Untaian Cinta Ayunda

Untaian Cinta Ayunda
Bab 13 | Belanja bulanan


__ADS_3

Sore ini Ayu masih sama bingungnya dengan pagi tadi. Bingung harus memasak apa untuk makan malam.


Brian tak kunjung pulang membuat Ayu semakin khawatir karena sudah hampir Maghrib.


Ayu hanya ditemani televisi di rumah ini, itu pun hanya sesekali dinyalakannya, karena ia tak suka dengan acara-acara yang ada.


Tak lama kemudian, mobil Brian terdengar memasuki halaman. Entah kenapa tidak langsung dimasukkan ke garasi, pikir Ayu.


Ayu menyambut kedatangan suaminya dengan membukakan pintu dan mengulurkan tangannya, hendak mencium tangan pria itu.


"Apa?!" sergah Brian sembari menatap tajam pada Ayu.


Ayu nampak tertunduk dan diam. Ia tau kalau Brian sudah membentak dirinya seperti itu berarti ia dalam keadaan gawat darurat, dan harus bersiap-siap bila Brian memarahinya.


"Cuma mau salim," jawab Ayu masih menunduk.


"Tidak perlu! Kita hanya serumah bukan sejiwa seperti suami istri! Di sini Lo gue jadiin pembantu, jadi jangan minta yang aneh-aneh!"


Meskipun terkejut karena dianggap sebagai pembantu oleh suaminya sendiri, Ayu hanya menerima, tak ada maksud untuk membantah karena ia pun sadar diri akan posisinya.


Masih dengan wajah tertunduk Ayu hanya menyetujui ."Ba-baik."


Setelah itu Brian langsung masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan Ayu yang menatap kepergian dirinya dengan nanar.


"Aku tahu hatimu tak sekeras baja, Aku akan berusaha menunggumu membukakan pintu hati dan memberikan sedikit ruang untukku," batin Ayu lalu tersenyum.


Meskipun sudah menikah, tapi rasanya masih sangat jauh sekali hubungan harmonis di antara mereka berdua. Brian bak makhluk tanpa hati yang selalu saja menyalahkan apapun yang Ayu lakukan, meskipun hal itu baik. Sedang Ayu selalu ketakutan pada sosok yang seharusnya menjadi pelindungnya tersebut.


Berulang kali Ayu mengetuk pintu hati Brian, namun tak kunjung dibuka. Malahan yang ia terima hanyalah hinaan dan cacian semata.


Tapi bagi Ayu, semua itu adalah ujian pertama dalam rumah tangganya, ia akan berusaha semampunya untuk bertahan dengan sikap Brian sekalipun ia harus berulang kali terluka.


Yang kini tumbuh di dalam hatinya bukanlah sebuah kebencian pada pria itu melainkan rasa cintanya yang semakin hari semakin besar.


Ayu kembali menyalakan televisi karena tak ada yang harus dilakukannya lagi. Menyiapkan pakaian untuk Brian? Rasanya sangat mustahil! Kamarnya sudah tertutup rapat kemungkinan dikunci!


Teep!


Televisi mati diiringi kehadiran Brian di ruang nonton. Padahal listrik sedang menyala.


"Nonton aja kerjaan Lo, dasar pemalas!" marah Brian


"Aku nggak tau harus ngerjain apa, makanya aku nonton," bela Ayu pada dirinya sembari beranjak dari duduknya.


"Siapa bilang nggak ada kerjaan! Lo tadi nggak siapin pakaian gue buat malam ini, Lo juga nggak masak makan malam, kan?!"


"Aku nggak tau harus masak apa, bahan masakan habis, kulkas pun kosong," jawab Ayu berterus terang.


Brian lupa kalau dirinya belum belanja bulanan. Kemarin ia hanya membeli sedikit bahan untuk makan malam sehingga pagi tadi semuanya sudah habis.


Brian lantas masuk ke kamarnya dan keluar lagi dengan kaos hitam dan topi hitam yang menutup kepalanya, sedang mulut dan hidungnya ditutup dengan masker dengan warna senada. Hal itu dilakukannya supaya orang-orang tak kenal dengan dirinya dan istri paksanya ini.


"Yok ikut gue!"


"Kemana?" tanya Ayu heran. Tak biasanya Brian mengajaknya pergi malam-malam begini.


"Ikut aja jangan protes!"


Ayu pun menurut. Ia segera masuk ke kamar dan bersiap.


