
Lian Sen duduk dan Zichen mengikuti. Zichen mengingatkan kalo setiap orang punya kebaikan sendiri-sendiri. Ia punya sesuatu yang ingin ia tanyakan. Lian Sen mulai malas. Ia menyuruh Zichen untuk bertanya kalo memang ada yang ingin ia tanyakan. Zhichen bertanya apa Lian sen punya perasaan padanya? (Lah?)
Lian Sen menjawab nggak ada. Zichen bertanya lagi kalo Lian Sen akan tunangan dengan Fang Qi? Lian Sen menenangkan. Ia memberitahu kalo sikapnya ke Fang Qi nggak akan pernah berubah. Zichen mengingatkan kalo seluruh dunia sudah tahu kalo mereka akan tunangan dan itu bukan sesuatu yang bisa ia putuskan sendiri. Lian juga tahu kan gimana sifatnya Fang Qi? Zichen mendesak Lian Sen untuk mengatakan yang sebenarnya meski nggak mau mengakuinya. Ia merasa kalo mereka benar-benar cocok. Ia bahkan nggak bisa menemukan satu kelemahanpun untuk memisahkan mereka.
Lian Sen menatap Zichen dan bilang kamu. Zichen jadi ngeri dengarnya. Kan tadi Lian Sen bilang nggak menyukainya? Lian Sen mengambil kunci mobilnya dari tangan Zichen lalu pergi. Zichen sendiri bingung. Apa yang Lian Sen lihat darinya. Hi... .

Lin Lu datang ke club malam dan melamar sebagai pelayan karena di luar ia melihat papan iklan. Pria yang Lin Lu tanyai membenarkan. Disana Lin Lu bisa mendapat uang dengan cepat dan mudah. Lin Lu memberitahu kalo sore tadi dia menelpon dan manajer disana bilang kalo dia bisa langsung datang.
__ADS_1
Pria itu memberitahu kalo dialah manajer itu. Ia melihat penampilan Lin Lu yang nggak sama dengan yang ada dibayangannya saat telponan. Tapi...nggak masalah. Lin Lu melihat orang-orang disana tinggi-tinggi. Selain itu apa nggak ada masalah? Manaher malah tersinggung dengan ucapan Lin Lu. Ia memberitahu kalo perusahaan hiburannta legal. Pelayan yang direkrut dan wanita yang menjual anggur bukanlah wanita sembarangan. Ia memberitahu kalo Lin Lu akan medapat 100 yuan untuk sebotol anggur. Kalo Lin Lu bisa menjual 10 botol maka ia akan mendapat 1000 yuan. Lin Lu setuju. Manajer memintanya untuk ganti baju.

Lin Lu sudah mengganti baju tapi ia merasa nggak nyaman karena pakaiannya terlalu terbuka. Manajer menghampirinya dan menyuruhnya untuk segera menjual anggur ke sebuah ruangan pribadi. Lin Lu mengambil nampan yang berisi dua botol alkohol dan pergi ke ruangan pribadi. Tanpa Lin Lu sadari ada sebuah kamera yang kembali memotretnya.
Lin Lu masuk ke sebuah ruangan dan menawarkan alkohol ke para bos yang sedang bersama para wanita penghibur. Dan orang yang mengambil gambar Lin Lu diam-diam kembali beraksi. Para pria itu menarik Lin Lu dan memintanya untuk minum juga. Lin Lu menolak mereka dengan sopan tapi mereka tetap memaksa.

__ADS_1

Lian Sen meletakkan tabletnya. Ia lalu mengambil ponselnya. Ayah menelpon dan memarahinya. Ayah menyuruh Lian Sen untuk mengusir Lin Lu dari perusahaan atau ayah sendiri yang akan melakukannya. Ayah nggak bilang apa-apa lagi dan langsung membanting ponselnya. Lian Sen juga jadi tambah marah pada Lin Lu. Ia salah karena selama ini sudah menyepelekan Lin Lu. B*doh.

Jing Jing keluar dari kamarnya dan mengambil minuman di kulkas. Ia nggak sengaja mendengar Liang menelpon membelakanginya dan ngomongin tentang menjual rumah. Setelah Liang selesai menelpon Jing Jing pura-pura menyinggung kalo Liang hari ini libur, kenapa bangun pagi? Bukannya menjawab, Liang malah menanyakan Lin Lu. Jing Jing memberitahu kalo Lin Lu masih tidur karena jam 4 pagi baru pulang. Ia memberitahu kalo beritanya benar-benar kacau.
Liang menenangkan kalo semua itu hanya rumor. Ia mau keluar bentar dan berpesan agar Jing Jing memberitahu Lin Lu kalo bangun nanti kalo dia nggak perlu mengkhawatirkan masalah uang karena ia sudah menemukan jalan keluarnya. Jing Jing mengiyakan dan Liang pun pergi.
__ADS_1
Bersambung...