Thread Of Destiny

Thread Of Destiny
^Misi dimulai^


__ADS_3

Setelah makan malam, Tamayra melangkah menuju ke kamar tidur Selir Rosita. Tentu saja, saat menuju ke kamar tidur para Selir, dirinya harus ditemani oleh pelayan yang khusus untuknya.


“Aku harus bergerak malam ini. tidak mungkin kami akan bergerak besok,” benak Tamayra.


Masalah sudah banyak yang bermunculan. Lalu, permasalah gambar naga yang ada di punggung. Saat ini, Tamayra dan dua sahabatnya mengunakan riasan untuk menutup gambar tersebut.


“Aku berharap, tidak ada masalah baru lagi.” Tamayra berbenak pada dirinya sendiri. Dia menatap ke arah pintu kamar tidur milik Selir Rosita.


“Um, bisa aku berbicara berdua dengan selir?” tanya Tamayra kepada Pelayan yang setia menemaninya.


Pelayan wanita itu tersenyum dan mengangguk dengan lembut. “Tentu Putri, saya akan menunggu di luar.”


Tamayra mengangguk dan perlahan mengetuk pintu. Setelah ketukan pintu yang dia lakukan beberapa kali. Pintu tersebut dibuka oleh Selir Rosita.


“Putri Tamayra, masuklah.” Selir Rosita membuka pintu dengan leluasa agar Tamayra bisa masuk ke dalam kamar tidurnya.


Tamayra mengangguk dan segera melangkah masuk ke dalam kamar. Pintu tersebut di tutup dengan rapat oleh Selir Rosita.


“Duduklah,” ucap Selir Rosita.


Perlahan Tamayra mendudukkan dirinya di kursi yang terletak bersampingan dengan jendela.


“Ada keperluan apa Putri Tamayra?” tanyanya.


Tamayra menatap ke arah jendela. Melihat indahnya bulan yang begitu terang-benerang. Sayangnya, bulan tersebut hanya separuh dari bentuk bulan itu sendiri.


“Tamayra ingin mengetahui jalan masuk ke ruang rahasia itu. Selir Rosita, bisakah Anda membantuku?” Tamayra menatap ke arah selir yang berdiri jauh darinya.


Selir Rosita terkejut mendengar permintaan Tamayra. Dia terdiam sesaat dan menghela napas dengan lembut. “Putri, apa kau yakin? maksudku, jalan rahasia itu sedikit sulit dilewati.”


Tamayra mengangguk. “Tentu, tidak ada yang sulit bagi Tamayra.”


Jawaban yang Tamayra berikan membuat Selir Rosita mengangguk perlahan. “Kalau boleh tahu, apa alasan putri untuk masuk ke ruang rahasia ini?”


Pertanyaan yang dilontrakan oleh Selir Rosita membuat Tamayra diam. Dia tidak bisa memberitahu apa yang terjadi selama ini.

__ADS_1


“Ada beberapa hal yang tidak bisa Tamayra katakan kepadamu Selir Rosita. Mohon maafkan diri ini,” ucap Tamayra.


Selir Rosita segera mengangguk. Meski begitu, ada rasa penasaran yang muncul dibenaknya.


“Baiklah ... Aku akan mengantarmu ke saluran udara. Sisanya putri sendiri yang melakukan hal tersebut. Aku akan memberi denah yang ku ingat.” Selir Rosita segera mengambil kuas dan selembar kertas.


Di meja rias, kuas yang terkena tintah itu segera menghiasi kertas putih yang kosong. Ukiran dan demi ukiran tercetak di atasnya.


“Ada dua kali belokkan yang sering di temui. Aku tidak ingat pasti, tapi ada satu hal yang harus putri ketahui. Setiap saluran ini, terdapat hal berbahaya di sana. Aku, pernah menemukan ular yang sedang lewat. Untungnya, ular tersebut tidak melihat diriku dan merasakan keberadaanku.”


Tamayra mengangguk mendengar ucapan Selir Rosita. Selembar kertas yang bertuliskan denah segera disimpan olehnya dan dia pun tersenyum.


“Terima kasih, peringatan dan denah ini. Tamayra akan berhati-hati dan mengikuti apa yang selir katakan,” ucap Tamayra dengan mengenggam erat lembaran kertas tersebut.


“Ayo kita ke saluran. Aku akan membawamu ke tempatnya.” Selir Rosita segera membuka pintu.


Saat mereka ingin pergi, Pelayan yang menunggu Tamayra masih berdiri di sana dengan tenang.


