
Didepan jalan masuk Labirin. Ketiga gadis saling menatap dengan perasaan yang berbeda-beda.
“Aku seperti memasuki sebuah lembah kematian. Tidak, aku belum pernah merasakan kematian itu apa.” benak Tamayra.
“Aku ingin muntah, bagaimana bisa aku teringat dengan rumah hantu. Ini sepertinya lebih mengerikan daripada rumah hantu.” benak Lestayra.
“Apa kami akan berpisah?” benak Melya dengan wajah penasaran.
Ketiganya segera masuk dengan membawa tongkat kecil ditangan mereka sebagai petanda jika tersesat dan tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Tidak ada yang tahu seberapa panjang labirin ini, yang mereka tahu hanya satu, tempat ini sedikit menakutkan tapi menantang.
Saat ketiganya masuk kedalam, entah apa yang terjadi. Suasananya seketika sepi dan awan menjadi sedikit gelap. Tidak hanya mereka, Selir Rosita yang ada diluar labirin juga melihat perubahan cuaca itu.
“Pelayan, apa yang terjadi?” tanyanya. Beberapa pelayan dengan bingung menjawab. “Tidak tahu Selir Rosita, tidak pernah terjadi hal seperti ini.” kata mereka.
Selir Rosita menjadi bingung dengan apa yang terjadi dan memutuskan untuk meminta Pengawal memanggil Yang Mulai Raja.
Didalam Labirin, Ketiganya menatap satu dengan yang lain. “Kanan, Kiri atau lurus?” tanya Lestayra ketika melihat tiga jalan yang ada didepan mereka.
“Aku lurus!” ucap Melyra dengan semangat. Tamayra yang melihat semangatnya Meylra melipat tangan didada. “Apa yang terjadi kepadamu, kau begitu bersemangat dengan semua ini.”
“Waktu itu, aku pernah masuk kedalam labirin ini. tapi, ada masalah yang terjadi dan aku diselamatkan oleh prajurit bertopeng. Hanya saja, aku penasaran bagaimana caranya mengakhiri game dilabirin ini.” sahut Melyra dengan santai.
Lestayra menghela napas mendengar ucapan dari sahabatnya ini. “Kau seperti anak kecil, padahal umurmu lebih tua dari kami, setidaknya jangan kekanakkan.” cetusnya.
“Aku tidak kekanakkan ... seharusnya kau senang karena teman ini memiliki labirin, kau kan suka menantang nyalimu.” Kata Melyra.
Lestayra tidak bisa melawan karena ucapan sahabatnya itu benar. Dia segera bungkam dan menatap kearah lain. “Aku ke kanan.”
Setelah berkata seperti itu, Lestayra melangkah ke kanan dan masuk ke dalam. Tamayra dan Melyra hanya melihat kearahnya sebelum memutuskan jalan mereka sendiri.
“Aku ke kiri.” ucap Tamayra.
__ADS_1
Melyra menghela napas karena lagi-lagi dia harus masuk dengan jalan lurus kedepan.
Ketiganya berpisah dengan pilihan jalan masing-masing. Hanya ketiganya yang tahu kenapa mereka berpisah.
Ditempat Lestayra, dia melihat dua jalan yang menjadi pilihannya. Ada kebingungan dalam memilih dua jalan ini sebelum Lestayra menginjakkan kakinya masuk ke kanan.
Namun, saat Lestayra sudah melangkah lebih jauh, dia melihat gerakkan rumput yang dibuat labirin ini, Seperti bergeser dengan tiba-tiba.
“Loh, kenapa malah seperti ini?” gumamnya sambil menatap sekitar. Tempat masuk yang Lestayra ingat kini menghilang dan diganti dengan jalan buntu tanpa arah.
“Sihir atau kekuatan? Entahlah, aku pun tak tahu.” gerutuk Lestayra sambil terus berjalan tanpa memikirkan semuanya. Sudah banyak hal yang ada dipikiran Lestayra dan dia tidak ingin memikirkan hal lain lagi.
Sedangkan Melya bersandar dengan menatap kearah jalan lurus didepannya. “Oke, aku terjebak sekarang.”
Seakan tahu apa yang terjadi tapi tetap ingin berjalan disekitarnya, Melyra hanya bisa terkekeh dan melanjutkan perjalannya. Saat mengambil empat langkah kedepan, Melyra merasa sesuatu bergeser dan dia mulai berbalik badan.
