
"Apa yang sebenarnya terjadi?” benak Melyra.
Rasa sakit dipunggung membuat Melyra mengerang pelan tanpa bersuara. Dia tahu ada yang sakit tapi tidak bisa mengungkapkan rasa sakit itu.
Jemari lentiknya tidak bisa digerakkan. Semua seakan mematung tapi tidak dengan rasa sakit dan goresan yang dirasa oleh Melyra.
“Kenapa punggungku....” Melyra mengerutkan alis untuk menenangkan dirinya. Berusaha bangun dari kegelapan yang tidak bisa dilihat.
Saat berusaha untuk bangun, Melyra mendengar suara keributan yang terasa dekat olehnya. Dia pun menajamkan pendengarannya agar tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Mereka keturunan naga, Yang Mulia ini sungguh berbahaya!”
“Bagaimana bisa keturunan naga ada di sini. Ini pertanda Yang Mulia Raja, petanda kutukan itu benar. Akan ada tiga keturunan naga yang menghancurkan negeri kita!”
“Kita harus membunuh mereka!”
Melyra tersentak mendengar apa yang terjadi. Apa lagi, dia merasa kalau ucapan yang tersampaikan itu, tertuju kepada dirinya.
“Apa yang mereka katakan, kenapa membunuh kami?” benak Melyra.
Tidak hanya dirinya, Lestayra pun diam-diam mendengarkan pembicaraan itu. Dia ingin segera bangun tapi entah kenapa, tubuhnya tidak bergerak dan dia bahkan tidak bisa membuka mata.
“Sial!” benak Lestayra dalam geramannya.
Di kala kedua gadis tengah berusaha membangunkan diri. Tamayra masih terhanyut di alam mimpi yang membuatnya tidak ingin bangun.
Dia melihat tiga ekor naga yang sedang menatap padanya sambil tersenyum. Keindahan kulit mereka membuat Tamayra terdiam. Dia memperhatikan selendang yang dia kenakan.
“Apa yang kau perhatikan hm?” tanya Naga yang ada dibarisan paling depan. Senyumnya terukir dengan baik sebelum wujud manusia tampak didirinya.
“Tamayra, apakah itu namamu?” ucap Naga itu lagi, Naga tersebut mengenakan jubah berwarna hitam dengan tanduk kecil dikepalanya.
Ketika wujud dari naga itu berubah, naga yang berdiri di belakangnya ikut berubah. Wajah mereka sama tapi Tamayra bisa membedakannya dengan melihat pakaian mereka.
“Melyra, selendangnya berwarna merah. Naga yang ada di samping kanan adalah naga Melyra.
Sedangkan di samping kiri, dengan jubah berwarna biru, dia adalah naga Lestayra dan terakhir, naga yang ada di depanku saat ini, adalah nagaku sendiri.” benak Tamayra.
Di dalam pikiran Tamayra, kain yang terbelit ditubuhnya berkibar bersamaan dengan jubah hitam dari Naga yang kini berjalan menuju dirinya.
“Kau dari tadi diam? Tidakkah dirimu tahu ...” Naga hitam itu tiba-tiba berdiri di samping Tamayra. “Sungguh menyedihkan!” bisiknya.
__ADS_1
Tamayra yang mendengar hal itu segera terkejut. Dia bergegas menjauh dan entah bagaimana, tubuh yang terasa berat untuk dibawa berlari, seketika ringan dan Tamayra menjauh dengan jarak yang membuat dirinya tercengang.
“Bagaimana bisa?” gumam Tamayra.
“Aku memberimu kesempatan. Keluar dari jaman ini dan jangan kembali lagi. pergilah, tidak ada yang bisa kalian ubah. Bahkan, takdir kalian akan tetap sama.” ucap Naga berjubah hitam itu sambil tertawa.
Kedua naga yang lain berdiri disampingnya sambil menunduk malu. Melihat hal itu, membuat Tamayra menatap dengan tatapan biasa. Tidak ada ketakutan yang ada di dalam hati. Dia memutuskan untuk mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi.
“Takdir ... Heh, apa-apaan itu. kami pun tidak berniat untuk masuk kejaman ini. kami bahkan tidak tahu dari mana kami bisa masuk ke jaman ini. kalian yang lebih tahu bukan?” ucap Tamayra dengan nada mengejeknya.
Ketiga naga itu menatap Tamayra dengan begitu dingin. Salah satu dari mereka pun berucap. “Aku sepertinya salah menganggap dirimu. Benar apa yang dikatakan oleh kutukan itu. tidak ada cinta yang hadir dihatimu,” ucap Naga berjubah biru.
