Trauma Menikah

Trauma Menikah
1. Pertemuan


__ADS_3

Sore hari di tahun 2011, Rani mendengarkan musik lewat saluran radio Gema FM. Selain mendengarkan musik, di Gema FM juga mengadakan kuis khusus pada acara peringatan Gema FM. Rani pun ikut menjawab pertanyaan dari sang penyiar radio, dan tak disangka jawabannya benar.


Keesokan harinya Rani di undang untuk mendatangi studio Gema FM yang tempatnya di dataran tinggi berdekatan dengan Pesantren Modern ternama untuk mengambil hadiahnya. Karna Gema FM pun dikelola oleh para alumnus santri di pesantren tersebut dan para gurunya.


Rani datang ditemani adiknya yang masih berusia 11 tahun, karna jika pergi keluar sendiri sudah pasti dia tidak diberi izin oleh ibu dan ayahnya.


Setelah tiba di studio, ia dipersilahkan duduk setelah mengisi daftar tamu.


Sebelumnya Rani tidak tau kalau studio ini berdekatan dengan Pesantren, dan dia sedikit malu karna tidak mengenakan jilbab.


Disela-sela acara Rani istirahat sejenak duduk dipinggir stand minuman yang kebetulan dijaga oleh santri putra. Beberapa menit kemudian ada seorang santri putra berumur sekitar 10 tahun yang mendekatinya dan memberikan secarik kertas. Rani bingung apa maksud anak tersebut memberikan kertas itu, ia pun membuka kertasnya dan membacanya.


Dan isinya adalah ajakan perkenalan dari santri putra seusianya. Dalam surat itu ada petunjuk untuk Rani melihat ke arah yang dimaksud surat itu, dan Rani pun mencari seseorang yang mengiriminya surat dengan menengok ke arah yang dimaksud tadi. Lalu ada seorang lelaki yang dadah-dadah kecil padanya dengan tersenyum malu.


Rani diminta mengikutinya ke tempat yang lebih tinggi dari acara sekitar studio itu, tak jauh dari sana mereka ke arah tebing yang tidak terlalu tinggi.


Rani terkesima dengan pemandangan dari atas tebing itu, begitupun adiknya. Lelaki itu pun memperkenalkan dirinya kembali pada Rani.


"Afwan saya ajak kamu kesini, soalnya kalo disana rame." Kata lelaki itu


"Saya Dimas Purnama" sambungnya


"Saya Rani Pratami, ini adik saya Alea" jawab Rani memperkenalkan dirinya juga


"Oh iya.. kamu dari mana? Diundang acara radio tah?" Tanya Dimas


"Saya dari daerah C, iya saya diundang buat ambil hadiah karna kemarin saya benar menjawab kuis dari penyiarnya. Kalo kamu dari mana?"


"Ohh kamu dari daerah C? Saya juga dari sana. Tepatnya di daerah Cc nya. Kamu?"


"Oh deket itu, saya di K nya"


"K? Sebelah mana itu?" Tanya Dimas yang kurang tau daerah tempat tinggal Rani


"Itu kan sebelum daerah Cc" jelas Rani


"Bukannya itu daerah S ya?"


"Daerah S sebelah sananya lagi"


"Oooh, baru tau saya."


"Yaa emang sih banyak yang belum tau nama daerahnya padahal udah lama tapi orang-orang ngiranya masuk daerah S"


"Oh gitu, yaudah nanti lagi ya takut dicariin saya. Nanti SMS saya ya ke nomor ini (memberi sepotong kertas berisi nomor telepon). Saya duluan ya, gapapa kan turun berdua?" Tanya Dimas untuk memastikan


"Iya gapapa duluan aja"


"Assalamualaikum" salam Dimas


"Waalaikumsalam" jawab Rani


"Dek, foto dulu yuk disini. Gantian ya, sekarang kamu dulu" kata Rani sembari mengeluarkan handphone miliknya yang saat zaman itu masih java belum android


"Iya kak, dingin banget disini untung aku pake jaket sama kerudung" kata Alea


"Iya dingin banget, kakak gak tau sih disini deket pesantren. Kalo tau pake kerudung aja tadi. Nanti abis dapet hadiah kita langsung pulang yuk." Ajak Rani


"Yuk" jawab Alea kegirangan

__ADS_1


......................


Rani berangkat ke studio diantar oleh kenalannya dari sosial media, bisa dibilang Rani dekat dengan banyak laki-laki tetapi semuanya Rani anggap teman. Tidak tau kalau mereka menganggap apa pada Rani.


Pulangnya pun Rani dijemput orang yang sama.


