
Suasana duka masih menyelimuti hari-hari Rani dan keluarganya. Selama Rani tidak masuk sekolah, Siska Amelie teman dekatnya Rani datang berkunjung bersama beberapa teman satu kelasnya untuk berbela sungkawa.
"Sabar ya Ran, semoga Ayah kamu ditempatkan ditempat terbaik disisi Allah" ucap Siska menenangkan
"Iya Sis, aku udah gapapa ko. Aku berusaha ikhlas walaupun rasanya ini terlalu sulit" kata Rani yang berusaha menutupi kesedihannya
"Alea gimana?" tanya Siska
"Dia ada dikamar"
"Aku ke kamar Alea ya"
"Iya Sis"
Siska menghampiri Alea yang sedang duduk termenung menatap ke arah jendela dikamarnya.
"Alea?" Panggil Siska
Alea menoleh ke arah suara yang memanggilnya
"Kamu lagi ngapain diem aja depan jendela?"
"Lagi lihat-lihat aja ko kak" jawab Alea dengan sedikit senyuman
"Kamu udah makan belum?" Tanya Siska
"Udah kak"
Siska memeluk Alea dan mengelus-elus rambut Lea,
"Alea sabar yaa, yang kuat. Mungkin ini udah jalan yang terbaik buat Ayah Lea" ucap Siska pada Lea
Lea pun tak bisa menahan tangisnya saat mendengar perkataan mengenai Ayahnya, air mata pun berlinang membasahi pipinya.
Siska memeluk dan terus mengelus punggung Alea untuk menenangkannya, Rani masuk menghampiri Alea dan Siska.
"Dek, diminum obatnya nih. Tadi udah makan kan?" tanya Rani
"Udah kak" jawab Alea yang kemudian mengambil obat dan vitamin yang diberikan Rani
"Sini kakak bantu tumbuk" ucap Rani
"Minum obatnya dihalusin dulu?" tanya Siska
"Iya, Lea gak bisa minum obat langsung jadi harus dihalusin dulu" jawab Rani
"Kalau dihalusin kan lebih kerasa pahit dek" ucap Siska pada Lea
"Gak papa nanti Lea minum yang banyak"
Lea minum obat yang sudah dihaluskan dan langsung minum air, tapi tiba-tiba..
"Oekkk!!" Alea muntah karna tidak bisa menelan obatnya. Alea menangis lagi
"Nih minum aja, minum air anget" kata Rani
"Kaaaa" tangis Alea pada Rani
"Iya udah gapapa, nanti lagi aja diobatnya yang penting kamu mau makan" ucap Rani menenangkan
"Dimas kesini gak Ran?" tanya Siska yang sudah tau kedekatan Rani dan Dimas sejak awal
"Iya, kemarin"
"Sendiri?" tanya Siska lagi
"Enggak, berdua sama ibunya"
"Oooh"
......................
** 1 tahun kemudian.. **
__ADS_1
Hari ini adalah hari kelulusan Rani yang diadakan di gedung sekolah. Acaranya pun cukup meriah.
"Ran, abis acara ini kamu mau kemana?" tanya Siska
"Aku mau ketemu Dimas"
"Emang dia lagi disini? Bukannya dia udah berangkat ke kota?"
"Dia pulang lagi, karna katanya kerjaannya gak cocok sama dia"
"Hmm.." deheman Siska
"Kamu jadi ngelamar kerja di PT itu?"
"Jadi Ran, kenapa kamu gak ikut coba ngelamar di PT aja sih Ran sama aku?" tanya Siska
"Gak ah, aku kan minus matanya lagian kerjaan di PT monoton gitu-gitu aja"
"Minus kamu kan kecil, kamu juga jarang pake kacamata"
"Enggak deh, emang akunya gak minat juga kerja di PT"
"Hmm yaudah"
*Setelah acara perpisahan sekolah selesai..
"Rani!" panggil seseorang dari sebrang sekolah yang ternyata itu Dimas datang untuk menjemput Rani.
Rani menghampiri Dimas yang sudah menunggunya.
"Hai Dimas" sapa Rani dengan tersenyum, "udah lama nunggunya?" tanya Rani
"Enggak ko, Yaudah yuk aku anter pulang" ajak Dimas
"Jangan langsung pulang dulu dong, jalan-jalan dulu boleh kan?" pinta Rani
"Tapi ini udah sore emang gapapa?" tanya Dimas
"Yaudah jalan-jalannya keliling pake motor aja ya?"
"Hmm yaudah deh"
Mereka pun berkeliling sebelum pulang.
"Kamu kapan berangkat ke Jakarta lagi?" tanya Rani
"Gak tau nih, aku udah keluar dari sana. Sekarang lagi nyari kerjaan yang baru"
"Ohh semoga dapat yang lebih baik yaa kerjaannya"
"Aamiin" ucap Dimas meng-aamiin-kan, "kamu jadinya kerja atau kuliah?" lanjut Dimas menanyakan rencana Rani kedepannya
"Aku kerja ajalah," jawab Rani pasrah
"Kenapa gak kuliah?"
