Thread Of Destiny

Thread Of Destiny
^Berwarna^


__ADS_3

Rasa sakit yang ada di punggung ketiganya berhasil menghentikan pelatihan khusus tersebut dan mereka segera beristirahat di dalam kamar.


“Bagaimana keadaan mereka Tabib?” tanya Raja Tiran-Rya dengan wajah khawatir.


Raja yang dikenal dengan sikap dingin dan tidak perduli. Kini, semua mata melihat jelas bagaimana kekhawatiran Sang Raja.


“Yang Mulia, Para Putri pertama kali melakukan latihan untuk kekuatan mereka. lalu, membuat kekuatan mengakui diri kita sebagai sang pemilik, kita harus benar-benar mengerahkan energi kita.”


“Ketiga Putri kehilangan energi yang ada di dalam tubuh, sehingga itu semua membuat mereka merasakan sakit dan panas sekaligus.” kata Tabib menjelaskan dengan suara pelan.


Raja Tiran-Rya segera mengangguk saat mendengar perkataan Tabib. “Aku mengerti ... Pelayan, siapkan makanan untuk mereka agar saat bangun nanti, mereka bisa segera mendapatkan kembali stamina mereka.”


Pelayan mengangguk dengan anggun setelah mendengar apa yang diperintahkan oleh Raja.


Semua orang segera meninggalkan kamar tidur ketiga putri kerajaan. Saat keadaan kamar telah sunyi, barulah salah satu dari mereka terbangun.


Melyra yang terbangun terlebih dahulu dengan rasa sakit yang ada di tubuhnya. Dia menatap sekitar dan duduk perlahan. “Uhm, Lestayra....”


Perlahan Melyra merangkak untuk turun dari kasur dan melangkah menuju ke arah Lestayra berada.


Tangan Melyra perlahan mencapai kaki Lestayra. Dia mengerakkan kaki tersebut untuk membangunkan sang sahabat.


“Lestayra, bangunlah!”


“Hei!” seru Melyra dengan suara yang lemah karena merasa punggungnya masih sakit.


Disaat seruannya mengisi ruangan. Lestayra dan Tamayra membuka mata secara bersamaan.


“Ugh! Astaga, punggungku sakit,” ucap Lestayra sembari merengangkan tubuhnya. Dia sangat merasa kesakitan di area punggung.


Tidak hanya Melyra dan Lestayra yang mengalami rasa sakit. Tamayra yang baru terbangun juga merasakan hal yang sama.


“Agh, punggungku sakit sekali ... apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Tamayra sambil menatap kedua sahabatnya.


Gelengan diberikan oleh Lestayra dan Melyra. Keduanya tidak tahu-menahu dengan rasa sakit yang tiba-tiba ada dipunggung mereka.

__ADS_1


“Aneh sekali, padahal kita hanya sedang berinteraksi dengan kekuatan kita sendiri. Tapi, kenapa rasanya seperti menghadapi hukuman sekolah ya?” celetuk Lestayra.


Melyra mengangguk sembari bersandar di samping Lestayra. Helaan napas berhembus dan rasa sakit di punggung semakin menjadi.


Tamayra bangun dari kasurnya dan melangkah mendekati cermin. Saat ini, pakaian mereka hanya pakaian pendek yang khusus dari kerajaan.


Mata Tamayra melihat ke arah punggung Melyra yang bersandar di pundak Lestayra dari balik cermin.


“Hei Melyra, apa kau membuat tato di punggungmu?” tanyanya.


Melyra mengerutkan alis. “Apa yang kau katakan? Aku tidak pernah berniat untuk merusak tubuhku sendiri.”


Mendengar jawaban Melyra seperti itu, Lestayra mengerutkan alis dan melihat punggung Tamayra.


Saat perhatiannya mulai terlihat jelas, Lestayra membelak seketika. “Tamayra, punggungmu!” pekiknya.


Kepanikkan Lestayra membuat Tamayra segera berbalik badan. Lalu, dia melihat sebuah ukiran naga di bagian tengah punggungnya segera terlihat.


Ukiran itu dari bawah tengkuk hingga ke tengah punggung Tamayra dan lagi punggung Tamayra benar-benar menunjukkan bagaimana gambar naga tersebut terbentuk.


Lestayra dan Melyra segera mendekat dengan menutup mulut mereka. Merasa sangat tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan mata.


