Trauma Menikah

Trauma Menikah
18. Pencarian (2)


__ADS_3

Untuk masalah percintaan, Rani memang mudah dibodohi. Dia tidak belajar dari kegagalannya yang dulu, entah harus berapa kali dia mengalami kegagalan cinta agar tidak mengulang kesalahan yang serupa walau tidak sama.


"Mas, aku mau cerita" ucap Rani pada Radit lewat telpon


"Kali ini siapa lagi yang deketin kamu?" tanya Radit yang seolah sudah tau apa yang akan diceritakan Rani


"Loh ko mas tau aku mau ceritain orang yang deketin aku?"


Radit menghela nafas "Hhh~ udah ayo cerita"


Rani menjawab dengan semangat "Kali ini kayaknya aku cocok sama dia"


"Kenapa emang?"


"Dia tuh udah sevisi semisi sefrekuensi sama aku Mas, dia juga nerima aku tanpa terkecuali"


"Kapan kamu kenalnya? Udah lama? Kok baru cerita?" tanya Radit penasaran


"Emmm belum lama sih"


"Ada sebulan?"


"Hmm belum"


"Setengah bulan?"


"Belum sampe setengah bulan kok" jawab Rani


"Oh, baru seminggu?" tanya Radit lagi


"Baru 2 hari, hehe" jawab Rani sambil cengengesan


"Lah? Terus gimana bisa tau kalo sevisi semisi sefrekuensi?" tanya Radit keheranan


"Yaa kita cerita aja gitu"


"Dia kerja dimana?"


"Dia punya franchise restoran yang udah terkenal"


"Apa namanya?"


"H-----"


"Apa itu? Kok aku baru denger?"


"Ah mas aja yang gak gaul, orang banyak loh artis sama influencer yang sering review makanan restoran itu"


"Iya tah?"


"Iyalah"


"Yaudah aku do'ain semoga sama yang sekarang kamu berjalan lancar"


"Aamiin"

__ADS_1


Orang disekitar Rani mengira kalau Rani dan Radit adalah sepasang kekasih karna kedekatannya. Siapapun yang melihat pasti berpikir begitu, alasan Rani sendiri tidak tertarik dengan Radit salah satunya karna badan Radit yang terlalu gemuk. Walaupun dia terbilang banyak kelebihannya, tapi salah satu kekurangannya yang paling terlihat adalah badannya.


Awalnya Rani ingin memberi kesempatan pada Radit dengan syarat harus menurunkan berat badannya, tapi Radit tidak percaya diri bisa memenuhi syaratnya sampai akhirnya mereka memutuskan untuk berteman atau lebih ke "adik-kakak zone"


*Keesokan harinya..


"Mas mas, katanya cowok ini mau nyamperin ke rumah" ucap Rani bersemangat


"Kapan?" tanya Radit


"Nanti sabtu pagi, berangkatnya mungkin hari Jum'at nya. Kalo cocok mau daftar ke KUA katanya"


"Hahh?? Bukannya kalo daftar ke KUA harus udah ada tanggalnya ya?" tanya Radit yang keheranan


"Gampang itu mah" jawab Rani dengan santai


"Terus kesininya sama keluarganya juga?" tanya Radit lagi


"Enggak, dia dulu"


"Orang tuanya udah tau? Udah kenalan atau udah dapet restu?"


"Enggak, gampang lah itu mah. Dia kan udah dewasa dan duda juga"


"Yaa tapi tetep aja dong butuh restu dari orangtuanya" ucap Radit


"Ya pokoknya do'ain aja ya" pinta Rani


"Apa kamu gak ngerasa ini terlalu cepet?" tanya Radit dengan nada tegas


"Lebih cepat lebih baik kan?"


*Hari jum'at nya..


"Gimana? Udah jalan dia?" tanya Radit


"Belum, katanya dia ada dinas. Lagian malem berangkatnya juga"


"Oh yaudah"


Malamnya Radit menanyakan lagi lokasi laki-laki itu pada Rani lewat chat.


"Udah jalan dia?"


"Katanya udah"


"Oh syukurlah"


Bukan hanya Radit yang tau laki-laki ini, Ibu Rani pun tau karna Rani menceritakannya dan sedang perjalanan ke rumahnya sehingga Ibu Rani menginap.


