Thread Of Destiny

Thread Of Destiny
^Tiruan 2^


__ADS_3

"Kalian telah tiba," ucap Selir Rosita saat keluar dari persembunyiannya.


Lestayra dan Melyra yang telah tiba mengangguk bersama. Mereka berdua mendekati Selir Rosita yang berdiri tidak jauh dari lorong udara.


"Tamayra sudah masuk terlebih dahulu?" tanya Lestayra.


Selir Rosita mengangguk dengan lembut. "Iya tapi tenang saja. Kalian ikuti wol yang aku sangkutkan dibahu Putri Tamayra. Ikuti benang wol ini."


Melyra dan Lestayra segera mengikuti benang Wol itu. Mereka tidak akan menunda kesempatan seperti ini. Apa lagi, semua sudah tampak nyaman hingga melupakan tempat asal sendiri.


Mengikuti benang wol yang Selir Rosita berikan. Lestayra yang berjalan paling depan merasa kesulitan bernapas karena ruang yang sempit. Tidak hanya dirinya, Melyra juga merasakan hal yang sama.


Namun, keduanya tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyusuri lorong udara itu. Hingga, mereka tiba di tempat.


"Huh," Lestayra menghela napas setelah dia keluar dari lorong udara. Tidak hanya dirinya, Melyra pun menghembuskan napas panjang saat dia telah keluar dari lorong itu.


"Kalian?"


Tamayra menatap kaget melihat sahabat yang baru tiba.


Lestayra dan Melyra menatap Tamayra sambil tersenyum. Mereka bergegas mendekat, tapi langkah mereka terhenti ketika melihat Tiruan Tamayra.


"Lah, siapa mereka?" tanya Melyra dengan wajah kaget.


Lestayra pun mengangguk, "iya benar, siapa mereka?"


Tamayra menatap tiruannya yang tiba-tiba berubah wujud. Angin berubah menjadi Melyra dan kekuatan petir muncul dalam tiruan Lestayra. Yang tersisa hanya Api, Tanah dan Air yang masih dalam wujud Tamayra.


"Bagaimana mungkin, hei kalian meniruku!" teriak Lestayra dengan menunjuk ke arah tiruannya.


Tiruan Lestayra tertawa. "Lucu sekali, kau yang memiliki kekuatan petir bukan? Tapi kau bahkan tidak bisa membuatku mengakui dirimu, Lemah!" ucapnya.


Mendengar itu membuat Lestayra termakan emosi. Dia segera mendekati dan ingin meraih tiruannya itu.


Namun, saat ingin mencapai tujuannya, Lestayra segera ditarik oleh Tamayra. "Hentikan, mereka adalah kekuatan kita sendiri. Tapi wujud mereka menyerupai kita."


Penjelasan dari Tamayra membuat Melyra yang berdiri cukup jauh, segera mendekat. Dia berdiri tepat didepan tiruannya. "Jadi, mereka kekuatan kita?"


Lestayra melihat juga ke arah tiruannya. Saat mendengar pertanyaan Melyra, dia begitu memperhatikan kekuatan petir yang menyerupainya.


"Iya, mereka adalah kekuatan kita yang berwujud. Mereka tidak jahat, hanya sedikit menganggu." Tamayra menjawab sambil mendekati buku yang ada di depannya.

__ADS_1


"Lestayra dan Melyra, kemarilah!" serunya.


Tanpa menunggu lama, Lestayra dan Melyra mendekat dengan melingkari buku besar itu.


Menatap dalam kesunyian, ketiganya memperhatikan tulisan pertama setelah buku itu dibuka.


^Hanya untuk penerusku^


"Hanya untuk penerusku, Apa maksudnya itu?" tanya Lestayra menatap kalimat yang tertulis di lembaran buku berwarna kuning kecoklatan.


Tamayra menghardikkan bahunya. Dia juga tidak mengerti dengan makna dari tulisan tersebut.


"Lalu, untuk apa mencari jawaban dari kalimat ini. Buka saja lembaran selanjutnya," kata Melyra yang tanpa basa basi segera membuka lembaran selanjutnya.


Saat lembaran itu terbuka, rasa sakit yang tidak pernah mereka rasakan, kini terasa kuat dipunggung mereka.


Cahaya putih dari buku itu membuat ketiganya menutup mata dan tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi. Anehnya, di saat semua tampak kacau, tiba-tiba tiruan mereka berdiri menghalangi cahaya putih tersebut.


Tamayra menatap tiga tiruannya menghalangi cahaya putih. Dia segera berdiri dengan baik dan memegang punggungnya yang masih sakit.


"Kenapa, kenapa kalian melindungi kami?" tanya Tamayra.


Lestayra dan Melyra yang mendengar pertanyaan dari Tamayra segera melirik. Mereka melihat bagaimana punggung Tamayra mulai berdarah.


"Apa yang kau lakukan!" Melyra mengerutkan alis melihat tiruanya tidak menjawab dan hanya menganggu dirinya.


Tamayra menyentuh punggungnya. Dia merasakan ukiran yang menonjol tiba-tiba. "Lestayra, Melyra, coba perlihatkan punggung kalian kepadaku," pintanya.