Disaat pikiran berjalan tidak tentu arah, Lestayra dan Melyra juga memperhatikan punggung mereka. sebelah kanan dan kiri, gambar naga benar-benar terbentuk dengan warna yang menerangi.


“Astaga, apa lagi ini?” tanya Lestayra.


Pikiran yang benar-benar tidak tentu arah itu membuat kepala Lestayra menjadi sakit. Dia segera menatap ke arah Melyra yang duduk di kursi kecil.


“Ada apa denganmu?” tanya Lestayra sembari melihat wajah Melyra.


“Aku jadi kepikiran dengan kekuatan dari Prajurit Hart. Kalian tahu, dia punya dua kekuatan.” Melyra mengingat jelas dengan apa yang dilihat olehnya sendiri.


Lestayra menghela napas. “Aku tidak ingin memikirkan kekuatan dulu. Saat ini, masalah kita adalah tato naga ini. Kau tahu sendiri bukan, kita bukanlah orang asli di jaman ini.”


Penuturan kata Lestayra membuat Melyra mengangguk dan menatap ke arah Tamayra yang mematung di tempat.

__ADS_1


“Hei Tamayra,” seru Melyra sembari menyenggol kaki sahabatnya itu.


Lestayra melirik ke arah Tamayra yang menatap punggungnya dari cermin.


Saat merasakan sentuhan seseorang, Tamayra segera tersadar dan melihat Melyra dan Lestayra secara bergantian.


“Iya?” tanyanya dengan wajah bingung.


“Ada apa denganmu, Tamayra?” tanya Lestayra.


“Um, aku jadi kepikiran. Aneh tidak sih, kita selalu mendapat masalah di sini. Tidak, lebih tepatnya, selalu merasa ketegangan dan gangguan di setiap kegiatan kita.”


“Aku ingat sekali, saat acara Hari Kebesaran itu. Lalu saat aku sibuk membaca buku dan terakhir, saat di labirin. Apa maksud dari semua ini?”


Tamayra duduk di kursinya sambil menatap ke arah Melyra dan Lestayra. “Aku akan mempercepat tindakkanku untuk masuk ke dalam ruang rahasia itu. kalian berdua, bisakah membantuku?”


Lestayra dan Melya mengangguk mendengar apa yang Tamayra katakan. Ketiganya segera berkumpul dan mulai membahas apa yang akan di lakukan oleh mereka.


...°°°...


“Hari ini, bagaimana pun caranya, kita harus bisa menghancurkan tiga putri tersebut. Sebelum, mereka bisa mengunakan kekuatan mereka.” ucap Selir Vian-Ji dengan wajah serius.


Selir Jia Li meghela napas. “Apa yang harus kita lakukan? Kau tidak melihat sendiri, saat ini mereka sedang sakit dan tidak diizinkan satu orang pun untuk mengangguk istirahat mereka.”


Perkataan Selir Jia Li membuat Selir Vian-Ji menghela napas dengan kasar. “Jadi Selir Jia Li, kau ingin mengatakan kalau rencanaku tidak akan bisa berjalan dengan baik?”


Tatapan Selir Vian-Ji membuat Selir Jia Li meneguk salivanya dengan perasaan tidak tenang.


“Dengar Selir Jia Li, kau lakukan saja apa yang ku katakan. Sebisa mungkin, tidak ada kesalahan seperti Selir sebelumnya yang masih berada di dalam penjara. Jangan sampai, kau yang menyusul dirinya,” Selir Vian- Ji tersenyum setelah berucap.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Selir Vian-Ji, Selir Jia Li hanya diam dan mengalihkan pandangan menatap ke arah lain.


“Sudahlah, kita tidak perlu membahas hal ini lagi. yang perlu kalian lakukan adalah, menghilangkan mereka sebisa kalian. Kehadiran mereka sudah sangat mengangguk. sehari-hari, hanya ada pembicaraan tentang mereka dan kita tidak ingin istana ini menjadi milik mereka.”


“Setidaknya, kita mendapatkan sedikit perhatian dari Raja.” kata Selir Vian-Ji yang menatap kedua selir di depannya.

__ADS_1


Kedua Selir tersebut mengangguk bersamaan dengan wajah mengerti dan siap menjalankan apa yang sudah menjadi tugas mereka sendiri.


Selir Fa-Nay dan Selir Jia Li segera keluar dari kamar tidur Selir Vian-Ji. Mereka masing-masing melangkah ke tempat tidur dan membersihkan diri karena hari sudah sore.


__ADS_2