
Udara dingin menyelimuti Desa Sukarama pagi ini. Butiran embun masih terlihat turun dari udara, menempati permukaan daun sehingga menjadikannya basah.
Rombongan mahasiswa KKN akan pulang pagi ini juga, tinggal menungggu kedatangan bus jemputan. Mereka semua sudah bersiap-siap sedari jam 4 subuh tadi, begitu juga dengan Ayu, yang saat ini berstatus sebagai istri Brian. Ia sudah berkemas sedari tadi.
"Pakaian kamu sudah di kemas semua, Yu?" tanya Darmi, istri Pak Harun.
"Sudah, Bu," jawab Ayu dengan berat hati sembari menarik resleting tas pakaiannya.
"Yu, Ibu berpesan, kalau memang kamu diperlakukan dengan tidak baik oleh suamimu, pulanglah lagi ke kampung ini," ujar Darmi sembari membelai dengan lembut kepala Ayu, "kamu sekarang sudah punya suami, maka hargai dan layani suamimu sebaik-baiknya," sambungnya.
"Baik, Bu." Raut wajah Ayu sepertinya tak ikhlas meninggalkan desa ini, terlebih meninggalkan makam kedua orang tuanya.
Setelah berkemas-kemas, Ayu dan Darmi keluar dari kamar menuju ruang tamu, tempat rombongan mahasiswa menunggu bus jemputan.
Darmi langsung menghampiri Brian di sudut teras seorang diri. Raut wajahnya dari semalam terlihat murung dan ia tak banyak bicara seperti biasanya.
"Nak Brian, Saya titip Ayu, ya. Sayangi dia, dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain kamu sebagai suaminya. Ibu harap kamu mau menerima semua kekurangan dan kelebihannya, dia anak yang baik, hanya saja takdir hidupnya tak sebaik hatinya, jadi ibu mohon sama kamu tolong sayangi dia sepenuh hatimu," pinta Darmi pada Brian.
Brian sedari tadi hanya menatap kosong wanita yang tengah berbicara padanya kini. Raganya di sini, tapi hati dan pikirannya entah ke mana.
Sebagai jawaban darinya, Brian hanya mengangguk perlahan. Tatapannya masih kosong.
Bus akhirnya tiba juga, sudah 3 jam mereka menunggu. Maklum jarak dari kota ke Desa Sukarama memang sangat jauh, terlebih lagi jalan yang dilewati masih banyak hutan lebat, sehingga tak ada yang berani bepergian seorang diri.
Semua mahasiswa sudah masuk ke dalam bus. Ayu menjadi personil baru dalam bus itu. Wajahnya linglung mencari kursi untuk duduk.
Semua kursi sudah diisi, kecuali satu kursi belakang, di samping Brian tepatnya.
Ayu masih terlihat linglung. Ia bingung mau meletakkan kemana barang-barangnya, dan lagi ia tak tahu harus duduk ke mana.
"Ayu! Kamu duduk ke sana, di dekat suamimu," ujar seorang mahasiswi kepada Ayu.
Ayu lantas menoleh ke arah itu. Sebetulnya ia ragu untuk mendekati Brian, tapi hanya itu satu-satunya kursi kosong yang tersedia. "Makasih," ucap Ayu pada mahasiswi itu.
Brian sudah memejamkan matanya. Sepasang earphone sudah terpasang di telinga kanan dan kirinya, wajahnya sengaja ditutupi Hoodie, agar cahaya tak menganggu tidurnya.
Ayu hanya berani melirik sesekali wajah pria yang kini berstatus suaminya itu, tanpa bertanya Ayu sudah tau kalau Brian tak suka padanya.
"Gimana? Udah dapat kursi semua, kan?" tanya Kevin dari kursi depan sana sembari melihat ke arah belakang.
"Sudah!" jawab mahasiswa lainnya dengan serentak, kecuali Brian yang sedari tadi memejamkan matanya di balik Hoodie hitam itu.
"Nggak ada yang ketinggalan, kan?" tegas Kevin lagi.
"Nggak ada!" Kompak seluruh mahasiswa menjawab.
"Bukannya berkurang malahan bertambah barangnya," ujar Daus, salah seorang mahasiswa yang terkenal jahil.
Mahasiswa lain yang mengerti maksud Daus tertawa sembari melirik ke arah Ayu yang saat ini duduk berdampingan dengan Brian. Sedangkan Ayu tak mengerti kenapa semua orang tertawa melirik ke arahnya.
"Sudah semua, Pak. Ayo kita jalan," ujar Kevin pada sopir bus itu.
Lambaian tangan dari warga Desa Sukarama mengiringi keberangkatan bus menuju kota.
Perjalanan panjang membuat sebagian mahasiswi mengalami mabuk angin. Baru setengah jam berjalan sudah banyak yang masuk angin dan terlihat loyo bak ayam terkena penyakit sampar, bahkan ada yang sampai muntah.
Tak tahan dengan perjalanan panjang, terlebih ini adalah kali pertama dirinya naik mobil, Ayu turut mengalami mabuk angin. Perutnya rasa dikocok, seketika semburan cairan bercampur makanan keluar dari mulutnya. Ya, Ayu muntah! Terlebih lagi ia memuntahkan itu di celana Brian!
