
Dimas jatuh cinta pandangan pertama pada Rani saat acara ulang tahun radio yang bertempat di dekat pondok pesantren tempatnya mencari ilmu.
Dimas selalu menghubungi Rani sampai ia lulus dari pondok pesantren. Walaupun sudah lulus, Dimas tetap tinggal di pondok untuk sementara waktu sambil menunggu ada info lowongan pekerjaan untuknya dari sanak saudara atau dari orang-orang sekitar yang ia kenal.
Tetapi info yang ia tunggu tak kunjung ada, akhirnya dia memutuskan untuk pulang dan menikmati waktu bersantai dirumahnya yang selama ini tidak bisa ia nikmati karna sibuknya kegiatan di pesantren.
Rani mengirim pesan atau SMS pada Dimas yang isinya mengundang Dimas untuk datang ke rumahnya dan bertemu ayah Rani.
Begitu membaca pesan dari Rani untuk menemui ayahnya, Dimas tak berhenti latihan agar tidak gugup saat bertemu nanti. Bukan hanya kaget, Dimas juga bingung harus berkata bagaimana kalau-kalau ditanya untuk apa mendekati Rani.
Sampai akhirnya tiba dirumah Rani, over thinking nya itu hilang karna ternyata ayah Rani begitu baik dan ramah tidak seperti kelihatannya. Wajah yang judes dengan brewoknya membuat Dimas panik dan gugup sebelum akhirnya disapa lebih dulu oleh ayah Rani.
Obrolan mereka cukup lama, selera mereka juga hampir sama. Sorenya Dimas pamit pulang karna sudah ditunggu Mamanya untuk pergi ke rumah pamannya.
"Assalamualaikum" salam Dimas saat sudah sampai rumah
"Wa'alaikumusalam, udah ke rumah Rani nya?" tanya Mama Dimas
"Udah Ma"
"Gimana? Gugup gak?" tanya Mama penasaran
"Gugup lah Ma, mana mukanya sangar, tapi untungnya baik banget orangnya, ramah lagi"
"Syukur kalo gitu, udah dapet lampu ijo dong nih?" tanya Mama menggoda anak keduanya itu
"Ih apa sih Ma" jawab Dimas malu-malu "Yaudah ayok mau ke rumah paman katanya?"
"Iya iya ayo" kata Mama sambil berkemas
"Oh iya, ada salam dari Ayah sama Ibu Rani"
"Iya salamin balik ya" jawab Mamanya dengan terus terusan tersenyum
"Bapak kemana Ma?"
__ADS_1
"Tadi masih ada kerjaan jadi belum pulang" kata Mama yang kemudian menaiki motor Dimas
"Oh.."
Seminggu kemudian Dimas pergi ke pondok pesantren lagi, karna teman-teman dekatnya akan mengadakan acara makan-makan dan mereka berencana menginap seminggu sembari membantu pengurus pondok untuk mengajar.
1 minggu telah berlalu, Dimas yang sedang mengobrol di sore hari mendapat kabar dari Rani.
"Dimas.." kata Rani sambil menahan tangisnya saat akan menyampaikan berita kematian ayahnya
"Kenapa Ran?" tanya Dimas kaget karna mendengar Rani menangis
"Ayah meninggal.." sambung Rani yang akhirnya tak bisa lagi menahan tangisannya
"Innalilahi wainnailaihi raji'un. Kamu yang tabah ya yang sabar, nanti malem aku adain tahlil disini sama temen-temen aku."
"Iya Dim, makasih ya"
"Iya Ran, kamu jangan kosongin perutnya. Harus tetep makan ya."
"Aku tutup ya"
Dimas pun menelepon Mamanya dan memberi kabar kematian Ayah Rani. Dimas mengajak Mama untuk takziah esok hari dan Mama menyetujuinya.
Selama tujuh hari berturut-turut Dimas menghadiri tahlil di rumah Rani, Dimas datang kadang dengan Bapaknya, abangnya atau adiknya, atau kadang ia datang sendiri.
*1 tahun kemudian..
Selama Rani masuk sekola lagi, Dimas sudah mendapat pekerjaan tetapi masih disekitar rumahnya karna ia hanya kerja di bengkel membantu pamannya. Itupun kadang dia bolos masuk kerja, karna ia pikir itu bengkel milik pamannya jadi dia bebas bisa masuk atau tidak.
