
Ibu yang mendengarkan Rani berbicara sendiri memeluk dan terus menenangkannya.
"Udah kaaak, jangan terus nyalahin diri. Allah kasih tau buruknya Dimas sekarang mungkin memang itu yang terbaik kak. Ibu tau ini berat buat kamu, kamu jangan sedih terus ya. Masih ada Ibu yang bisa jadi sandaran buat kamu nak" ucap Ibu yang terus mengelus punggung Rani untuk menenangkan
Rani tidak menjawab, ia terus menangis dipelukan Ibu. "Nangis aja nak sampai kamu ngerasa lega, keluarin aja semua yang bikin dada kamu sesak."
** Beberapa minggu kemudian.. **
"Oee oee oee..." suara tangisan bayi dari ruang operasi terdengar sampai ke ruang tunggu, suara itu tak lain adalah suara anak kedua Rani yang telah lahir.
"Alhamdulillah.." ucap Ibu
Setelah operasi selesai, Rani dibawa ke ruangannya untuk pemulihan. Sedangkan putranya dibawa ke ruang bayi untuk dicek lebih lanjut oleh dokter anak.
Rani hanya ditemani oleh Ibunya, Alea tidak bisa datang karna dia sekarang kerja di kota dengan suaminya. Ibu mengabari besannya kalau cucu mereka telah lahir, tidak lama kemudian Bapak dan Mama mertua Rani datang untuk melihat cucunya.
"Assalamualaikum bu." salam Mama saat datang ke ruangan
"Wa'alaikumusalam" jawab Ibu
"Mana dede bayinya?" tanya Mama
"Di ruang bayi, belum dipindahin kesini"
"Oooh" "Rani istirahat aja, sok diboboin." sambung Mama pada Rani
"Iya Ma"
Meskipun anaknya berbuat salah pada Rani, sebenarnya Mama mertua juga merasa bersalah dan malu atas apa yang sudah Dimas perbuat. Tapi karna tau Rani melahirkan cucu dari anak kesayangannya dan melihat Rani yang baru keluar dari ruang operasi membuatnya ingin terus membantu Rani sebagai permintaan maaf dan sebagai ganti Dimas tidak pulang untuk melihat anak keduanya.
Ibu mengabari keluarganya, satu persatu paman dan tante atau adik-adik dan kakak-kakaknya datang untuk menengok cucu mereka. Dimas yang sudah mendengar kelahiran putranya dari Mama dan bapaknya hanya mengucapkan syukur. Mama mengingatkan Dimas untuk berpikir kembali menceraikan Rani.
"Nak, belum terlambat kamu buat balik lagi sama Rani. Emang kamu gak kasian lihat Rani harus mengurus kedua anak kamu?"
"Hhhh.." Dimas menghela nafas, "Dimas tuh sebenernya gak mau jauh dari anak-anak Ma, apalagi sekarang anak laki-laki Dimas udah lahir. Dimas pengen gendong dia, pengen ngasuh Azkia sama adiknya tapi Dimas gak mau sama Rani."
"Coba kamu ajak Rani buat baikan, terus kamu putusin lamaran kamu sama Sasha." saran Mama
"Dimas gak bisa putusin Sasha Ma, dia baik pengertian sama Dimas gak kayak Rani."
"Jadi kamu mau anak-anak tapi gak mau sama ibunya?" tanya Mama
__ADS_1
"Iya Ma, Dimas juga bingung. Dimas sayang sama anak-anak tapi Dimas gak mau punya istri kayak Rani. Mama tau sendiri dia gimana. Dimas pengen punya istri yang rajin ngurus rumah, beres-beres rumah, layanin Dimas dengan baik. Kayak Mama ke Bapak, dan sekarang Dimas udah nemuin wanita yang Dimas mau"
Mama terdiam.. mungkin Dimas lupa kalau Bapaknya juga menduakan Mamanya entah apa alasannya. "Apa sifat selingkuh bisa turun ke anak? Yaa Rabb" gumam Mama sedih
"Yaudah gimana kamu aja. Tapi kalau kamu cerai sama Rani, kamu jangan lupa sama kewajiban kamu buat nafkahin anak-anak" ucap Mama mengingatkan
"Iya Maaa.."
