
menanyakan apa dia tahu apa yang ia lakukan? Fang mengaku tahu. Dia meyakinkan kalo dia bisa melakukan apa yang Lin Lu lakukan. Apa dia nggak sebanding dengan Lin lu!
Lian Sen membalik Fang dan gantian mendorongnya ke dinding. Ia menahan kedua tangan Fang dan menatapnya. Fang memejamkan matanya, siap mendapatkan ciuman.
Tapi yang terjadi Lian Sen malah meninggalkannya. Ia mengambil ponselnya dan menelpon Zichen. Fang mengejar Lian Sen dan memeluknya dari belakang.
Terdengar suara Zichen yang nggak ngerti kenapa Lian Sen menelponnya tengah malam. Lian Sen meminta Zichen untuk datang ke rumahnya dan membawa pulang Fang.
Acara minum-minum Lin Lu dan Jing Jing sudah selesai. Keduanya sama mabuknya. Jing Jing bangkit dan pindah tempat duduk di samping Lin Lu. Ia memberitahu kalo sebenarnya dia mengagumi Lin Lu.
Lin Lu hanya tersenyum. Jing Jing melanjutkan kalo Liang Ge memanjakannya dan sangat peduli padanya. Kalo ke dia enggak sama sekali.
Jing Jing minum lagi. Lin Lu mengatakan kalo Jing Jing masih punya dia. Ia meyakinkan kalo Master Liang nggak akan bisa mrnyakitinya. Mereka kembali minum.
Jing Jing mengatakan kalo dia nggak ingin rasa sakit seperti itu. Dia ingin kebaikan seperti yang dimiliki Presdir buat Lin Lu.
Lin Lu malah tersedak mendengarnya. Menurutnya kata kebaikan terlalu indah untuk digunakan ke Lian Sen. Terlalu sia-sia. Menurut Lin Lu, Lian Sen itu berdarah dingin, kejam, dan sangat b*doh.
Ponsel Lin Lu tiba-tiba bunyi. Panjang umur. Baru aja diomongin langsung mengirim pesan, meminta Lin Lu untuk datang ke rumah.
Lin Lu malas dan nggak mau datang. Lian Sen kembali mengirim pesan. Ia memberi Lin Lu waktu 5 menit. Telat sedetik dendanya 3 juta. Lin Lu panik dan buru-buru pergi.
Lin Lu keluar dan menabrak Liang yang baru balik. Tanpa disadari ada yang memotret Lin Lu lagi. Lin Lu mengaku sedang buru-buru. Ia pamit.
Zichen sudah sampai di depan rumah Lian Sen tapi ragu antara mau masuk apa enggak. Mungkin karena sedang buru-buru jadinya cuman pakai celana kolor.
Lin Lu juga baru sampai. Sepanjang jalan mengutuk Lian Sen mulu. Dia melihat Zichen sedang menguping dan mengikutinya. Zichen berbalik dan kaget lihat Lin Lu, begitu juga dengan Lin Lu. Zichen memberitahu kalo dia tinggal disana.
Lin Lu melihat celana Zichen dan malah berpikiran yang enggak-enggak. Ia lalu membayangkan kalo Lian Sen punya hubungan yang mendalam dengan Zichen. Mereka nonton film bareng sambil suap-suapan. Habis suap-suapan mereka saling membersihkan mulut mereka masing-masing. Hadeuh!
__ADS_1
Zichen menegur Lin Lu yang senyum-senyum sendiri dari tadi dan menanyakan apa yang ia pikirkan. Lin Lu bilang bukan apa-apa. Dalam hati dia nggak nyangka kalo Lian Sen seperti itu.
Zichen menyuruh Lin Lu untuk masuk. Mereka kan pasangan. Lin Lu tersenyum dan memberitahu Zichen kalo akan sangat menyenangkan kalo bermain di sekitar pasangan kecil itu. Tapi kalo ada orang ketiga yang masuk maka dunia akab berada dalam kekacauan. Ia mengingatkan kalo ini sudah larut malam dan menasehati agar mereka jangan bertengkar.
Lin Lu lalu mau pergi. Zichen mengaku nggak tahu kalo Lin Lu sangat perhatian. Nggak heran kalo dia bisa memenangkan Sen Ge.
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam. Zichen menarik Lin Lu untuk masuk. Ia meninggalkan Lin Lu ke Lian Sen lalu menghampiri Fang dan bertanya apa dia baik-baik saja? Fang mengaku baik-baik saja. Ia mengaku kepanasan dan meminta Lian Sen untuk membukakan bajunya.
Zichen mengatakan kalo Fang sudah memecahkan kepalanya. Fang kembali memanggil Lian Sen dan memintanya untuk menyuruh Zichen pergi.
Zichen salah paham dan mengira Fang menyuruh Lian Sen pergi. Zichen mengajak Fang untuk pergi bersamanya. Fang tersenyum dan mengatakan masih ingin disana.
Lin Lu melihat anggur yang berceceran di lantai. Ia merasa kalo suasananya sangat kacau dan bermaksud pergi. Lian Sen menahannya dan memintanya untuk melakukan yang seharusnya sebagai pasangannya. Lian Sen tahu-tahu menarik Lin Lu dan memeluknya.
