
"Mama sebenarnya nggak mau kalian pindah secepat ini, Bri. Rasanya hampa rumah ini kalau nggak ada kamu. Apalagi Ayu, padahal Mama pengen cerita banyak sama dia," ujar Diana sembari memandori Brian yang sedang memasukkan beberapa koper ke dalam bagasi mobil.
"Nggak papa, Ma. Biar kami bisa hidup mandiri," jawab Brian.
"Kan, Yu?" sambungnya.
Ayu yang terdiam di samping mama mertuanya kini mengangguk.
Di depan orang tuanya, Brian selalu bersikap baik dan manis seolah tak ada dendam di hatinya untuk Ayu. Tetapi apabila hanya mereka berdua, maka Ayu selalu saja jadi sasaran empuk kemarahan Brian.
"Yu, yok naik!"
Ayu pun mengikuti perintah Brian. "Kami berangkat ya, Ma."
"Iya. Kalian hati-hati di jalan, ya. Mama janji akan sering berkunjung ke rumah kalian, kan nggak jauh banget. Kalau Papa sedang libur pasti Mama ajak sekalian."
"Oke, Ma. Bri berangkat dulu," pamit Brian.
Lambaian tangan Diana mengiringi keberangkatan mobil Brian menuju tempat tinggal mereka yang baru. Tak jauh, hanya sekitar 5 kilometer dari rumah orang tuanya saat ini.
Roby tak terlihat ada di sana karena sejak pagi tadi ia sudah berangkat ke luar kota untuk menjalani urusan bisnisnya. Tetapi Brian sudah berpamitan pada Papanya semalam.
Sepanjang perjalanan tak ada yang bersuara, baik Ayu maupun Brian tak ada yang membuka pembicaraan.
Ayu tentunya masih sangat takut bila memulai pembicaraan dengan Brian, sebab selalu saja dijawab ketus oleh Brian, apalagi sekarang hanya mereka berdua di dalam mobil, sudah dipastikan Brian akan mengeluarkan jati dirinya. Entah kenapa di depan orang tuanya Brian menjadi baik, sangat berbeda kalau mereka sedang berdua.
Tak terasa mobil sudah sampai di halaman rumah baru tersebut.
Ayu baru ke sini, sedang Brian sudah tahu. Ini adalah rumah lama Brian, rumah masa kecil Brian dulu. Di rumah ini banyak kenangan yang ditinggalkan.
Kepindahan mereka ke rumah baru di komplek elit di sana tidak terlepas dari kesuksesan Roby saat menjadi pengusaha.
Sebelum sesukses sekarang, dulunya mereka tinggal di rumah yang tak terlalu luas ini, tapi nampak asri karena banyak pepohonan yang tumbuh di pekarangannya.
Ayu menghirup udara segar ketika merasakan asrinya lingkungan rumah barunya ini. Rumahnya kini tak terbatas hanya pada gedung di depan matanya saja, tetapi sosok di sampingnya adalah rumah yang sesungguhnya.
Meskipun Brian tak pernah menganggapnya ada, tetapi Ayu selalu menganggap Brian adalah rumah baginya. Rumah untuk hatinya yang sudah lama mengukir cinta untuk pria seperti Brian.
"Woy kampungan! Bawa barang-barang Lo masuk!" sergah Brian.
Ayu tersentak dan mengangguk.
Brian sudah lebih dulu berjalan dan membuka pintu rumah yang terbuat dari kayu tersebut. Ia hanya membawa koper pakaian miliknya saja, sedangkan Ayu dibiarkan membawa kopernya sendiri.
Ketika masuk, Brian menghembuskan nafasnya. Ia teringat akan sesuatu yang mengembalikan memorinya tentang masa kecilnya di rumah ini.
Kursi kayu di dalam ruang tamu itu, masih sama posisinya saat ia kehilangan gigi susunya karena terjuntal saat bermain dengan kakaknya.
"Mama! Adik Bri berdarah!" teriak seorang anak perempuan pada ibunya yang sedang memasak di dapur.
Dengan segala kecemasannya, Diana keluar dari dapur menuju ruang tamu. Di sana terlihat Brian kecil yang sedang menangis karena kehilangan giginya, dan yang pasti darah yang keluar dari mulutnya membuat yang empunya takut sampai menangis histeris.
"Kok bisa?!" cemas Diana.
"Tadi adik main di atas kursi, Ma. Kakak tadi main Barbie di lantai, tiba-tiba adik jatuh dan wajahnya mengarah ke lantai," jawab anak perempuan itu.
Kemudian Diana membawa kedua anaknya tersebut ke dapur, dan tak lagi membiarkan mereka bermain tanpa pengawasan darinya.
Setelah kejadian itu, sang kakak tak pernah membiarkan adiknya terluka lagi. Betapa ia sangat menyayangi adiknya itu.
"Uhuk uhuk!" Suara batuk Ayu memudarkan ingatan masa lalu Brian.