Mendengar kata cinta, Tamayra mengerutkan alisnya. Dia akui, dirinya tidak perduli cinta itu apa. Yang dia tahu, cinta hanya sesuatu yang memberimu kebahagiaan sesaat, setelah itu kamu akan dijatuhkan dengan rasa sakit yang dalam.
“Cinta itu merepotkan!” ucap Tamayra dengan santai sambil menghela napas dengan lelah.
“Jika kau menganggap cinta seperti itu, kau tidak akan tahu kebahagiaan itu apa,” sahut Naga berjubah biru dengan naga geramnya.
Tamayra tertawa kecil dengan pandangan yang tertuju kepada Naga tersebut. “Kebahagiaan? Apa harus didasari dengan cinta?” tanyanya.
“Uang pun bisa membahagiakanmu,” lanjut Tamayra dengan membuang napasnya secara kasar. Dia pun menatap ketiga naga di depannya.
Ketiga naga yang berdiri cukup jauh segera mendekat. Mereka berdiri tepat didepan Tamayra. Tinggi mereka mencapai 190 cm, membuat Tamayra mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat ketiga naga berwujud manusia.
“Bunuh ... orang yang mati rasa,” bisik Naga hitam ditelinga Tamayra. Setelahnya mereka menghilang dan Tamayra menutup mata karena sesuatu yang membuatnya sulit untuk melihat.
...□□□...
“Bunuh saja mereka Yang Mulia!”
“Bunuh mereka!”
“Bunuh mereka!”
Teriak semua orang ketika ketiga putri membuka mata bersamaan. Terbaring diatas tandu dan melihat bagaimana marahnya orang-orang kepada mereka, membuat ketiganya terdiam untuk memahami situasi.
Lirikan mata Tamayra tertuju kepada Raja dan Ratu. Kedua orang yang sudah dianggap sebagai orang tua itu, hanya diam dengan tatapan dingin mereka.
“Apa ini!” pekik Lestayra.
Tamayra menatap kearah Sahabatnya yang menutup tubuh dengan kedua tangan. sadar apa yang terjadi, dia juga melihat kearah Melyra.
__ADS_1
Lestayra dan Melyra menutup tubuh mereka karena tanpa diduga, seluruh pakaian telah terlepas dari tubuh mereka.
“Bunuh mereka!”
“Bunuh mereka!”
Teriak orang-orang lagi yang membuat emosi Tamayra memuncak. Lirikan matanya tertuju kepada orang yang masih diam menatap padanya.
“Lestayra dan Melyra, ambil pedang kita.” Tamayra bergegas mengambil jubah yang ada disamping dan menutupi tubuhnya. Dia mengambil pedang yang tergeletak diubin.
“Turunkan senjatamu, dasar kutukan!” teriak Pendeta dengan nada sedang tapi penuh kebencian.
Tamayra masih menatap kearah penguasa tertinggi yang mendapat gelar Raja dan Ratu. Ada harapan dihatinya untuk memastikan tindakkan ini tidak terjadi.
Namun, harapan kecil itu musnah ketika Tamayra melihat Yang Mulia Raja mengangkat tangan dan memberi tintahnya.
“Bunuh Ketiga Putri Kutukan ini!” ucapnya.
Tamayra menarik garis disudut bibirnya. Senyum tipis yang indah dengan di isi oleh kekesalaan.
“Kita akan pulang,” ucap Tamayra.
Lestayra dan Melyra menatap bingung. Mereka saling memandang tapi tidak bisa memberikan pendapat apapun. Setelah mengambil kain untuk menutupi tubuh mereka, keduanya segera mengambil pedang yang entah bagaimana ada di atas ubin.
“Apa kita akan benar-benar berperang disini?” gumam Lestayra setelah berdiri di samping Tamayra.
“Entahlah, aku pikir kita harus melakukan hal ini. aku ingin cepat kembali.” Tamayra menatap kearah prajurit yang mendengar dengan pedang ditangan mereka.
“Aku tahu, aku juga ingin kembali. Tapi kau sendiri tahu, kita tidak bisa menggunakan pedang.” Lestayra menatap pedang ditangannya. Dia tahu, tidak ada keahlian yang dimilikkan soal pedang ini.
“Bodoh amat, terobos saja lah!” ucap Tamayra yang mulai berlari.
Melihat Tamayra yang berlari mendekati para prajurit membuat Lestayra dan Melyra terkejut. Mereka tampak bingung untuk bertindak.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Melyra.
Belum mendapatkan jawaban, Melyra dan Lestayra terdiam melihat Tamayra yang kini tampak berbeda dari biasanya.
“Ta ....”
“Mayra....”
__ADS_1