Thread Of Destiny

Thread Of Destiny
^Cerita Masa lalu^


__ADS_3

"Perjanjian yang kita buat harus memiliki simbol. Jikalau, suatu hari nanti dirimu melanggarnya, peperangan akan terjadi dan kita bukanlah seorang teman," ucap Raja dari kerajaan Detarum.


Henry-rya yang merupakan Raja keempat dari kerajaan Dermarya mengangguk.


Di depan mereka berdua, terdapat selembar kertas yang berisi perjanjian. Dimana kedua belah pihak tidak boleh melanggar janji itu.


Dari raja keempat Dermarya yang memimpin saat itu, perjanjian tertulis di atas lembaran kertas menjadi sebuah buku besar.


Buku besar itu di sembunyikan pada ruang rahasia kerajaan Dermarya yang tidak boleh dimasuki oleh siapapun.


Hal tersebut telah menjadi larangan terbesar. Lagi pun, tidak ada yang bisa membaca dan membuka buku besar tersebut karena terdapat darah dari para pemimpin kerajaan terdahulu.


Akan tetapi, semua berubah dengan kehadiran dari tiga gadis yang datang entah dari mana.


"Itu lah masa lalu dari buku yang kalian baca. Siapa sebenarnya kalian?" tanya Raja Tiran-rya yang mulai tampak curiga.


Tamayra segera berdiri dan melangkah mendekat. Tetapi, lagi dan lagi prajurit melarangnya melewati batasan.


Ada kekesalan dihati Tamayra kala melihat prajurit yang melarang dirinya. Dia segera membungkuk dengan bertekuk lutut.


"Yang Mulia, kami tidak akan berbohong kepada dirimu. Aku akan jujur kepadamu. Sebenarnya, kami bukan dari jaman kerajaan ini. Kami berasal dari dunia modern."


"Tidak ada kerajaan di jaman kami. Ada, tapi tidak seperti ini. Jaman kami memiliki kedudukkan yang sama. Kami pun bukan anak orang yang begitu kaya, sempurna dan penuh harta. Kami hanya anak yatim."


"Aku mengatakan ini kepadamu Yang Mulia, karena kami datang ke sini tanpa sebab. Kami berniat untuk pulang kampung dari kota menuju desa."


Tamayra menghela napas sesaat. Dia pun menatap kembali dan melanjutkan ucapannya, "saat ingin ke desa, tanpa sengaja kami tersandung akar pohon yang membuat kami terjungkal. Hingga, kami berada di sini."


Penjelasan Tamayra berhasil membisukan seluruh halaman kerajaan. Tidak ada yang bersuara, bahkan bernapas pun tampaknya tidak berhembus. Dia yang melihat keheningan itu segera melirik Melyra dan Lestayra.


"Kau mengacau!" gumam keduanya yang membuat Tamayra membuang muka perlahan.


Deheman Raja Tiran-rya menarik perhatian semua orang termasuk Tamayra. "Lalu, kenapa kalian tidak mengatakan yang sebenarnya?"


"Itu karena-," Tamayra menghentikan ucapannya. Dia melihat ke arah Raja yang tampak tenang dan seperti tidak marah kepada mereka.


"Apa ini ilusi?" benak Tamayra untuk sesaat. Dia kembali memperhatikan kedua sahabatnya.


Melya dan Lestayra juga menatap ke arah Tamayra. Tatapan yang mereka berikan tampak berbeda, membuat dia menjadi ragu dengan yang ada di sekelilingnya.

__ADS_1


Hingga, sebuah tangan menyentuh pundak Tamayra. Dia mematung di tempat dan kemudian berbalik untuk melihat hal yang mengejutkan dirinya.


Sebuah mata merah kehitaman, bermulut besar dengan gigi yang terselip diantara kedua bibir. Dengusannya yang berhembus menerpa wajah Tamayra yang akhirnya tersadar.


"Apa yang kau lakukan, Kenapa kau menunda-nunda semuanya? Dengar Tamayra kau harus berkorban untuk...,"


Tamayra menatap dengan mata yang tidak berkedip. Apa yang ada di depannya saat ini bukan manusia, melainkan siluman naga.


Naga tersebut mengubah wujudnya yang menjadi sangat kecil hingga tubuhnya berputar di sekitar leher Tamayra.


"... menyelamatkan teman-temanmu," ucap Naga itu.


Tidak lama kemudian, rasa perih menjalar dipunggung Tamayra. Naga yang selesai berbicara itu segera menyatukan diri dipunggungnya.