Brian yang sebelumnya tertidur terlonjak kaget saat cairan hangat menumpahi celananya. Ia lantas melirik ke arah Ayu.
"Lo apa-apaan, sih!!" caci Brian, raut wajahnya mulai memerah.
Ayu yang terlihat klengger tak bisa berkata-kata lagi, namun dari raut wajahnya terlihat memelas meminta maaf, namun tak terucap.
"Baru segini aja Lo udah ngerepotin gue, gimana kalau jadi istri gue! Minggir lo! Gue mau pergi!" kata Brian sembari mendorong tubuh Ayu dengan kasar, lalu pindah ke arah kursi tengah.
Meskipun harus berdiri hingga ke kota, Brian tak peduli, daripada ia harus berdekatan dengan gadis lugu yang hanya bisa menyusahkan itu.
"Bri, istri Lo mabuk angin tuh, nih Lo olesin minyak kayu putih ke dekat hidungnya sama perutnya!" ujar salah seorang mahasiswi sembari menyodorkan botol minyak kayu putih ke hadapan Brian.
__ADS_1
"Ogah!! Emang dia siapa?!" jawab Brian acuh.
"Dia istri Lo, Bri. Masa Lo ga kasian sama dia?" protes mahasiswi tersebut.
"Kalau Lo kasian sama dia, Lo aja yang urus sana, gue ga peduli ama tu cewek! Satu lagi, dia bukan istri gue!!" cecar Brian pada mahasiswi itu.
Mahasiswi itu hanya menggeleng dan tak mau tahu. Brian tetap keras kepala.
Tak terasa, perjalanan mereka sudah sampai ke kota. Mungkin 15 menit lagi mereka akan tiba di kampus. Tadi Brian sudah menelpon kedua orang tuanya untuk menjemput di kampus.
Orang tua Brian Tentu sudah menunggu kedatangan putra semata wayang mereka itu. Dengan mobil hitam itu, mereka sudah menungggu sejak satu jam yang lalu.
Ketika bus tiba, seluruh rombongan mahasiswa yang sudah ditunggu keluarga langsung turun dari bus satu persatu.
Melihat anaknya turun dari bus, Orang tua Brian langsung berhamburan memeluk putra kesayangan mereka.
"Duh, Nak. Sebulan tidak bertemu rasanya setahun. Mama sama Papa kangen banget sama kamu," ujar Diana, mama Brian.
Begitu juga dengan Roby, papa Brian yang bergiliran memeluk putranya itu.
"Bri, juga kangen banget sama kalian Ma, Pa," balas Brian tersenyum sembari memeluk dan mencium tangan orang tuanya.
Semua Mahasiswa sudah bertemu dengan keluarganya, ada juga yang langsung pulang.
Namun, satu orang gadis berpenampilan udik, mengenakan kebaya tradisional dan wajahnya yang pucat terlihat turun dari bus.
Sontak ia menyita perhatian semua orang. Tak hanya gaya berpakaiannya, tapi cara berjalannya yang sempoyongan membuat semua orang melirik ke arahnya.
"Itu siapa?" Bisik-bisik ramai terdengar mengiringi langkah kaki Ayu yang berjalan sempoyongan.
Banyak yang mengatakan gaya berpakaiannya masih kuno, ada juga yang mengatakan gadis itu sangat cantik natural.
Semua perhatian beralih pada gadis itu, tak terkecuali mama papa Brian.
"Oh iya, ini adalah oleh-oleh yang kami dapat dari tempat KKN, tapi pemiliknya hanya satu," kata Kevin, sontak semua pandangan kini beralih padanya.
Kevin tersenyum sinis ke arah Brian, "tanyakan saja pada Brian Harvigo," katanya.
Deg!
Detak jantung Diana berpacu lebih cepat.
Mendengar nama anaknya disebut, sontak Diana dan Roby melirik ke arah putra mereka dengan tatapan penuh tanya.
"Maksudnya apa Bri?" tanya Diana penuh selidik.
Begitu juga dengan Roby yang sedari tadi mencoba meminta penjelasan pada Brian, putra kesayangannya itu.
"Bukan siapa-siapa, Ma," jawab Brian dengan malas.
"Dia siapa?!" desak Diana.
Brian yang merasa risih dicecar segera masuk ke dalam mobil. Ia malah memilih menghindar untuk menjelaskan kejadian malam itu.
Roby dan Diana yang tak mendapat jawaban dari putranya sendiri akhirnya menghampiri Kevin. Mereka menanyakan semua itu kepada Kevin.
Kevin pun menjelaskan semua yang terjadi di sana tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Roby dan Diana tampak mendengar dengan seksama dan sesekali menganggukkan kepalanya.
Roby dan Diana hampir Tak percaya. Tapi itu sudah terjadi. Sebagai orang tua yang bertanggung jawab, mereka pun harus menerima gadis itu menjadi menantu mereka.
