
Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu dan akhir dari masalah ini jatuh kepada Selir Fa-Nay yang dinyatakan bersalah. Dia dihukum oleh Raja dengan hukuman penjara selama sepuluh bulan.
Tidak hanya itu, para Badit yang telah melukai Tamayra mendapat hukuman seumur hidup di dalam Penjara.
“Aku merasa tidak ada keadilan di dalam hukum ini.” ucap Lestayra dengan menatap ke arah jendela.
Meyla yang mendengar hal itu segera menatap wanita yang menikmati pemandangan sekitar. “Keadilan? Aku rasa para Badit itu pantas mendapatkan hukuman mereka. Jika kau ada diposisi Tamayra, kau bisa apa?”
Lestayra berbalik badan dan menatap ke arah Sahabatnya Melyra. “Jika aku ada diposisi Tamayra? Aku akan menangis, itu adalah jawaban yang tepat untukmu.”
Tamayra terkekeh mendengar perkataan Lestayra. Dia melihat kearah cermin untuk memperhatikan luka dilengannya yang mulai membaik. “Aku rasa tidak ada yang salah akan hal itu. semua adil untuk apa yang mereka lakukan. Justru aneh jika Yang Mulia Raja malah membebaskan para Badit setelah hampir membunuhku.”
Lestayra melangkah menuju ke kasurnya sambil menghela napas. “Aneh sekali, kenapa Selir Fa-Nay itu melakukan hal seperti ini. Apa kita melakukan kesalahan kepada Dia?”
Tangan Melyra menyentuh dagunya dan menatap kearah Lestayra. “Aku juga berpikir hal yang sama. Anehnya lagi, pelayan asing yang bersama kita malah ikut di hukum dengan lima bulan penjara. Apa mereka mengatakan yang sebenarnya?”
“Sebenarnya?” Tamayra berbalik badan dari hadapan cermin kearah dua sahabatnya. “Apa yang kalian maksud dengan sebenarnya ini?”
“Begini, saat kita akan berangkat menuju ke Balai Kota, ada pelayan yang seharusnya menemani kita bukan? Pelayan yang selalu bersama kita itu tiba-tiba diganti dengan pelayan yang lain. hal inilah yang membuat kami penasaran.”
“Aku berpikir selama beberapa hari ini, kenapa pelayan asing itu diberi hukuman yang sangat ringan. Apa mereka hanya menjaga kami atau sedang menyembunyikan sesuatu.”
Melyra berbicara dengan sangat cepat tapi membingungkan untuk Tamayra.
Lestayra yang mengerti ekspresi Tamayra segera menjelaskan kembali. “Seperti ini, Pelayan kita tidak seharusnya mudah diganti bukan? Hanya perintah dari Yang Mulia atau Selir dan bahkan yang lain, yang lebih berkuasa dalam hal itu. tiba-tiba Pelayan diganti dengan seorang Selir dengan alasan kalau Pelayan kita sakit, menurutmu apa itu hal biasa?”
Mendapati penjelasan kedua dari Lestayra, Tamayra mengangguk dan menatap keduanya dengan tenang. “Aku mengerti. Jika seperti itu, ada kemungkinan bukan hanya diriku yang seharusnya mendapat masalah. Aku rasa, kalian juga mendapatkannya.”
Melya mengangguk. “Aku berpikir hal yang sama. Tidak mungkin hanya dirimu saja yang mendapati semua ini. Aneh bukan, saat kita akan berangkat dengan Selir Fa-Nay yang mengajak kita berbicara.”
“Aku setuju,” timpal Lestayra.
Tamayra menggeleng sambil berdiri dan menatap kearah jendela. “Sudahlah, masalah ini telah berlalu dan tidak ada lagi yang bisa kita cari dari semua itu. sekarang, aku hanya bisa mengatakan beberapa hal. Ada kejadian aneh yang menimpa diriku.”
__ADS_1
Melya dan Lestayra mengerutkan alis bersamaan dan menatap kearah Tamayra. “Apa itu?”
“Saat aku pingsan diperpustakaan waktu itu, aku teringat akan suatu kejadian. Ada seseorang yang membisikkan namaku dan terus memanggilku.” kata Tamayra.
“Memanggilmu, seperti apa?” tanya Melyra.
“Memanggil namaku, seperti Tamarya.” Tamayra mencontohkan panggilan yang dia ingat saat perpustakaan itu.