Karena debu yang beterbangan dan masuk ke tenggorokan, Ayu terbatuk.
__ADS_1
"Rumah ini sangat kotor,"gumam Ayu.
"Ya iyalah, namanya juga rumah lama, kalau bersih tuh berarti ada penunggunya!" ketus Brian.
"Yaudah cepat antar koper Lo ke kamar di sebelah kiri sana, habis itu Lo bersihin rumah ini!"
"Iya, Tuan."
Brian melirik ke arah Ayu dengan tatapan tak suka, sedang Ayu hanya melirik sekilas.
"Jangan panggil gue Tuan, gue masih muda, panggil gue Bri!"
"Ba-baik, Bri."
Setelah mengantar kopernya ke kamar, Ayu pun mulai membersihkan setiap sudut rumah ini.
Semuanya berdebu, membuat Ayu beberapa kali bersin, meskipun ia sudah mengenakan masker. Sedang Brian mengambil mesin pemotong rumput dan membersihkan taman depan dan lingkungan rumah yang rumputnya mulai meninggi.
Brian memang senang dengan kebersihan dan kerapian jadi tak heran, ia bisa mengoperasikan mesin pemotong rumput meskipun ia anak boss.
Biasanya setiap sebulan sekali Roby akan memanggil tukang kebun untuk memotong rumput di sini, tapi sepertinya dua bulan ini ia lupa memanggil tukang kebun, terlihat rumput yang sangat tinggi.
Tak terasa sudah hampir jam empat sore, kini semuanya sudah selesai. Sedari jam 10 pagi tadi mereka berkemas, akhirnya selesai juga.
"Cewek kampung Lo lapar nggak?!" Teriak Brian dari teras rumah.
Ayu yang sedang mengelap meja dengan kain basah langsung melirik.
"Nama saya Ayu bukan cewek kampung!"
"Iya deh. Lo mau makan apa?"
"Terserah kamu aja."
"Sama dengan makanan kamu aja."
Brian tak mengangguk pun tak membantah. Ia lantas mengendarai mobilnya menuju jalan raya.
Setelah selesai mengelap meja, Ayu kini beralih menuju ke kamar. Dua buah kamar sudah dibersihkan semuanya. Tinggal memasukkan dan merapikan pakaian ke dalam lemari saja pekerjaan yang belum dilakukan habis itu barulah rencananya ayu akan memasak makan malam.
Ia menyusun pakaiannya dan pakaian Brian dalam satu lemari. Semuanya disusun Serapi mungkin, karena mama mertuanya dan Bi Arum sudah mengingatkan dirinya kalau Brian suka kerapihan.
Tak berselang lama, Brian datang dengan dua bungkus makanan di tangannya.
Pas sekali dengan kondisi perutnya yang sangat keroncongan. Pikir Ayu.
"Kemana cewek kampung itu?" gumam Brian karena tak mendapati Ayu di ruang tamu.
Brian memicingkan matanya ketika melihat Ayu mengemas kopernya. "Woy Lo ngapain pengang koper gue! Lepasin nggak!"
Ayu sontak terkejut dan menghentikan aktifitasnya.
"Sa-saya hanya memasukan pakaian kamu ke dalam lemari," jawab Ayu takut.
Brian semakin marah tatkala melihat pakaiannya satu lemari dengan pakaian Ayu.
"Ini lagi! Baju Lo jangan digabung dengan baju gue! Lo kira gue mau sekamar sama Lo?! Lo tidur di kamar sebelah! Di kamar sebelah kiri! Enak aja Lo tidur di sini!"
"Tapi kamar sebelah nggak ada lemari pakaiannya," jawab Ayu.
"Yaudah Lo pakai kotak aja, di gudang banyak kotak bekas mie instan, Lo bisa pakai itu untuk tempat pakaian Lo!"
Ayu hanya diam. Brian benar-benar jahat padanya. Ingin sekali rasanya menangis, tapi sudah sering ia menumpahkan air matanya karena kata-kata menyakitkan dari Brian.
__ADS_1
Ia pun memasukan lagi pakaiannya yang sudah disusun rapi tadi ke dalam koper.
"Nih makanan Lo!"ujar Brian sembari menyodorkan bungkusan plastik berisi nasi bungkus dan sebotol air putih.
"Nggak perlu, saya masih kenyang!" tolak Ayu lalu melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Brian.
"O... Lo udah berani ya sama gue! Nih gue kasi tau ya sama Lo, jangan berharap apapun dari pernikahan ini! Ingat gue terpaksa. T-E-R-P-A-K-S-A nikahin Lo! Jadi jangan harapkan hati gue bisa buat Lo. Cewek yang Lo lihat waktu itu namanya Caca, dia pacar gue, gue cinta sama dia, bukan sama Lo!"
Dengan lelehan air matanya yang tak terbendung, Ayu masuk ke kamarnya dengan perasaan yang amat sangat menyakitkan.
