Thread Of Destiny

Thread Of Destiny
^Aneh^


__ADS_3

Setelah apa yang dikatakan oleh Tamayra, Selir Vian-Ji tersenyum dan menatap kearah ketiga putri yang berdiri di dekat pagar gazebo.


“Ada apa ini? apa kalian sedang menikmati pembicaraan di sore hari?” tanya Ratu Destia yang datang dengan empat pelayannya.


Selir Vian-Ji dan Selir Rosita segera bangun untuk memberikan hormat mereka.


“Kenapa dengan kalian?” tanya Ratu Desita saat melihat ketiga putrinya sedang berdiri di dekat pagar.


Lestayra dan Melyra menahan tangan Tamayra untuk tidak mengatakan apa pun. Karena mereka tahu bahwa Tamayra suka membuka masalah sendiri.


“Menjawab Ibunda, berdirinya kami disini karena Selir Vian-Ji mengatakan kepada kami. Bahwa kami, tidak seharusnya satu tempat duduk dengan mereka. maka dari itu, kami berdiri untuk menghormatinya.” Ucap Tamayra tanpa memikirkan yang lain.


Tidak ada yang tahu perasaan Tamayra saat ini. dia kesal dan merasa tidak senang dengan kehadiran Selir Vian-Ji. Jadi, dia berusaha untuk mengusir secara halus tanpa harus dirinya yang turun tangan.


Lestayra dan Melyra menujukkan ekspresi datar mereka saat mendengar perkataan Tamayra. Tidak ada gunanya menahan sahabat mereka yang satu ini, karena Tamayra memiliki sikap keras kepala yang tidak masuk akal.


Mendengar perkataannya yang seperti itu, Selir Rosita menjadi panik. Dia tidak menduga akan menyaksikan hal seperti ini. Tidak ada yang pernah menjatuhkan seorang Selir.


Apa yang dirasakan oleh Selir Rosita juga dirasakan oleh Selir Vian-Ji. Dia menatap Tamayra dengan sedikit memiringkan kepalanya sebelum kembali pada sikap semula.


Ratu Destia-Rya segera menatap kearah Selir Vian-Ji. “Aku rasa tidak masalah untuk duduk bersama di sini. Kecuali ditempat formal, Seorang Selir lah yang harus memperhatikan posisinya di mana.”


Penjelasan Ratu Destia-Rya membuat Selir Vian-Ji meneguk salivanya dan segera menatap kearah lain. sedangkan Selir Rosita menjadi bingung akan situasi ini.


Apa yang dikatakan oleh Ratu Destia-Rya tidaklah salah. Sebagai seorang Selir, status mereka masih terbilang rendah bahkan dari Putri kerajaan. Jadi, tidak heran Ratu mengatakan hal seperti itu.


“Duduklah, Putriku.” Ratu memberi ruang untuk ketiga gadis yang saat ini mengangguk tapi tidak segera duduk dikursi tersebut.


Saat Tamayra duduk di dekat Ratu Destia-Rya, barulah Lestayra dan Melyra ikut duduk.


Di saat ketiganya duduk di meja gazebo, dua orang wanita yang berstatus Selir segera berdiri dari tempat duduk dan sedikit menjaga jarak mereka.


“Seperti inilah status, Tamayra.” kata Ratu Destia-Rya dengan santai sambil mengelus rambut putrinya.


Lestayra dan Melyra merasa tidak nyaman dengan semua ini. apa lagi, mereka di sini juga bukan sepenuhnya putri kerajaan. Tapi saat ini mereka tidak bisa berucap apa pun.


...°°°...

__ADS_1


Di dalam kamar tidur, Lestayra dan Melyra segera menatap kearah Tamayra.


“Apa yang kau lakukan? Kau membuat Selir Vian-Ji membencimu?” tanya Lestayra.


“Kau bahkan tidak memikirkan perasaan kami saat kau mengatakan semua itu. Kau membuat napas kami terasa sesak.” kata Melyra.


“Dan lihat apa yang terjadi, kita malah tidak merasa kesenangan saat berbicara dengan Ibunda dan Selir Rosita tidak banyak merespon pembicaraan.” Imbuh Lestayra.


“Jawablah Tamayra, apa yang sebenarnya kau rencanakan?” tanya Melyra setelah mengatakan banyak hal.


Tamayra berbaring di kasur dan memutuskan untuk diam tidak mengatakan apa pun. Membuat keduanya menjadi bingung dengan apa yang terjadi.


Setelah hening sesaat, Tamayra baru membuka suara dengan menyembunyikan kepalanya di bawah bantal.


“Aku membenci Selir Vian-JI itu....”


Lestayra dan Melyra saling bertatap mendengar apa yang dikatakan oleh Tamayra. Keduanya mengakui kalau mereka juga membenci Selir tersebut.


