
Hari ini adalah hari bahagia. Semua orang tersenyum. Roby dan Diana memasang senyum paling bahagia di wajah mereka, karena putra tunggal mereka menikah hari ini.
Namun, tidak untuk Brian dan Ayu. Sebagai pasangan yang menikah, sepertinya mereka tak diliputi kebahagiaan sama sekali.
Ayu sesekali tersenyum pada tamu undangan yang hadir dalam pernikahan mereka, sedangkan Brian tak pernah mengukir sebuah senyum di wajahnya sama sekali.
Ayu mengerti akan keadaan ini. Ia tau ini adalah sebuah keterpaksaan bagi Brian untuk menikahi dirinya. Ia hanya bisa pasrah bila nanti Brian bersikap tak baik pada dirinya.
Sejujurnya bagi Ayu pernikahan ini adalah hari yang sangat sakral dan membahagiakan baginya. Kini ia bukan lagi sebatang kara di dunia ini, tetapi ia akan membangun sebuah bahtera kehidupan berumah tangga bersama Brian.
Namun, memperhatikan sikap Brian yang seperti itu, Ayu merasa ragu ia akan bahagia dalam pernikahan ini. Jauh di dalam lubuk hatinya ia sangat mengharapkan cinta tulus Brian untuknya.
Berbeda dengan Ayu yang merasa bahagia dengan pernikahan ini dan mengharapkan cinta tulus darinya, maka Brian merasa pernikahan ini adalah sebuah bencana dalam hidupnya.
Gadis kampung yang ia sendiri pun tak tau latar belakangnya kini telah resmi menjadi istrinya. Tak hanya di situ, gadis itu juga telah merusak masa depan dan menghancurkan mimpi indahnya bersama sang kekasih.
"Selamat Tuan Roby!" ujar Pramono, ayah Kevin yang tak lain juga rekan bisnis papa Brian.
Pramono tak datang sendirian, ia juga ditemani istrinya dan juga Kevin, putra mereka.
Kevin tersenyum puas memandang ke arah Brian. Sedangkan Brian membalasnya dengan geram.
"Terima kasih, Pram. Sudah berkenan hadir dalam pernikahan putra tunggal saya!" balas Roby sambil menyambut uluran tangan Pramono.
Setelah menyalami kedua mempelai dan mengambil sesi foto, Pramono dan keluarga dijamu Roby untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan.
"Ayo Pram kita menikmati makanan ke sana!" ajak Roby.
"Ayo!"
"Bri, Papah menjamu Tuan Pramono dulu ya, kalau ada apa-apa, panggil aja papa di sana," ujar Roby sembari menunjuk salah satu meja yang tersedia di ujung sana.
"Hm." Jawaban singkat dari Brian.
Setelah itu mereka pun turun dari pelaminan menuju meja makan.
"Sedih banget muka Lo, Congrats ya!" ucap Kevin sembari tersenyum mengejek Brian yang memasang wajah tak bahagianya hari ini.
Kemudian Kevin pun mengikuti ayah dan ibunya mengambil hidangan.
Brian mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya pun sudah mulai memerah karena menahan amarah.
"Minum dulu," ujar Ayu sembari menyodorkan sebotol air putih pada Brian.
Dengan kasar Brian menepisnya.
"Lo nggak usah sok perhatian sama gue, ingat baik-baik, gue nikahin Lo itu terpaksa!" gumam Brian sembari menatap tajam Ayu di sampingnya.
Ayu hanya bisa menunduk. Baru saja berusaha mengambil hati Brian, ia malah disemprot dengan kata-kata menyakitkan itu lagi.
"Aku tau aku tak kau anggap, tapi janganlah mengatakannya secara berulang, cukup sekali kudengar. Aku mengerti kamu terpaksa menikahiku," batin Ayu.