"Assalamualaikum, kita pulang" salam Rani pada Ibu yang sedang memasak menyiapkan makan malam


"Wa'alaikumusalam, dapet apa dek hadiahnya?" tanya Ibu pada Alea


"Nih cuma dapet botol minum aja huh! padahal udah jauh-jauh kesana" kesal Alea pada ibunya


"Yaudah gapapa, kan bisa kepake, sana mandi udah sore" titah ibu


"Iya bu" jawab Rani dan Alea


"Adek dulu sana mandinya, badan kakak pegel." kata Rani


"Iyaa kaak"


"Bu, ayah mana?" tanya Rani


"Ayah belum pulang, bentar lagi juga datang" jawab ibu


** malamnya setelah makan malam selesai **


"Ayah, ayah!!" panggil Alea dengan semangat pada Ayahnya


"Apa sayang?" Jawab ayah dengan tersenyum


"Tau gak? tadi kan kakak sama Lea ke studio radio gitu buat ambil hadiah kakak, disana ada kakak-kakak cowok ngajak kak Rani kenalan loh yah!" kata Lea pada Ayahnya sambil melirik pada Rani


Alea menceritakan kejadian siang tadi disana dengan semangat. Alea selalu menceritakan apapun pada Ayahnya, dia sangat dekat dengan ayahnya. Kadang saat akhir pekan mereka pergi ke luar kota berdua tanpa Rani dan ibunya.


"Adek ssssuttss, udah ah kamu mah apa aja dikasih tau Ayah nih" kata Rani pada Alea


"Ya gapapa dong terserah aku wleee 😝" ledek Lea pada Rani


"Emang bener kak?" tanya Ayah sambil tersenyum menggoda anak sulungnya


"Hehe iyaa yah, gapapa kan?" jawab Rani


"Ya gapapa kalo gak macem-macem mah " kata Ayah mengingatkan


"Enggak dong yah, kan cuma kenal doang"


"Iya iyaa" ujar Ayah meng-iyakan


......................


** 3 bulan setelah hari itu.. **


Dimas pun lulus dari pesantren yang setingkatan SMA. Selama di pondok pesantren Dimas hanya seminggu sekali berkirim pesan dengan Rani yaitu di hari libur pembelajaran saja.


Setelah lulus, Dimas tetap berada di pondok sembari menunggu ada info lowongan pekerjaan.


Dimas lebih memilih kerja daripada jadi pengurus pondok pesantrennya. Baginya sudah bosan lama-lama dipesantren sampai akhirnya Dimas memutuskan untuk pulang ke rumah dan mencari lowongan pekerjaan dari rumahnya saja.


Setelah pulang dari pondok, Dimas dan Rani lebih sering bertukar kabar karna sekarang tidak harus menunggu hari libur untuk bisa memakai handphone.

__ADS_1


Sampai pada suatu hari Dimas diundang ke rumah Rani untuk bertemu dengan Ayah Rani.


"Dimas, Ayah aku suruh kamu main kesini. Kamu mau gak?" tanya Rani


"Dalam rangka apa nih? duh jadi degdegan aku" kata Dimas lewat telpon


"Ya main aja sini silaturahim"


"Ohh yaudah nanti aku kesana sorean ya"


"Oke"


Sorenya Dimas pun pergi ke rumah Rani, Dimas disambut dengan baik oleh keluarga Rani.


"Assalamualaikum pak"


"Wa'alaikumusalam, silahkan duduk" jawab Ayah dan mempersilahkan duduk


"Eh udah datang Dimas, bentar ya ibu ambilin minum dulu. Mau minum apa?" tanya Ibu


"Apa aja bu hehe" jawab Dimas canggung


"Yaudah tunggu ya"


Dimas duduk berhadapan dengan Ayah Rani.


"Diminum ya" kata Ibu


"Iya bu, makasih"


"Ibu tinggal dulu ya, lagi ada kerjaan rumah biasa hehe. sok ngobrol yang santai sama Ayah sama Rani"


"Iya bu."


"Kelahiran tahun berapa Dimas?" tanya Ayah


"Tahun 93 pak" jawab Dimas dengan sopan


"Tanggalnya?" tanya Ayah lagi


"Tanggal 15 Juli"


"Wah sama dong dengan tanggal lahir saya" kata Ayah


Obrolan mereka cukup lama dan cukup nyambung sampai mereka tidak sadar kalau waktu menunjukkan sudah sore, Dimas pun pamit untuk pulang.


"Udah sore nih pak, saya pamit pulang ya"


"Ooh iya iya, gak kerasa tau tau udah sore aja haha" jawab Ayah dibarengi tawa ringannya


"Wassalamu'alaikum" salam Dimas pada Rani dan Ayahnya


"Wa'alaikumusalam, hati-hati nak, salam untuk orang tuamu ya" jawab Ayah


"Eh Ayah ihhh apa deh" ucap Rani malu-malu


"Hahaha" Ayah tertawa mengusili anak perempuannya


Dengan latar belakang yang cukup baik, Ayah mengizinkan mereka untuk berhubungan ke jenjang serius. Meskipun belum tau kapan mereka akan segera untuk menikah, karna Dimas baru saja lulus dan sedang mencari lowongan pekerjaan. Sedangkan Rani 1 tahun lagi dia baru lulus SMK.

__ADS_1


__ADS_2