Ia lantas menyusul Brian ke mobil dan masuk ke kursi tengah mobil tersebut.


"Lo kira gue supir pribadi Lo?! Cepat pindah ke depan!" bentak Brian.


Ayu pun pindah ke kursi depan sesuai permintaan suaminya.


Tak lama setelah mobil berangkat, mereka singgah di sebuah minimarket. Mereka turun di sana.


"Tuh Lo bawa Trolinya!" perintah Brian sembari menunjuk ke arah Troli dan keranjang di dekat pintu minimarket tersebut.


Ayu pun mengambil sebuah tempat menaruh belanjaan yang bisa ditenteng lalu mengikuti Brian yang mulai mengelilingi toko tersebut.

__ADS_1


"Lo mau beli apa?" tanya Brian sembari melirik Ayu di belakangnya.


"Ya ampun! Gue suruh ambil troli bukan keranjang!" gusar Brian melihat Ayu malah membawa keranjang bukan troli.


Tanpa pikir panjang Ayu pun menukar keranjang tersebut dengan sebuah keranjang beroda yang bisa di dorong.


"Mungkin ini yang dinamakan troli," gumam Ayu.


Ayu pun segera kembali menemui Brian di loket lauk pauk kemasan.


"Nih Lo ambil, ambil, ambil." Brian memasukkan barang belanjaan seolah tak ada yang ditinggal.


Hampir semua barang yang dirasa perlu Brian ambil, mulai dari lauk-pauk, sayur-mayur, buah-buahan, roti, susu, rempah-rempah, Snack dan minuman kaleng, telur, hampir semua diambil olehnya.


Seandainya troli dapat berteriak mungkin ia akan berteriak seperti ini, "Berat!!"


"Bri udah! Udah penuh ini, berat. Ini kebanyakan, aku nggak ada uang buat bayar semua ini," ujar Ayu menghentikan aktivitas Brian.


"Apa kata Lo? Nggak ada uang buat bayar?!" sela Brian sembari mengangkat tangannya di dekat telinga.


Ayu pun mengangguk karena ia bersungguh-sungguh tak memiliki uang.


"Biarin aja! Biar Lo dipenjara karena tidak bisa membayar semua belanjaan ini!" Brian menakut-nakuti Ayu karena wajah polos Ayu sangat cocok untuk ditakuti.


"Nggak mau! Aku nggak mau dipenjara!" rengek Ayu dengan suara ketakutan.


Brian tak peduli. Ia semakin menambah belanjaan di dalam troli. Kini troli sudah menggunung.


"Dorong ke kasir!" perintah Brian tak berperasaan. Padahal barang di troli sangat berat.


Ayu pun mulai mendorong troli tersebut, tetapi hanya sedikit saja pergerakannya.


"Dasar lemah! Sini biar gue aja yang dorong!"


Ayu masih ketakutan karena melihat belanjaan sebanyak itu. Jujur saja ia rela jadi gelandangan daripada harus hidup di penjara.


Ia lantas mengekori Brian yang tengah mendorong troli.


Sesampainya di kasir, belanjaan pun mulai dihitung satu persatu. Angka belanjaan terus bertambah sama seperti rasa takut Ayu yang semakin bertambah.


Brian pun menatap ke arah Ayu, seolah meminta untuk membayar semua belanjaan tersebut, sedang Ayu membalasnya dengan tatapan penuh khawatir. Khawatir tak bisa membayarnya.


Dalam maskernya Brian menahan tawa melihat wajah polos Ayu yang takut dipenjara.


Ia lantas mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya dan memberikannya kepada kasir tersebut.


Ayu sedari tadi mengantisipasi kehadiran polisi untuk menangkapnya dan memasukkan dirinya ke dalam penjara.


Namun, bukan suara polisi yang ia dengar melainkan suara Brian yang menyergahnya.


"Bantuin bawa belanjaan!"


"Emangnya sudah dibayar?" tanya Ayu khawatir.


"Udah, Bego! Gue bukan orang miskin ya, jadi kalau gue ambil berarti gue ada uang buat bayarinnya!"


Ayu pun mulai mengangkat kantong plastik berisi belanjaan mereka ke dalam bagasi mobil.


Setelah itu mereka kembali pulang.


"Hallo, Pa! Kirim 5 juta dong, Bri baru aja habis belanja bulanan sama istri Bri nih," ujar Brian sembari mendekatkan ponsel ke telinganya.


"Oh ya? Oke oke, Papa kirim secepatnya!" jawab Roby dari sana.


