Trauma Menikah

Trauma Menikah
5. Hadiah Pernikahan


__ADS_3

"Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha Rani Pratami binti Ahmadi Pratama alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq." Ucap Dimas dengan lancar


"Sah?" Tanya penghulu pada para saksi


"Sah!" Jawab para saksi


"Alhamdulillah.." sambung penghulu dengan do'a


Acara pernikahan Rani dengan Dimas berjalan khidmat, Ibu Rani sudah mempercayakan putrinya pada Dimas untuk ia bimbing dan lindungi.


Seminggu setelah acara, Rani pun kembali bekerja. Begitupun Dimas, ia kembali ke kota untuk mencari nafkah. Dimas pulang sebulan sekali untuk mengobati rindunya pada Rani, begitu baik Dimas memperlakukan Rani dari semenjak pacaran sampai sekarang usia pernikahan yang baru 2 bulan meskipun ada saja hal yang diributkan.


Karena kegigihannya bekerja dan selalu mencapai target, Rani pun naik jabatan dan tidak perlu setiap hari dia bekerja diluar lapangan. Lagi pula akhir-akhir ini Rani merasa tidak nyaman dengan perutnya dan selalu merasa mual.


"Oekk! Oekkk!" Rani merasa sangat mual


"Kenapa bu?" tanya atasannya yang melihat Rani tiba-tiba mual


"Gak tau nih bu, akhir-akhir ini saya gak enak badan terus perut juga gak nyaman." jawab Rani


"Udah diperiksa ke dokter belum?"


"Belum bu"


"Yaudah kamu pulang aja duluan setelah beresin laporan yang satu ini" saran atasannya


"Gapapa bu?"


"Iya gapapa"


"Yaudah saya beresin dulu laporannya bu"


"Iya iyaa silahkan"


*Sesampainya dirumah..


"Kamu masih dijalan sayang?" tanya Rani lewat chat


Dimas belum membalas karna dia pulang dengan mengendarai motornya sendiri.


Beberapa jam kemudian Dimas sampai rumah dan mengucapkan salam. "Assalamualaikum, Sayang? Aku pulang"


"Wa'alaikumusalam" ucap Rani membuka pintu dan salim mencium punggung tangan Dimas

__ADS_1


Dimas masuk dan langsung selonjoran karna perjalanan yang cukup lama menggunakan sepeda motor.


"Nih diminum dulu, pasti capek" kata Rani menyuguhkan minuman pada suaminya


Glekk.. glekk.. glekk "ahh alhamdulilah"


"Oekk! Oekkk!"


"Kenapa sayang?" Tanya Dimas panik pada Rani yang dari pagi sudah mual-mual


"Gak tau nih rasanya mual banget"


"Apa jangan-jangan?" Tanya Dimas menatap Rani yang kemudian bertatapan dengan mata penuh harap


Rani dan Dimas tersenyum sumringah. Esoknya mereka segera pergi ke bidan terdekat untuk memeriksa keadaan Rani.


"Selamat ya, hasilnya positif hamil" ucap bidan yang sudah memeriksa Rani


"Alhamdulillah" hamdalah Rani dan Dimas bersamaan


"Buat lebih jelasnya silahkan periksa ke dokter SpOG ya untuk melihat perkembangan janinnya"


"Baik bu, terima kasih."


"Iya sama-sama"


"Ini baru terlihat kantungnya ya, bulan depan bisa kesini lagi buat di cek apakah janinnya berkembang di rahim ibu Rani, semoga saja ya. Soalnya disini belum terlalu jelas"


"Oh iya dok" jawab


"Ibu Rani jangan terlalu kecapean ya, karna usia kehamilannya masih muda jadi harus benar-benar diperhatikan apalagi dari pola makannya. Saya resepkan obat untuk penguat kandungan ya, silahkan di ambil depan tempat penyerahan obat."


"Baik dok, terima kasih" ucap Rani dan Dimas


"Ya sama-sama" balas dokter dengan senyum


...----------------...


Setiap bulan mereka rutin memeriksakan kandungan pada bidan atau dokter kandungan. Rani masih bekerja meski dalam kondisi hamil, hanya mengurangi aktivitas berat.


Mendekati waktu lahiran, Rani mendapat cuti melahirkan selama 3 bulan. Putri pertamanya pun lahir pada bulan terakhir di tahun 2016 yang diberi nama Azkia Claudia Purnama.


