Transmigrasi Ke Tubuh Aulin Seijuro

Transmigrasi Ke Tubuh Aulin Seijuro
17. Masa Lalu Galfirl


__ADS_3

Ah.. Rabu yang cerah, Yang di mana Para siswa SMA Bimantara di Liburkan selama 2 hari, dan untuk para osis, mereka tidak di Liburkan, mereka malah di suruh ikut rapat OSIS, huh! sungguh menjengkelkan!


"A*crit, kenapa osis gak Libur juga sih!" Gerutu Kanaya.


"Tau tuh! Rapat apaan coba, ngeselin banget sumpah! mana lagi gua pengen rebahan syantik" Vano yang ikut menggerutu.


"Benc*ng lu ngab?" Ledek Alex pada Vano.


"Ih apaan sih lu bang" Ketus Vano.


"Sudahlah"


Entahlah perasaan apa ini, mengapa perasaan ini bercampur aduk? seperti ada ada senang dan ingin balas dendam malam ini pada keluarga Seijuro. Seperti nya Amanda akan menyuruh yoona untuk menculik semua orang, Termasuk Violet, Andra, Cakra, dan Galfirl, Eits, Aulin tidak akan kalah dong.


"Lihat saja nanti malam Amanda Seijuro" Batin Aulin dan Smirk.


Siapakah itu Amanda Seijuro? Amanda Seijuro adalah anak dari Arka Seijuo, Paman Aulin. Amanda yang kalian kenal dengan nama "Amanda Ulin Candra Kinara" itu adalah nama panggung atau nama samaran nya Amanda, Amanda tidak ingin kalau papa nya yaitu Arka di tangkap polisi Karena nama Marga keluarga Seijuro, karena Arka adalah seorang Mafia urutan nomer empat.


Sebenarnya Polisi saja tidak berani menangkap Arka, hanya saja, Jika Arka bertemu dengan Mafia terkuat dan terkejam nomer satu di dunia, maka ia akan di lenyapkan, mengapa? kok di lenyapkan? karena dahulu Arka menyukai mama nya dan berusaha merebut Mama nya dari Papa nya.


Fahmi pun melihat ke arah Aulin yang sedang terbengong memikirkan sesuatu.


"Queen kok bengong?" Tanya Fahmi heran.


Aulin yang di kejutkan oleh Fahmi pun berusaha menutupi raut wajah nya.


"Hih! ngagetin tauk!" Ketus Aulin.


Denis pun tau kalau adik nya sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka semua, hanya saja adik nya tidak ingin memberi tahu nya pada yang lain termasuk diri nya.


"Hehe maap Queen ku yang syantik, Jangan ngambek dong, nanti Fahmi beliin Coklat deh, satu pabrik" Tawar Fahmi.


"Uwaa! Coklat!" Jawab Aulin dengan mata berbinar binar dan menunjuk kan wajah nya yang imut.


Fahmi yang melihat Raut wajah Aulin yang imut pun berusaha tahan untuk tidak mimisan.


"Tahan mi tahan!" Batin Fahmi tertekan.


"Dek? Lu lagi nyembunyiin sesuatu dari kita semua ya?" Denis yang sedari diam saja memperhatikan raut wajah adik nya yang serius pun mulai angkat bicara.


Aulin yang di tanya oleh Denis pun, seketika jantung nya berdebar dengan hebat, ia panik ingin menjawab apa, diri nya tidak ingin kalau orang yang ia sayangi jadi korban nanti malam.


Semua orang yang berada di kediaman Edogawa pun terkejut akan pertanyaan yang Denis Lontarkan pada adik nya sendiri.


Fadli melihat ke arah tunangan nya yaitu Aulin, seperti nya Aulin Keringat dingin, Panik, dan Khawatir, Fadli bisa menebak dari raut wajah Tunangan nya sendiri.


"Katakan sayang" Ucap Fadli memelas.


Aulin pun berusaha menahan air mata nya supaya tidak terjatuh, walaupun Aulin tidak mengeluarkan air mata nya setetes pun, tetapi raut wajah aulin bisa di tebak oleh Kanaya.


"Katakan Aulin" Sahut Kanaya yang menatap tajam Aulin.


"Hih! Apasih! masa cewe seceria dan sekuat gua nangis! lemah banget sih!" Batin Aulin yang memegang baju nya dan berusaha menahan air mata.


"Eh? Maksud Kana apa?" Tanya Aulin yang berpura pura tidak mengetahui apapun.