Selain itu Dimas sengaja belum mencari pekerjaan ke luar kota karna saat dulu bertemu ayah Rani Dimas diminta menjaga Rani. Sudah seperti tanda-tanda ayah Rani pergi jauh. Tanpa keberatan Dimas menyetujuinya.
Sampai akhirnya Rani mendapat pekerjaan di Jakarta, Dimas ikut mengantarkannya, dan untuk sementara Dimas menumpang dirumah bibinya yang ada di Jakarta. Jarak dari rumah bibinya ke kost-an Rani cukup jauh, tapi Dimas tetap mengantarkan Rani saat Rani butuh bantuan dia.
Dimas akhirnya mendapat pekerjaan yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat Rani bekerja. Setelah sebulan bekerja, Dimas pulang untuk membawa motornya ke kota, agar dia lebih mudah untuk bepergian dengan Rani dan tidak perlu meminjam pada bibinya lagi.
__ADS_1
Di akhir tahun 2012 Dimas menjemput Ibu dan Alea ditempat pemberhentian bus terakhir karna mereka ingin menjenguk Rani sekalian merayakan tahun baru di ibukota Indonesia ini.
Hubungan Rani dan Dimas sudah cukup lama, Dimas ingin segera menikahi Rani dan ibu Rani pun meminta Dimas untuk tidak berlama-lama pacaran apalagi merantau bersama. Ibu hanya tidak menginginkan hal-hal buruk terjadi. Tetapi Dimas merasa gaji dia dari pekerjaannya ini belum cukup untuk menabung, di bulan-bulan akhir tahun 2014 Dimas memberanikan diri untuk berjualan sparepart motor secara online. Saat awal-awal usaha Dimas lancar sampai ia kehabisan stok sparepart, uang yang dikumpulkan dari hasil penjualannya ia putar untuk membeli stok sparepart lagi.
Tahun pun berganti, semakin lama peminat sparepart nya tidak sebanyak dulu dan usahanya mulai sepi. Akhirnya Dimas menjual stok sparepart nya dengan harga rugi, yang penting terjual begitu pikir Dimas. Uang hasil banting harga pun tetap tidak cukup untuk biaya pernikahannya, Dimas meminta tolong pada Rani agar Rani membujuk ibunya untuk pinjam ke bank.
"Sayang, uang aku masih belum cukup buat biaya pernikahan kita. Gaji aku juga gak bisa diandelin buat nabung, kamu tau sendiri." keluh Dimas pada Rani
"Terus gimana? Aku juga gak punya banyak tabungannya"
"Emmm... gimana kalo kamu minta tolong ke Ibu buat pinjem ke bank? Katanya ibu kamu kalo pinjem suka gampang cairnya?" bujuk Dimas
"Iya sih, itu juga karna Ibu bayarnya tepat waktu makanya kalo pinjem jadi gampang"
"Coba kamu ngomong ke Ibu"
"Terus nanti kita bayarnya gimana?" tanya Rani
"Yaa itu urusan nanti, kan yang kasih amplop juga pasti banyak pas nikahan. Aku kerja, kamu kerja. Ada 2 penghasilan nantinya kalo kurang"
"Hmm.. yaudah aku coba tanya Ibu dulu"
Setelah menelpon ibu..
"Ibu setuju katanya, tapi harus bayar tepat waktu."
"Iya iyaa" jawab Dimas dengan santainya
Akhirnya di awal tahun 2016 mereka menikah. Pernikahan yang cukup mewah (untuk standar orang desa) karna kesepakatan kedua belah pihak yaitu keluarga Rani dan keluarga Dimas. Karna keduanya yang pertama mengadakan pesta pernikahan di keluarga besarnya.
Mereka mulai mencicil setiap bulannya. Karna sudah dibayar lebih awal dari amplop tamu yang mereka undang. Jadi cicilan mereka lebih cepat selesai dan tinggal membayar sisanya.
2 bulan setelah pernikahannya pun Rani positif hamil. Dimas sangat senang akhirnya dia akan punya seorang anak. Putri pertamanya telah lahir di pertengahan bulan akhir tahun 2016.
...----------------...
__ADS_1