Thread Of Destiny

Thread Of Destiny
^Kesal dan takut^


__ADS_3

Lestayra merasa bingung dengan apa yang terjadi kepadanya. Dia menatap kearah Prajurit Draker yang memberinya sebilah pisau.


“U-untuk apa benda itu?” tanyanya dengan sedikit memundurkan langkah.


Dirinya dikurung dalam benteng tanah yang tampak tinggi. Bagaimana dirinya bisa keluar dari sini jika prajurit yang ada didepannya ternyata seorang penjahat?


“Tenanglah, Draker tidak akan melukaimu.” ucap Prajurit tersebut dengan suara yang sedikit aneh.


Ditelinga Lestayra, dia mendengar ucapan tersebut sedikit terpaksa lembut. Hal itu membuat Lestayra mengerutkan alisnya.


“Oh, jadi tidak melukaiku. Tapi, itu benda tajam dan tetap akan melukai seseorang. Darah pun bisa mengalir karena terkena benda tersebut, meski sedikit.” Lestayra benar-benar merasa lucu ketika mendengar perkataan dari Prajurit bertopeng itu.


“Untuk mengeluarkan kekuatan yang alami di dalam diri kita. Harus mendapatkan pengakuan dari kekuatan itu sendiri. Cara yang sering digunakan oleh semua orang adalah mengores jarinya dan meneteskan darahnya di telapak tangan.” jelas Prajurit Drake.


Lestayra terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Prajurit Drake. “Bilang dari tadi dong, aku hampir berpikir buruk tentangmu.”


Tidak ada ketakutan dihati, Lestayra mendekati bilah tersebut dan mengulurkan tangan kanannya di depan Prajurit Drake.


Dengan cepat, bilah tajam mengores jari telunjuknya. Darah keluar dari goresan tersebut dan perlahan mengalir ditelapak tangan Lestayra.


Tidak lama, Lestayra elihat sekelilingnya mulai menunjukkan sesuatu keanehan. Dia melihat ada kilatan yang kuat dan menyilaukan.


“Kekuatan Anda adalah petir. Ingatlah, petir juga memiliki pilihan untuk menjadikan siapa pemiliknya. Jadi, buat diri Anda menyatu dengan kekuatan ini dan mengakui bahwa Anda adalah pemilik yang sesungguhnya.” kata Prajurit Drake.


Lestayra tercengang mendengar perkataan prajurit tersebut. Dia menjadi panik karena tidak tahu bahwa ada hal seperti itu.


“Eh, kenapa tidak menjelaskannya dulu. Bagaimana ini, aku tidak tahu caranya seperti apa!” pekiknya dengan wajah panik.


Kepanikkan Lestayra semakin menjadi ketika kekuatannya membesar. Entah apa yang terjadi, petir tersebut semakin jelas dimatanya.


“AGH!” Lestayra menutup mata dan menutup telinganya. Petir-Petir itu menari-nari di sekitar tubuhnya, dia benar-benar takut terkena sengatan dari petir tersebut.


Kekuatan Lestayra semakin menjadi, hal itu diperkuat dengan petir yang muncul berulang-ulang di sekitarnya.


Prajurit Drake dengan lembut mengeluarkan petirnya untuk menenangkan petir Lestarya.

__ADS_1


Mata yang tertutup itu mengintip dengan celah kecil dan melihat ketenangan yang telah terhentikan. Perlahan Lestayra berdiri dan menatap sekitar sebelum berhenti di depan Prajurit bertopeng.


Kedekatan yang tiba-tiba dan lagi, Lestayra bisa mendengar hembusan napas yang terbentur di topeng.


“Uhm, te-terima kasih,” Lestayra memundurkan dirinya.


Tiba-tiba saja, lengan Lestayra di genggam dan dirinya ditarik secara tiba-tiba. Tangannya yang bebas segera bersandar di dada Prajurit Bertopeng.


“Apa yang-,” Lestayra melihat sekelilingnya yang penuh dengan petir-petir. “Kenapa petirnya semakin banyak!” pekiknya.


Perlahan, Prajurit Drake mengulurkan tangan bebasnya dan mengeluarkan petir yang bergemuruh.


Mata Lestayra terpejam lagi dan dirinya bersandar di dada prajurit bertopeng. Tidak perduli akan kedekatan mereka, saat ini rasa takut telah menghantui dirinya.


“Putri, petirnya telah reda.” kata Prajurit Drake.


Lestayra membuka matanya perlahan sambil menoleh ke kanan. Dia melihat dengan jelas bahwa keadaan sekitar telah terkendali.


