Thread Of Destiny

Thread Of Destiny
^Bagaimana Caranya?^


__ADS_3

“Apa? Gumpalan itu berkata kalau kau harus menjauhiku?” kaget Lestayra sambil menatap Tamayra.


Tamayra mengangguk dengan tenang dan duduk di tanah sambil memainkan tongkatnya.


“Lalu, apa jawabanmu?” tanya Lestayra.


“Aku membentaknya. Lagi pula, aku merasa aneh dengan kehadiran gumpalan itu. dia datang tiba-tiba dan pergi tanpa ada kejelasannya. Seperti hantu.” gerutuk Tamayra.


Lestayra menghela napas setelah mendengar apa yang Tamayra katakan. “Kalau dariku, gumpalan itu mengatakan bahwa aku harus menjauhi Melyra.”


“Sudahlah, itu hanya sebuah gumpalan aneh yang tidak jelas asalnya dari mana. Akan lebih baik kita keluar dari sini dengan tenang tanpa hambatan. Ayo, kita cari jalan keluarnya!” ajak Tamayra sambil merangkul Lestayra.


Keduanya melangkah bersama sambil mencari jalan keluar yang ada didalam labirin ini.


Sedangkan diluar labirin, semua orang menatap kearah gumpalan air yang menunjukan posisi Tamayra dan Lestayra.


“Melyra sayang, apa kau tidak akan mengatakan kepada ibunda, apa yang terjadi kepada kalian?” tanya Sang Ratu.


Meski mereka memperhatikan apa yang terjadi di dalam labirin. Tidak ada yang bisa mendengar suara mereka. hal itulah yang membuat semua penasaran.


Mereka melihat dengan jelas, bagaimana Tamayra dan Lestayra saling berbicara dengan wajah serius.


Melyra engan untuk membuka mulutnya. Dia terlalu takut mengatakan semua itu karena dia sendiri tidak yakin dengan apa yang terjadi.


Desakkan sang Ratu tidak berlanjut karena memikirkan kondisi Melyra. Sebagai seorang ibu, ada kekhawatiran yang dirasakan oleh Ratu Destia-rya.


“Baiklah, jika kau sulit untuk bercerita, ibu tidak akan memaksamu. Setelah kau merasa siap sayang, kau bisa bercerita kepada ibumu ini.” kata Ratu Destia-rya.


Melyra mengangguk dengan tersenyum tipis. “Maaf Yang Mulai Ratu, aku harus menyampaikan semua ini kepada Tamayra dan Lestayra. Kami tidak bisa mengatakan semuanya kepada kalian. Kami sendiri tidak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi.” benaknya.


Setelah lama menunggu, Lestayra dan Tamayra keluar dari labirin dengan tenang. Meski begitu, keduanya merasa aneh dengan labirin tersebut.

__ADS_1


“Mereka memberi kita kemudahan?” benak Lestayra saat keluar dari labirin. Dia yang pertama kali masuk ke dalam dan merasakan kesulitan. Ketika keluar, dia seperti menghabiskan waktunya dengan sia-sia.


Tamayra bahkan tidak bisa berkomentar dengan apa yang terjadi. Mereka hanya mengambil langkah ke sembarang arah, tiba-tiba saja menemukan jalan keluar. Sangat diluar dugaan mereka.


Yang Mulia Ratu dan Yang Mulia Raja, keduanya segera mendekati Tamayra dan Lestayra. Sebuah pelukan hangat terjadi, tentu saja Melyra tidak akan tertinggal. Kebahagiaan keluarga yang diimpikan semua orang.


Mendapati pelukan hangat tersebut, Ketiga gadis merasakan kenyaman dihati mereka. karena hal itu, ada rasa tidak ingin kembali setelah apa yang terjadi. Mereka sangat menikmati semua ini.


“Syukurlah kalian baik-baik saja.” Kata Raja Tiran-rya dengan mengusap rambut Lestayra.


“Seharusnya, kalian mengunakan tongkat itu untuk membebaskan diri. Labirin akan langsung mengarahkan kalian ke jalan keluar, jika kalian menyalakan tongkat itu.” ucap Ratu Destia-rya dengan mencium kepala Melyra.


Sangat indah melihat semua ini tapi menyakitkan untuk Selir yang menepi ditempat teduh. Mereka mengunakan kipas untuk menutupi wajah tidak senang.


“Ini salah Selir Rosita, seharusnya selir ini mengajak para pelayan untuk ikut masuk.” kata Selir Rosita. Dia tidak sedang mencari muka tapi ingin bertanggung jawab.