“Si*l.” Melyra untuk pertama kalinya mengerutuk ketika melihat bahwa jalannya menjadi tiga arah. Jalan yang seharusnya sudah dilewati kini berubah menjadi jalan baru.
Sedangkan Tamayra mengalami masalah yang begitu aneh. Dari tadi dia menemui banyak labirin. “Apa tidak ada pilihan yang lebih baik?”
Tamayra mendapatkan tiga dan bahkan lima jalan sekaligus. Anehnya lagi, dia tidak menemukan jalan yang tepat dan tanda yang dia buat.
Saat berjalan ke kiri, Tamayra membuat tanda dengan tongkatnya diatas tanah. Tapi siapa yang menduga, tanda itu menghilang seketika.
“Oke aku menyerah, labirin ini membuat pusing, lebih pusing dari pada matematika.” gumam Tamayra. Dia melangkah ke sembarangan arah sambil membawa tongkat kecilnya.
Ketiganya didalam labirin tidak tahu kalau saat ini awan begitu gelap diatasnya. Selir Rosita sangat khawatir dengan pertanda aneh ini.
Tidak lama menunggu kehadiran Yang Mulia Raja. Terdengar suara langkah kaki yang tenang dan suara berat dari dirinya. “Apa yang terjadi, Selirku Rosita?” tanya Raja.
Selir Rosita segera memberi hormat. “Menjawab Yang Mulia, Putri Tamayra, Putri Lestayra dan Putri Melyra sedang ada didalam labirin. Mereka ingin bermain tapi keanehan terjadi, awan hitam tiba-tiba muncul diatas sana.”
Yang Mulia Raja segera melihat kearah langit dan menatap awan hitam tersebut. “Apa mereka membawa tongkat?”
__ADS_1
Selir Rosita mengangguk dengan cepat. Raja segera melesatkan kekuatannya, ada air yang berbentuk persegi empat besar. Air itu segera menunjukan tiga gambaran gadis yang tengah menghadapi masalah mereka.
“Berapa lama mereka berada didalam?” tanya Raja.
“Sekitar tiga puluh menit yang lalu.” sahut Selir Rosita.
“Ada apa?” pekik Ratu yang tiba dengan napas terengah-engah. Terlihat sekali dia sangat panik dan berlari ke taman.
Yang Mulia Raja melihat Permasurinya seperti ini membuatnya tersenyum sambil membelai rambutnya. “Putri kita ada di dalam labirin dan ada awan yang aneh di atasnya.”
Mendengar perkataan Suaminya. Yang Mulia Ratu segera melihat awan tersebut. “Apa yang terjadi? Kenapa awan hitam ini ada disini.”
Yang Mulia Raja segera menggeleng. “Aku pun tidak tahu, jarang sekali ada awan hitam di sini.”
Tempat yang tadinya sepi seketika ramai dikunjungi para Selir dan Tetua. Semua melihat awan hitam yang sangat langka.
Tidak ada di Kerajaan Dermarya yang memiliki awan sehitam ini. kecuali saat masalah datang atau tanda musibah buruk akan terjadi. Hanya saja, momen ini hal yang langka.
Semua melihat kearah air yang mengalir di depan. Melihat gambaran ketiga gadis yang melewati labirin bahkan wajah frustasi mereka.
“Suamiku, lebih baik kita selamatkan mereka.” ucap Yang Mulia Ratu.
Raja segera melirik orang yang dia cintai ini. “Kita bisa, tapi apa kau lupa istriku. Awan hitam ini memiliki lapisan pelindung.”
Sebagian air segera memisahkan diri dari kelompoknya dan melesat masuk kedalam labirin. Saat akan masuk, air itu hancur sebelum tiba di sana.
Ratu segera terdiam dan mengerti apa yang terjadi dengan awan hitam ini.
“Yang Mulia, ini pertanda tidak baik. Kita harus menyelamatkan ketiga Putri.” Ucap Tetua yang memberikan hormatnya.
Yang Mulia Raja memberikan ruang untuk Tetua. “Aku sudah mengerahkan kekuatanku, kalian bisa mencobanya.”
Semua menjadi bingung dengan perkataan Raja. Dengan cepat mereka tahu apa yang dimaksud oleh Raja. Awan hitam itu tidak memberikan mereka izin untuk menganggu labirin tersebut.
__ADS_1