Transmigrasi Ke Tubuh Maya

Transmigrasi Ke Tubuh Maya
Chapter 6 : Rumah Bordil


__ADS_3

Episode sebelumnya..


Stela yang mendengar itu merasa sudah bisa merangkai sedikit demi sedikit latar belakang gadis bernama Maya ini dan sepertinya Stela tidak boleh terlalu percaya kepada siapapun di tempat ini, terutama Jonathan yang terlihat sangat baik kepadanya.


###


Happy Reading and Enjoy Guys.


"Kalau begitu, dimana kau tinggal?. " Tanya Stela setelah lumayan jauh berjalan-jalan di sekitar penginapan temannya tinggal.


"Kau sungguh tidak ingat apa-apa?. "


Stela hanya meringis, entah sudah berapa kali gadis bernama Widi ini bertanya seperti itu kepadanya.


"Hmm." Stela hanya menganggukkan kepalanya.


"Aku tinggal di desa sebelah, rumah kita bersebelahan. " Ucap Widi kemudian.


"Sungguh?. " Stela sontak terkejut, sepertinya gadis bernama Widi ini benar-benar mengenali Maya.


"Iya Maya, kau sudah lama tidak pulang kesana semenjak tinggal di rumah besar Nyonya Berlin, mungkin karena kau merasa trauma..... " Widi memperlihatkan ekspresi kesedihan tidak melanjutkan ucapannya.


Membuat Stela berfikir su gtuh malang nasib gadis, bernama Maya ini.


Stela kemudian merubah topik pembicaraannya.


"Untuk apa kau ke desa ini?. " Tanya Stela kemudian.


"Ah tadinya aku mau mencari bahan makanan di pasar desa ini namun karena tadi aku melihatmu, aku mengurungkan niatku dan akan melakukannya nanti saja. "


"Kalau begitu kita pergi ke pasar saja, aku bosan tinggal di penginapan itu, Tuan Jon mungkin akan pulang malam lagi. " Stela menunjuk penginapan Perumahan Bintang yang pacarnya masih kelihatan padahal mereka berdua sudah berjalan cukup jauh.


"Kau tinggal disana?. " Tanya Widi.


"Iya, suah dua hari. ".


" Wah itu penginapan yang mahal, sepertinya kau benar-benar akan menjadi Nyonya besar setelah menikah dengan Tuan Jon. "


Stela hanya tersenyum menanggapi ucapan Widi.


Mereka berdua kemudian berjalan-jalan di area pasar itu, Stela menemani Widi berbelanja namun sesaat kemudian ia merasa semua orang seperti sedang memperhatikannya.


Stela berjalan agak kikuk karena merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang itu. Widi yang menyadarinya langsung memegang tangan Stela.


"Kenapa mereka semua menatapku seperti itu. " Tanya Stela kepada Widi.

__ADS_1


"Kau tidak ingat? Kau sangat terkenal tau di kota ini. " Jawab Widi yang membuat Stela semakin penasaran.


"HAH?. "


"Saat kau bekerja di rumah Nyonya Berlin ada banyak laki-laki kaya yang menginginkanmu, beberapa diantaranya adalah pedagang-pedagang yang ada disini, Nyonya Berlin memasang tarif yang sangat mahal untukmu sehingga hanya beberapa orang tertentu saja yang bisa dengan mudah menemuimu dan berkencan denganmu. " Jelas Widi.


"Hah? Sungguh? Tapi dari mana kau mendapatkan semua informasi itu?. " Stela merasa Widi terlalu banyak tahu, membuat Stela penasaran siapa sebenarnya gadis bernama Widi ini.


"Nyonya Berlin adalah bibiku. " Ucap Widi, membuat sontak terkejut dan melepaskan genggaman tangan Widi.


"Ada apa Maya?. " Tanya Widi kebingungan.


"Ah tidak apa-apa. " Stela merasa dia harus waspada kepada Widi, bisa saja gadis itu juga pernah berbuat jahat kepada Maya mengingat Widi adalah keponakan dari Nyonya Berlin pemilik rumah bordil tempat Maya selama ini mencari nafkah untuk dirinya sendiri.


"Kau pergi ke rumah bordil itu seorang diri, aku dan Diana sudah mencoba melarangmu. " Ujar Widi kemudian sekan-akan mengerti mengapa Stela melepaskan genggaman tangannya.


Widi kemudian menarik Stela yang berwujud Maya itu.


"Ikut aku. " Widi menuntunnya ke sebuah tempat yang sepertinya akan cukup jauh dari penginapan tempatnya tinggal.


"Kita mau kemana?. "


"Ke rumah bordil itu, siapa tau jika kita kesana ingatanmu akan sedikit kembali. " Ucap Widi sambil berlari kecil


15 menit kemudian mereka sudah berada di depan sebuah rumah besar yang di tembok pagarnya tertulis "Nyonya Berlin".


" Huuuhhhh inihh rumahnyahhhh. " Ucap Widi dengan nafas yang tidak teratur karena sedari tadi mereka terus berlari hingga sampai ke tempat ini.