"Aulin" Kanaya yang semakin menatap tajam ke arah Aulin dan sedikit menekan nada bicara nya.


"Jawab Jujur dek, Kita semua bakal bantu kok" Ucap Alan dan membelai rambut Aulin dengan Lembut.


"Gak usah ikut campur" Seketika Aulin menundukkan pandangan ke arah bawah dan tidak mau menatap mereka semua.


"Aulin" Kanaya yang semakin menekan nada bicara nya seolah ingin menerkam Aulin.


"APASIH LU PADA! UDAH GUA BILANG! GAK USAH IKUT CAMPUR! BIAR GUA YANG NGURUS SEMUA NYA!" Bentak Aulin tiba tiba yang membuyarkan keheningan semua orang.


Aulin pun meninggalkan mereka semua dan segera menuju ke kamar nya.


Semua orang segera berlarian menaiki tangga dan menuju kamar Aulin, di waktu yang tepat, Aulin sedang berada di pintu belakang dan mengunci nya.


"DEK! BUKA PINTU NYA DEK!" Bentak Keano yang mengetok pintu kamar Adik nya dengan kuat.


"Aulin, buka pintu nya dek" Lirih Kevin. "Gua gak mau Lu kenapa kenapa lagi" Lirih Kevin lagi.


"Maafin gua semua nya, mungkin ini akan menyangkut nyawa kalian semua, termasuk gua" Batin Aulin dan air mata nya mulai mengalir dan membasahi pipi nya.


"Gua sayang kalian semua, Jaga diri kalian masing masing untuk nanti malam" Batin Aulin lagi dan air mata yang semakin menderas di pipi Aulin.


Jam Tepat menunjukkan pukul 10.00 AM, Yang di mana semua orang yang berada di kediaman Edogawa segera menuju ke sekolah untuk rapat osis.


Aulin pun segera keluar dari kamar nya, awal nya ia di tawari untuk ikut salah satu dari mobil mereka, namun Aulin lebih memilih naik mobil sendiri.


Sesampainya di sekolah, Mereka segera masuk ke ruang osis dan memperbincangkan sesuatu, termasuk hal pribadi mereka masing masing.


"Tuan Keano, ini ada surat dari nyonya Erawati, beliau menyuruh saya untuk mengasih surat ini pada tuan, nyonya tidak berani mengechat anda" Ucap Arka dan menyodorkan amplop.


"Huh, Mama?" Ketus Keano.


"Buka aja Bang" Pinta Dimas.


Keano pun mulai membaca isi surat tersebut, surat tersebut berisi sebuah kertas, coklat, dan uang.


"Oh"


"Ngapa bang?" Tanya Denis heran.


"Nih Dek, dari mama" Timpal Keano dan menyodorkan uang dan coklat pada Aulin.


Sebenarnya Nona Erawati dan Tuan Bastian sudah tau kalau anak perempuan mereka satu satu nya yaitu yuraa sudah pergi untuk selama lama nya, dan sebenarnya uang pemberian dari nona Erawati untuk Keano, Denis, dan Dimas, namun Keano Enggan untuk menerima pemberian uang tersebut, Lantas Keano memberikan uang itu pada adik nya sendiri.


Dimas pun mengambil sembilan kotak yang berisi coklat, Adik nya tidak boleh memakan coklat banyak banyak, ia khawatir pada adik nya, jadi, Dimas hanya memberikan satu kotak coklat yang berisi banyak coklat.


"Ih! bang Dimas! masa cuma satu!" Ketus Aulin dan memasang wajah cemberut nya dan yang membuat orang orang yang melihat wajah nya seperti ingin mencium dan mencubit pipi nya.


CUP


Satu Ciuman tepat mengenai pipi Aulin, siapa lagi kalau pelaku nya adalah Fadli?


"Pipi jangan di gituin, gua makan mampus lu" Ancam Fadli yang mencubit pipi tunangan nya sendiri dengan gemas.


Sean, Cakra, Galfirl, Bayu, Bara, dan Ash melihat Aulin yang menggemaskan pun seperti ingin mencubit pipi nya dan segera membuang pandangan mereka ke sembarang arah.

__ADS_1


"Mau gua Sleding muka lu?" Wajah Aulin seketika tertekan, seperti ingin melempar panci pada Fadli.


"Iya dah, maap ya cebol nya gua" Fadli pun membelai rambut Aulin dengan lembut.


"Duo bulol pun Mulai lagi" Batin Kanaya tertekan.


