
Hari sudah pagi dan pekerjaan Lian Sen sudah selesai. Ia melihat Lin Lu yang tertidur di sofa dan menghampirinya. Lian Sen memanggil Lin Lu. Lin Lu seketika bangun dan menanyakan, mengorganisir dokumen atau menuangkan kopi?
Lian Sen mengajaknya makan. Lin Lu mengatakan kalo dia nggak makan lalu kembali tidur. Lian Sen mengambil majalah dan melemparkannya ke Lin Lu. Lin Lu sontak bangun dan menatap Lian Sen kesal. Lian Sen mengajaknya keluar. Lin Lu mengutuk Lian Sen lalu mengikutinya.
Lin Lu dan Lian Sen makan bersama. Lin Lu yang masih ngantuk memakan makanannya sambil tidur. Lian Sen mengerjainya dengan menyuapi sushi yang sudah dilumuri saus pedas.
Lin Lu langsung membuka matanya karena kepedasan. Apa yang Presdir lakukan? Lian Sen tersenyum dan menjawab memberi Lin Lu makan. Dan menurutnya itu sangat manjur. Lin Lu menatap Lian Sen dengan mata merah. Ia bangkit dan pergi. Lian Sen kembali tersenyum lalu menyusulnya.
Lin Lu pulang ke rumahnya. Ia benar-benar masih mengantuk. Ia sampai kamar dan langsung menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Akhirnya bisa tidur juga. Ponselnya tiba-tiba bunyi. Lian Sen mengaku ada di depan rumahnya. Kalo Lin Lu nggak mau turun maka resikonya tanggung sendiri. Lin Lu merasa kesal banget.
Ia keluar dengan perasaan marah. Menunjuk wajah Lian Sen dan mau memarahinya. Tapi saat Lian Sen menunjukkan kontrak mereka, sikap Lin Lu langsung berubah manis. Lian Sen meminta Lin Lu untuk ikut dengannya.
Lin Lu menemani Lian Sen menonton film kartun. Tapi karena Lin Lu sangat mengantuk, ia pun tertidur dan bersandar di pundak Lian Sen. Lian Sen aja sampai heran. Lin Lu sama sekali nggak punya rasa takut dan bisa tidur di manapun.
__ADS_1
Tiba-tiba ponselnya bunyi, dari Maggie. Lian Sen buru-buru mematikannya. Lin Lu tahu-tahu bangun dan mengigau. Ia menasehati Lian Sen kalo wanita akan g*la kalo dipermainkan. Lin Lu mau jatuh ke depan. Lian Sen buru-buru mengulurkan tangannya untuk menahan wajah Lin Lu.
Ia lalu menidurkan Lin Lu. Tapi saat mau menarik tangannya...lah, kok nggak bisa?? Ia menilai kalo Lin Lu tidurnya seperti **** dengan rambutnya yang berantakan. Lian Sen tahu-tahu merapikan rambut Lin Lu. Lin Lu menampik tangan Lian Sen dan memintanya nggak membuat masalah. Dia sangat mengantuk.
Ponsel Lian Sen kembali menyala. Maggie mengirim pesan kalo ia telah menangani foto nona Lin dengan baik. Lian Sen lega. Ia lalu menatap Lin Lu dan tiba-tiba tersenyum. Menurutnya Lin Lu nggak terlalu menyebalkan saat sedang tidur.
Hari sudah malam. Lian Sen mengantar Lin Lu pulang. Lin Lu merasa segar karena sudah bisa tidur. Ia tahu kalo Lian Sen sengaja menyiksanya. Lian Sen nggak ingin dia tidur pulas biar setuju tinggal di rumahnya. Lin Lu mengingatkan kalo itu nggak mungkin.
Lian Sen santai. Ia hanya tersenyum lalu menunjukkan ponselnya ke Lin Lu. Lin Lu terkejut melihat beberapa fotonya dengan Liang. Refleks ia mendorong ponsel Lian Sen agar menjauh.
Lin Lu memberitahu kalo dia dan Liang nggak punya hubungan apa-apa. Lian Sen meremehkan. Apa Lin Lu pikir orang akan mendengarkannya? Sebagai pacarnya, Lin Lu tinggal di rumah pria lain, apa itu pantas?
Lin Lu memberitahu kalo nggak hanya ia dan Liang yang tinggal disana. Ada juga Jing Jing. Dan lagi kenapa para wartawan itu nggak pernah bosan mengambil fotonya dan bukan para superstar? Bukankah mengambil fotonya nggak menghasilkan uang?
__ADS_1
Lian sen hanya menatap Lin Lu. Lin Lu menanyakan bagaimana cara Lian Sen menekan mereka. Pasti menghabiskan banyak uang.
Lian Sen mengatakan kalo dia nggak melakukannya maka semua orang akan membicarakan perselingkuhan Lin Lu di internet. Dan akibatnya Cinderella, CP pecah dan produk nggak akan bisa dijual. Atau apa Lin lu punya cara untuk mengganti uangnya?
Lian Sen berpesan agar hal itu nggak terulang lagi. Dan kalo Lin Lu nggak mau pindah maka hal seperti ini akan terulang lagi. Lian Sen menyuruh Lin Lu untuk bertanggung jawab atas semua kerugian.
Lin Lu mau protes tapi Lian Sen sudah bicara lagi. Sejak Lin Lu menandatangani kontrak, ia nggak bisa lagi menjalani kehidupan seperti biasanya. Lin Lu menanyakan berapa banyak? Lian Sen memberitahu 10 milyar.
Lin Lu nggak bisa berkata-kata dan menuduh kalo Lian Sen pasti sedang menakut-nakutinya. Lin Lu pelan-pelan mundur lalu berlari. Lian sen bertanya Lin Lu mau kemana? Sambil lari Lin Lu menjawab, pindah! Lian Sen tersenyum melihat Lin Lu yang pergi naik taksi. Lian Sen masuk mobilnya lalu pergi.
Seorang pria menatap ke luar jendela. Di mejanya ada papan nama Sally. Pria itu mengeluarkan sebuah foto seorang wanita yang sedang menggendong anak perempuan.
Pria itu lalu duduk di kursinya dan menelpon seseorang. Ia memberitahu kalo ia sudah menyiapkan semua informasi. Ia meminta orang di seberang untuk membantunya menemukan orang di dalam foto itu secepat mungkin. Pria itu meletakkan ponselnya lalu kembali memandangi foto itu.
__ADS_1
Makin seru, deh. Lin Lu dan Lian Sen mulai saling mengerjai. Dan Lian Sen juga kayaknya seneng banget Lin Lu mau pindah ke rumahnya.