Rasa perih dan sobekkan yang tergores tanpa obat bius. Tamayra segera berteriak dengan suara yang keras.


"AAGHHH!"


...°°°...


Gemuruh melanda Kerajaan Dermarya. Semua orang panik bersamaan dengan para prajurit yang tampak sibuk kesana kemari.


"Apa yang terjadi di dalam ruang rahasia itu? Aku akan melihatnya," gumamnya.


Namun, Selir Rosita berhenti melangkah ketika melihat seseorang di depannya.


"Selir Rosita, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Selir Jia li.


"A-aku," Selir Rosita tidak bisa menjawab apa pun. Dia memikirkan keselamatan dari Para Putri yang masih berada di ruang rahasia. Dia segera tersenyum dengan polos, berusaha untuk menutupi apa yang dia sembunyikan.


"Aku mendengar kepanikkan prajurit dan aku bersembunyi di sekitar sini," ucapnya.


Selir Jia li menatap tajam kearah Selir Rosita. Tatapan itu menelisik, mencari kebenaran.


"Ayo kita ke aula, semua tengah berkumpul. Ada sesuatu yang terjadi," ucap Selir Jia li.


Selir Rosita mengangguk dan segera melangkah di belakang Selir Jia Li. Dia tampak ragu untuk ikut, tapi dia juga tidak bisa lagi berbohong. Jika dia berbohong lagi, Selir jia Li akan tahu apa yang disembunyikan olehnya.


Di aula kerajaan. Semua tampak mengerutkan alis. Ada ketakutan dan rasa yang tidak bisa diungkapkan oleh semua pandangan yang ada.

__ADS_1


Ratu Destia-rya menatap sekitar aula untuk mencari sosok yang membuatnya khawatir. "Pelayan, dimana Putri Tamayra, Lestayra dan Melyra?"


Pelayan yang mendengar pertanyaan itu segera melihat sekitar dan menyadari bahwa ketiga putri kerajaan tidak berada di dalam aula.


Saat para pelayan ingin mengucapkan kata dari mulut mereka. Suara langkah kaki menarik perhatian semua orang. Banyak prajurit yang datang membawa tiga gadis dalam keadaan pingsan.


"Apa yang terjadi?" tanya Ratu Destia-rya dengan khawatir.


Langkah kaki Ratu Destia membawa dirinya ke arah para putri yang terbaring lemas di atas tandu.


Para prajurit memegang tandu dengan hati-hati agar para Putri yang terlelap itu tidak terluka.


"Kenapa bisa seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi kepada putri-putriku?" Ratu Destia berdiri di depan tandu.


Mata yang sedu menatap ke arah tiga putri yang terlelap dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ratu Destia-rya mengusap rambut ketiga putri yang ada di depannya.


"Kami tidak tahu apa yang terjadi Yang Mulia, tiba-tiba saja, para Putri berada di halaman kerajaan." jawab Pengawal yang menundukkan kepalanya.


Ratu Destia-rya menghembuskan napas dengan lembut. Dia pun mengulurkan tangan untuk mengusap rambut Tamayra yang benar-benar terlelap.


"Suamiku, berikan kekuatanmu. Mereka pasti akan sadar," ucap Sang Ratu dengan menoleh ke arah sang suami yang menatap tenang.


"Tabib, periksa keadaan mereka." Perintah Sang Raja.


Tabib pun mendekat dan mengulurkan tangan dengan jarak yang cukup. Lalu, kekuatan keluar dari tangan mereka dan memasuki ke kepala para gadis yang tengah pingsan.


Di saat semua fokus memperhatikan pemeriksaan itu, aroma menyengat tercium dihidung semua orang. Mereka mengerutkan alis karena aroma menyengat ini berhasil membuat semua kewalahan.


"Bau apa ini?" celetuk pelayan yang membuatnya bungkam seketika.


Aroma yang memyengat itu membuat semua mata memerah. Tatapan yang tajam tertuju kepada tiga putri yang masih terlelap dalam pingsan mereka.


Raja yang melihat suasana mulai berubah segera mengulurkan tangan dan menyusutkan aroma menyengat itu dalam kekuatannya.


"Tabib, periksa punggung mereka!" tintahnya.


Tabib pun mengangguk dan para tabib yang lain mulai membalikkan posisi tidurnya ketiga putri. Mereka terpaksa melakukan ini karena perintah Yang Mulia.


Setelah melakukan apa yang Raja pinta, semua seketika tercengang melihat pakaian di punggung para putri yang terdapat ukiran.

__ADS_1


"Naga...." pekik Sang Raja.


__ADS_2