Mengapa ia bisa menaruh hati untuk Brian? Mengapa ia bisa mencintai lelaki itu padahal ia tau lelaki itu sudah memiliki kekasih? Rentetan pertanyaan yang tak akan bisa dijawab oleh Ayu, karena ia sendiri tak tau dari mana datangnya perasaan itu.
Malamnya, setelah berkemas dan mandi, Ayu membaringkan tubuhnya di atas kasur usang ini. Bahkan sepreinya saja sudah koyak, tapi jauh lebih empuk dibanding kasurnya di kampung.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka karena memang tak dikunci.
"Eh... Cewek kampung, Lo nggak masak makan malam? Gue lapar nih, tolong masakin gue dong!"
Dengan wajah datarnya, Ayu keluar dari kamar, melewati Brian begitu saja. Awalnya ia tak berniat untuk memasak makan malam, karena ia merajuk pada Brian.
Namun, karena statusnya kini bukanlah gadis dan telah bersuami, ia pun melakukan kewajibannya.
Brian melirik setiap sudut kamar Ayu. Ruangan ini memang bukanlah ruangan yang layak untuk dijadikan kamar sebab catnya sudah memudar, fasilitasnya belum lengkap, dan lagi tak ada kamar mandinya.
Sebenarnya tak layak, tapi hanya ini satu-satunya kamar selain kamarnya. Jadi Brian meminta ayu tidur di sini daripada harus sekamar dengan gadis itu.
Dulunya ruangan ini adalah kamar kakaknya, karena kakaknya sudah meninggal maka kamar ini tak pernah lagi dipakai, dan sering kali dijadikan sebagai gudang, makanya terlihat tak terawat dibandingkan kamar sebelah.
Selesai memasak, Ayu tak melihat Brian di kamarnya. Pun tak ada di ruang tamu, apalagi di teras rumah.
Ayu pikir Brian keluar, jadi Ayu hendak masuk ke kamarnya. Alangkah terkejutnya Ayu saat melihat Brian terlelap di atas kasur usang tersebut.
Dengan penuh kehati-hatian Ayu pun mendekat, untuk memastikan Kalau Brian tak pura-pura tidur.
Ayu lantas mengibaskan tangannya di atas wajah Brian , tapi Brian tak kunjung bangun.
Brian sepertinya kelelahan setelah seharian ini membersihkan lingkungan rumah.
Ayu menatap dengan seksama wajah manis dan tampan Brian.
Bibir tipis, alis tebal, kumis tipis, dan sedikit bulu janggutnya yang belum dicukur 2 hari ini membuat wajahnya kian rupawan.
Tak salah lagi bila Ayu terlena akan rupa seorang Brian Harvigo.
Ayu tersentak dan mengalihkan pandangannya saat Brian membuka matanya.
"Makanannya sudah siap di dapur," ujar Ayu salah tingkah.
"Lo udah makan?"
Ayu menggelengkan kepalanya.
"Yaudah ayo makan," paksa Brian sembari menarik tangan Ayu.
Ayu pun menurut, karena ia memaksakan dirinya untuk menahan rasa laparnya sedari tadi siang.
Selesai makan malam Ayu mengemas piring kotor dan mencucinya sampai bersih sedangkan Brian sudah masuk ke kamarnya.
"Gue kasi tau ya sama Lo. Kita menikah itu terpaksa. Jadi Lo jangan berharap apa-apa dari gue. Jangankan harta, cinta aja ga bakalan gue kasi ke elo. Gue memang kejam sama Lo, gue sadar itu. Tapi semua itu gue lakukan biar Lo tau diri sama posisi Lo, cocok atau nggak bersanding dengan putra pengusaha seperti gue. Oh iya kepindahan kita ke sini biar orang tua gue nggak terlalu ikut campur urusan gue sama Lo, bukan berarti gue beneran mau hidup mandiri sama Lo, gue tau Lo cuma bisa nyusahin gue. Untung aja gue nggak usir Lo kayak waktu itu, tapi Lo tenang aja, gu nggak bakalan ngusir Lo lagi." Kata-kata itu sangat menyayat hatinya.
Brian mengatakan itu di sela makan malam mereka tadi,.membuat Ayu merasa tidak nyaman menyantap malammya bersama seorang pria yang tak lain adalah suaminya sendiri.
Tanpa Brian sadari, ia sudah sering kali menyakiti hati gadis seperti Ayu. Buliran demi buliran mengalir begitu saja setiap ia mengingat kata menyakitkan yang keluar dari mulut Brian.
__ADS_1
Apakah ia tak boleh mencintai suaminya sendiri? Apakah ia tak layak untuk Brian? Dari segi harta dan tahta memang mereka tak sebanding, bagai langit dan bumi. Tapi dari sudut pandang ketulusan? Apakah Brian layak untuk mendapatkan hati tulus seorang Ayu?