
Episode sebelumnya...
"Aku tidak peduli, bisa kah kau membantuku? . " Stela berharap bisa menjawab teka teki yang terjadi kepada dirinya dengan bantuan Jonathan.
"Tentu saja, apa yang bisa kubantu. "
###
Stela yang menyadari dirinya berada di kota yang sama dengan tempat tinggalnya di masa depan, kemudian meminta bantuan Jonathan untuk membawanya ke tempat di mana semalam Stela mengalami kejadian buruk.
"Bawa aku ke jalan pintas menurut Bar xxx. " Ucap Stela.
"Bar xxx?. " Jonathan tampak kebingungan.
"Bukankah kita saat ini berada di kota Hujan?. " Tanya Stela lagi.
"Yah, kita memang sedang berada di kota Hujan, tapi di kota ini tidak ada yang namanya Bar xxx. " Jelas Jonathan.
"Lalu di mana lokasi tepat kita saat ini?. "
"Saat ini kita sedang berada di Perumahan Bintang, tenang saja Maya aku sudah mengurus semuanya kau tidak perlu takut akan bekerja terlalu keras lagi, aku akan memenuhi seluruh kebutuhanmu. " Ucap Jonathan.
Mendengar hal itu Stela merasa familiar dengan nama perumahan ini namun entah dimana ia mendengar nama perumahan tersebut.
"Ada berapa bar di kota ini yang memiliki jalan pintas untuk sampai ke bar itu?. "
"Kurasa semua bar di kota ini tentu saja memiliki jalan pintas. " Jawab Jonathan.
"Kalau begitu bawa aku ke semua jalan pintas menuju ke bar itu. " Ucap Stela kemudian dengan wajah yang memelas memohon kepada Jonathan agar laki-laki itu mau membawa dan membantunya.
"Baiklah, kau tidak perlu memohon seperti itu aku sudah mengatakan, bahwa setiap kebutuhanmu akan ku penuhi asalkan kau tidak pergi ke rumah bordil itu lagi dan bekerja terlalu keras di sana, cukup bersamaku saja. " Ujar Jonathan, tulus menatap wajah Stela.
"Rumah bordil?. " Stela merasa penasaran juga dengan gadis bernama Maya tubuhnya saat ini di temapati oleh raga Stela.
Stela yang menyadari laki-laki di hadapannya itu sepertinya sangat menyukai gadis yang tubuhnya sedang Stela gunakan saat ini, merasa bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk kembali ke tubuhnya di masa depan, Namun sebelum itu Stela harus terbiasa dengan tubuh barunya terlebih dahulu dan, mecari tahu siapa gadis bernama Maya ini.
"Iya, Maya kita akan segera menikah tiga hari lagi dan kau akan menjadi nyonya di rumahku, untuk beberapa hari tinggallah disini sampai kamar kita selesai di perbaiki. " Ucap Jonathan mengenggam tangan Maya yang raga di dalam tubuhnya saat ini adalah Stela.
"Menikah?. " Stela lebih kaget lagi mendengar hal itu.
Sepertinya ia harus segera mencari jalan keluar untuk keluar dari tubuh gadis bernama Maya ini.
"Iya, Maya. " Jawab Jonathan sambil tersenyum ke arah Stela.
Stela melepaskan tangannya dari genggaman Jonathan dan berjalan mondar mandir lagi di hadapan laki-laki itu.
__ADS_1
"Ada apa Maya?. " Jonathan Bingung melihat calon istri kesayangannya itu terlihat sesang gusar.
"Aku punya permintaan. " Ucap Maya kemudian, setelah memikirkan langkah pertama yang harus ia lakukan.
"Apapun untukmu akan ku berikan. "
"Kalau begitu antar aku ke semua bar yang ada di kota ini sekarang. " Ucap Stela.
"Untuk apa? "Jonathan merasa kebingungan melihat Maya yang bersikap aneh hari ini setelah kepalanya terbentur semalam.
" Tidak usah banyak bertanya, lakukan saja, ayo dimana mobilmu?. " Stela bertanya balik.
"Ada di luar. " Jonathan menunjuk ke arah pintu.
"Kalau begitu ayo."
Mereka berduapun kini sudah berada di dalam mobil mewah milik Jonathan, yang di tahun itu sangat jarang orang-orang yang memilikinya karena harganya yang tentu saja pasti mahal.
Stela memperhatikan isi mobil Jonathan dan memperhatikan sekali lagi laki-laki yang bernama Jonathan itu nampak jauh lebih dewasa dari pada gadis bernama Maya yang tubuhnya sedang Stela gunakan saat ini.
"Usiamu berapa?. " Tanya Stela.
"44 Maya, bukankah kau sudah menanyakan ini dan mengatakan bahwa kau akan menerimaku dan tidak akan mempermasalahkan usiaku asal aku bisa memenuhi kebutuhan hidupmu?. " Jonathan justru bertanya balik.
"Suami? Orang ini lebih pantas di panggil Ayah oleh gadis bernama Maya ini. " Batin Stela setelah memperhatikan tubuhnya saat ini yang jauh lebih muda dari pada tubuhnya yang asli.
Bukan tanpa alasan, Stela ingin mengunjungi satu persatu jalan pintas menuju seluruh Bar yang ada di kota ini, Stela ingin segera mencari cara untuk kembali ke tubuh lamanya dan mencari tau siapa sebenarnya yang menculiknya dan untuk apa? Stela bahkan masih mengingat suara suaminya sebelum kesadarannya benar-benar menghilang semalam. Apakah semua kejadian ini rekayasa suaminya? . Stela su gtuh tidak, mengerti.
