
Lokasi Kasino tersebut berada tidak jauh dari rumah bordil Nyonya Berlin. Dari gedung Kasino milik Jonathan, rumah Bordil itu bahkan bisa di lihat dengan jelas
###
Stela dan Jonathan memasuki ruangan Kasino itu, ada banyak meja yang di kelilingi oleh orang-orang yang sedang berjudi, memperraruhkan uangnya, hartanya, bahkan mungkin hidupnya sendiri.
"Tuan Jonathan, selamat siang tuan. " Ujar seseorang dari kejauhan.
Stela dan Jonathan sontak menatap ke arah seseorang itu.
Tiba-tiba, beberapa orang berpakaian serba hitam datang menghampiri mereka. Stela sontak memegang erat tangan Jonathan bayangan tentang para penculiknya di malam sebelum dirinya tersadar di tubuh Maya sangat mengganggunya. Stela ketakutan.
Beruntung Jonathan menyadari hal tersebut.
"Kalian tidak usah menyambut kami seperti ini, lain kali jika ada Nyonya pura-pura saja kalian tidak melihat kami. " Ujar Jonathan, orang-orang berpakaian serba hitam itupun nampak kebingungan namun, tidak banyak bertanya, mereka segera pergi melanjutkan tugasnya.
"Maya kau tidak apa-apakan?. " Tanya Jonathan kepada Stela, keringat nampak mengucur di dahi Stela.
Suasana pengap, gelap dan rasa trauma membuat tubuh Stela gemetaran dan berkeringat dingin.
"A-aku mau ke toilet Tuan, tolong bimbing aku kesana. " Ujar Stela.
Jonathan dengan sigap merapat tubuh istrinya itu menuju ke toilet.
"Sampai disini saja Tuan, aku akan masuk sendiri. " Tutur Stela, menhan tubuh Jonathan saat laki-laki itu ingin ikut masuk menemani Stela ke dalam toilet.
__ADS_1
"Tapi Maya... " Jonathan nampak sangat khawatir, namun Stela segera memotng ucapannya.
"Aku tidak apa-apa Tuan, aku hanya ingin buang air kecil sebentar. " Ujar Stela, masuk dengan cepat ke dalam toilet lalu menguncinya dan membiarkan Jonathan menunggunya diluar.
Stela terduduk dengan lemas di lantai. Kepalanya terasa sangat pening. Bayangan-bayangan seperti memaksa masuk ke dalam pikiran Stela, ia tidak tau bayangan apa itu.
Tiba-tiba sebuah gambaran jelas, seperti terputar otomatis di dalam ingatan Stela.
Di dalam ingatan itu, nampak jelas Diana dan Maya sedang berada di sebuah rumah besar, rumah yang sepertinya tidak asing bagi Stela.
"Rumah itu?. " Batin Stela, memikirkan rumah Jonathan.
Flash back ingatan Maya.
Diana terlihat sangat kesal, melihat kehadiran Maya di rumahnya.
"Aku sudah tahu siapa pembunuh orang tuaku. " Ujar Maya tegas.
Diana nampak shock.
"Hah? Siapa?. " Tanya gadis itu.
"Maka dari itu, aku kembali kesini untuk memastikannya, izinkanlah aku menikah dengan ayahmu, agar aku bisa mencari tahu lebih banyak Diana. " Pinta Maya.
Diana terlihat semakin shock mendengar permintaan Maya barusan.
__ADS_1
"Hah? Kau sudah gila? Tidak! Kau tidak boleh menikah dengannya, dia tidak lebih baik Maya, apa yang kau harapkan darinya, pergilah! Aku akan membantumu lari tanpa di ketahui oleh siapapun di kota ini, pergilah Maya lindungi dirimu. " Pekik Diana histeris tanpa sengaja mendorong tubuh Maya dengan cukup keras hingga tubuhnya terjungkal dan kepalanya menghantam sebuah batu.
"Ah, aku.. "
"Maya, oh Tuhan aku tidak sengaja... Maya?. " Diana histeris melihat tubuh Maya terkulai lemas dan ada darah yang keluar dari kepalanya.
Flashback off.
"Arrghhh." Pekik Stela kesakitan, memegangi bagian kepala Maya yang terluka.
Luka itu terasa berdenyut.
"Ingatan Maya?. " Lirih Stela.
Banyak pertanyaan yang tersimpan di dalam benak Stela saat ini, tentang kenapa dirinya bisa berada di dalam tubuh Maya? Kenapa Maya harus bertengkar dengan Diana, sehingga menyebabkan dirinya dan gadis ini bertukar tubuh.
Kini sepertinya satu persatu pertanyaan itu akan terjawab.
"Ah apakah kami benar-benar bertukar tubuh?. " Lirih Stela pikiran konyol itu tiba-tiba saja masuk ke dalam otaknya.
"Ah tidak mungkin. " Stela segera menepis pikiran itu.
Tok.. Tok..
"Maya, kau tidak apa-apakan?. " Tanya Jonathan dari luar pintu kamar mandi.
__ADS_1
Bersambung...