
Brakkk!!
Tendangan keras dari kaki lelaki berusia kurang lebih 50 tahun itu membuat pintu yang terbuat dari papan terlepas dari engselnya.
Dua orang di dalam ruangan tersebut tentu terlonjak kaget. Meskipun dipengaruhi miras, Brian bisa mendengar dengan jelas suara tendangan itu. Apalagi Ayu, gadis lugu yang turut serta di dalam ruangan ukuran 2x3 itu yang tak lain adalah kamar Balai Desa.
Brian dan Ayu yang kaget segera bangkit berdiri. Sejumlah warga dan teman-teman mahasiswa memandang mereka berdua dengan tatapan jijik.
"Apa yang sudah kalian perbuat di sini, ha?!" seru pria paruh baya itu dengan ekspresi marah.
"Ka-Kami tidak berbuat apa-apa, Pak Kadat," jawab Ayu dengan ekspresi ketakutan karena banyak mata yang menatap tajam ke arahnya dan juga Brian.
Pria paruh baya itu bernama Harun, kepala adat di desa Sukarama ini. Harun mendengar laporan dari salah satu warga, kalau ada yang berbuat tidak senonoh di Balai Desa. Ia pun segera menghampiri dan membuktikan laporan tersebut, ternyata benar, ada yang berbuat tak senonoh di desa ini.
Tak mau desanya terkena kutukan, Pak Harun pun mengambil langkah tegas. Ia menangkap basah salah seorang warganya bernama Ayu sedang berduaan dalam kamar dengan seorang mahasiswa KKN bernama Brian.
"Saya tidak percaya itu! Ayo mengaku!" tegasnya lagi mendengar jawaban penyangkalan dari Ayu.
"Be - betul Pak Harun, kami tidak berbuat apa-apa." Brian turut menjelaskan pada kepala adat yang sudah menerima baik kedatangan mereka sebulan yang lalu. Meskipun kepalanya masih sedikit pusing tapi ia masih bisa mencerna dengan baik apa yang ia dengar dan lihat.
Pak Harun masih menatap tak percaya dan tak puas dengan jawaban dua anak muda itu. sembari menatap Brian, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu, ya anak muda! Syukur-syukur kami terima kedatangan kalian sebulan yang lalu! tapi apa yang kamu lakukan di sini?! kamu mau menodai dusun kami ini?!" tuduh Pak Harun dengan nada suara yang semakin meninggi.
Suasana semakin menegang tatkala semua tatapan menghujam mereka dengan tatapan sinis. Bukan hanya warga desa, tapi teman-teman Brian yang mahasiswa pun menatap tajam ke arah mereka. termasuk Kevin, Ketua rombongan KKN di Desa Sukarama ini.
"Ngaku aja deh, Brian! Lo buat malu kampus tau gak?!" cecar Kevin.
Brian membalas tatapan tajam dari Kevin.
"Lo diam Vin! jangan mentang-mentang Lo ketua di sini Lo jadi seenaknya aja nuduh gue!"
"Ini udah nyata, Lo mau ngelak gimana lagi?!"
"Gue nggak ngapa-ngapain ama nih cewek, Lo kira gue mau sama cewek lugu gini?! selera Gue tinggi woy," jelas Brian dengan raut wajah sombongnya.
"Kalau selera Lo tinggi ngapain Lo berduaan sama nih cewek?!"
Sejenak Brian Terdiam. Ia pun tidak tahu bagaimana ceritanya ada gadis tersebut dalam kamar. Padahal tadi ia hanya berbaring karena kepalanya sedikit pusing akibat dipaksa meneguk miras.
__ADS_1
Saat terbangun ia malah dikejutkan dengan tuduhan yang ia sendiri pun tak ketahui bagaimana bisa terjadi.
"Ya gue nggak tau! yang jelas gue nggak ngapa-ngapain nih cewek, Lo tanya aja sama dia."
"Dasar memalukan!" caci Kevin.
Brian menatap Kevin dengan geram.
"Awas aja Lo Vin!" batin Brian sembari mengepal tangannya.
"Saya jujur, Pak. Kami memang tak berbuat apa-apa, saya tadi di-"
"Cukup Ayu! Kamu saya suruh menemani mereka di sini bukan malah berulah seperti ini!" sela Pak Harun tak mau mendengar penjelasan dari Ayu.
"Sekarang juga kalian berdua harus dijatuhi sanksi adat! kalau tidak bisa-bisa desa ini mendapat malapetaka karena ulah kalian!" ujar Pak Harun.
Brian beralih menatap Pak Harun kini. Rasanya ia tak percaya dengan kata-kata Pak Harun barusan. Kemarin-kemarin Pak Harun sangat ramah dan lembut bicara padanya, tapi sekarang berputar 180 derajat.
"Tapi kami tak berbuat apa-apa, Pak Harun." Lagi Brian berusaha menjelaskan pada kepala adat itu.
"Tidak ada pembelaan lagi, kalian berdua tertangkap basah sedang berduaan di kamar!" ujar Pak Harun tak mau tahu.
"TIDAK ADA TAPI-TAPIAN LAGI ANAK MUDA!!" bentak Pak Harun pada Brian.