Stela berpikir mungkin jika dirinya sudah menemukan tempatnya di culik semalam, setidaknya ia bisa mengingat sesuatu ataupun ada cara yang bisa membuatnya kembali ke kehidupannya yang sebenarnya, contohnya merekayasa kejadian seperti semalam dan pingsan kembali kemudian terbangun di tubuh aslinya.
Setelah dua jam berkendara dan sudah 8 bar yang telah mereka kunjungi namun tidak ada jalan pintas yang sama persis ataupun hampir mirip dengan tempat kejadian penculikan dirinya semalam.
"Huhhh SIALAN! . " Umpat Stela.
"Apa mungkin di tahun ini tempat itu belum menjadi bar?. " Batin Stela
"Maya? . " Panggil Jonathan terlihat kaget mendengar Stela yang saat ini berada di tubuh Maya mengumpat.
"Ada apa Jonathan?. " Jawab Stela, spontan.
"Jonathan?. " Jonathan mengernyitkan alisnya.
Stela yang menyadari bahwa dirinya sepertinya salah menyebut nama laki-laki itu.
"Ah eh hahahaha Jon, JOn. " Stela mencoba menyebutkan nama depan dari laki-laki itu, biasanya orang yang berpasangan akan mengangguk nama pasangannya dengan nama depannya saja atau nama panggilan yang lain, entahlah semoga Stela tidak salah menyebutkan nama panggilan laki-laki itu.
__ADS_1
"Ah Maya, aku pikir kepalamu yang terbentur semalam ada baiknya juga, setidaknya ada perkembangan untuk hubungan kita, biasanya kau akan memanggilku dengan embel-embel Tian Jon ." Ucap Jonathan dengan nada suara yang sedikit bergetar namun wajahnya terlihat sangat senang.
"Ahhahaha, iya Tuan Jon maaf Tuan aku, sepertinya kepalaku memang agak sakit. "Stela memegangi kepalanya dan merasakan kepalanya kekang agak pusing.
" Sungguh?Kalau begitu kita langusng pulang saja, kurasa kau kelelahan. " Ujar Jonathan penuh perhatian.
Jonathan masih merasa khawatir setelah gadis itu mengalami benturan yang cukup keras setelah di dorong ke tembok tadi malam oleh saat salah satu anak Jonathan yang tidak sengaja memergoki Jonathan dan Maya sedang bercumbu di secara sembunyi-sembunyi.
"Maya?. " Panggil Jonathan.
"Mayaaaa?. " Panggil Jonathan sekali lagi.
"Eh iya Tuan Jon ada apa. " Stela sepertinya masih belum terbiasa dengan nama barunya itu.
"Hari ini kau beristirahat saja dahulu di dalam kamar barumu, besok aku akan kembali lagi untuk melihat dan membawakanmu pakaian baru. " Ujar Jonathan yang memarkirkan mobilnya di parkiran perumahan Bintang.
Stela sedari tadi keasikan melamun tidak menyadariereka sudah tiba di perumahan itu lagi.
"Tapi aku masih harus mencari bar yang lainnya Tuan. " Ucap Stela.
"Maya, aku harus menyelesaikan pekerjaanku di tempat lain terlebih dahulu, jika kau merasa berat untuk berpisah denganku maka aku akan datang secepat mungkin dan kau tidak harus menunggu sampai esok hari . " Mendengar hal itu Stela malah merasa sedikit risih namun tetap saja dirinya sangat membutuhkan Jonathan di tempat yang sangat asing bagi Stela.
"Aku harap kau akan cepat kembali Tuan. " Ucap Stela sambil tersenyum dan menatap wajah Jonathan yang sangat senang setelah mendengar ucapannya barusan.
"Kalau begitu aku akan menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin dan akan membawakanmu baju-baju yang cantik setelah pulang nanti. " Jonathan terlihat sangat antusias.
"Aku ingin baju yang mahal Tuan. " Ucap Stela, melihat baju yang di kenakannya saat ini terlihat sangat norak.
"Bagaimana kalau kita pergi berbelanja bersama-sama?. "Tanya Jonathan nada bicaranya terdengar sangat berharap.
" Tentu saja, biar aku sendiri yang memilih. " Ujar Stela santai dan membuka mobil Jonathan, ia kemudian keluar dan berjalan menuju ke kamarnya tanpa berpamitan dengan Jonathan yang terlihat sangat kegirangan.
"Yes akhirnya, Maya mau berjalan keluar bersamaku. " Teriak Jonathan tidak menyadari bahwa raga yang berada di tubuh gadis yang sangat di idam-idamkannya itu bukanlah jiwa Maya melainkan raga Stela yang tidak tahu menahu tentang hubungan Antara Jonathan dan Maya.
Sementara Stela yang sudah sampai di dalam kamar Maya, kembali memperhatikan dirinya di depan cermin. Stela benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi kepada dirinya dan Maya, ada banyak pertanyaan di salah pikirannya.
Siapa Maya? Kemana jiwa gadis itu? Dimana tubuhku? Apakah aku sudah mati? Atau apakah Maya yang sudah mati? Atau ada jawaban-jawaban yang l mlebih masuk akan untuk pertanyaan-pertanyaan tmyang ada di dalam otak Stela saat ini?.
Stela berjalan mondar mandir lagi di dalam kamar tersebut dan kembali memikirkan cara untuk menemukan bar yang memiliki jalan pintas yang sama dengan tempat terjadinya kejadian semalam.
"Ah, apakah mungkin bar itu di tahun ini belum menjadi sebuah bar?. "Stela berpikir mungkin inilah alasan dirinya tidak menemukan jalan pintas yang mirip dengan jalan pada kejadian yang terjadi padanya semalam.
Bersambung.. .
Klik like, vote, subscribe dan komentar seusai dengan isi ceritanya yah.
__ADS_1