
Semua orang masih berada di markas Aulin yang saat ini.
"M-maafkan kami.. N-nona yuraa" Lirih Andra.
Aulin pun sama sekali tak menggubris perkataan Andra. Tak berselang lama kemudian, Arwah Aulin yang asli pun datang menemui mereka semua dengan cara masuk ke dalam tubuh dirinya yang sedang di tempati oleh yuraa.
"Ma.. Pa.." Ucap Aulin dengan Lembut.
Andra dan Violet sama sekali tak menatap wajah Aulin, mereka menundukkan kepala mereka sembari merenungi setiap kesalahan kesalahan yang mereka lakukan pada Aulin di masa lalu.
"Tatap Wajah Aulin" Pinta Aulin.
"Ini kamu sayang?" Tanya Violet dan memegang pipi mulus yang tembem milik anak nya sendiri.
Aulin pun hanya mengangguk mengiyakan saja.
"A-apa benar ini kamu nak?!" Tangis pun pecah dan tepat membasahi pipi mulus Violet dan nada suara yang sedikit bergetar.
Aulin pun mengangguk sekali lagi.
"Gak, gak mungkin!"
"Mama.. Aulin kangen banget sama mama, Aulin pengen banget di peluk sama mama, tapi mama benci sama Aulin, jadi Aulin gak jadi deh minta pelukan sama mama" Jelas Aulin yang sekarang di tubuh asli nya namun hanya untuk beberapa menit.
"Kamu boleh kok meluk mama, kapan pun juga boleh meluk mama" Jawab Violet dan Langsung memeluk erat tubuh mungil anak nya.
"Hiks, Maafin mama" Ucap Violet sembari mengelus pelan kepala Aulin.
"Aulin maafin kok"
"Nak, Pulang ke rumah ya? papa yakin pasti keluarga kita Harmonis kembali" Pinta Andra yang memohon pada Aulin.
"Maaf ma, pa, waktu Aulin gak banyak"
"Gak! kamu gak boleh pergi lagi nak!" Violet pun makin mempererat pelukannya.
Aulin pun menyingkirkan tangan Violet dari elusan kepala nya dan melepaskan pelukan violet.
"Aulin selalu ada di hati mama sama papa, Aulin juga bakal ngeliatin mama sama papa dari atas, tenang aja kok" Balas Aulin dengan senyuman yang manis di wajah nya sendiri.
"Waktu Aulin tersisa 20 menit lagi" Ucap Aulin dengan tersenyum manis.
Aulin pun melepaskan ikatan tali yang melingkar di tangan mereka semua.
"Hbd to you, Hbd to you, Hbd hbd Hbd Aulin" Ujar semua orang yang berada di situ dan menepuk tangan mereka sembari senandung bernyanyi Hbd pada Aulin.
Kanaya pun membawakan Kue pada Aulin, Aulin pun meniup kue ulang tahun tersebut.
"Terimakasih semua, ini adalah ulang tahun yang sangat istimewa bagi ku" Ujar Aulin dan tersenyum.
"Akhir nya aku tenang"
"Izin pergi dulu ya semua, Kayak nya yuraa gak kuat deh" Ucap Aulin dan berlalu pergi.
Yuraa pun kembali menempati tubuh Aulin.
"Tch, siapa yang melepaskan tali nya?" Aulin yang menatap tajam ke arah bodyguard Abang nya.
"E-entah lah nona, seperti nya nona Aulin yang asli" Jawab Bodyguard yang merupakan anggota dari geng Abang nya sendiri.
"Oh"
"Tch, sudah tidak perlu lagi kan sama tu anak?" Tunjuk Aulin pada Amanda.
__ADS_1
"Kalau tidak perlu, saya akan menyingkirkan nya"
DOR
Amanda pun di tembak oleh Aulin, tepat mengenai dada nya, dan akhirnya pun Amanda Men*nggal di tempat.
Arka yang melihat kematian anak nya pun merasa sedih.
"Oh ya, ada satu hama yang belum di selesai kan" Ujar Aulin lalu menatap tajam ke Arka.
"M-maksud anda?" Ucap Arka gemetar.
DOR
Aulin pun membu*uh Arka di bagian dada, semua orang yang melihat Aulin menembak Arka pun terkejut.
"selesai" Ucap Aulin dengan nada dingin.
"Tolong bereskan semua nya" Titah Aulin lalu berlalu pergi.
Abang Abang nya, Sahabat sahabat nya, dan Keluarga nya pun mengikuti Langkah Aulin.
Setiba nya di Rumah kediaman Edogawa, semua pun segera merebahkan tubuh nya, ada yang di sofa, ada yang di kamar, dan ada yang di lantai.