"Yaa gapapa, kalo Ayah masih ada sih mungkin kuliah. Aku gak mau ngebebanin Ibu"
"Hmm semoga kamu juga dapet kerjaan yang bagus ya"
"Aamiin" Rani meng-aamiin-i
"Udah nyampe nih, Ibu ada gak?" tanya Dimas
"Tuh Ibu baru dateng" kata Rani menunjuk dengan mengangkat kedua alisnya ke arah Ibu
"Eh bu" ucap Dimas yang kemudian mencium punggung tangan Ibu
"Baru pulang?" Tanya Ibu pada Rani dan Dimas
"Iya" jawab Rani
"Masuk dulu yuk Dimas"
__ADS_1
"Eh enggak bu, udah sore Dimas ditungguin Mama dirumah"
"Oooh yaudah, salam buat Mamanya ya"
"Iya bu, wassalamu'alaikum" Dimas pamit dan mencium punggung tangan Ibu lagi
*Beberapa minggu kemudian..
"Bu, Rani berangkat ya. Mau kirim lamaran" ucap Rani
"Iya, hati-hati ya. Pulangnya jangan kemaleman"
"Iya bu, nanti Dimas yang jemput ko"
"Sekarang berangkat sama siapa?"
"Sendiri nanti naik angkot, ketemuan sama temen ditempat Rani mau lamar kerjaan"
"Oh yaudah"
"Assalamualaikum" salam Rani pada Ibu
"Wa'alaikumusalam" jawab Ibu
Sudah berkali-kali Rani melamar pekerjaan di kota nya, tapi belum ada panggilan satupun.
Sepeninggalan Ayahnya, Rani jadi lebih keras berusaha. Rani ingin bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya. Almarhum ayahnya hanya meninggalkan satu motor yang biasa beliau pakai untuk bekerja. Itu pun motor yang sudah tua dan sekarang sudah tidak bisa dipakai lagi, mau tak mau Rani bepergian menggunakan angkutan umum atau kadang Dimas mengantarkannya.
Dimas sendiri masih mencari pekerjaan, dia ingin mendapat pekerjaan dekat Rani. Dulu saat bertemu ayah Rani, Dimas 'dititipkan' Rani oleh ayah. Entah itu sudah pertanda atau bukan, Dimas menerimanya karna kecintaan Dimas sendiri pada Rani, tanpa diminta pun Dimas pasti menjaga Rani.
Setelah memasukkan lamaran ke setiap ada lowongan kerja, akhirnya Rani mendapat panggilan untuk interview. Rani diterima kerja tetapi ia ditempatkan di Jakarta, perusahaan itupun memberi waktu 2 hari untuk Rani berkemas.
Rani meminta izin pada Ibu untuk pergi ke Jakarta, dengan berat hati Ibu mengizinkan.
"Bu, Alhamdulillah Rani diterima kerja. Tapi Rani ditempatin di Jakarta, dan mereka ngasih Rani waktu 2 hari buat berkemas. Ibu izinin Rani kan?" tanya Rani penuh harap
"Hhhh.." Ibu menghela nafas berat, "Disana kamu ada temennya gak?"
"Pasti ada ko bu"
"Berangkatnya sendiri?" tanya Ibu lagi
"Enggak bu, ada barengannya ko. Dimas juga katanya mau berangkat juga ke Jakarta"
"Dimas? Dimas ngelamar kerja kesana juga?" tanya Ibu penasaran
"Enggak sih, tapi dia kan katanya mau cari kerja lagi"
"Oooh, yaudah sekarang kamu beresin barang-barangnya. Apa aja yang dibutuhin bilang ke Ibu ya. Apa perlu Ibu bantu?"
"Enggak usah bu, biar Rani aja yang beresin"
"Yaudah, inget yaa kalo udah disana jangan lupa sering-sering kabarin Ibu."
"Iya buu" jawab Rani sambil melanjutkan berkemas
*2 hari kemudian..
"Dimas, Ibu titip Rani yaa." kata Ibu pada Dimas yang datang menjemput Rani
"Iya bu, tenang aja. pasti Dimas jagain hehe"
"Rani selama jauh dari Ibu jangan macem-macem ya sama Dimas. Ayah pernah bilang sama Ibu kalo 'amit-amit' sampe kamu 'kecelakaan', Ibu gak akan pernah anggap kamu anak lagi. Itu pesan Ayah sama Ibu." kata ibu mengingatkan
"Iya iya buu, Rani bisa jaga diri ko"
"Rani pamit ya"
"Assalamualaikum" ucap Rani dan Dimas berbarengan
"Wa'alaikumusalam"
Dimas dan Rani pun pergi menuju terminal bus.
__ADS_1