Sebagai Selir Termuda, Selir Rosita tidak bisa diam ketika dia yang ikut campur dalam masalah tersebut. Dia ingin semua baik-baik saja meski dirinya dipandang buruk.


Semua terkekeh mendengar apa yang Ratu katakan, termasuk Raja. Ketiga gadis yang menjadi pusat perhatian itu hanya bisa tersenyum malu dengan wajah menunduk.


...°°°...


Di dalam kamar, ketiganya saling menatap satu dengan yang lain. mereka hanya mengenakan celana panjang mereka dan baju yang khusus dibuat untuk wanita. Hanya sebatas dada dan berlengan pendek.


“Jadi, gumpalan itu juga memberitahumu kalau kau harus menghindariku?” tanya Tamayra dengan alis berkerut. Dia merasa sangat muak dengan gumpalan yang tidak jelas.


“Seperti itulah, apa maksud dari kedatangan gumpalan tersebut. Lalu, kenapa dia menemui kita diwaktu bersamaan?” Melyra menghela napas dan berbaring di kasur.


“Mungkin, itu salah satu alasan kita di sini? Seperti yang kalian simpulkan. Pertama, kita merupakan reinkarnasi dari bayi kembar kerajaan. Kedua, kehadiran kita disini pasti karena sebuah masa lalu.”


“Masa lalu?” Tamayra memotong perkataan Lestayra. “Dari mana kau menyimpulkan kalau kita datang kesini karena sebuah masa lalu?”

__ADS_1


Lestayra segera menjawab. “Karena kita hadir di jaman dahulu. kalau kita hadir di jaman masa depan, kita pasti akan mengunakan robot.”


Jawaban yang Lestayra berikan hanya membuat Tamayra terkekeh. Dia segera mengangguk. “Tapi, apa yang kau katakan itu benar, kita datang ke sini pasti karena masa lalu. Tidak mungkin, bayi yang seharusnya meninggal diusia satu bulan, bisa menghadirkan kita di sini.”


“Kita dari reinkarnasi mereka Tamayra, bisa saja itu terjadi.” timpal Melyra.


“Aku tahu akan hal itu. tapi maksudku di sini, kenapa kita hadir di masa lalu, sedangkan kita hanya reinkarnasi mereka. bisa dibilang, ada rahasia yang terjadi di sini.” kata Tamayra.


Lestayra menyentuh dagunya dan menunjukan wajah berpikir. “Benar, seperti yang kau katakan. Bisa dibilang kalau kehadiran kita bukan karena suatu hal biasa. Jika seperti itu, kita harus mencarinya.”


“Yang menjadi pertanyaan utama di sini, bagaimana cara kita mencarinya?” Melyra menjadi penengah diantara pembicaraan Lestayra dan Tamayra.


“Sebaiknya kita mencoba untuk mencari tahu. Aku tidak menemukan apa-apa di dalam perpustakaan. Apa lebih baik kita mencari tahu bagaimana Ratu Destia-rya hamil dulu?” saran Tamayra.


Lestayra kembali berpikir. “Apa kau yakin menanyakan hal seperti itu? ingatlah, Ratu itu yang sangat mencintai kita. Untuk mencari tahu tentang masa lalunya, itu sedikit diragukan.”


“Aku pun memikirkan hal yang sama.” sahut Melyra.


“Tapi, jika kita tidak mencari tahu semua itu, akan sulit untuk kita mendapatkan jawaban dari apa yang terjadi.” ucap Tamayra.


Tidak ada pilihan untuk Lestayra dan Melyra. Keduanya segera mengangguk untuk menyetujui apa yang direncanakan oleh sahabat mereka itu.


“Baiklah, akan lebih baik kita membahas ini langsung kepada Ibunda Ratu.” Tamayra ingin meranjak bangun dari kasurnya.


Melihat Tamayra ingin bangun, Lestayra dari kasurnya segera menahan Tamayra dan Melyra yang duduk dikasurnya juga ikut bangun dan menahannya.


“Apa yang kalian lakukan?” tanya Tamayra dengan wajah bingung.


“Sebaiknya kau tunda dulu rencanamu itu. kita lebih baik beristirahat dulu.” ucap Lestayra.


Melyra mengangguk untuk menyakinkan sahabatnya. “Benar, ayo kita beristirahat dulu.”

__ADS_1


“Tapi-.”


__ADS_2