Zichen melihat Lian Sen dan Lin Lu pelukan dan menyuruh Fang untuk melihat mereka. Fang sendiri sudah nggak sadar. Zichen menggendongnya dan membawanya pulang.
Lian Sen tahu-tahu bangkit dan pelan-pelan menghampiri Lin Lu. Lin Lu mengingatkan kalo pria dan wanita bersama... .
Dia tahu kalo Lian Sen nggak suka wanita tapi tetap saja dia merasa nggak aman. Gimanapun juga dia masih dalam jalan yang benar. Jadi lebih baik Lian Sen istirahat aja. Dia mau pulang dulu.
Lian Sen makin dekat. Wajahnya nampak aneh. Ia menatap Lin Lu dalam-dalam dan memerangkapnya. Ia bertanya darimana Lin Lu tahu kalo dia nggak suka wanita? Lin Lu merasa takut. Ia menyinggung Zichen.
Lian Sen tersenyum. Ia memberitahu kalo Lin Lu sudah salah paham. Lin Lu menyimpulkan kalo Presdir enggak... .
Lian Sen tersenyum dan menempelkan kartu masuk rumahnya ke pipi Lin Lu dan memintanya untuk datang jam 7.30 besok dengan membawa kontrak. Ia lalu membukakan pintu dan mendorong Lin Lu keluar.
Zichen menidurkan Fang di sofa. Ia menasehati agar Fang nggak melakukan hal b*doh lagi seperti tadi. Ia mengingatkan kalo mereka tahu gimana sifatnya Sen Ge.
Dari kecil sampai sekarang nggak ada yang bisa mengubah apa yang sudah dia putuskan. Ia mengingatkan kalo Lian Sen sudah punya pacar. Ia juga tahu kalo Fang nggak bisa menerimanya. Ia mengaku nggak ingin melihat Fang terluka.
__ADS_1
Zichen melihat Fang. Ia mengingatkan kalo Fang pintar. Jadi pasti tahu apa yang ia katakan. Zichen lalu bangkit dan keluar.
Fang membuka matanya setelah Zichen nggak ada. Ia mengatakan kalo kedua belah pihak nggak b*doh, maka sudah lama akan berakhir.
Lian Sen minum lagi di rumahnya. Ia merasa kalo Fang harus segera move on darinya.
Lin Lu mencuci wajahnya. Ia memikirkan alasan yang mengharuskannya ketemu sama Lian Sen besok pagi. Jangan-jangan Lian Sen ingin membatalkan kontrak dengannya??
Lin Lu datang ke rumah Lian Sen dengan gembira. Ia bahkan membawa makanan sebagai buah tangan. Dia langsung bisa masuk karena sudah punya kartu masuk.
Lin Lu memberikan makanan yang ia bawa pada Lian Sen dan mempersilakannya untuk sarapan. Lian Sen nggak bilang apa-apa dan meminum kopinya.
Lin Lu mengambil kontraknya. Ia mengaku tahu apa yang ingin Lian Sen bicarakan. Lian sen bingung dengar Lin Lu sudah tahu. Lin Lu membenarkan. Dari semalam dia sudah tahu. Singkatnya disana ia bekerja tanpa syarat.
Lian Sen mengulangi, tanpa syarat? Ia memberitahu kalo Lin Lu bisa memintanya. Lin Lu tersenyum nggak enak. Ia mengaku bukan tipe orang yang gampang dan mudah menjualnya. Kadang ia merasa hampa dan kosong. Ia mempersilakan Lian Sen untuk mengatakan kompensasi yang ia harus berikan.
Lian Sen merasa kalo itu bagus. Pertama dia ingin mereka nggak mengganggu ruang pribadi dan kehidupan masing-masing. Lin Lu setuju. Kedua, Lian Sen memperbolehkan Lin Lu menggunakan ruang tamu tapi nggak boleh ke kamarnya dan mondar-mandir disana.
Lin Lu mengiyakan. Ia malah menyimpulkan kalo Lian Sen ingin ia membersihkan kamarnya. Nggak masalah. Itu masalah kecil. Serahkan saja padanya.
Ketiga, Lian Sen ingin Lin Lu pindah sekarang juga. Lin Lu asal mengiyakan. Ha? Pindah??? Dia nggak ngerti kenapa harus pindah segala? Bukankah Lian Sen ingin membatalkan kontrak makanya dia disuruh membawa kontrak? Lian Sen hanya menghela nafas sambil mengeluhkan kalo imajinasi Lin Lu selalu beda dengan imajinasinya.
Lin Lu malah jadi takut. Mereka akan tinggal bareng? Lian Sen santai. Ia menambahkan kalo Lin Lu akan tinggal bersamanya sebagai pacarnya dengan ruang lingkup dan kewajiban kontrak yang dibatasi.
Lin Lu menolak. Mereka kan bukan pasangan beneran. Ngapain mesti tinggal bersama segala? Sekali lagi Lin Lu memgatakan kalo dia nggak setuju.
Wah, nggak nyangka kalo Fang bakalan senekat itu buat deketin Lian sen. Sampai buka baju segala. Untungnya iman Lian Sen kuat jadinya nggak tergoda sama sekali. Bener juga sih dia nyuruh Lin Lu pindah biar Fang patah hati dan nggak mendekatinya lagi. Hadeuh...
Bersambung...
__ADS_1