
"Ah maaf aku tidak tahan ingin mengecup keningmu. " Ujar Jonathan mengusap kepala Stela dengan sangat lembut.
###
Stela tidak membalas ucapan Jonathan barusan. Laki-laki itu kemudian berlalu pergi meninggalkan Stela sendirian.
Setelah laki-laki itu benar-benar pergi, Stela memperhatikan seisi ruangan kerja Jonathan. Meskipun seisi ruangannya di isi dengan barang-barang berwarna putih gading namun, setidaknya ruangan tersebut tidak segelap ruangan sebelumnya.
Tidak ada yang istimewa di dalam ruangan itu. Hanya ada sepasang meja dan kursi yang sepertinya di khususkan untuk Jonathan, lalu lemari yang berisi buku-buku dan sofa berkurang besar dan terasa empuk yang saat ini Stela tempati.
Walaupun tidak segelap ruangan sebelumnya, tetap saja ada perasaan kesepian dan sunyi yang tiba-tiba saja di rasakan Stela.
"Ah perasaan apa ini? Seperti perasaan rindu tapi tidak tau rindu kepada siapa? Aneh sekali. " Ujar Stela, merasa tidak nyaman berbaring ia kemudian duduk.
Stela kemudian beranjak dan mengitari ruangan kerja Jonathan itu. Lalu duduk di kursi tempat Jonathan biasa bekerja.
"Tidak ada yang istimewa dari ruangan ini. " Lirih Stela.
Laci-laci yang berjejer dan menyatu dengan meja kerja Jonathan membuat perhatian Stela penasaran.
"Apa isi laci-laci itu?. " Tanya Stela, berbicara dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Stela kemudian celingak celinguk memastikan tidak ada orang yang akan masuk ke ruangan tersebut, ia lalu membuka laci-laci itu satu persatu.
Laci pertama, tidak ada yang istimewa hanya berisi album-album poto, Stela mengeluarkannya dan membuka halaman pertama pada album itu.
Album itu memperlihatkan poto-pot Diana, pada saat gadis itu masih kecil.
"Wah lucu sekali. " Puji Stela, pandangannya kemudian teralihkan pada salah satu poto dimana pada gambar ada tiga orang anak perempuan tersenyum lebar ke arah kamera.
"Bukankah ini driku?. " Ujar Stela menunjuk salah satu anak berpakaian mewah dengan rambut yang di gerai, lalu ada mahkota di atas kepalanya.
Senyuman anak itu nampak sangat mirip dengan Maya.
Stela lalu, membuka lembar kedua pada album poto itu. Benar saja anak perempuan itu adalah Maya. Nampak jelas pada lembar kedua poto Maya bersama Diana yang sedang menghadiri acara ulang tahun salah satu temannya.
"Apakah Maya dulunya adalah anak orang kaya? Tapi kenapa orang tuanya di bunuh? Apakah mereka memiliki pesaing?. " Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Stela semakin penasaran.
Steka membuka lembar demi lembar album poto tersebut hingga sebuah poto membuatnya sedikit terkejut.
Di dalam poto itu ada gambaran Maya dan Diana namun di belakang mereka ada gambar Jonathan muda sedang berpelukan dengan seorang laki-laki paruh baya di samping kedua laki-laki itu ada perempuan yang ikut tersenyum ke arah kamera.
"Apakah ini orang tua Maya?. " Stela kembali bertanya-tanya, namun jika di lihat pada piti selanjutnya sepertinya benar laki-laki paruh baya bersama istrinya itu adalah orang tua Maya.
__ADS_1
"Berarti orang tua Maya dan orang tua Diana sudah saling mengenal sejak dulu?. " Ujar Maya lagi, membuat kesimpulan
Stela merasa takjub dengan wajah Jonathan muda di dalam poto tersebut, usianya nampak cukup jauh dari orang tua Maya yang memang sudah nampak tua di dalam poto tersebut.
Waktu berlalu, tidak terasa dirinya sudah melihat-lihat album poto tersebut hampir setengah jam.
"Maya? Apa yang kau lakukan di kursi ku?. " Ujar Joanthan membuat Stela kaget dan langsung menutup album poto tersebut dan menyimpannya ke dalam laci meja kembali.
Stela menggigit bibir bawahnya.
"Ah a-aku hanya melihat-lihat Tuan, maaf atas kelancanganku. " Ujar Stela, gugup.
Jonathan berjalan ke arah gadis itu, lalu mengusap lembut kepalanya lalu meraiknya kembali ke sofa.
Jonathan membuang nafasnya dengan kasar.
"Apakah laki-laki ini marah? Kenapa ekspresinya terlihat sangat datar?. " Batin Stela, sukur menerka-nerka isi pikiran Jonathan saat ini.
"Kau tidak boleh sembarangan membuka laci-laci itu. " Ujar Jonathan kemudian.
"Ah iya Tuan, sekali lagi maafkan aku, lain kali aku akan lebih berhati-hati. " Jawab Stela cepat.
__ADS_1
Jonathan kembali menghela nafasnya, entah mengapa hal itu justru membuat Stela semakin penasaran.
Bersambung.. .