"Saya awalnya sangat kaget kalau Brian akan menikah secepat ini. Dia kan masih muda. Lagipula saya tidak yakin anak pintar seperti Brian melakukan hal serendah itu." Pramono pun membuka pembicaraan dengan ketidakpercayaannya.
"Saya juga awalnya tidak percaya, tapi saya rasa tidak masalah Brian menikah secepat ini agar tidak terjerumus ke dunia gelap seperti sekarang, kalau tidak pandai menjaga pergaulan maka akan terjerumus ke lembah kehancuran," jawab Roby enteng, seolah tak ada yang tertekan dengan pernikahan ini.
"Seharusnya Brian bisa menjaga nama baiknya. Kan dari dulu kita tau Brian itu anak yang sangat pintar, jadi sangat memalukan bila ketahuan menikah di usia belia dengan kasus seperti itu. Apalagi papanya adalah pengusaha sukses di kota ini, jadi sangat memalukan sekali putramu itu!" Pramono mulai mengeluarkan kata singgungan untuk Roby dan juga merendahkan putranya.
Kevin tersenyum puas mendengar penghinaan ayahnya untuk Brian. Rasanya dendam di hatinya pada Brian mulai terbalaskan.
__ADS_1
Brian dari dulu adalah rival Kevin . Hal itu karena sejak SMP Brian selalu merebut sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya. Mulai dari juara kelas, juara umum, idola cewek - cewek di sekolah, sampai predikat siswa berprestasi, semuanya diambil Brian, padahal sebelum kedatangan Brian ke kota ini, semua predikat tersebut miliknya.
Roby sepertinya sedang menahan sesuatu di kepalanya. Tapi ia berusaha menahan, karena ini bukan saat yang tepat untuk berdebat.
"Silahkan dinikmati makanannya," ujar Roby mengalihkan pembicaraan.
Roby tau di dunia bisnis mereka kadang menjadi rival, tapi baru-baru ini mereka menjalin kerja sama oleh karena itu ia mengundang Pramono dan keluarganya.
Hal yang tak diduga oleh Roby yaitu saat Pramono berusaha merendahkan dirinya dan juga putra mereka Brian. Meskipun bukan hal yang buruk bila Brian menikah di usia belia, tapi bagi orang yang menaruh dendam hal itu dijadikan tombak untuk menghancurkan dirinya bila ia gegabah dan tak sabaran menyikapi orang seperti Pramono.
Belum sampai 3 jam pesta pernikahan mereka digelar, sudah banyak media yang memberitakan kabar bahagia ini, baik di televisi maupun di sosial media.
Banyak yang tak tau bahkan tak menyangka putra pengusaha sukses di kota ini menikah secara diam-diam.
Seperti apapun ditutupi, pernikahan mereka tetap terpublikasi. Maklum, keluarga Roby bukanlah keluarga sembarangan di kota ini.
"Nggak perlu penjelasan lagi, kita putus!!!"~ Caca.
Brian terkejut mendapati notifikasi di handphonenya. Ia pun tak tau harus bagaimana mengatakannya. Semuanya terjadi begitu saja. Meskipun dilanda kepanikan dan kecemasan, Brian berusaha tenang.
Ia berusaha menutupi pernikahannya, tapi tetap saja terpublikasi.
***
Setelah pesta berakhir, kini rumah sudah mulai sepi. Para handai taulan yang tadinya datang ke pernikahan kini berkurang satu persatu.
Di dalam kamar, Brian berbaring di atas kasur yang sudah dihiasi kuntum mawar merah. Raganya sungguh letih, hati dan pikirannya lebih letih lagi.
Cekrek!
Pintu terbuka.
Ayu masuk ke kamar pengantin karena mereka telah resmi menjadi suami istri, baik secara adat, agama, maupun secara hukum negara.
Ini bukanlah kali pertama bagi Ayu masuk ke kamar Brian. Tetapi, saat masuk ke sini selalu saja muncul keraguan dan rasa takut dalam dirinya. Mungkin karena perlakuan buruk Brian kepadanya membuat ia takut pada suaminya itu.