“Disaat kita akan menemukan potongan lain dari masalah yang dialami. Di saat itu juga, selir tersebut datang tanpa alasan.” sambung Tamayra.


“Akan lebih baik begitu bukan? Dia juga harus tahu batasannya dan kita akan mengingat bahwa Dia sangat mementingkan status.” Tamayra masih kesal dengan apa yang terjadi.


“Oke, lupakan saja masalah tersebut. Sekarang, mari kita membahas apa yang diceritakan oleh Selir Rosita. Apa maksud dari kutukan?” tanya Melyra.


Lestayra mengangguk dan segera menarik kursi dari meja rias dan meletakkan di antara dua sahabatnya yang duduk di kasur.


“Aku ingin memasuki ruangan rahasia itu.” kata Tamayra.


“Bagaimana caranya? Kau tidak sadar kalau kita tidak memiliki akses untuk memasuki ruang rahasia.” Melyra menatap Tamayra dengan wajah serius.


“Selain itu, tidak ada yang bisa menyinggirkan pelayan. Tidak, bukan hanya pelayan, bagaimana jika sihir ada di ruang rahasia tersebut?” Lestayra sudah merasa lelah dengan kata sihir ini.


“Aku penasaran, bagaimana cara kita mengunakan sihir kita? Lestayra, apa kau bisa mengunakan kekuatanmu itu?” tanya Melyra.


Lestayra menggeleng dan mengulurkan kedua tangannya yang tidak menunjukan apapun. “Tidak ada yang bisa ku keluarkan dari tanganku ini. aku bukan pesulap.”


“Tidak semua orang yang bisa mengeluarkan kekuatan. Semua pasti harus berlatih bukan?” Tamayra menatap kedua sahabatnya secara bergantian.

__ADS_1


Hal tersebut membuat Melyra dan Lestayra mengangguk bersama.


“Oke, kita tidak bisa mengunakan kekuatan kita di sini, apa kita perlu meminta bantuan Ayahanda?” tanya Lestayra.


“Kau sangat antusias untuk mengunakan kekuatanmu itu.” Melyra menatap sinis kearah Lestayra. Tatapan itu bukan kebencian, melainakn tatapan yang menunjukan kalau Melyra sedikit iri pada Lestayra.


Lestayra hanya tersenyum dan menggangkat bahunya dengan santai. “Aku hanya penasaran,” katanya.


“Aku akan menanyakan masalah itu, tapi yang terpenting adalah masalah kita ini. aku sudah merangkum beberapa hal....”


Tamayra perlahan bangun dari kasurnya dan berjalan menuju ke arah cermin, lalu menulis perona bibir yang dibuat dari bahan alami.


Perlahan, Tamayra menulis sebuah tulisan dikaca. Lestayra dan Melyra segera memperhatikan tulisan tersebut.


“Pertama, kehadiran kita dan dianggap sebagai putri kerajaan karena memiliki mata yang sama seperti putri kembar keturunan asli kerajaan. Kedua, gumpalan yahng memberitahu kita untuk saling menghindari dan ketiga, adalah kutukan.”


“Menurutku, kita akan segera menemukan jawaban itu jika aku bisa masuk ke dalam ruang rahasia yang dikatakan oleh Selir Rosita. Untuk bisa kesana, aku harus mencari jalan yang tepat.” Jelas Tamayra.


Lestayra meletakkan tangan di dagunya. “Jika masalah akhir di ruang rahasia, sebaiknya kita bergerak cepat. Jujur, aku takut untuk melupakan dunia ini jika aku sudah nyaman di sini.”


“Aku pun, aku merasa seperti telah tinggal di sini selama bertahun-tahun. Meski aku akui, tempat ini sedikit aneh.” Imbuh Melyra.


Tamayra mengangguk dan segera menghapus cermin dengan sapu tangan yang ada di sana. Setelah itu, dia melangkah mendekati jendela dan melihat tiga prajurit bertopeng berlatih.


“Aku penasaran, seperti apa wajah prajurit bertopeng itu. dari kain yang mereka kenakan, mereka seorang prajurit kesayangan Raja.” Kata Tamayra.


Lestayra dan Melyra segera mendekati Tamayra dan berdiri di sampingnya untuk melihat kearah jendela.


“Aku juga penasaran, mereka seperti pernah ku temui di suatu tempat.” Kata Lestayra.


Melyra mengangguk, “Aku juga memikirkan hal yang sama. saat dia menolongku di labirin, aku teringat akan seseorang.”


Tamayra dan Lestayra segera menatap kearah Melyra. “Siapa?” tanya keduanya.


“Oh, bendahara osis.” sahut Melyra.


Lestayra dan Tamayra segera mengingat kehidupan mereka yang sebenarnya. Dan terakhir kali sebelum mereka libur sekolah, mereka memilik masalah dengan Ketua osis dan wakil ketua osis.

__ADS_1


__ADS_2