“Aku lupa,” benak Tamayra ketika melihat Pelayan tersebut.


“Selama malam Selir Rosita,” sapa Pelayan itu.


Pelayan itu tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh Selir Rosita. Ingin bertanya alasan kenapa dirinya di suruh pergi, tapi tidak ada keberanian untuk melakukan hal tersebut.


“Tentu, kalau begitu saya izin pamit,” kata Pelayan dengan sedikit keraguan.


Tamayra bisa melihat keraguan dari pelayan tersebut. Dengan tersenyum, dia berniat untuk menyakinkan pelayan.


Setelah kepergian Pelayan, Tamayra segera melangkah mengikuti Selir Rosita.


...°°°...


Lestayra dan Melyra menatap ke kanan dan ke kiri. Tugas mereka adalah memperhatikan perpustakaan. Maka saat ini, keduanya tengah berjalan menuju ke tempat tersebut.


“Putri Lestayra dan Putri Melyra, perpustakaan sudah terkunci. Penjaga perpustakaan bilang, kalau perpustakaan hanya akan dibuka pada pagi hari hingga sore hari. Jadi, di jam seperti ini, tidak ada yang keperpustakaan,” ucap pelayan dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


Pelayan mengikuti langkah kaki Lestayra dan Melyra yang begitu cepat. Mereka merasa cemas karena kedua Putri kerajaan ini tidak mengatakan apa pun.


Lirikkan seperti isyarat untuk keduanya. Ketika tiba di belokkan, keduanya berpisah dengan cepat. Hal tersebut membuat kedua pelayan menjadi bingung hingga mereka saling bertabrakkan.


Akibatnya, kedua pelayan pingsan di tempat karena benturan di kepala mereka.


“Aduh, apa mereka engak kenapa-napa?” tanya Melyra dengan wajah khawatir.


Lestayra tersenyum dengan ekspresi yang sama. “Ini adalah rencana kita. untuk menyinggirkan pelayan, hanya ini jalan satu-satunya. Kita tidak mungkin, menyakiti mereka ‘kan?” katanya.


Melyra menjadi cemberut dengan apa yang dikatakan oleh Lestayra. Mereka pun melangkahkan kaki menuju ke sekitar perpustakaan.


“Aku tidak mengerti, kenapa Tamayra meminta kita untuk melakukan hal seperti ini,” ucap Melyra saat melihat sekeliling ruangan.


Lestayra yang berada didekat Melyra melirik ke arah yang lain untuk memperhatikan para pengawal yang berada disekitar istana. “Kita lakukan saja yang diminta olehnya. Lagi pun, kita tidak bisa membantu banyak dalam rencana ini.”


Melyra setuju dengan perkataan Lestayra. Mereka di jaman ini tidak membantu sedikitpun. Tamayra yang lebih sering berpikir akan masalah ini.


“Oke, aku harus kemana sekarang?” tanya Melyra seraya memperhatikan sekeliling.


Terlihat dari luar jendela, ada beberap pengawal yang lewat bersama dengan lampion sebagai penerang. Lestayra dan Melyra segera bersembunyi.


“Istana ini memiliki banyak pengawal, aku jadi takut kita akan ketahuan,” ucap Lestayra.


Melyra mengintip dari tempat persembunyiannya. “Akan sangat bagus jika mereka berada di luar Istana. Jika mereka berada di dalam, kita akan kesulitan.”


Keduanya berbicara dengan suara yang begitu pelan agar tidak ada yang mendengar mereka.


Setelah kepergian pengawal yang terdiri dari dua orang, Lestayra dan Melyra melangkah menjauh dari tempat kedua pengawal itu.


Berhenti di tempat yang cukup gelap yang berada di lorong kecil menuju ke ruang para pelayan. Lestayra dan Melya bersandar di dinding seraya menatap sekitar.


“Sekarang, kita akan keluar dari istana?” tanya Melyra. Lestayra mengangguk dan segera mendekati jalan para pelayan untuk keluar dari istana.


Ada lorong kecil yang memang diperuntukkan untuk pelayan. Memudahkan mereka bergerak cepat jika terjadi sesuatu yang tiba-tiba.

__ADS_1


Keduanya melangkah perlahan sambil menatap sekitar dengan sedikit berjaga-jaga. Di saat keduanya ingin masuk ke dalam lorong tersebut, Lestayra menarik Melyra dengan cepat hingga keduanya tersandung di sudut ruangan.


“Ada apa?” bisik Melyra dengan wajah panik.


__ADS_2