
"Maya, kau tidak apa-apakan?. " Tanya Jonathan dari luar pintu kamar mandi.
###
Wajar saja, sudah hampir 15 menit Steka berada di dalam toilet tersebut.
"Aku tidak apa-apakan Tuan, tenang saja. " Balas Stela segera berdiri dan membasuh wajahnya dengan air.
"Ah kepalaku. " Stela memegangi kepalanya yang masih berdenyut.
"Maya?. " Panggil Jonathan lagi.
Stela menutup matanya lalu menghitung.
"10.. 9.. 8.. 7.. 6.. 5.. 4.. 3.. 2.. 1." Lirih Stela lalu beranjak keluar dari toilet.
"Maya, kau tidak apa-apakan?. " Sambut Jonathan ketika melihat Maya yang baru saja keluar dari toilet.
"Harus berapa kali kukatakan, aku baik-baik saja Tuan. " Jawab Stela berbohong.
"Apakah para pengawal ku itu membuat kau takut?. " Tanya Jonathan lagi.
"Ah, aku hanya sedikit terkejut dengan suasana di dalam kasino mu ini sangat gelap dan pengap, aku merasa kesulitan bernafas. " Ujar Stela sedikit berbohong lagi.
__ADS_1
Ucapannya memang tidak sepenuhnya kebohongan, mimpi Stela tentang ruangan yang gelap dan sunyi itu mengingatkannya pada ruangan Kasia Jonathan yang gelap dan pengap, bedanya Kasino tersebut sangat ramai dan berisik.
Di tambah para pengawal Tuan Jonathan itu membuat Stela merasa takut, memikirkan dirinya sebelum berada ke tubuh ini yang di culik oleh beberapa Pria berbaju serba hitam.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita ke ruangan ku. " Ujar Jonathan menarik lembut tangan Stela agar mendekat ke tubuh laki-laki itu.
Stela hanya terdiam pasrah memeluk tangan Jonathan, berada pada jarak sedekat itu Stela merasa tubuh Jonathan membuatnya merasa nyaman.
"Kau ingin di gendong?. " Tanya Jonathan saat Stela sengaja menyandarkan kepalanya ke lengan Jonathan.
"Tidak!. " Jawab Stela Cepat.
Jonathan terkekeh pelan, namun tangannya segera meraih pinggang Stela dan membantu gadis itu berjalan menuju ke ruang kerjanya.
Saat melewati orang-orang yang berjudi itu, beberapa pasang mata sontak memperhatikan Stela dan Jonathan melewati mereka.
Jonathan terus menuntun langkah Stela menuju ke sebuah ruangan yang berada di lantai 3, mereka menggunakan lift untuk naik ke atas.
Stela merasa sedikit takjub, karena tidak menyangka, di tahun itu Jonathan sudah menggunakan Lift di dalam gedungnya.
"Sekaya apa laki-laki ini?. " Pikir Stela.
Beberapa pengawal Jonathan ikut masuk ke dalam lift untuk mengawal Tuannya itu, membuat Stela kembali semakin merapatkan tubuhnya ke Jonathan, karena takut kepada para pengawal berpakaian serba hitam itu.
__ADS_1
"Kalian tidak usah ikut, berjaga di depan lift saja. "Perintah Tuan Jonathan saat mereka sudah sampai di lantai 3.
Para pengawalnya itupun langsung patuh dan berdiri di depan lift tanpa banyak bertanya.
" Dan satu lagi, pergi ganti pakaian kalian menggunakan pakaian yang lebih santai dan berwarna cerah. " Tambah Jonathan.
Para pengawalnya itu kembali kebingungan namun perintah Tuannya tersebut tetap mereka turuti.
Para pengawal itu kembali masuk ke lift entah pergi kemana mereka. Stela tidak ingin ambil pusing. Namun, Stela merasa senang karena nampaknya Jonathan adalah laki-laki yang sangat peka.
"Bagaimana perasaanmu Maya?. " Tanya Jonathan setelah mereka sudah berada di dalam ruang kerja Jonathan.
Stela di baringkan di atas sofa panjang dan empuk, membuat tubuhnya lebih rileks.
"Sudah lebih baik Tuan. " Jawab Stela.
"Ah syukurlah, kalau begitu berbaringlah disini, aku akan turun ke bawah sebentar untuk mengurus beberapa pekerjaan dulu, tunggulah aku disini. " Ujar Jonathan.
Stela hanya mengangguk.
Cup
Satu ciuman mendarat di kening Stela, membuatnya terlonjak kaget. Matanya yang tadi tertutup sontak kembali terbuka.
__ADS_1
"Ah maaf aku tidak tahan ingin mengecup keningmu. " Ujar Jonathan mengusap kepala Stela dengan sangat lembut.
Bersambung...