
Tidak dapat memberi jawaban yang pasti. Semua orang yang ada di Istana menjadi curiga dengan perkataan Selir Fa-Nay.
Keheningan berlanjut hingga tidak lama Selir Fa-Nay membuka suara. "Yang Mulia, sejujurnya aku tidak ingin menuduh siapa pun. Tapi, aku tidak bisa tinggal diam dalam hal ini."
Penuturan kata Selir Fa-Nay membuat semua orang memperhatikannya. Termasuk Selir Vian-Ji yang menatap dengan wajah serius.
"Saat Selir ini berbincang dengan Para Putri, Selir tidak sengaja melihat, Selir Vian-Ji berbicara dengan pengawal yang membawa Putri Tamayra." katanya.
Ucapan yang sangat tenang tapi meresahkan untuk Selir Vian-Ji.
Pandangan yang tadinya tertuju kepada Selir Fa-Nay, kini berubah menuju kearah Selir Vian-Ji.
Bahkan Raja pun menatap ke arah Selir Vian Ji, selir Ketujuh. "Selir Vian-Ji, apakah ucapan dari Selir Fa-Nay itu benar, kau berbicara apa dengan pengawal Putriku Tamayra."
Selir Vian-Ji berdiri dan memberikan hormatnya dengan anggun. Dia segera mengangkat kepalanya dan menatap lurus kearah Raja.
"Menjawab Yang Mulia, Selir ini berkata jujur, tidak ada satupun kata yang keluar dari bibir ini untuk mengajak berbicara dengan Pengawal." ucapnya dan menatap kearah Selir Fa-Nay.
"Selir Fa-Nay, apakah Anda menuduhku?sejujurnya, Anda sendiri tahu bahwa aku sudah berada di dalam kereta." sambungnya lagi.
Tidak ada yang bisa berbisik di dalam ruangan ini. Jika di sekolah, Lestayra dan Melyra sudah lebih dahulu berbisik untuk membahas masalah seperti ini.
Bagi mereka berdua, sudah terlihat jelas siapa yang sangat tepat untuk dicurigai. Meski begitu, Lestayra dan Melyra hanya diam dan menyimpan kesimpulan mereka dibenak masing-masing.
Diposisi Selir Fa-Nay, dia tidak bisa bernapas lega sama sekali. Pikirannya tidak tenang dengan perasaan yang sulit diartikan. Untuk mendapatkan posisi yang diujung tanduk ini, dia benar-benar telah melakukan kesalahan.
Dikarenakan suasana yang sudah tampak tidak baik, Raja memutuskan untuk menatap Tetua dan setelah itu Raja pergi dengan membawa sang Ratu.
Di dalam aula yang sama, hanya tersisa Tetua yang kini mengambil alih apa yang terjadi.
"Aku katakan kepada kalian, aku akan memutuskan siapa yang salah sesuai dengan butki dari apa yang didapat." ucap Tetua Pertama.
__ADS_1
Tamayra yang menjadi bahan utama dalam hal ini mengangguk. Dia juga penasaran, kenapa ada masalah seperti ini dan lagi, pelakunya merupakan orang Istana.
Tidak ingin berpikir negatif, Tamayra berusaha menenangkan pikirannya dan mengalihkan perhatiannya kepada orang lain. Saat matanya melirik sekitar, dia tiba-tiba menangkap sorotan mata seseorang.
Mata hitam yang begitu tajam tapi mempesona untuk Tamayra sendiri. Melihat itu dia segera menatap kearah lain. "Hei, matanya cantik." benak Tamayra.
"Selir Fa-Nay dan Selir Vian-Ji, kami memohon kepada kalian untuk berdiri di tengah Aula." pinta Tetua pertama.
Kedua Selir itu segera berdiri pada tempat yang diminta. Dan entah apa yang terjadi, aura diantara keduanya menjadi panas dan penuh akan penolakkan.
"Selir Fa-Nay, apakah Anda bisa mengatakan lebih jelas, bagaimana Anda bisa melihat Selir Vian-Ji berbicara dengan Pengawal Putri Tamayra?"
Selir Fa-Nay segera mengangguk dan menjawab, "Saat itu, aku ingin berbicara dengan Putri Tamayra, Putri Lestayra dan Putri Melya. Saat memberangkatkan Putri Tamayra, aku melihat dair kejauhan Selir Vian-Ji berbicara dengan Pengawal."
Tetua pertama mengangguk dan menatap kearah Selir Vian-Ji. "Selir Vian-Ji, biasakah Anda mengatakan kepada Kami, apa yang Anda lakukan saat Kereta Anda belum berangkat."
