
“Apa tidak ada cara yang lebih baik lagi? kita hanya akan menyaksikan bagaimana kedekatan tiga putri baru itu dan mereka akan mendapatkan tempat yang luar biasa dihati Raja?” tanya Selir Xia-Ju dengan menatap kesal kearah Selir yang lain.
Mendengar hal itu membuat Selir Vian-Ji menatap padanya. “Apa kau berpikir kami ini bersantai? Kami juga memikirkan nasib kami. Jika Raja sudah bahagia dengan ketiga putrinya, tidak ada kesempatan untuk mendapatkan perhatian dan posisi sebagai permaisuri.”
Mengangguk kepala, Selir Jia Li menatap tenang dengan mata melirik ke segela arah. “Hanya selir Rosita yang masih dekat dengan ketiga putri itu. lakukan sesuatu, untuk menyinggirkan keempatnya.”
“Bagaimana caranya? Bukankah sudah tidak ada lagi kesempatan untuk kita? Dan lagi, Putri-Putri manja itu sulit untuk diajak berbicara. bahkan, mereka berlagak seperti putri sesungguhnya.” Keluh Selir Xia-Ju.
“Aku setuju, Mereka sangat menikmatinya dan bahkan kemarin, mereka membuat semua orang mengkhawatirkan mereka hanya karena sebuah labirin. Apa yang mereka inginkan sebenarnya....” imbuh Selir Jia Li dengan wajah kesalnya.
“Labirin?” tanya Selir Vian-Ji dengan mengerutkan alis. Dia tampak berpikir sesaat sembari menatap kearah lain.
Selir Jia Li dan Xia-Ju menatap Selir Vian-Ji dengan wajah bingung.
“Karena kegagalan kita di acara Hari Kebesaran, kita akan membuat rencana lain. Jia Li, dekati Melyra. Bawa dia bermain di labirin dan aku akan memberikan sesuatu kepadamu.” kata Selir Vian-Ji dengan wajah serius.
Melihat itu, Selir Jia Li mengangguk. “Baik.”
“Lalu untukmu adikku, aku ingin kau menangani Tamayra.” ucapnya dengan santai.
Xia-Ju segera menggeleng. “Tidak, aku tidak mau berurusan dengan Tamayra itu, tatapannya menakutkan.”
“Dia hanya gadis kecil, yang berbahaya itu Lestayra. Dia memiliki kekuatan besar. Apa kau ingin menghadapinya?” tanya Xian-Ji dengan wajah serius.
Dengan menelan salivanya, Selir Xia-Ju menatap kearah lain dan mengangguk. “Baiklah, aku akan menghadapi Tamayra. Lalu, apa rencanamu?”
Xian-Ji tersenyum kepada dua orang wanita didepannya. Status mereka sama, hanya saja tingkat status mereka yang berbeda.
...°°°...
DI gazebo, Tamayra tersenyum dengan tenang dan menatap Selir Rosita. “Yeah, maksudku ... Dia sudah tidak ada lagi di dunia.”
Selir Rosita mengangguk dengan wajah lega karena akhirnya mengerti. Dia berpikir, Tamayra sedang bercanda ketika mengatakan orang yang dia cintai tidak ada di dunia ini.
__ADS_1
Lestayra dan Melyra saling melirik dan menggeleng bersama. Ketika mendengar ucapan Tamayra.
Ketiganya pernah saling jatuh cinta dengan teman seangkatan mereka sendiri. Hanya saja, semua itu berakhir seperti apa yang dikatakan Lestayra, mereka memendamnya.
“Kalian membuatku takut, bagaimana bisa ada seseorang yang kalian cintai tapi pria itu pergi dari dunia ini. ah, tidak ada di dunia ini maksudnya.” ucap Selir Rosita sembari tersenyum manis.
Melihat hal itu membuat Tamayra mengingat akan seseorang. “Selir Rosita, apa anda tahu, aku juga punya teman seperti Anda. Namanya juga seperti nama Anda.”
“Oh ya?” Selir Rosita menjadi penasaran setelah mendengar apa yang Tamayra katakan. “Lalu, dimana dirinya berada?”
Lestayra dan Melyra menatap Tamayra sembari mempertanyaan siapa yang dimaksud.
“Ah, dia juga tidak ada lagi di dunia ini.” sahut Tamayra dengan wajah bermain-main.
Melihat hal tersebut, membuat Melyra menepuk tangan Tamayra dan menatapnya dengan wajah kesal. “Berhentilah bermain-main, kau membuat Selir Rosita bingung.”
