posisi.
Suara gesekkan benda yang bergeser ke sisi ruangan membuat sesuatu di lantai berdecit hingga keluar meja kecil yang terdapat buku besar di atasnya.
__ADS_1
Tamayra menyaksikan keindahan yang tidak akan pernah dia lupakan. Perlahan keberanian muncul dibenak dia hingga membuay dirinya berani mendekat.
"Siapa?"
Langkah kaki Tamayra terhenti ketika dia mendengar pertanyaan seseorang. Dia menatap sekitar, ruang rahasia ini kecil dan tidak mungkin pertanyaan itu bukan ditujukan kepadanya.
"Aku bertanya kepadamu, siapa kamu?"
Pertanyaan kedua yang didengar oleh Tamayra. Dia segera menatap kearah buku yang menjadi daya tariknya saat ini.
"A-aku Tamayra," Tamayra menjawab pertanyaan itu dengan suara yang lemah. Dia menatap sekitar, berusaha mencari, siapa yang berbicara kepadanya.
"Kau datang juga, Tamayra."
Alisnya berkedut mendengar nama dirinya disebut. Tamayra segera menatap buku yang ada di depannya. Masih tertutup rapat dengan sampul cantik berukiran bunga mawar hitam.
"Kenapa, terkejut aku mengetahui namamu? Tamayra, Melyra dan Lestayra...."
Keterkejutan Tamayra semakin menjadi kala mendengar nama kedua sahabatnya disebutkan.
"Tidak perlu terkejut, kau sudah mengetahui dan menebak diri kami bukan?"
"Cik,cik,cik... apa seorang yang mewariskan kekuatan tampak lemah seperti ini?"
Seseorang bertanya dengan nadanya yanv meremehkan. Tapi, hal yang membuat Tamayra terkejut hingga mematung di tempat karena dia melihat wujud dirinya dalam bentuk angin.
"S-siapa k-au?" tanya Tamayra dengan penuh ketakutan.
Pertanyaan yang terlontar dimulutnya dibalas dengan suara tertawa seseorang. Seseorang itu berwujud Tamayra dalam bentuk angin, api, air dan tanah. Keempatnya tertawa dengan ciri khas mereka sendiri.
"Apakah kita berlebihan?"
"Aku rasa begitu, lihat wajahnya menjadi pucat."
"Padahal dia tahu siapa kita, dia saja yang tidak sadar."
__ADS_1
"Terlalu bodoh!"
Ingin rasanya Tamayra pingsan mendengar pembicaraan keempat orang yang menyerupai dirinya. Semua ini benar-benar menghadirkan kegilaan bagi Tamayra.
"Aku kembali saja," gumam Tamayra sambil melangkahkan kaki menuju ke tempat dirinya tiba tadi.
Saat ingin melangkah pergi, keempat kekuatan berwujud dirinya segera datang dengan menghalangi jalan Tamayra.
"Tidak boleh, kau sudah tiba di sini dan kau ingin pergi begitu saja? Kau bercanda?" tanya Tamayra berwujud Api.
"Sadarlah, sudah tiba di sini kenapa tidak mencari tahu apa alasan dirimu dan kedua sahabatmu tiba di tempat yang terlampau jauh dari jaman kalian?" tanya Tamayra berwujud angin.
Tidak ketinggalan dengan Tamayra yang berwujud Air. Dia menyentuh pundak Tamayra dengan tersenyum. "Bacalah buku itu dan temukan apa yang kau cari," katanya.
Sentuhan dari wujud air tampak menakutkan untuk Tamayra yang merasa semua ini tidak nyata. Dia mengangguk perlahan seakan terpengaruh dengan apa yang diucapkan oleh tiruannya itu.
Berdiri di depan buku yang penuh keindahan, Talayra menatap buku itu dalam diam.
"Apa yang kau perhatikan? Buku itu tidak akan memakanmu," ucap tiruan Tamayra dalam wujud tanah.
Tamayra berusaha untuk menghilangkan rasa takutnya. Dia perlahan mengulurkan tangan untuk membuka buku yang ada di depannya.
...°°°...
Di waktu bersamaan, Lestayra dan Melyra baru saja lolos dari pelayan yang entah bagaimana bisa berpaspasan dengan mereka. Keduanya segera mendekati jendela istana yang begitu besar, cukup untuk membuat keduanya kabur melalui jendela itu.
"Aku tampak seperti pencuri," ucap Melyra dengan suara pelan.
Lestayra yang mendengar Meylra berucap seperti itu terkekeh. Dia segera mengulurkan tangan kepada sahabatnya saat dia telah menginjakkan kaki di tanah.
"Hati-hati Melyra," ucap Lestayra dengan khawatir.
Melyra melangkah dengan tenang dan melompat dari jendela untuk mencapai tanah. Helaan napas berhembus saat dia telah tiba di samping Lestayra.
"Sekarang, kita menyusul Selir Rosita?" tanya Melyra.
__ADS_1
"Iya, Tamayra bilang kepada kita untuk segera menyusul dirinya. Ayo, kita tidak jauh dari perpustakaan di luar. Aku yakin, Selir Rosita ada di sana." Lestayra segera melangkah menuju ke semak-semak yang menjadi tanaman hias di kerajaan ini.
Melihat Lestayra seperti itu, Melya segera mengikuti sahabatnya dari belakang.