"Anu maap untuk Tuan Fadli dan nona Aulin yang akan menjadi seorang bapak dan emak, bisakah kalian tidak bermesra mesraan di sini? banyak yang jomblo loh" Sahut Kanaya yang mulai tertekan dengan keadaan.


Nathan pun mencubit paha Kanaya dengan kuat, Nathan pun memberi kode pada Kanaya, Kanaya yang di cubit oleh Nathan dan di beri Kode oleh Nathan pun mulai menutup Mulut nya.


"Aduh, ngapain make keceplosan sih!" Batin Kanaya yang kesal pada diri nya sendiri.


Keenam remaja pria tersebut mati matian menahan cemburu.


"S*alan lu Fadli!" Batin Sean.


Fadli pun yang mengerti reaksi keenam remaja pia tersebut hanya tersenyum meledek pada keenam nya.


Galfirl pun entah mengapa tiba tiba diam mematung, tetapi tidak ada yang menyadari nya.


"Mengapa Kanaya sangat mirip dengan aya?" Batin Galfirl. "Aya, Sarga kangen sama Aya" Batin Galfirl dan berusaha menyeka air mata nya.


"Aya ngingkarin janji Aya ke Sarga, kata nya Aya gak bakal ninggalin Sarga lagi untuk kedua kali nya, tapi kenapa Aya ninggalin Sarga?" Batin Galfirl.


Flashback on


Masa Kecil, umur sekitar 7-8 Tahun.


"Hei! berhenti membully nya!" Bentak salah seorang murid SD siapa lagi kalau bukan Kanaya?


Murid murid yang membully lelaki kecil yang mungkin berumur 8 tahun pun ketakutan dan segera meninggalkan mereka berdua.


Kanaya pun segera membantu Galfirl untuk berdiri.


"Terima kasih" Ucap Galfirl dan tersenyum pada Kanaya.


"Sama sama, Lain kali, kalo di bully lagi, panggil Aya aja ya!" Seru Kanaya.


Galfirl yang mendengar perkataan Kanaya pun hanya senyum kik kuk.


"Oh ya, nama mu siapa?"


"Galfirl hehe" Jawab Galfirl Malu malu.


"Nama Lengkap Galfirl?"


"Galfirl Sarga Assenja, panggil Galfirl aja" Sahut Galfirl dan menggaruk kepala nya di bagian belakang yang sebenarnya tidak gatal.


"Salam kenal, Kanaya Nakagawa, Panggil aja aya" Jawab Kanaya yang senyum pun mulai mengembang di pipi nya.


"Oh ya, boleh gak, aya manggil Galfirl Sarga aja?" Tanya Kanaya kecil malu malu.


"Eh?"


Kanaya sebenarnya tidak mau memanggil Galfirl, ia hanya ingin memanggil Galfirl dengan nama Sarga saja, karena menurut Kanaya Kecil, Nama Galfirl sangat susah untuk di sebut, Seperti hal nya yuraa kecil yang memanggil Galfirl kecil dengan nama 'Gafil'.


"Aya boleh kok manggil Galfirl dengan nama apa aja" Senyum Galfirl yang mengembang di pipi nya membuat Kanaya kecil membuang pandangan ke sembarang arah dan berusaha menutupi Pipi nya yang merah.


"Ya?"


"Mau ke taman?" ajak Galfirl kecil.


"Boleh"


Mereka berdua pun sampai di taman.


"Ehm, Aya, Aya kenal gak sama yang nama nya yuraa?" Tanya Galfirl kecil ragu ragu.


"Kenal lah, orang yuraa sahabat Aya" Jawab Kanaya Kecil yang berkacak pinggang.


"He? Aya sahabatan juga sama yuraa?"


Kanaya pun hanya mengangguk mengiyakan perkataan Galfirl kecil, diri nya sudah bersahabat dengan yuraa sejak mereka masih duduk di Taman Kanak-kanak, begitupun dengan sahabat yuraa yang lain nya.


"Sarga juga sahabat yuraa loh"


"Eh? iyakah? kok yuraa gak kasih tau Aya sih" Ketus Kanaya kecil.


Galfirl kecil yang mendengar perkataan Kanaya kecil pun merasa bersalah, ia menganggap diri nya perebut sahabat orang.


"M-maafin Sarga, Sarga udah ngerebut yuraa dari aya, S-sarga gak tau kalo Hiks kalo yuraa sahabat aya" Jawab Galfirl kecil gemetar ketakutan sembari menangis.


Kanaya kecil yang melihat Galfirl menangis pun bingung ingin melakukan apa, ia tidak tau harus melakukan apa, di sisi lain Kanaya terkekeh dengan sifat Galfirl kecil yang tiba tiba menangis, di sisi lain, diri nya tidak tau bagaimana harus menenangkan Galfirl kecil.