Selama masa cutinya Rani fokus merawat putrinya sampai terkadang lupa ada Dimas yang harus dia layani saat sedang pulang. Keadaan rumah mereka cukup berantakan ketika Ibu atau mertua Rani tidak datang untuk membantunya merawat cucu mereka.

__ADS_1


Dimas tidak suka melihat rumahnya berantakan. Awalnya diapun berinisiatif untuk membereskan rumah karna melihat Rani yang cukup kelelahan mengurus anaknya. Tapi lama kelamaan Dimas muak melihat Rani yang tidak bisa membagi waktu antara mengurus anak, mengurus pekerjaan dan mengurus pekerjaan rumah. Karna setiap Dimas pulang pasti rumah selalu berantakan apalagi Rani sudah mulai masuk kerja lagi. Dan selama Rani mulai bekerja, Azkia dititipkan dirumah Ibu Rani. yang tak jauh dari rumahnya.


"Kamu bisa gak sih beresin rumah minimal tiap aku pulang?!" kata Dimas kesal


"Aku capek tau! pagi berangkat kerja pulang sore, terus malem jagain anak. Kamu ngerti dikit dong!" jawab Rani yang juga kesal


"Iya aku tau, tapi apa kamu gak risih lihat rumah berantakan? Dan lagi kalo awal-awal pas kamu baru lahiran terus kamu gak mau bebenah rumah aku wajarin karna emang kamu baru lahiran. Tapi aku diemin malah makin ngelunjak!"


"Aku bukannya ngelunjak, nanti Kia tidur aku beresin udah."


"Udah kamu keluar aja kerjanya, urusin anak, biar aku aja yang kerja"


"Emang cukup buat bayar hutang kamu ke bank? beli susu popok buat Kia dan lain-lainnya?. Aku kerja juga kan buat bantuin kamu bayar hutang waktu kita nikahan ke bank!"


"Lagian Ibu kamu sih pake pengen acara mewah segala!" kata Dimas menyeret-nyeret ibu Rani


"Loh ko nuduh-nuduh ibu aku sih?! Aku kan anak pertama dan yang pertama menikah di keluarga besarku jadi Ibu juga mau ngerayain pesta pernikahan yang besar biar gak malu sama keluarga ibuku! Di keluarga kamu juga kan baru kamu aja yang nikah! Imbang dong" ucap Rani tak mau kalah


"Arrghhh bener-bener bikin pusing anj*ng!"


"Astaghfirullah, istighfar kamu!" ucap Rani mengingatkan


"Astaghfirullah.." kata Dimas "Gini aja, selesai lunasin hutang ke bank, kamu resign aja ya. Aku janji bakal kerja lebih giat. Kalo perlu aku nyari kerja sampingan buat menuhin kebutuhan kita" sambung Dimas


"Iyaa iyaa" jawab Rani sedikit cules


"Assalamualaikum.." Ucap salam seseorang dari luar


"Wa'alaikumusalam.." jawab Rani dan Dimas. Rani membuka pintu dan yang datang ibu mertuanya


"Eh Mama, kok gak ngabarin mau kesini?" kata Rani sambil salim mencium punggung tangan ibu mertuanya


"Tadi Mama telpon tapi gak ada yang angkat, yaudah Mama langsung kesini aja. Mana cucu nenek nih" tanya Mama sambil berjalan ke kamar tempat cucunya tidur


"Lagi bobo tuh" jawab Dimas


"Yah harusnya Mama lebih awal datangnya ya."


"Yaudah Ma makan dulu nih. Tadi ada tukang Bakso lewat" ajak Rani


"Tau aja Mama suka bakso"


"Hehe iya dong"

__ADS_1


Rani adalah menantu pertama di keluarga Dimas, Mama Dimas sangat sayang padanya sama seperti menyayangi Dimas. Sejak dulu masih pacaran, setiap Rani main ke rumah Dimas, Rani tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan. Sekedar membersihkan bekas makan atau minum yang digunakannya pun tidak boleh. Saat setelah menikah pun Rani tidak diperbolehkan untuk bersih-bersih rumah sampai masak juga tidak boleh. Mama Dimas benar-benar menyayangi menantunya itu.


...----------------...


__ADS_2