Brian tertunduk, begitu juga dengan Ayu. Mereka berdua diadili seolah sudah nyata mereka berbuat asusila di kamar ini.
Brian kini beralih menatap Ayu. Menatap tak suka pada gadis itu.
"Dasar cewek Genit! bisa-bisanya masuk ke kamar!" batin Brian kesal.
"Sanksi kalian berdua yaitu kalian harus dinikahkan!"
"APA?!!" ujar Brian tak percaya sembari menatap Kepala Adat itu.
Ayu yang tadinya menunduk juga menatap tak percaya pada Pak Harun. Ayu sadar setelah ketua adat menjatuhi sanksinya, tidak ada yang boleh menolak lagi, karena bagi warga desa maupun dusun, keputusan Pak Harun adalah jalan terbaik dari setiap permasalahan adat, jadi Ayu tak berani lagi melawan.
"Saya tidak mau, Pak! Saya masih kuliah!" tolak Brian.
"TIDAK BISA!" cecar Pak Harun dengan nada keras.
__ADS_1
"Kalau kamu menolak hukuman ini, maka kalian semua tidak boleh keluar dari dusun ini selamanya!" ancam Pak Harun.
Mahasiswa lain tentu merasa shock mendengar ancaman itu. suara keributan mulai terdengar, tak sedikit yang memaksa Brian dan Ayu untuk segera dinikahkan.
"Udah Bri, nikahin aja, kita kan mau pulang, masa cuma gara-gara Lo kira semua jadi korbannya!" ujar salah seorang mahasiswi.
"Betul!!" ujar beberapa mahasiswa bersamaan.
"Enak aja kalian nyebutinnya, terus cewe gue gimana?!" sanggah Brian.
"Itu urusan Lo, pokoknya Lo harus nikahin itu cewe!" paksa mahasiswa lainnya.
Brian semakin memandang geram rekan-rekannya. bisa-bisanya ia menikah setelah KKN ini, apa yang akan ia katakan pada kedua orang tuanya? apa juga yang harus ia katakan pada pacarnya di kota sana bila ia menikahi gadis dusun yang lugu ini. Apalagi ia sangat mencintai pacarnya itu, tak mungkin ia berpaling, apalagi menikahi gadis yang tak dicintainya sama sekali.
"Warga lainnya tolong persiapkan acara untuk pernikahan mereka secara adat istiadat kita!" perintah Pak Harun, lalu semua warga segera mempersiapkan semua keperluan pernikahan mereka malam ini juga.
"Tapi Pak, saya belum meminta restu dari orang tua saya," ujar Brian berusaha menolak, "dan juga gadis ini pasti perlu restu dari orang tuanya," sambungnya.
"Untuk Ayu saya yang akan merestui, sebab ia hidup sebatang kara, jadi saya yang jadi walinya."
Pak Harun sejenak terdiam. Restu adalah salah satu kunci keharusan dari pernikahan di desa mereka. Ayu sudah mendapat restu darinya lalu bagaimana dengan Brian? pikirnya.
"Sebagai Ketua dari rekan-rekan mahasiswa, saya rasa saya perlu bertanggungjawab atas kejadian ini, Pak. Saya yang akan menjadi wali Brian," ujar Kevin kepada Pak Harun.
Pak Harun kini beralih tersenyum mendengar tutur Kevin. Sedangkan Brian menatap jengkel pada Kevin. Ayu masih tertunduk malu sedari tadi.
"Selaku wali dari Brian, saya setuju Pak dengan pernikahan Brian dan Ayu. Ini juga sebagai bentuk penghormatan kami terhadap adat istiadat di desa ini," tutur Kevin.
Brian sedari tadi menahan amarahnya terhadap Kevin yang berlaku seenaknya saja. rasanya ingin sekali menonjok Kevin yang sudah keterlaluan terhadapnya.
Tanpa menunggu lama, setelah semua siap dikerjakan, malam ini juga Brian dan Ayu resmi menjadi suami istri di mata adat masyarakat desa Sukarama.
Karena adat sudah dipenuhi, maka mereka semua diperbolehkan untuk pulang, mengingat waktu KKN mereka di desa Sukarama juga sudah selesai jadi tak ada yang perlu diperlambat lagi.
Ayu yang hidup sebatang kara diminta oleh Pak Harun untuk mengikuti suaminya pulang ke kota. Meskipun sebenarnya ia tak mau, ia tatap dipaksa oleh Pak Harun.
Brian merasa semuanya ini seperti mimpi. usianya baru 21 tahun. Ia masih kuliah. Hidupnya masih mengandalkan kedua orangtuanya, lalu bagaimana mungkin ia bisa menikah? Rasanya sungguh tak percaya.
Raut wajahnya murung sedari tadi. Rasanya Brian ingin sekali kabur dari desa ini, karena tuduhan itu ia harus beristri di usia belia, dan lagi ia harus menikahi gadis yang tak dicintainya, apakah ia akan bahagia dengan pernikahan ini? Brian tak habis pikir.
__ADS_1
Semuanya sudah terjadi. Ia kini sudah resmi menjadi suami Ayu, meskipun baru sebatas adat tapi ia tetap harus taat pada peraturan adat itu.