"E-eh, Sarga gak usah kayak gitu dong" Timpal Kanaya kecil sembari mengusap air mata yang sudah membanjir di pipi Galfirl.


"Gapapa kok, malah bagus kalo Sarga jadi sahabat yuraa, sahabat yuraa berarti Sahabat Aya juga!" Ucap Kanaya kecil dengan senyum yang mengembang di pipi nya.


Galfirl kecil yang mendengar perkataan Kanaya kecil pun segera berhenti menangis dan berusaha untuk tidak terisak.


"B-beneran?"


Kanaya kecil pun hanya mengangguk mengiyakan.


"Baiklah, Janji, kalau aya gak bakal ninggalin Sarga?" Ucap Galfirl dan mengacungkan jari Kelingking nya pada Kanaya.


Kanaya pun membalas acungan Kelingking yang di beri Galfirl tadi.


"Janji!"


"Oh ya, kalau aya tau, yuraa dimana ya?" Tanya Galfirl.


"Oh itu, yuraa lagi di kantin kata nya, sama Fadli, nanti juga dia ke sini"


"Owalah"


Sesuai dugaan Kanaya, Yuraa dan Fadli pun datang ke taman, di situ pun sudah ada Kanaya dan Galfirl kecil sejak sedari tadi.


"Hish! yuraa cariin Kana dimana mana malah gak ada! nyata nya di sini!" Ketus Yuraa kecil.


Mereka masing masing sudah ada kelas dua SD dan tiga SD, namun ucapan yang mereka ucapkan terlalu bijak, seperti orang dewasa yang sedang mengobrol dengan teman nya.

__ADS_1


"Lagian yuraa nya, ninggalin kana, malah udah lari duluan ke kantin, mana gak ngajak ngajak" Ketus Kanaya balik.


Yuraa kecil pun kembali mengingat ingat akan apa yang terjadi tadi pada diri nya.


"Oh itu, yuraa udah gak tahan mau ke WC, jadi lupa sama Kana deh hehe" Timpal Yuraa cengengesan.


"Sudah sudah"


Tak berselang lama kemudian, datanglah Cakra kecil.


"Bocil!" Teriak Cakra pada yuraa kecil.


"Cicak!" Jawab yuraa senang.


Fadli sedari tadi hanya diam tak berkutik, diri nya tidak tahu bagaimana cara agar diri nya bisa memberi tahu pada yang lain kalau diri nya akan pergi ke London bersama kedua orang tua nya dan adik adik nya.


Cakra yang melihat Fadli sedari diam pun bertanya pada nya.


"Fadli kenapa? kok kayak ragu ragu gitu? mau ngomong sesuatu ya?" Tanya Cakra.


Fadli yang mendengar perkataan Cakra kecil pun gemetar, ia takut kalau yuraa bakal marah pada nya karena meninggalkan nya.


Yuraa pun mengerti maksud yang di omong Cakra dan segera menatap Fadli.


"Jawab aja tiang"


"Ehm, yuraa, Naya, Galfirl, dan Cakra.. kalau sebenarnya, Fadli mau pergi ke London sama mama papa Fadli dan adik adik Fadli" Jawab Fadli gemetar.


Yuraa yang mendengar perkataan Fadli pun segera menangis.


"Tiang mau ninggalin cebol?" Tanya Yuraa.


"bukan gitu uraa, Tiang di suruh sama papa buat ikut mama papa ke London, karena pekerjaan mereka" Balas Fadli dan memeluk tubuh yuraa yang kecil itu.


Yuraa pun hanya mengangguk sembari membalas pelukan Fadli tadi dan menenggelamkan wajah nya di tubuh Fadli itu.


"Janji? Kalau Fadli gak bakal ninggalin dan Lupain yuraa sama yang lain?" Tanya Yuraa kecil dan mendongak kan kepala nya ke arah wajah Fadli.


"Iya Janji"


Masa Remaja, umur sekitar 12-13 tahun.


Di hari Kamis yang cerah, Seperti biasa anak anak bersekolah, Kanaya pun merasa sedih karena tidak ada sahabat nya, yaitu yuraa, walaupun Galfirl, Lauren, Alea, Yuki, Lyaa, dan Michel sudah berusaha untuk menghibur Kanaya, namun itu sia sia.


"Udah dong nay, nangis nya, yuraa bakal baik baik aja kok" Ucap Alea yang berusaha menenangkan sahabat nya sendiri.