Keesokan paginya Ibu menanyakan lokasi laki-laki itu.


"Udah sampe belum Ran?"


"Tadi jam 2 dini hari ngabarin katanya lagi di rest area, mungkin lagi istirahat." jawab Rani dengan tenang

__ADS_1


"Abis itu belum ngabarin lagi?" tanya Ibu


"Belum"


"Udah kamu coba telpon?"


"Udah tapi gak aktif bu nomornya"


"Gak bakal terjadi apa-apa kan?* tanya Ibu memastikan


"Semoga enggak bu, Rani juga agak khawatir belum ada kabar"


Sejak jam 2 dini hari sampai siang, sore bahkan malam hari laki-laki itu tidak ada kabar. Rani masih berpikir positif mungkin ada hal mendadak yang tidak bisa diberitahu padanya.


Sudah seminggu berlalu ternyata laki-laki itu tidak mengabarinya sama sekali, sampai akhirnya Rani pasrah kalau itu mungkin satu pelajaran lagi untuknya agar tidak mudah percaya pada lelaki.


...****************...


1 bulan kemudian Rani dekat lagi dengan seorang pria yang bisa dibilang cukup mapan. Awalnya Rani tidak mau memberi kontaknya tapi pria itu terus memaksa dan berjanji tidak main-main karna dia juga punya anak perempuan jadi ia tidak mau menyakiti perempuan.


Sampai akhirnya mereka pun dekat, pria itu duda anak 1 dan alasan bercerai dengan istrinya adalah karna istrinya tidak mau mendengar nasihatnya dan lebih menuruti nasihat ibunya, selain itu mantan istrinya juga sering membentak ibu pria ini atau panggil saja Kavindra.


Anaknya ikut dengan mantan istrinya, dan sekarang Kavin tinggal dengan ibu dan adik-adiknya sementara ayahnya sudah meninggal.


Tiada angin tiada hujan tiba-tiba laki-laki yang sempat akan datang ke rumah Rani menghubungi lagi, padahal sebelum-sebelumnya Rani sudah mengecek kalau semua akunnya diblokir.


Laki-laki itu beralasan kalau ada suatu hal yang mendadak sehingga terpaksa dia segera pulang, padahal sudah dekat dengan lokasi rumah Rani.


Sekarang Rani tidak mudah percaya, pikir saja "jika sudah dekat kenapa tidak mampir dulu kalau memang ada urusan mendadak? Just say hi kan tidak memakan waktu satu jam", begitu pikir Rani.


Walaupun sekarang Rani dekat dengan Kavin, tapi ia tidak memutuskan hubungan pertemanan dengan Radit. Hanya saja Radit sedikit menjauh karna takut merusak hubungan Rani.


Hari demi hari berlalu, tidak terasa hubungan Rani dan Kavin juga semakin dekat. Tidak hanya Rani yang dekat dengan Kavin, tapi Kia dan Al juga didekati oleh Kavin karna niatnya yang tidak untuk main-main bahkan ia mencoba mengambil hati Ibu Rani.


Beruntungnya sebelum bicara dengan Kavin, Ibu Rani sudah merestui walaupun usia Rani dan Kavin terpaut 10 tahun.


"Assalamualaikum bu" salam Kavin dari telpon


"Wa'alaikumusalam" jawab Ibu


"Ibu mungkin sudah tau saya dari cerita Rani ya"


"Iyaa Rani sudah cerita kedekatannya dengan nak Kavin"


"Maaf sebelumnya bu, saya mau bicara ke intinya saja. Ibu gak perlu khawatir ya, saya tidak akan menyakiti Rani karna saya juga punya anak perempuan tapi mungkin sekarang saya mau pelan-pelan saja untuk pendekatannya."


"Iya gak apa-apa, tidak perlu buru-buru yang penting pasti. Anak saya trauma sama yang sebelumnya, saya pegang omongan kamu ya. Jangan sampai bikin anak saya nangis!" Ucap Ibu memperingati Kavin


"Siap bu, ibu pegang saja omongan saya ini" ucap Kavin meyakinkan 'calon mertua' nya


"Halo mas?" kata Rani setelah mengambil alih HP nya


"Iya dek?"


"Gimana? Grogi gak?" tanya Rani sambil masuk ke kamarnya

__ADS_1


"Yaa lumayan grogi"


...----------------...


__ADS_2