"Lo ngapain masuk ke kamar gue?!" sergah Brian. Meskipun membaringkan tubuhnya dan menutup mata, Brian tau itu adalah Ayu.
"Sa-saya hanya..."
"Hanya Apa?" tegas Brian sembari bangun dari baringnya.
Wajah Ayu kini menunduk. Tak tau harus bicara apa, serta tak tau kenapa ia harus sekamar dengan Brian setelah menikah padahal ia menaruh ketakutan pada lelaki itu.
"Kenapa diam?"
"Saya..." Dengan wajah masih tertunduk, Ayu pun tak mampu menjawab lagi pertanyaan Brian.
"Silahkan keluar!"
Seketika Ayu mengangkat kepalanya melihat ke arah Brian.
"Kenapa? Nggak terima? Ini kamar gue, jadi hak gue mau tidur sama Lo atau nggak!" sarkas Brian, lalu masuk ke kamar mandi, berharap setelah keluar dari kamar mandi ia tak lagi melihat wajah gadis kampung itu di kamarnya.
Dengan setitik air mata yang kini turun di pipinya, Ayu lantas membuka knop pintu dan kembali ke kamarnya tadi. Tempat di mana ia melepaskan gaun pengantinnya.
Setelah menutup pintu kamarnya, Ayu menangis di dalam kamar itu. Ia menangis saja sejadi-jadinya, karena ia tau tak ada yang akan mendengar. Kedua mertuanya pasti sudah tidur karena kecapean, sedangkan Bik Arum tak mungkin mendengar karena ia ada di lantai bawah.
Ayu merasakan sakit saat ia tak mampu mengatakan kenapa ia harus tidur sekamar saat mereka sudah dinyatakan sah sebagai suami istri.
__ADS_1
Lelehan air matanya kian menganak sungai. Pada siapa ia harus mengadu? Ia tak tahu harus bercerita pada siapa, ia rasanya sulit percaya pada orang lain tentang isi hatinya.
Sementara itu, Brian baru saja keluar dari kamar mandi, membersihkan badannya yang terasa lengket. Ia tersenyum puas saat tak melihat lagi gadis itu dalam kamarnya.
Ia lantas mengambil ponselnya dan kini mengirim pesan pada kekasihnya.
"Sayang, Aku bisa jelasin semuanya. Besok kita ketemu aku jelasin semuanya sama kamu."~Brian.
Pesan terkirim, tetapi hanya centang 1. Tidak biasanya Caca mematikan koneksi internet di handphone-nya.
Brian mencoba membuka semua sosial medianya untuk memastikan kalau Caca tak mungkin memblokir nomornya.
"Arghhh!!! Sialan! Instagram ku diunfollow sama Caca!" teriak Brian frustasi saat melihat Caca tak lagi mengikuti akun Instagram miliknya dan sudah dipastikan kalau nomor WhatsAppnya diblokir oleh Caca.
Yang lebih mebuanya frustasi yaitu banyaknya DM ke akun instagramnya. Ada yang memberikan ucapan selamat, ada yang terkejut, bahkan ada juga yang julid.
Salah satu pesan dari sahabatnya, Hans menyesalkan karena tidak diundang.
"Gini ya Lu sama gue dan Roy? Tega Lo nggak ngundang kita berdua, emangnya Lo nggak anggap kita berdua sahabat Lo?!😠😠😠"~Hans.
"Selamat ya Bro Udah resmi jadi suami, maaf ga bisa datang karena nggak Lo undang 😌"~Roy.
"Selamat menua sama gadis kampung🤭😏🤣 "~ Kevin.
"Di kampus berprestasi, habis KKN menikahi🤣🤣. Btw selamat ya Bri, ga nyangka KKN kemarin Lo dapat oleh-oleh istri😂✌️"~putri.
