
Suara pedang terjatuh membuat Lestayra dan Melyra mematung ditempat. Mereka menatap bagaimana sosok Tamayra yang tidak biasanya.
“Tamayra!” teriak Melyra.
Tidak ada yang akan membiarkan sahabatmu berubah. Apa lagi, bisa membunuh seseorang tanpa memikirkan resiko apa pun.
Melyra berusaha mendekat tapi prajurit terus menghalau dirinya dan justru membuat posisi Tamayra menjauh dari mereka.
“Lestayra, apa yang bisa kita lakukan sekarang? Tamayra tidak boleh seperti ini.” Melyra menatap kearah Lestayra.
Lestayra mendorong prajurit yang ingin mengayunkan pedang padanya. Dia sebisa mungkin menghindari luka dan tidak melukai orang lain. Akan tetapi, semakin menghindari semua itu, Lestayra justru mendapatkan luka dari para prajurit.
“Aku tidak tahu Melyra. Saat ini, kita harus menahan mereka agar tidak membunuh kita.” Lestayra mulai tengelam dalam peperangan yang terjadi.
Di dalam aula kerajaan, Para tetua dan yang lainnya hanya menontong. Mereka bisa turun tangan dengan kekuatan mereka. Namun, semua tahu bahwa ketiga putri ini hanya manusia biasa dan tidak memiliki kekuatan sama sekali.
Ratu Destia-Rya menatap kearah para putri yang sedang beradu senjata. Dia menutup mata dan segera melirik kearah sang Suami.
“Su....” ucapan Ratu Destia berhenti kala melihat raut wajah Raja Tiran-Rya yang tampak dingin.
Sedangkan Selir Rosita tidak bisa berbuat apa-apa.
Dia juga tidak menduga kalau ketiga putri itu justru kutukan untuk negeri ini. jika dia menolong mereka, percuama saja. Pada akhirnya, ketiga putri itu akan meninggal.
Namun, Selir Rosita tidak bisa diam begitu saja. Diantara prajurit yang sibuk menyerang, Selir Rosita mengambil pedangnya dan segera menebas beberapa prajurit hingga tumbang.
Mengetahui hal itu, Tamayra yang tenggelam dalam peperangannya segera berhenti.
“Apa yang selir ini lakukan?” tanya Tamayra yang tidak lagi memiliki kesopanan.
“Justru aku yang ingin bertanya kepadamu Tamayra. Apa yang terjadi, kenapa kalian seperti ini?” tanya Selir Rosita dengan bersandar dipunggung Tamayra.
Lestayra dan Melyra juga ikut bersandar di bahu Tamayra. Mereka saling menjaga satu dengan yang lain.
“Aku tidak tahu, aku bertemu dengan tiga naga dan tiba-tiba aku ada disini,” sahut Tamayra dengan wajah yang sudah berlumur darah.
“Aneh, aku menunggu kalian. Tiba-tiba saja kerajaan begitu ribut. Prajurit pun begitu sibuk hingga tidak ada yang mengetahui keberadaanku.”
Selir Rosita menatap kearah Prajurit yang tampak ragu untuk mengayunkan pedangnya.
“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi dengan kita?” tanya Melyra.
Tidak ada yang bisa menjawab. Tamayra memutuskan diri untuk fokus ke depan sedangkan Lestayra menyandarkan punggungnya di punggung Selir dan Melyra.
“Tamayra, tenanglah!” teriak Melyra.
Di saat ketiga gadis bersama selir sibuk dengan peperangan kecil itu. Yang Mulia Raja menatap tenang sebelum mengulurkan tangannya.
Ratu Destia-Rya terkejut melihat uluran tangan itu. apa lagi, yang keluar dari uluran tangan itu adalah kekuatan besar.
Udara yang tenang, tidak ada awan di dalam aula. Tiba-tiba saja, udara dingin berhembus dan kabut hitam muncul disekitar.
“Suamiku!” pekik Ratu Destia.
Tanpa mendengarkan apa pun, Raja Tiran-Rya mengeluarkan kekuatannya yang begitu kuat hingga semua menutup mata dan menahan diri agar tidak terpental karena kekuatan tersebut.
Merasakan sesuatu yang aneh, Tamayra menatap kearah atas dan melihat bagaimana kekuatan itu hadir. “Raja aneh,” gumam Tamayra yang menebas salah satu prajurit.
