
"Hai Ran, apa kabar?" tanya Dimas basa basi dengan mengulurkan tangannya
"Baik" jawab Rani singkat dengan sedikit mendongakkan kepalanya dan tanpa menjulurkan tangan untuk membalas salam dari Dimas
"Sibuk apa nih?" tanya Dimas lagi
"Harus saya jawab ya?"
Belum sempat Dimas menjawab, Rani langsung menyindir Dimas dengan jawabannya
"Yang jelas sih saya gak sibuk nyari pasangan. Karna buat saya kepentingan anak itu lebih utama daripada mesra-mesraan dan lepas tanggung jawab!" jawab Rani dengan sorot mata tajam "Ups!" sambungnya
"Heuh! Baru punya usaha segini aja sombong banget!" kata Sasha yang tidak mau kalah
"Saya sih wajar ya sombong karna ini usaha saya rintis dari nol, bukan DIKASIH ORANG TUA!" jawab Rani menekankan perkataan di akhirnya
Sasha terpancing emosinya karna apa yang Rani ucapkan "Apa maksudnya itu?! Hah?! Mending gue dikasih orang tua lebih enak, gak perlu capek-capek mulai dari bawah! Pantes aja Dimas bisa kepincut sama gue, haha! mana mau dia merangkak dari bawah sama lo! Ya kan sayang?" kata Sasha dengan sombong dan bod*hnya
"Iya dong sayang hehe" jawab Dimas
"Ya justru itu polosnya kamu, eh atau bodoh ya? Udah tau dia cuma manfaatin kamu tapi tetep mau sama dia! Bener ya kata orang CINTA ITU BUTA" tegas Rani yang menekankan perkataan diakhirnya lagi
Sasha sangat marah dan hendak menjambak Rani, Dimas menghalanginya dan Rani spontan menghindar. "Duh maaf ya saya udah gak punya waktu buat ladenin orang kayak kalian! Buang-buang tenaga aja soalnya. Bye!~" ucap Rani dengan melambaikan jari-jarinya dan segera masuk ke dalam mobilnya.
Dengan menunjukkan raut wajah yang arogan Rani berharap mereka tidak bisa meremehkannya, meskipun dalam hatinya ia benar-benar tidak tahan melihat kemesraan Dimas dan Sasha, karna itulah Rani bersikap arogan untuk menutupi kelemahannya.
Meskipun perceraian mereka secara resmi sudah lama, tapi rasanya Rani jengkel melihat mantan suaminya itu enak-enak bermesraan dengan istri barunya sampai melupakan kewajibannya untuk menafkahi kedua anaknya.
Rani merasa keputusannya adalah pilihan terbaik untuk dia dan Dimas, karna menurutnya selingkuh adalah penyakit yang sewaktu-waktu bisa terjadi lagi dan itu bukan perbuatan khilaf. Rani percaya akan ada 'pelangi setelah hujan badai yang menimpa hidupnya', ia pasrah dengan apa yang terjadi padanya meski awalnya sangat berat dia menerima kenyataan pahit dihidupnya ini.
Setelah masuk ke mobilnya, Rani merasakan sesak di dadanya dan rasa kesal memenuhi hatinya. Rani berpikir "ko bisa seneng-seneng gitu tanpa mikirin anaknya?"
Meskipun tampak luar dia kuat hingga bisa melawan perkataan mereka, tapi dari dalam hatinya itu cukup sakit, kesal dan muak secara bersamaan pada mereka. Sasha dan Dimas yang juga menyebrang dan akan melanjutkan tujuannya menjelek-jelekkan Rani sampai Rani bisa mendengarnya, karna motor yang mereka kendarai tak jauh dari mobil Rani yang terparkir.
"Sayang, untung kamu udahan sama dia, kalo enggak mungkin kamu harus nemenin dia terus" ucap Sasha pada Dimas dengan sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Rani
"Iyalah sayang, padahal belum tentu yang lagi diusahain bakal berjalan lancar" jawab Dimas dengan senyum meremehkan
"Iya bener, kasian banget harus berjuang keras SENDIRIAN" kata Sasha yang terus mencaci dan menekankan kalimat diakhirnya
Ckitt.. (suara rem mobil)
__ADS_1
Dengan kebetulan yang sangat tepat, Haris lewat dengan mobil mewahnya melihat Rani dari balik kaca mobil dan ia menghampiri Rani.