“Tidak apa-apa Putri Melyra, aku tidak merasa sepeti itu. tenang saja.” Selir Rosita berbicara dengan nada lembut sembari penepuk pundak Melyra.
Senyum dari semua wanita yang duduk di gazebo itu terukir manis. Hingga, Tamayra membuka kembali pembicaraan mereka.
Selir Rosita yang tersenyum seketika membeku. Matanya menatap Tamayra hingga terpaku ditempat.
Lestayra dan Melyra tercengang mendengar apa yang Tamayra tanyakan. Keduanya meneguk saliva dengan wajah cemas.
“Tamayra sedang apa? Dia mempertanyakan masalah seperti itu di sini?” benak Melyra dengan perasaan tidak percaya.
Lestayra menutup wajahnya dan berusaha untuk tidak menganggap Tamayra sebagai temannya. “Dia benar-benar ingin mempertanyakan masa lalu itu?”
Helaan napas Selir Rosita berhembus. Dia menatap Tamayra yang merupakan putri tertua. “Dengar Putri Tamayra, tidak ada yang mengijinkan cerita ini untuk menjadi bahan cerita. Hanya saja, jika dirimu penasaran aku akan menjelaskan beberapa hal yang terjadi.”
Tamayra menghela napas ketika Selir Rosita merespon baik pertanyananya. Setidaknya, dia bisa mencari tahu tentang masalah mereka di sini dan bagaimana mereka bisa terhubung ke masa lalu.
“Aku tidak tahu bagaimana awal mulanya. Tapi saat itu, setelah aku diangkat menjadi selir terakhir kerajaan. Aku, tanpa sengaja masuk ke perpustakaan rahasia yang ada dikerajaan. Di sana, semua masalah tertulis, termasuk kata kutukan.”
__ADS_1
Alis Tamayra mengerut mendengar perkataan Selir Rosita. “Kata kutukan?” tanyanya.
Selir Rosita mengangguk. “Aku tidak mengerti apa arti tulisan tentang itu. Tapi dirimu tahu bukan? Kalau dua periode kerajaan, hanya ada dua ratu yang melahirkan tiga putri kembar.”
“Putri kembar itu hanya bertahan selama satu bulan, itulah yang ditulis dalam buku sejarah. Tapi, semua itu tidak benar.”
Melyra dan Lestayra mengerutkan alis. Mereka memperhatikan Tamayra yang tampak serius berpikir.
“Kematian tiga putri kembar disebabkan oleh-.”
“Selir Rosita?” tanya Selir Xian-Ji dengan tersenyum senang dan mendekat kearah gazebo.
Perkataan Selir Rosita segera terhentikan dan semua mata tertuju kepada Selir Xian-Ji.
“Selamat sore Selir Xian-Ji.” sapa keempatnya setelah melihat Selir Xian-Ji duduk di samping Lestayra.
“Sore juga, apa yang kalian bicarakan?” tanya Selir tersebut dengan wajah yang begitu ramah.
Selir Rosita ingin membuka mulutnya, tapi Tamayra terlebih dahulu membuka suara. “Tidak ada, kami hanya membahas hal-hal tidak penting.”
Selir Vian-Ji menatap Tamayra. “Putri Tamayra, menjawab pertanyaanku tanpa izin itu tidaklah sopan.”
Tamayra menarik tipis bibirnya dengan wajah yang ingin tertawa. Dia mengangguk, “Maaf atas apa yang kulakukan.”
Setelah berkata seperti itu, tatapan keduanya saling bertemu dan Tamayra telah mengetahui watak wanita yang merupakan Selir ketujuh ini.
“Tidak masalah, lagipula kalian baru beradaptasi di sini. Tapi, perhatikanlah semua yang ada disekitarmu. Termasuk, sopan apa tidaknya untuk duduk bersama dengan Selir?” ucap Selir Vian-Ji.
Siapakah yang dia maksudkan di dalam perkataannya, tapi Tamayra segera merespon perkataan tersebut.
“Menjawab Selir Vian-Ji, jika seperti apa yang Anda katakan, maka seharusnya Anda tidak duduk bersampingan dengan Putri Lestayra.” Tamayra berdiri dari tempat duduknya dan tersebut sembari melihat kedua sahabatnya.
Lestayra dan Melyra segera bangun dari tempat duduk mereka dan berdiri menjaga jarak yang ada.
__ADS_1
“Beginikah maksud Anda, Selir Vian-Ji?” tanya Tamayra dengan tersenyum ramah. Tapi, tatapan matanya penuh akan tantangan.