__ADS_1
“Aku tidak tahu cara menggunakan kekuatanku. Bahkan ketiga naga itu juga tidak memberitahuku. Bagaimana caraku mengalahkan semua orang yang ada disini.” benak Tamayra sambil terus membunuh prajurit yang ada.
Lestayra dan Melyra yang masih bertahan dengan Selir Rosita, mereka bertiga menutup mata karena merasakan angin yang berhembus hingga menerbangkan apa yang ada disekitar.
“Siapa yang mengeluarkan kekuatan ini?” tanya Lestayra.
Melyra menggeleng dan berusaha untuk menajamkan pandangannya. “Aku tidak bisa melihatnya.”
Raja Tiran-Rya mengulurkan kekuatannya lagi dan kali ini mengarah langsung kepada Tamayra.
Ratu Destia-Rya segera menyentuh tangan Yang Mulia tapi dirinya segera terhempas menjauh hingga terbentur pilar.
“Yang Mulia!” pekik semua Selir yang melihat kejadian tersebut.
Kekacauan semakin menjadi kala Tamayra yang tadi fokus pada prajurit kini menatap kearah Raja. Dia menunjukkan tatapan yang dingin.
“Tamayra, matilah!” ucap Raja yang mengeluarkan kekuatannya dalam bentuk anak panah.
Melihat hal itu, Lestayra dan Melyra segera berlari mendekati Tamayra. Keduanya merasa harus melindungi Tamayra karena mereka sudah merasakan tali saudara yang begitu kuat.
Namun, jarak antara Tamayra dan yang lain begitu jauh hingga membuat Lestayra dan Melyra menutup mata.
“Jangan!” teriak Melyra dengan uluran tangannya.
Tamayra yang menatap panah-panah tajam itu menghalau sebisa mungkin menggunakan tangannya. Dia menutup mata untuk sesaat dan siap merasakan rasa sakit. Akan tetapi, tidak ada rasa sakit yang diterima.
“Aku....” Tamayra membuka mata dan melihat apa yang terjadi di depannya. Tanah tiba-tiba menjadi tembok yang kokoh dan menghalau anak panah yang hampir nembus tembok tersebut.
Tidak hanya Tamayra yang dalam keadaan terkejut. Lestayra dan Melyra pun ikut merasakan rasa tidak percaya.
“Bagaimana bisa?” tanya Lestayra dengan mulut tercengang.
“Yang Mulia, izinkan kami untuk membunuh mereka.” ucap salah satu dari ketiga prajurit berpakaian hitam.
Lestayra dan Melyra mematung ditempat. Berbeda dengan Tamayra yang mengerutkan alis.
“Lestayra! Melyra! Angkat tangan kalian,” ucap Tamayra dengan cepat.
Tanpa berpikir dua kali, Lestayra dan Melyra mengangkat tangan kanan mereka bersamaan dan tanpa sadar, kekuataan lagi-lagi muncul.
“Ini?” gumam Melyra melihat keanehan yang terjadi.
“Kita telah diakui,” ucap Tamayra yang mulai mengukir senyum dibibirnya.
Tidak perlu bertanya lebih lanjut. Lestayra yang memiliki sikap sama seperti Tamayra, segera tersenyum bahagia. tangannya mengeluarkan kekuatan yang sudah tidak terbayangkan lagi.
Melyra masih sedikit bingung. Meski dia mengeluarkan kekuatannya, dia tidak ada niat untuk menyakitin siapapun.
“Aku tidak bisa menggunakan kekuatan ini,” ucap Melyra.
Tamayra yang mendengar hal itu segera mengulurkan kekuatan tanahnya yang menarik Melyra. “Tidak perlu khawatir, kita akan pergi dari sini, sebentar lagi.”
Ucapan Tamayra membuat Melyra mengerutkan alis. “Bagaimana kau bisa tahu, selama ini kita tidak tahu cara untuk kembali ke jaman kita.”
“Tenanglah,” sahut Tamayra yang kemudian menatap kearah Raja.
“Tidak ada kesempatan untukmu membunuh Yang Mulia Raja,” ucap Prajurit hitam yang menghalau Tamayra.