Tidak menunggu lama, Lestayra menjauhkan tubuhnya dari Prajurit Drake dan terbatuk-batuk kecil tanpa dahak. Berusaha untuk menghilangkan suasana canggung yang dirinya buat.


...°°°...


Di tempat lain, Tamayra menatap ke arah Prajurit yang terdiam didepannya. “Hei, Prajurit Alang bukan? Kenapa Anda malah berdiam diri?”


Tamayra mengingat jelas bahwa pria inilah yang memulai perkenalan diri terlebih dahulu. Tapi, setelah pembatas dari tanah ini terbentuk, dia malah terdiam di tempat dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Prajurit Alang memberikan sebilah pisau kepada Tamayra yang masih kebingungan. “Gunakan ini, goreskan di jari Anda dan biarkan darah mengalir hingga ke telapak tangan,” ucapnya.


Tamayra tercengang mendengar perkataan pria di depannya. “Tunggu dulu, aku bisa mengajukan beberapa pertanyaan. Pertama, untuk apa pisau ini? kedua, kenapa aku harus mengores jariku sendiri?”


Prajurit bernama Alang itu segera menjelaskan dengan kekuatan tanahnya. Tiba-tiba saja, gambaran dan lukisan di tanah menunjukkan berbagai hal di mata Tamayra.


Tanah itu mengambarkan sesuatu dengan sedikit menonjolkan dirinya dari permukaan tanah. Tergambar di sana, jari tergores. Lalu, darah mengalir dan menetes di telapak tangan.


Tamayra terkagum melihat keindahan yang ada di depan mata. Bagaimana bisa, Tanah tersebut bergerak dengan sangai baik dan memberikan gambaran yang bisa membuat dirinya mengerti.

__ADS_1


“Oh, jadi aku hanya perlu mengores jariku dan darah akan mengalir. Setelah itu, kekuatan akan muncul. Ini adalah cara untuk membuat kekuatanku mengakui bahwa aku adalah pemiliknya?” Tamayra menatap ke arah Prajurit Alang.


Prajurit Alang mengangguk mendengar apa yang Tamayra katakan. “Ini pisaunya,” ucap Prajurit Alang.


Tamayra segera mengambil sebilah benda tajam tersebut. Perlahan dia mengores di jari telunjuknya hingga darah muncul dan mengalir.


Perlahan demi perlahan darah tersebut mengalir turun dari jarinya dan Tamayra melihat dengan jelas bagaimana telapak tangannya mengeluarkan sinar hingga tidak lama getaran terasa dari arah kaki.


“Gempa?” pekik Tamayra dengan wajah panik. Dia melihat sekelilingnya dan mendapati tanah tersebut retak dan isi di dalam tanah melebur keluar.


Tamayra membelak melihat apa yang terjadi, dia segera melangkah ke sembarangan arah dan setelah pijakkannya tanah tersebut retak seketika.


“Hei, tolong aku!” teriak Tamayra sambil berlari. Dia tidak mau terjatuh ke bawah. Tidak, dia sendiri tidak tahu akan kemana dia jatuh nanti. Tapi yang terpenting, dia harus berlari sekarang.


Di saat dirinya berlari dengan rasa panik, tiba-tiba tubuhnya melayang dan dia terjatuh di punggung seseorang.


“Aduh!” Tamayra menatap punggung lebar yang ada di depan mata, dia memiringkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi di depan sana.


Pandangan Tamayra penuh akan keterkejutan, dia melihat bagaimana tanah tersebut menenangkan diri dan kembali ke tempat semula.


“Anda belum bisa membuat kekuatan ini mengakui bahwa Anda adalah pemilik yang sesungguhnya.” ucap Prajurit Alang.


Tamayra yang mendengar hal itu tercengang, dia sudah ketakutan dan pria di depannya justru memperhatikan semua ini.


“Hei Tuan, bagaimana aku bisa melakukan semua itu. saat ini saja, aku masih ketakutan.” Tamayra sedikit kesal dengan Prajurit bertopeng di depannya.


Saat rasa kesal sudah memasuki hati, tetesan darah masih mengalir di jari. Tidak hanya Tamayra yang mengalaminya.


Lestayra yang berada di dekat Prajurit Drake juga mendapati darah yang masih mengalir di jari.


Lalu, Melyra yang masih menunggu jawaban dari Prajurit Hart, mengalami hal yang sama.


Ketiganya tidak merasakan bahwa darah tersebut menetes ke tanah dan tidak lama, rasa sakit di punggung membuat ketiganya membelak.


“Agh!” pekik mereka.

__ADS_1


__ADS_2