
Lin Lu sampai di depan rumah Lian Sen dan menunggu Lian Sen membukakan pintu. Fang juga ada disana mau menemui Lian Sen. Lian Sen datang dari belakang dan mengagetkan Lin Lu. Lin Lu yang duduk di atas koper oleng dan jatuh menyandar padanya.
Fang yang melihatnya nerasa cemburu dan mau mendekat tapi Zichen melarangnya.
Lian Sen kesal. Ia menyindir sampai berapa lama lagi Lin Lu mau begitu? Lin Lu segera melepaskan diri. Lin Lu mengingatkan kalo berdiri diam-diam di belakang orang lain akan membuat orang lain itu takut. Lian Sen mengaku nggak tahu lalu masuk ke rumahnya. Lin Lu menarik kopernya dan menyusul Lian Sen.
Fang menyingkirkan tangan Zichen yang menutupi matanya. Dia ingin lihat. Zichen melarang. Ia khawatir Fang akan sakit kalo melihatnya. Anggap nggak melihatnya. Zichen merangkul Fang dan mengajaknya makan. Fang nggak mau. Dia menyikut perut Zichen lalu berjalan duluan. Zichen protes, Fang nggak bisa nggak memukulnya?
Lin Lu masuk ke rumah Lian Sen sambil menarik kopernya. Kopernya tampak sangat berat tapi Lian Sen sama sekali nggak membantunya. Lin Lu melihat rumah Lian Sen yang sangat besar dan merasa takjub. Kehidupan orang kaya memang beda. Menurutnya rumah itu sangat legendaris.
Lian Sen berjalan meninggalkan Lin Lu. Lin Lu minta ijin mau melihat-lihat. Lian Sen nggak bilang apa-apa. Lin Lu melihat piring hitam dan mengambilnya. Lian Sen nggak suka barangnya disentuh dan menyuruh Lin Lu untuk meletakkannya. Lin Lu menurut dan meletakkannya. Matanya lalu berhenti di alat untuk memutar piring hitam.
Lian Sen beranjak mau ke kamarnya. Lagi-lagi Lin Lu kagum pada sesuatu. Kali ini ia kagum pada ruang bawah tanah. Dan di sana ada ruang teater pribadi. Sama seperti yang biasanya ada di serial tv. Lian Sen mengingatkan tentang pasal 4 dalam kontrak.
Lin Lu menghampiri Lian Sen. Ia janji akan menjaga matanya. Ia menanyakan apa Lian Sen suka nonton film romantis? Ia mengulurkan tangannya dan menyentuh rambut Lian Sen. Menurutnya, hewan berdarah dingin sepertinya pasti sering nonton dunia binatang.
__ADS_1
Lian sen makin geram. Ia berbalik dan menangkap tangan Lin Lu, memutar tubuhnya dan mendorongnya duduk di sofa. Ia meminta Lin Lu memberinya waktu yang tenang. Lin Lu mengangguk sambil menutup mulutnya. Ia lalu meninggalkan Lin Lu. Lin Lu mengambil bantal dan merasa kalo Lian Sen adalah orang yang hyper bersih. Lin Lu lalu bangkit dan bermain dengan barang-barang Lian Sen.
Fang makan dengan Zichen. Tapi yang ada ia hanya melamun terus. Fang merasa kalo ada yang aneh dengan Lian Sen dan Lin Lu. Zichen membenarkan. Ia juga merasa begitu. Fang lalu menanyakan apa mereka hidup bersama saat dua hari pertama? Zichen mengiyakan.
Fang bertanya apa Zichen nggak merasa aneh? Zichen mengiyakan. Fang menyimpulkan kalo semakin ia mengejar Lian Sen, semakin Lian Sen mendekati Lin Lu. Zichen membenarkan. Ia menyarankan agar Fang menjauhi Sen Ge. Dan ia akan membawa Fang ke Turki, Tokyo dan Paris. Zichen bahkan akan memesan tiketnya sekarang juga.
Fang menatap Zichen tajam. Zichen jadi takut dan menanyakan apa yang Fang rencanakan? Fang mengatakan kalo ia akan mrngetahuinya cepat atau lambat. Dan ia yakin bisa memberi Lian Sen lebih banyak dari yang dibayangkannya. Zichen tampak sedih mendengarnya. Tapi dia nggak bilang apa-apa.