Lestayra yang mendengarnya segera mengerutkan alis. “Jangan bilang, aku pernah mengalami hal yang sama sepertimu.”
“Maksudmu?” tanya Tamayra. Lestayra segera menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu. “Aku sudah mengalaminya dan tidak salah ada yang memanggil namaku saat Hari Kebesaran itu.”
Kedua sahabatnya yang mendapatkan hal serupa membuat Melyra merasa cemburu. “Aku tidak mengalami hal seperti kalian. Apa yang terjadi?”
“Mel, aku mendengar seseorang memanggil namaku. Seperti suara itu mirip dengan orang yang selalu bersama kita.” ucap Tamayra.
“Mirip? Aduh May, bisakah kau katakan semuanya dengan jelas. Aku sangat tidak mengerti dengan ucapan yang keluar dari mulut kalian,” keluh Melyra.
Lestayra dan Tamayra saling bertatap sebelum akhirnya mengangguk bersama.
Melya mengangguk dan menatap kearah Lestayra untuk meminta penjelasan.
“Kalau aku, aku mendengar namaku dipanggil tapi tidak dengan suaranya. Aku, tidak mengenali suara itu.” ucap Lestayra.
“Apa ini ada hubungannya dengan masalah kita? Masalah dimana kita bisa berada disini?” tanya Melyra.
“Aku tidak tahu ini ada benarnya apa tidak. Kalian ingat, mereka menganggap kita adalah anak mereka karena warna mata kita. Jika seperti itu, kemungkinan besar kalau kita memang reinkarnasi dari tiga bayi di jaman ini.” Tamayra menatap kedua sahabatnya dengan wajah serius.
“Jika kita reinkarnasi dari tiga putri di jaman ini. apa menurut kalian kita saudara kembar?” tanya Lestayra.
Melya mengangguk. “Bisa jadi kita saudara kembar. Mengingat apa tertulis disejarah itu.”
“Tapi, kita hanya tahu masalah ini. kita masih harus mencari tahu yang lain. aku ingin sekali keluar dari istana ini.” kata Tamayra.
__ADS_1
Lestayra dan Melyra saling memandang. “Apa yang membuatmu ingin keluar dari istana?” tanya Melya.
“Aku hanya bosan, di dalam istana sudah sering kita kunjungi.” sahut Tamayra.
Mendengar kata bosan, Melyra segera tersenyum. “Bagaimana kalau kita bermain di labirin yang ada di halaman istana?”
Lestayra dan Tamayra segera menatap kearah Melyra. “Labirin?”
“Iya, labirinya sangat luar biasa. Ayo kita bermain itu.” Melyra begitu semangat mengajak Lestayra dan Tamayra.
...°°°...
Di halaman istana. Lestayra dan Tamayra melihat seorang Selir sedang berdiri didekat labirin.
“Selir Rosita?” seru Tamayra memastikan.
Selir itu segera berbalik dan menghadap kearah ketiganya. “Oh, kalian....” ucap Selir Rosita yang melangkah mendekat. “Apa yang kalian lakukan disini?” tanyanya
.
“Kami akan bermain dilabirin ini!” sahut Melyra dengan semangat yang luar biasa. Lestayra dan Tamayra terkekeh melihat keantusiasannya.
“Kalian bertiga?” Ketiga gadis mengangguk mendengar pertanyannya dari Selir Rosita. “Aku harus memberitahu kepada Kalian Putri-Putri Raja. Labirin ini memiliki sihir dan sedikit yang harus kalian tahu, Labirin ini bergerak sendiri. bisa memisahkan kalian bertiga.”
“Bergerak sendiri?” tanya Lestayra dan Tamayra bersamaan.
Sedangkan Melya sudah tahu dari awal dan tidak terlalu terkejut dengan semua itu.
“Apa kalian yakin ingin bermain labirin ini? aku akan meminta pelayan menemani kalian.” ucap Selir Rosita.
“Tidak perlu, Selir Rosita tidak perlu melakukan itu. kami akan masuk bertiga dan pelayan menunggu kami dulu. Apakah boleh?” tanya Melya.
Lagi-lagi Lestayra dan Tamayra dikejutkan dengan tingkah Melyra.
__ADS_1
“Apa dia begitu bahagia dengan labirin ini?” tanya Lestayra dengan berbisik. Tamayra segera menyahutnya. “Aku rasa.”