"Wah nanti malam enak enak nih bro, nggak manggil gue buat giliran?😂. Congrats ya, ga nyangka sih sebenernya, tapi ya sudahlah..."~Bram.
"Benar-benar nggak nyangka ✌️"~Nurul.
"Sialan!!! Masih aja beritanya keluar, emangnya kurang bayaran untuk nutupin pernikahan bego ini?!!" kesal Brian sembari menarik frustasi rambutnya.
Masih banyak lagi DM yang masuk ke hpnya membuat Brian hampir melempar hpnya ke tembok karena kesal akan ejekan dari beberapa netizen dan juga teman-teman kampusnya.
Pesan yang ia kirimkan untuk Caca tak kunjung centang 2 membuat Brian kian meradang karena tak bisa mengabari kekasihnya itu, padahal biasanya setiap malam mereka saling berbagi kabar.
Di kamarnya, kini ayu beralih ke kasur setelah tadi ia terduduk menyandarkan tubuhnya di balik daun pintu. Masih dengan sudut mata yang basah, Ayu membaringkan raganya yang letih.
Malam pertamanya bukan diisi dengan kebahagiaan dan kehangatan pelukan sang suami tapi malah sebaliknya. Malam pertamanya diisi dengan air mata dan kesedihan.
"Sesulit inikah menjalani pernikahan karena terpaksa?" batin Ayu disertai air matanya yang menetes ke bantal.
Karena sangat kelelahan, akhirnya Ayu tertidur juga meskipun hatinya sedang risau dan sedih.
Sementara itu, Brian tak bisa tidur. Ia memikirkan banyak hal tentang masa depannya. Ia pesimis Ayu akan menjadi penghambat untuknya meraih mimpi.
Di satu sisi ada rasa bencinya pada Ayu karena menjadi penghancur semua mimpinya, tetapi di lain sisi ada rasa kasian yang terselip di hatinya untuk Ayu.
Ia menyadari ini bukanlah sepenuhnya kesalahan gadis kampung itu. Tapi apakan daya, seandainya saja Ayu tak ada di dalam kamar waktu itu, hal ini tak mungkin terjadi.
Hal itulah yang membuat Brian kembali naik darah mengingat kejadian paling buruk dalam hidupnya saat itu.
Brian tersentak dengan notifikasi pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal masuk ke handphone-nya. Brian pikir itu nomor baru Caca, bisa saja Caca menggunakan nomor baru untuk mengabari dirinya. Brian pun buru-buru membuka chat tersebut.
"Ini ya kelakuan Lo? Kemarin bilangnya Lo cuma mau selesaikan masalah hutang Ayu sama keluarga Lo, tapi ujungnya dinikahin. Memang ga tau malu ya Lo! Udah punya cewek malah nikah diam-diam sama cewek yang udah Lo hina kemarin. Gue nggak nyangka Lo nelan ludah Lo sendiri! Gue harap secepatnya balikin karyawan gue!"~Nomor tak dikenali.
Meskipun Brian tidak menyimpan kontak tersebut, tetapi Brian tau siapa yang mengirim pesan itu. Dari isi chat itu Brian menduga kalau itu adalah Dirga.
"Lo tenang aja, gue nggak akan ngambil karyawan Lo. Kalau Lo mau ambil aja jadi karyawan Lo lagi, gue malas ngerawat bekas Lo, gue jijik sama bekas Lo. Lo juga mestinya sadar diri woy! Udah tunangan tapi masih aja membela cewek yang Lo sendiri pun nggak tau asal usulnya! Kalau Lo suka ambil aja, gue nggak keberatan."~Brian.
__ADS_1
Pesan dari Brian langsung centang dua, dan tak lama setelah itu langsung centang biru.
Lalu tulisan mengetik terlihat dari nomor itu, Brian pun langsung memblokir nomor tersebut dan mematikan koneksi internet di hpnya karena malas meladeni dan membaca chat maupun DM dari orang-orang.