"Mama tutup teleponnya ya"
Mama kembali ke ruangan Rani, ia menemani Rani dengan suaminya sementara Ibu pergi ke lobby Rumah Sakit untuk menunggu adiknya yang akan menjenguk cucunya.
"Ceu!" Panggil seseorang dari luar lobby yang berjalan ke arahnya
"Berdua aja?" tanya Ibu pada adik dan iparnya
"Enggak, itu sama A Rohim dan Ceu Intan" kata Tante Santi
"Mau langsung masuk apa disini dulu?"
"Langsung masuk aja kan? Masih lama jam jenguknya juga" ucap Tante Intan
"Yaudah ayo, tadi dikamar sih ada mertuanya Rani. Harusnya sih sekarang masih ada mau nemenin sampe sore, tapi katanya gak bisa nginep soalnya besok berangkat lagi" kata Ibu menjelaskan
*Beberapa minggu kemudian (lagi)..*
Belum selesai masa pemulihan bekas operasi, Dimas sudah meminta Rani untuk menandatangani surat gugatan perceraiannya. Tapi Rani tidak kunjung menandatanganinya, sampai akhirnya Dimas datang menemui Rani dengan tujuan agar Rani mau menandatangani surat itu.
Dimas datang dan dibukakan pintu oleh mertuanya yang sedang menemani Rani dan anak-anaknya. Dimas melihat bayi yang sedang tertidur pulas dikasur kecil, ia melihat putranya itu kemudian menggendongnya. Terlihat dari wajahnya begitu senang melihat putranya yang sangat mirip dengannya, Ibu hanya memperhatikan tanpa melarang Dimas menggendong anaknya. Tapi Rani sudah menitip pesan kalau Dimas tidak boleh menggendong putranya lama-lama karna Rani masih sakit hati saat itu Dimas menuduh kalau anak yang dikandungnya bukan anak Dimas.
Sebelum Rani keluar dari kamar mandi, Ibu segera mengambil cucunya dari gendongan Dimas. Ibu bertanya apa tujuan dia kesini.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Ibu judes
"Emm.. Dimas mau ketemu Rani sama anak-anak Bu" jawab Dimas
"Buat apa? bukannya kamu udah gak ada urusan lagi buat ada disini ya?" kata Ibu lagi dengan nada cules
Rani datang dan membawa bayinya dari pangkuan Ibu ke kamar setelah melihat Dimas yang sedang 'diinterogasi'.
"Ran, Rani" panggil Dimas dan mengikuti Rani yang hendak masuk ke kamar
__ADS_1
Rani mengunci pintunya sebelum Dimas masuk, Rani tidak ingin bertemu Dimas karna ia tau apa tujuan Dimas datang ke rumahnya.
"Ran, buka dulu. Aku mau bicara sama kamu." Kata Dimas sambil terus mengetuk pintu
Rani tidak menjawab dan terus diam. Dimas pun tidak bisa berkata sembarangan karna ada Ibu mertuanya yang sedang memperhatikannya.
"Rani buka dulu pintunya." pinta Dimas, "Ayo kita bicara dulu"
"Gak ada yang perlu dibicarain lagi" kata Rani dari dalam kamar
"Yaudah baca chatnya" kata Dimas
...----------------...
^^^"Tanda tangani suratnya, lihat ke bawah pintu"^^^
...----------------...
Rani membaca pesan itu dan melihat ke arah yang ditunjukkan, tapi Rani tidak mengambil surat itu dan membiarkannya.
Dimas pun pamit tanpa menunggu Rani menandatanganinya, lalu Dimas mengirim pesan lagi.
...----------------...
^^^"Gua tunggu! Lo harus tanda tanganin suratnya!"^^^
...----------------...
Setelah Dimas pergi, Rani mengambil amplop yang berisi surat gugatan cerai itu dan ia simpan sembarangan. Baginya itu tidak penting untuk saat ini, Rani tak peduli dengan Dimas yang menunggu tanda tangannya dikertas itu.
Rani mengabaikan setiap pesan dari Dimas untuk segera menandatangani surat itu. Sampai suatu hari ada nomor baru yang menghubungi Rani menanyakan Dimas dan Sasha.
...----------------...
"Sore kak, benar ini kak Rani?"
^^^"Yaa, siapa ini?"^^^
"Saya Dion, pacarnya Sasha. Kakak tau Sasha kan?"
^^^"Pacar?"^^^
__ADS_1
...----------------...