Ada sedikit kebingungan dari reakdi Lestayra dan Melyra. Namun, keduanya segera berbalik dan menunjukkan punggung mereka tanpa bertanya.


Melihat punggung sahabatnya, Tamayra terdiam seketika dan dia segera melirik ke arah buku yang telah menampakkan gambaran naga.


"Lestayra dan Melyra, lihat buku itu!" Tamayra menyinggirkan tiruan yang ada di depannya. Lalu, dia mendekati buku tersebut dan menunjukkan gambar tiga naga yang tepat di punggung mereka.


Lestayra dan Melyra mendekat bersamaan. Mereka melihat bagaimana ukiran naga yang ada di tengah punggung Tamayra dan yang ada di buku.


"Semua, sama!" pekik ketiganya bersamaan. Saling berpandangan, mereka mencari arti dari semua yang terjadi.


Tidak ingin berhenyi di situ, ketiganya bersamaan membuka lembaran selanjutnya. Saat lembarab itu telah terbuka separuhnya, tiba-tiba cahaya putih yang begitu terang menyilaukan mata.


Ketiganya menjauh dengan bersandar di rak buku yang lain. Di saat itu juga, suasana di dalam ruang rahasia menjadi gelap gulita. Ada getaran hebat yang membuat mereka merasakan guncangan.

__ADS_1


"Apa ini, gempa!" Lestayra memegang rak buku sambil mebatap sekitar. Berusaha melihat dari balik kegelapan.


"Apa yang terjadi?" tanya Melyra saat dia merasa tubuhnya bergoyang tidak beraturan. Dia segera mencari pegangan yang ada di sekitar.


"Aku pun tidak tahu, berpeganganlah!" Tamayra memegang erat rak buku yang tengah dia sandari.


Saat kepanikkan melanda, tiba-tiba sebuah kalimat muncul ditengah-tengah kekacauan. Kalimat itu berhasil menjadi penerang untuk ketiganya.


Melyra dan Lestayra serta Tamayra saling menatap ketika melihat tulisan itu. Tiruan mereka berdiri di samping tidak jauh dari mereka sendiri.


Dengan anggukkan kepala, ketiganya menguncapkan kalimat yang ada di depan mereka.


"Darah yang mengalir di tubuh," ucap Tamayra dengan mengerutkan alis dan ingatannya tiba-tiba tertuju pada Hari Kebesaran. Dimana mereka tengah meminum darah.


"Bersama kekuatan murni dari leluhur," ucap Lestayra menyusul. Dia pun teringat dengan Hari Kebesaran, sama seperti Tamayra.


"Tidak ada yang bisa menghancurkan penerus," sambung Melyra yang juga ikut teringat dengan Hari Kebesaran.


"Karena Kami adalah Penerus yang mewariskan seluruh kekuatan ini!" ucap mereka bersamaan.


Setelah kalimat itu dibacakan, seketika semua yang ada di sekitar mereka berubah. Ruang sempit yang penuh buku, kini diganti dengan halaman depan Istana.


Banyak orang yang mengelilingi mereka dan yang membuat Tamayra, Lestayra dan Melyra terkejut. Semua prajurit kerajaan, tengah menodongkan senjata tepat di depan mereka.


"Ada apa ini?" tanya ketiganya dalam gumaman.


Kebingungan mereka semakin menjadi kala melihat Selir Rosita yang berlutut ditengah-tengah halaman.


"Yang Mulia, ini salah Selir Rosita. Selir inilah yang menjebak para Putri untuk masuk ke ruang terlarang itu," ucapnya.


Lestayra mengerutkan alis dan mendekat. "Selir Rosita, apanya itu?"


Prajurit menodongkan senjata saat Lestayra ingin mendekati Selir Rosita. Melyra yang berdiri dekat dengan Lestayra segera menahannya.


"Ini tidak bisa di maafkan!" pekik Selir Vian-Ji dengan suara yang mengelegar. Dia segera membungkuk hormat kepada Raja dan Ratu yang berdiri di depan semua orang.


"Yang Mulia, maaf atas apa yang telah Selir ini lakukan. Selir ini hanya ingin sebuah kepastian dari peraturan kerajaan. Membuat rencana untuk para Putri itu tindakkan kejahatan. Dia harus dipeng*l!" sambungnya.


Tamayra yang mendengar hal itu segera mendekat. "Tunggu dulu, apa maksudnya ini!" teriaknya.


Semua perhatian yang tertuju kepada Selir Rosita segera teralihkan. Mereka menatap Tamayra dengan pandangan dingin.

__ADS_1


Yang Mulia Ratu menatap Tamayra. "Putriku, kalian telah memasuki ruang terlarang. Tidak ada yang diizinkan masuk ke dalam kecuali para Tetua. Kalian telah membantu Selir Rosita untuk menghidupkan sihir terlarang. Saat ini, kita tidak bisa menghindari peperangan kerajaan yang lain."


"Apa?!" pekik Ketiganya bersamaan.


__ADS_2