"T-tapi Hiks, Gimana kalau operasi nya gagal? terus urok ninggalin Naya?" Jawab Kanaya dengan wajah terisak.


urok itu adalah Yuraa, karena yuraa memanggil Kanaya dengan nama 'eyot' maka diri nya memanggil yuraa dengan nama 'urok'.


"Kita do'a in yang terbaik aja buat yuraa" Balas Yuki.


"Gamau!"


"Jangan ganggu Naya!" Bentak Kanaya dan mengusir mereka.


Lauren, Alea, Yuki, Michel, Lyaa,dan Galfirl pun yang di bentak dan di usir oleh Kanaya pun hanya pasrah dan pergi meninggalkan diri nya.


"Jangan tinggalin Kana" Batin Kanaya. "Urok pasti kuat kan? urok kan anak kuat, pasti urok pas ngejalanin operasi nya pasti kuat kan?" Batin Kanaya lagi.


Bell sudah berbunyi, menandakan anak anak SD Melati Al-furqan udah boleh pulang.


Kanaya segera di antar bodyguard menuju rumah sakit yang sekarang yuraa di operasi. Sesampainya di rumah Sakit, Kanaya segera masuk ke ruangan yuraa, yuraa belum di operasi, tetapi yuraa di nyatakan koma.


"Ini ada apa? kok bang Satria nangis?" Tanya Kanaya pada yang lain.


Kesya atau istilah nya mama dari Kanaya pun segera mengelap air mata yang membanjiri wajah nya dan memeluk Kanaya. Kanaya yang mendapat pelukan dari Kesya pun bingung dengan sikap nya.


"Mama kenapa peluk Kana? apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Kanaya heran.


"Janji? Kalau mama kasih tau sesuatu, Kana harus Nerima semua nya dengan ikhlas?" Jawab Kesya yang memberikan senyuman manis pada anak nya.


Kanaya pun sudah mengetahui yang sebenarnya, Sahabat nya, koma. Kanaya pun menangis sekencang kencang nya dan menggoyangkan goyangkan tubuh sahabat nya itu.


"urok! bangun rok!" Tangis Kanaya pun pecah dan membanjiri pipi nya.


Semua orang yang melihat Kanaya menangis pun merasa tidak tega pada nya.


Retno atau istilah nya papa dari Kanaya, menghadang jalan Kesya, seperti memberi kode pada Kesya 'biarkan Kana menangis untuk ini', Kesya yang di beri kode pada Retno pun hanya menghela nafas.


"Urok! bangun rok!" Tangis Kanaya semakin kencang.


"Udah ya? mending ikut mama, papa, kak reta, sama bang satria ke London pas hari Sabtu, biar lebih tenangan dikit" Ucap Kesya yang memberi nasihat pada Kanaya dengan lembut.


Kanaya pun hanya mengangguk mengiyakan perkataan Kesya dan mengelap air mata nya.


Besok nya, yang di mana hari sabtu, Kanaya ke tempat biasa, yaitu taman, di sana sudah ada Cakra, Galfirl, Lauren, Alea, Yuki, Lyaa, dan Michel yang sedari duduk diam dan mengobrol.


"Galfirl.." Lirih Kanaya.


"Eh? Aya kenapa?" Tanya Galfirl.


Kanaya pun segera memeluk Galfirl dengan erat dan tidak mau melepas pelukan nya dari Galfirl.


Galfirl pun membalas pelukan Kanaya dan masih heran akan tingkah Kanaya yang tiba tiba saja memeluk nya, sangat aneh bukan?


"Aya kenapa? cerita aja sama galfirl" Titah Galfirl dan membelai rambut Kanaya.


Kanaya pun melepaskan pelukan nya dari Galfirl secara terpaksa.


"Ehm.. Semua nya, Naya cuma mau bilang sesuatu.." Ucap Kanaya Ragu ragu.


"Kalau Naya harus pergi ke London, ikut mama sama papa naya, karena mama sama papa naya gak mau Naya sedih hanya karena uraa.." Kanaya yang menimpali Perkataan nya tadi.


Galfirl yang mendengar perkataan Kanaya pun Sedih, ia menjadi kesepian kalau tidak ada Kanaya.


"Galfirl jangan sedih ya? Aya cuma pergi dua bulan kok, gak bakal lama" Jawab Kanaya dan mengacak acak rambut Galfirl.


Galfirl pun hanya mengangguk mengiyakan saja.


Bersambung_____

__ADS_1


__ADS_2