__ADS_1
Lestayra menghempaskan jemarinya yang tiba-tiba mengeluarkan kilatan petir. Entah apa yang terjadi, prajurit itu pingsan ditempat. Hanya, prajurit hitam yang telah melatihnya ini masih bertahan.
“Berhentilah, kami akan membunuh kalian dengan hati-hati,” ucapnya.
“Tidak ada yang dibunuh dengan kehati-hatian. Pasti, ada rasa sakit di dalamnya,” sahut Lestayra.
Selir Rosita menjadi bingung ketika melihat semua ini. tidak hanya dirinya, kini tetua kerajaan menjadi tidak tenang karena melihat ketiga putri mampu menggunakan kekuatan mereka.
“Kita bahkan belum mengajari mereka satu pun dari kekuatan itu.” Tetua pertama menjadi bimbang sesaat.
“Tenang saja, kita akan membunuh mereka.” Tetua yang lain diam-diam mengulurkan kekuatan yang begitu tipis. Kekuatan itu mengarah langsung kepada Tamayra yang sibuk melawan Prajurit hitam.
“Tamayra!” pekik Melyra ketika melihat sebilah pedang hampir menusuk punggung sahabatnya.
Namun, apa yang Melyra lakukan membuat Tamayra terdiam ditempat dengan menyandarkan tubuh Melyra di dadanya.
“Kau bodoh!” teriak Tamayra ketika melihat arah pedang dari air itu menusuk perut Melyra.
Lestayra yang kesenangan bermain dengan prajurit hitam seketika berhenti. Dia bergegas mendekati Melyra yang mulai berkesimpah darah.
“Siapa yang melakukannya!” pekik Lestayra dengan perasaan yang tidak bisa dikatakan. Sakit melihat sahabat yang terluka seperti ini.
Tamayra menatap kearah para tetua yang kini tampak tidak melakukan apa pun. Dia ingin melayangkan kekuatannya tapi tiba-tiba saja, kedua bahunya ditancapkan pedang dari air.
Tidak hanya Tamayra, Lestayra pun juga merasakan hal yang sama. kini, ketiganya telah ditahan dalam posisi yang benar-benar menyakitkan.
Kedua bahu Tamayra tertusuk pedang air hingga darah mengalir dengan deras. Di pangkuan Tamayra terdapat Melyra yang menutup mata karena rasa sakit akibat tusukkan diperutnya dan Lestayra harus menahan sakit karena kedua pahanya tertancap anak panah dari angin.
“B*d*b*h!” caci Tamayra ketika dia tidak bisa berbuat apa pun.
Kebencian telah tampak di pandangan Tamayra kepada Raja yang masih bertahan disinggasananya.
“Aku akan membunuhmu!” ucap Tamayra di dalam gumamnya.
“Bunuh mereka!” tintah sang Raja yang membuat Prajurit hitam segera menodongkan senjata mereka.
Tanpa menghitung waktu, tiba-tiba sebilang pedang yang begitu besar datang. Membuat Tamayra segera bangun dan berbalik badan untuk menghalangi pedang tersebut.
Semua mata melihat apa yang terjadi. Namun tidak dengan ketiga gadis yang sama-sama menutup maka mereka. Siap menerima rasa sakit dan melihat apa yang akan terjadi. Hingga....
...□□□...
"Tamayra, Lestayra, Melyra! Apa kalian mendengar ibu?" tanya seseorang yang membuat ketiga gadis merasa risih.
"Sudah cukup, sampai kapan kalian akan tertidur hah?" gerutuk orang itu lagi.
Lestayra, Melyra dan Tamayra pun membuka mata bersama-sama. Mereka terdiam ketika melihat apa yang terjadi.
"Lah, kita di mana?" tanya Melyra dan Lestayra bersamaan.
Seorang wanita dengan usia 40 tahun itu menghela napas. "Apa kalian masih mengumpulkan nyawa? Ini di panti, kemarin baru saja kalian tiba." ucap Ibu yang dikenal dengan Ibu panti mereka.
Tamayra, Lestayra dan Melyra saling menatap. Mereka merasa ada yang salah di sini. Ada ketidak beresan yang terjadi. Tapi, mereka sendiri tidak tahu yang sebenarnya.
"Ada yang salah!" ucap ketiganya bersamaan.
...□Ends Season 1□
__ADS_1
...