Setelah mendengar semua penjelasan Brian, Diana langsung menghampiri Ayu, gadis cantik yang auranya tertutup sifat lugunya itu. Kini ia terlihat kebingungan di dekat bus yang membawanya ke mari. Ia kebingungan lantaran tak ada satupun ya g ia kenali di sini, semuanya asing baginya.
"Nak, nama kamu siapa?" tanya Diana.
Ayu melirik wanita itu, "na-nama saya Ayu."
"Saya Diana, mamanya Brian," ujar Diana memperkenalkan dirinya sembari mengulurkan tangan ke hadapan Ayu.
__ADS_1
"Senang bertemu dengan anda, Nyonya." Ayu turut mengulurkan tangannya menyambut jabat tangan dari Diana.
"Eitss... Jangan panggil saya Nyonya, panggil saja Mama, seperti panggilan Brian pada saya." Diana mengoreksi perkataan Ayu barusan.
"Oh... Maaf, Ma." Ayu tampak ragu menyebut kata 'Mama', yang ia tahu orang kaya di kota biasanya dipanggil dengan sebutan nyonya, tapi tidak dengan wanita ini, meskipun terlihat kaya ia tak mau dipanggil nyonya.
"Mana barang-barang kamu?" timpal Roby yang baru saja tiba.
"Saya Roby, papanya Brian." Roby turut memperkenalkan dirinya.
"Senang bertemu dengan kalian, Pak, Bu," ujar Ayu sembari tertunduk hormat.
"Jangan panggil kami dengan sebutan itu, panggil saja Mama dan Papa," Roby kembali mengoreksi Ayu.
"Ma-maaf, Pa, Ma."
"Mana barang-barang kamu?" tegas Roby lagi.
"Ada. Masih di bus," jawab Ayu.
"Ya sudah, ambil sana!" perintah Diana.
"Baik, Ma." Ayu lantas meninggalkan sepasang suami istri itu dan beralih mengambil pakaiannya di dalam bus.
"Sepertinya dia sangat cantik, Ma. Cuma sikap lugu membuatnya terlihat udik seperti itu."
"Benar, Pa. Mama tau itu, nanti kita bahas lebih jauh setelah sampai ke rumah."
Setelah sampai mengambil pakaiannya, Ayu pun dibawa ke mobil. Di sana Brian sudah menunggu di kursi tengah sembari menutup kepalanya dengan Hoodie.
Pintu mobil dibuka. Brian terganggu dengan silau cahaya matahari sore yang masuk ke dalam mobil.
"Duhhh!! Ngapain sih bawa cewek ini segala?! Ntar ngerepotin aja bisanya!" keluh Brian.
"Bri, nggak boleh gitu!" cecar Diana.
"Lagian mama sama papa sih, ngapain ngajak cewek kampung ini ke mobil kita?!" kesal Brian.
"Brian! Jangan seperti itu! Dia istri kamu!" bentak Roby.
"Dia bukan istri Brian, Pa!" balas Brian.
"Nanti kita selesaikan di rumah!" ujar Roby dengan sedikit emosi.
"Maaf, Pa, Ma. Karena Ayu, Brian bentak Papa sama Mama," kata Ayu sedikit grogi.
"APA?!!Papa?!Mama?! Nggak salah Lo! Tahu diri woyy!! Lo itu benalu yang bakal nyusahin keluarga gue! Mending Lo turun dari mobil orang tua gue!"
Seketika cairan bening terjatuh dari mata Ayu. Belum apa-apa ia sudah menangis dibentak oleh Brian, apa mungkin ini akan menjadi awal kebahagiaan hidupnya? Ataukah ia harus kembali ke kampung halamannya?
"Brian!!" lagi bentak Roby.
"Yaudah, Pa. Bri, pulang naik taksi saja! Silahkan bawa anak kalian ini!" ujar Brian sembari membuka pintu mobil lalu menutupnya kembali dengan sangat keras.
"Itu anak memang menjengkelkan!" sungut Roby.
"Sudahlah, Pa. Nanti kita bakal ketemu di rumah. Biarkan saja dulu," ujar Diana menasihati suaminya itu.
"Maaf Pa, Ma," ujar Ayu sembari terisak.
"Tidak papa, Nak. Ini bukan salah kamu, kok. Kamu tenang aja." Diana turut menenangkan Menantunya itu.
Mobil pun mulai bergerak meninggalkan lokasi kampus. Ayu di kursi belakang seorang diri, sedangkan Diana menemani Roby di depan yang sedang menyetir.
Tak banyak yang mereka bicarakan di dalam mobil. Semuanya kalut dengan pikiran masing-masing.
Ayu merasa sangat bersyukur, meskipun Brian terkesan jahat, setidaknya kedua orang tua Brian terlihat baik padanya.
Setelah sekian lama ia tak mengucapkan sebutan mama dan papa, tapi hari ini ia merasa seolah kebahagiaan hidupnya muncul kembali dengan menyebut dua orang di hadapannya kini dengan sebutan mama dan papa, meskipun mereka bukan orang tua kandungnya, tapi Ayu merasa bahagia bisa kembali mengucap kata itu.
__ADS_1