Aulin pun merebahkan diri nya di kamar milik nya sendiri.
Kamar Aulin
"Huft, sungguh menyebalkan" Gerutu Aulin.
Perut Aulin pun sudah berdemo seakan memberi pertanda kalau mereka sudah lapar.
Aulin pun secara terpaksa turun ke bawah dan menuju ke dapur.
Kebetulan di dapur juga ada Bastian, Erawati, Keano, Denis, dan Dimas yang sedang makan di meja makan.
Erawati pun melihat kedatangan anak nya di dapur pun segera mengajak nya makan.
"Ayo sini sayang, duduk di sebelah mama" Ajak Erawati pada Aulin.
"Tidak berminat" Jawab Aulin dengan nada dingin nya.
Erawati yang tawaran nya di tolak mentah mentah oleh Aulin pun merasa kecewa.
Aulin pun hanya memanggang roti saja dan menunggu nya matang.
Keano pun sudah selesai dengan makanan nya dan segera ke tempat pencucian piring, tepat di sebelah nya ada adik nya yang sedang memanggang roti.
"Ngapain dek?" Tanya Keano yang berusaha mengajak adik nya berbicara.
"Buta?"
Keano yang di perlakukan dingin oleh adik nya sendiri pun merasa bersalah pada nya di masa lalu.
Roti yang di panggang Aulin pun sudah matang, tinggal di poles oleh selai Coklat dan menuju kamar nya.
"Tunggu" Keano pun menarik tangan adik nya.
Aulin yang tangan nya di tarik oleh Keano pun hanya diam.
"Maafin gua dek" Mata Keano pun mulai berkaca kaca seakan ingin menangis tetapi ia tahan supaya tidak terjatuh.
__ADS_1
Tanpa sepatah kata pun, Aulin melepas tangan nya dari genggaman Keano secara kasar dan menuju kamar nya tanpa menoleh pada Keano sedikit pun.
Ya begitulah, Kalau Adik nya yaitu Yuraa sudah marah besar, maka ia sangat susah di ajak bicara, sifat nya akan seperti di kutub Utara dan kutub selatan.
Aulin pun menuju kamar nya dan mengunci pintu kamar nya, ia bersantai di tepi Balkon dan menikmati indah nya Negara Indonesia ini.
Author : Hanya cerita Fiksi, jangan di anggap beneran.
Aulin pun menyantap hidangan roti yang ia panggang tadi sembari menatap layar ponsel nya.
Banyak pesan yang belum di baca masuk lewat aplikasi WhatsApp, Aulin tidak memperdulikan nya, ia segera membuka chat grup sekolah, di sana di katakan bahwa kepala sekolah yang bernama Arka sudah Men*nggal, Lalu siapa yang akan menjadi kepala sekolah berikut nya?
Aulin pun segera keluar dari Aplikasi WhatsApp dan segera menuju ke Aplikasi yang bernama Galeri. ia melihat foto foto diri nya dengan mama papa nya, Sahabat sahabat nya, Abang Abang nya, dan tunangannya.
"Buset, gua sama bang Denis"
"Ini kayak nya pas gua kelas tiga SMP deh" Ujar Aulin sembari menatap foto diri nya dengan Denis.
"Nah ini nih, sama bang keong, waktu di mall, pas kelas tiga SMP juga"
"Dulu saya pake poni ya pemirzah" Ucap Aulin yang tetiba bengong.
"Aib gua huaa"
"Eh buset, gua sama bang Dimas"
Batin Aulin tertekan saat melihat diri nya dahulu bersama Abang nya, Mungkin ini saat diri nya kelas dua SMP dan Abang nya kelas tiga SMP, sebelum Dimas, Denis, dan Keano benci pada yuraa.
Aulin pun semakin tertekan karena melihat diri nya bersama Fadli yang entah dimana itu, memakai baju couple, mungkin saat diri nya kelas satu SMA? sebelum kejadian yuraa transmigrasi ke tubuh Aulin.
"Utututu, eyot gua"
"Ini kapan ya?" Tanya Aulin Polos.
Aulin pun menggeser layar nya dan menuju ke foto selanjutnya.
"Fiks, yang di tengah cecel"
Aulin pun menggeser layar nya lagi dan menuju ke foto selanjutnya.
Aulin pun hanya diam tak berkutik, ia mencoba mengingat ingat kembali diri nya ke pantai bersama siapa.
"Oh sama Mba Jihan, Skip lah"
"Muka nya Mba Jihan ngeri, terkena tekanan batin ya mba?" Tanya Aulin yang sedari berbicara sendiri.
"Kek nya ni pas gua kelas tiga SMP terus mba Jihan kelas dua SMA"
__ADS_1
Bersambung______