"Wuihhh mobil bagus, siapa itu ya?" tanya Sasha pada Dimas
"Ah paling temen kerjanya" jawab Dimas
"Iya yaa, mana mungkin ada yang mau sama seorang janda ya." ucap Sasha meremehkan
"Huss kamu gak boleh gitu, kamu kan nikah sama duda" kata Dimas mengingatkan
"Ya beda lah. Kenapa si? kamu gak suka aku katain dia?" Tanya Sasha sensi
"Enggaaaak, bukan gitu sayang"
"Ran! Rani?! (Tok tok tokk..)" kata Haris yang terus mengetuk pintu mobil Rani , "kamu gapapa? Ran?" sambung Haris dan langsung telpon Rani
Rani sedikit kaget melihat Haris yang terus menerus mengetuk pintu mobilnya, Rani menolak panggilan Haris dan mengirim pesan untuk berpura-pura menjadi pacarnya karna ada Dimas dan Sasha yang terus memperhatikan karna penasaran dengan seseorang yang menghampiri Rani.
...----------------...
"Haris tlg pura² jd pacarku dulu"
"Ok Ran"
...----------------...
"Rani maaf aku telat datangnya" kata Haris dengan spontan
"Kamu kemana aja? kok lama sih?" tanya Rani sambil membuka kaca dan kunci mobil penumpang
"Iya tadi aku ada urusan bentar, maaf yaa Ran" ucap Haris yang sedang berakting jadi pacar Rani
"Pantesan lama banget, aku nungguin juga"
"Iyaa maaf yaa"
"Apaa?"
"Maaf"
"Apa?"
__ADS_1
Rani menatap Haris dengan maksud agar ucapannya lebih spesifik
"Maaf SAYANG" kata Haris yang sedikit mengeraskan kata terakhirnya
"Iya aku maafin, yaudah ayo naik"
"Katanya sibuk kerja sampe gak ada waktu buat cari pasangan, ko sekarang tau-tau ada yang masuk aja ke mobilnya?" ucap Sasha yang tiba-tiba berbicara dengan suara lantang
Rani yang tak tahan dengan ucapan Sasha pun turun dan hendak menghampiri Dimas dan Sasha, tapi Haris menahannya. Tapi Rani tak menggubrisnya dan tetap turun
"Iyaa saya emang sibuk kerja ko, tapi seenggaknya saya punya pasangan bukan hasil dari ngerebut pasangan orang lain! Dan kami juga belum lama punya hubungan, yaa walaupun dia ngejar-ngejar saya terus tapi saya baru luluh sekarang. Eh malah curhat, sorry ya. Saya harap kita gak bakal ketemu lagi!" tegas Rani pada mereka berdua
Rani berjalan menuju mobilnya lagi
"Aku aja yang nyetir" tawar Haris
"Gapapa, aku aja." jawab Rani
Haris pun masuk kedalam mobil Rani dan mereka melajukan mobilnya. Dimas dan Sasha yang sedari tadi melihat mereka terus 'berjulid'
"Kok ada sih yang mau sama dia? Mana cowoknya ganteng, pake mobil mewah lagi" kesal Sasha pada Dimas
"...." Dimas terdiam dan terus melihat mobil Rani yang semakin jauh
"Dimas! Dimaaaas!!" panggil Sasha, "Kamu kenapa sih? Coba deh kamu kembangin lagi usaha kita biar bisa ngalahin si Rani itu" pinta Sasha
"Iyaa iya, yuk ah pulang"
"Ayo"
**
"Haris aku minta maaf ya kamu harus ikut sandiwara aku barusan hehe" kata Rani pada Haris
"Iya gapapa Ran, santai aja. Aku paham kok posisi kamu sekarang. Btw itu mantan suami yang kamu ceritain kan?" Tanya Haris
"Iya, kamu lihat sendiri dia kayak gimana. Aku cuma gak mau diremehkan sama mereka karna mereka 'menang' lawan aku" jawab Rani dengan menggerakan jari telunjuk dan jari tengahnya pertanda kutip
"Untung kamu yang lewat, gak tau kalo yang lain atau gak ada siapapun. hehe makasih ya" sambungnya
"Iya sama-sama Ran"
__ADS_1
...----------------...