Stela memperhatikan sekitarnya dan ada beberapa gedung bangunan besar juga yang berjejer dekat dengan rumah Nyonya Berlin ini.


"Aku tinggal di tempat ini?. " Stela memastikannya lagi kepada Widi.


"Iya, ayo kita masuk. " Widi menariknya lagi namun Stela segera menahan gadis itu.


"Widi, aku sebenarnya agak takut. " Ucap Stela.


"Hei, kau sudah di bebaskan, Tuan Jon sudah membayar cukup mahal untuk mengeluarkanmu dari sini, Bibiku tidak akan menangkapmu apalagi mengurungmu di dalam ruangan yang gelap, bahkan saat kau masih tinggal di dalam sana kita sering pergi bertiga dan melakukan banyak hal di luar sana. " Jelas Widi.


"Bertiga?. "


"Iya dengan Diana, anak Tuan Jon, sebentar lagi kau akan bertemu dengannya lagi ku harap kita bisa akur lagi seperti dulu. " Ucap Widi dengan nada suara sedih.


"Memangnya apa yang membuat kita bertiga tidak akur lagi?. " Stela sungguh sangat penasaran dengan hal ini karena sudah berkali-kali mendengar cerita bahwa hubungan ia dan Diana sedang tidak baik-baik saja, bahkan benturan di kepala Maya adalah perbuatan Diana, menurut pengakuan Jonathan.


"Itu karena kau akan menikahi Ayahnya. " Ucap Widi sambil meringis menatap wajah Maya yang di dalam tubuhnya adalah Jiwa Stela.

__ADS_1


"Ah ya ya ya aku mengerti. " Stela baru menyadari.


Kini Stela sepertinya telah menemukan benang merah kenapa gadis bernama Maya ini sedang tidak berhubungan baik dengan Diana. Stela bisa mengerti bagaimana perasaan Diana melihat sahabatnya sendiri akan dinikahi oleh ayahnya lalu menjadi Ibu tirinya.


"Sahabatku adalah ibu tiriku?. " Kalimat itu kemudian terkintas dalam pikiran Stela.


Wajar saja jika Diana marah pada gadis bernama Maya ini, kurasa anak-anak yang lain juga akan melakukan hal yang sama jika mengetahui sahabatnya sendiri akan menikah dengan ayahnya.


Akan sangat aneh untuk memanggilnya sebagai "ibu". Apalagi melihatnya bermesraan, bukankahaakan kah ituakan terlihat sangat menjijikkan dan membuat tidak nyaman? Melihat ayah kita bermesraan dengan sahabat kita sendiri?.


Stela menggeleng-gelengkan kepalanya membayangkan hal itu.


" Ada apa Maya? Ayo kita masuk. "


"Hmm ayo. "


Widi berjalan masuk ke dalam gerbang rumah besar Nyonya Berlin, diikuti oleh Stela yang berjalan di belakangnya.


"Wuahhh Nona Maya? Nona Widi?. " Seorang perempuan berlari ke arah mereka.


"Hai Murni. " Balas Widi.


"Nyonya Berlin sudah menunggu kedatanganmu untuk mengunjunginya Nona Maya, kemana saja kau selama seminggu terakhir ini? Nyonya Berlin sangat menghawatirkanmu sampai susah tidur selama berhari-hari. " Oceh perempuan bernama Murni itu.


"Dia kepala pelayan disini. " Bisik Widi kepada Stela yang kebingungan.


"Ahh, dimana Bibi Berlin?. " Tanya Widi.


"Dia ada di dalam kamarnya, ayo aku akan mengantar kalian kesana. " Murni berjalan di depan kedua gadis itu, rumah besar ini terlihat sepi di siang hari, Stela kembali memperhatikan sekitarnya dan tidak mendapatkan adanya aktifitas apapun.


"Katanya ini rumah bordil?. " Batin Stela.


Tidak lama kemudian, mereka bertiga masuk ke dalam rumah besar itu, di dalamnya terlihat biasa saja, ada banyak kamar yang berjejer.


"Ini adalah kamar perempuan-peempuan yang bekerja dirumah bordil ini. " Bisik Widi memberikan informasi kepada Stela yang berada di dalam tubuh Maya, Stela hanya bisa berpura-pura lupa ingatan.


Mau bagaimana lagi hanya ini satu-satunya cara agar ia bisa mencari tahu tenang siapa dan bagaimana latar belakang gadis bernama Maya ini.


Stela memperhatikan ruangan di dalam rumah itu yang hanya berisi kamar-kamar yang berjejer di kanan kirinya, Stela menghitung jumlah kamar itu mungkin ada sekitar 18 kamar yang saling berhadapan. Namun, Stela agak bingung karena tidak melihat ada orang lain selain Murni.


Mereka bertiga terus berjalan hingga sampai di tangga yang berada di ujung ruangan.


Bersambung..


Klik like, vote, subscribe dan komen yah untuk membantu perkembangan author. Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2