"Menjawab," sahut Selir Vian-Ji dengan serius. "Pada saat Kereta akan berangkat menuju ke Balai Kota, Aku sudah berada di dalam kereta dan menunggu keberangkatannya tiba. Tidak ada pembicaraan yang aku lakukan dengan Pengawal."
Penjelasan itu diterima oleh Tetua pertama. "Baiklah, Putri Tamayra, bisakah Anda menjawab pertanyaanku ini."
Tetua pertama segera memberi pertanyaan, "Apa yang Putri Tamayra lakukan sebelum berangkat ke Balai Kota."
"Menjawab, Aku berbincang bersama Putri Lestayra, Putri Melyra dan Selir Fa-Nay. Setelah tiba di Kereta, aku berangkat terlebih dahulu dari mereka. Setelah itu, aku tidak tahu apa yang terjadi. Hanya, masalah yang ku alami barusan."
Tetua mengangguk dan menatap kearah Lestayra dan Melyra. "Putri Lestayra dan Putri Melyra, bisakah Anda berdua menjawab pertanyaanku."
Lestayra dan Melyra mengangguk dan segera berdiri. "Silahkan," sahut keduanya bersamaan.
Tetua pertama segera memberikan pertanyaannya. "Sebelum berangkat menuju ke Balai Kota, apakah ada hal yang Anda berdua lakukan?"
Lestayra dan Melyra saling melirik dan mengangguk bersamaan. "Menjawab, Diriku dan Melyra saat itu berbincang seperti apa yang dikatakan oleh Putri Tamayra. Kami berjalan bersama Selir Fa-Nay. Hanya-," Lestayra menghentikan perkataannya.
__ADS_1
Tetua pertama segera memberikan respon dengan cepat. "Katakan, Putri Lestayra."
"Saat kami ingin berangkat, tiba-tiba pelayan yang bersaam kami tidak menemani kami. Ada Pelayan lain yang bersama kami." sambung Lestayra.
Perkataannya itu membuat Tetua pertama segera menatap kearah para Pengawal. "Panggilkan Pelayan yang bersama Putri Lestayra dan Putri Melyra."
Pengawal segera mengangguk kepala dan mengerjakan apa yang dipinta oleh Tetua Pertama.
Tidak perlu menunggu lama, Dua pelayan asing segera datang dan mereka bertekuk lutut di samping Pemimpin Badit.
"Katakan, siapa yang menyuruh kalian?" tanya Tetua Pertama tanpa basa-basi.
Dua pelayan itu tampak engan menjawab. Tapi, salah satu dari mereka segera mengeluarkan jawaban yang didengar jelas oleh semua orang.
"Selir Fa-Nay yang menyuruh kami," ucapnya.
Selir Fa-Nay membelak mendengar namanya disebutkan. Dia segera menatap dua pelayan itu. "Aku? Aku bahkan tidak mengenal kalian!" pekiknya.
Selir Keenam Raja mengeluarkan suara setinggi itu membuat semua orang tertegun. Tidak terkecuali dengan yang lainnya.
"Ehem, maafkan atas ucapanku. Tapi, Tetua Pertama apa yang ku katakan itu benar. Aku, tidak mengenal mereka." Selir Fa-Nay berusaha membela dirinya.
Akan tetapi, pendapat semua orang sudah pada tempatnya. Tidak ada dari mereka yang mempercayai perkataan dari Selir Fa-Nay.
"Selir Fa-Nay, Yang Mulia Raja yang akan mengambil keputusan atas diri Anda. Mohon maaf, Kami akan membawa pengawal untuk menjaga Anda." keputusan Tetua kepada masalah yang terjadi.
Dengan mendengar semua itu, Selir Fa-Nay tercengang dan menatap Tetua Pertama dengan wajah panik. "Tetua pertama, mohon maafkan diriku. Berikan kepadaku kesempatan untuk membela diriku."
Tetua pertama segera menggeleng dan melangkah menunju ketempatnya. "Maaf Selir Fa-Nay, dari masalah ini kami hanya bisa memberi hasilnya kepada Raja. Mohon kepada Anda untuk mengijinkan pengawal mengikuti kemana Anda pergi."
Selir Fa-Nay mengeram dan mencengkram erat pakaian yang dia kenakan. Dia segera berbalik dan melangkah keluar dari Aula. Melewati semua orang dan Dua pengawal segera mengikutinya.
__ADS_1
Setelah kepergian Selir Fa-Nay, Selir Vian-Ji melangkah di samping Tamayra. "Dia tersinggirkan," gumamnya.
Tamayra tentu mendengar apa yang Selir itu ucapkan. Tapi, dia hanya bia menatap dengan wajah bingung.