Lian Sen keluar dari kamarnya dan melihat barang-barang berserakan dimana-mana. Lin Lu sendiri sedang tidur. Lian Sen menghampirinya dan sengaja menginjak boneka ayam sehingga membuat Lin Lu terbangun.
Lian Sen malas mendengarnya dan menutup telinganya. Bukannya berhenti, Lin Lu malah makin keras nyanyinya. Lian Sen nggak bisa tahan lagi. Ia melepas penutup telinganya dan keluar menemui Lin Lu. Ia melepas headphone yang Lin Lu pakai dan melarangnya bergerak. Lin Lu nggak ngeh. Kalo dia nggak bergerak, gimana caranya dia bisa membereskan barang bawaannya?
Lian Sen menyindir apa dia perlu memperbesar kontrak dan nenempelkannya di dinding? Lin Lu nggak bisa berkutik lagi. Ia pura-pura sakit kepala tapi malah megangnya perut. Habis itu mengaku sakit perut tapi yang dipegang kepala. Lah, kebalik-kebalik mulu.
Lian Sen tahu kalo Lin Lu cuma pura-pura. Ia lalu menyuruh Lin Lu untuk membersihkan semua itu karena dia sangat enerjik. Lin Lu mengatakan kalo dia nggak bisa. Semuanya terlalu berantakan. Dan ia sudah menandainya dalam pikirannya. Tapi kalo ia membereskannya maka ia nggak akan bisa menemukannya. Lian sen nggak peduli. Ia mengembalikan headphone Lin Lu dan memberinya waktu 3 menit.
__ADS_1
Hari sudah berganti malam. Lian Sen ada di kamarnya dan menyisir boneka beruangnya. Lin Lu mau masuk dan mengetuk pintu tapi nggak jadi saat melihat apa yang Lian Sen sedang lakukan. Pelan-pelan ia mendekat. Kebetulan Lian Sen sedang menyisir s*lakangan kaki beruang. Lin Lu nggak nyangka kalo Lian Sen punya sisi seperti itu. Apa itu miliknya? Sangat c*bul!
Lian Sen melihat Lin Lu dan buru-buru menyembunyikan sisir bonekanya. Lin Lu tersenyum dan meminta maaf karena telah mengganggu. Dia tahu kok kalo itu adalah barang spesial. Lian Sen meletakkan bonekanya di samping bantal dan bertanya apa Lin Lu sudah selesai membereskan semuanya?
Lin Lu menggeleng. Gimana dia bisa membereskan semuanya secepat itu? Dia hanya ingin tanya dimana ia akan tidur malam ini? Lian Sen keluar. Lin Lu mengikutinya. Lian Sen menunjukkan gudang ke Lin Lu. Lin Lu nggak ngerti. Gimana bisa ia tidur disana? Lian Sen mengambil sleeping bag dan memberikannya pada Lin Lu. Lin Lu menerimanya dan hanya bisa menghela nafas. Sabar.
Lian Sen menyuruh Lin Lu untuk membersihkan diri lalu pergi. Lin Lu mencium badannya dan merasa wajar kalo dia berkeringat. Secara dia seharian ini bersih-bersih. Memangnya Lian Sen? Pria besar yang nggak berkeringat?
Lin Lu mandi dan berendam di bak mandi. Ia nampak sangat senang bermain busa. Ia mau mengambil sabun lagi tapi tangannya nggak sampai karena bak mandinya terlalu tinggi. Efeknya Lin Lu terpeleset dan kepalanya terantuk bak mandi. Lin Lu berteriak dan tenggelam.
Lian Sen yang mendengar teriakannya jadi khawatir. Ia mengetuk pintu kamar mandi tapi nggak ada balasan dari Lin Lu. Akhirnya Lian Sen membuka pintu pakai kunci duplikat. Ia segera mendekat dan melihat Lin Lu tenggelam.
Lin Lu melihat Lian Sen dan minta diambilkan handuk. Lian Sen mengambil handuk dan melemparkannya ke Lin Lu. Lin Lu menyuruhnya keluar dan ia pun memakai handuk. Lian Sen sudah mau keluar. Lin Lu mau berdiri tapi malah terpeleset dan kembali jatuh. Ia berteriak. Lian Sen berbalik dan...
Duh, Lin Lu perasaan hobinya jatuh mulu, deh. Dan kalo pas jatuh selalu ada Lian Sen. Kebetulan banget, ya. Dan pas lihat ending episode ini...bikin makin penasaran sama episode selanjutnya ^_^
__ADS_1