"Oke, Pa. Makasih ya."


Telpon pun terputus.


Dari nada jawaban Papa mertuanya, sepertinya ia sangat senang mendengar perubahan sikap Brian pada dirinya. Tetapi itu hanyalah pencitraan semata, saat berbicara kepada kedua orang tuanya Brian memang selalu bersikap baik, tetapi berbeda kalau mereka sedang berdua saja, Brian akan mengganas di hadapannya.


Sesampainya di rumah, Ayu pun menurunkan semua belanjaan dan mengemasnya ke dalam kulkas. Sedangkan Brian langsung masuk ke kamarnya setelah mengambil kantong berisi snack dan minuman kaleng.

__ADS_1


"Kemas semua belanjaan, habis itu masak makan malam!" Begitulah perintah Brian tadi, membuat Ayu pun mulai mengolah bahan-bahan yang sudah dibeli barusan.


Malam ini Ayu akan memasak opor ayam. Barangkali Brian suka.


Berkutat dengan alat dapur bukanlah masalah bagi Ayu, ia sudah terbiasa dengan hal-hal tersebut.


Ia hanya berharap masakannya disukai Brian, suaminya sendiri.


Sebagian orang mengatakan bahwa salah satu cara untuk mengambil hati suami yaitu dengan masakan, barangkali Brian suka masakannya dan menurunkan rasa suka itu pada dirinya bukan hanya sekedar masakan.


Aroma masakan Ayu menyeruak hingga ke kamarnya. Brian sejenak mengendus untuk menghirup aroma opor ayam yang hampir matang di dapur.


"Pandai juga dia masak," gumam Brian sembari tersenyum.


Kruuukkk!!


Perutnya saja memberikan kode untuk segera diisi. Brian akhirnya keluar kamar menuju dapur.


"Udah matang?" tanya Brian pada Ayu yang sedang membolak-balikan daging ayam dalam wajan.


"Sebentar lagi, tunggu santannya mengental."


Brian lantas duduk menunggu di meja makan, sedang Ayu mulai menyiapkan piring dan lainnya.


Setelah matang, Ayu mengambil nasi untuk Brian dan mengambilkan opor ayam buatannya.


Ayu baru kali ini melayani Brian secara langsung. Saat di rumah mertuanya, Bi Arum yang akan menyiapkan semuanya.


Ayu melakukan ini karena ia sering melihat istri Pak Harun melayani suaminya saat makan seperti ini.


Oleh karena itu, tiada kecanggungan baginya.


Brian memperhatikan dengan seksama gerak-gerik Ayu di dapur. Tidak ada kegugupan lagi saat berada di dapur.


Brian jadi ingat Caca, ia yakin Caca pasti bisa melakukan semua ini, tak kalah dari Ayu.


Brian pun menyantap makan malamnya. Saking enaknya, Brian menambah porsi makannya. Ayu merasa senang karena Brian sepertinya menyukai masakannya, meskipun Brian menyangkal dengan mengatakan kalau dirinya sedang lapar makanya nambah terus.


Tak berselang lama setelah makan malam, handphone Brian berbunyi.


"Lo ambil hp gue di atas nakas!" perintah Brian layaknya Bos.


"Iya." Ayu yang masih memegang piring makanan pun mengiyakan dan segera mengambil handphone Brian.


"Mama. Ya Hallo, Ma!"


"Hallo, Bri."


"Kenapa, Ma?"


"Mama kangen sama kalian. Mana menantu Mama?"


"Ayu lagi makan, Ma."


"Oh yaudah. Mama cuma ngasih tau kalau besok Mama akan berkunjung ke rumah kalian."


"Baiklah, Ma. Dengan senang hati."


"Oke. Sampai ketemu besok. Mama titip salam buat Ayu."


"Oke, Ma."


Telpon pun berakhir.


"Lo dengar kan Mama gue mau berkunjung ke mari?"


Ayu mengangguk sembari mengemas piring kotor.


"Awas aja Lo ngadu sama Mama! kalau sampai Lo ngadu, gue pastiin Lo bakalan gue buang ke hutan! Ngerti?!!"


Ayu pun mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Satu lagi, di depan orang tua gue jangan jadi pendiam seolah gue larang Lo ngomong. Gue nggak mau Mama Papa curiga sama gue!"


Ayu kembali menganggukkan kepalanya. Kemudian berlalu pergi menuju wastafel untuk mencuci piring kotor.


__ADS_2