
Malam ini Ayu ditinggalkan seorang diri lagi. Bahkan Brian pergi tanpa mencicipi masakan yang sudah Ayu masak siang tadi.
Brian benar-benar jahat! Ia tak memikirkan perjuangan dan usaha Ayu menyiapkan makanan untuknya.
Ia pergi tanpa sepatah katapun. Membuat Ayu kian merasa sedih. Sangat susah sekali menjalani pernikahan terpaksa ini. Pernikahan ini memang terpaksa, tapi apakah tidak ada celah sedikitpun untuk Ayu di hati suaminya itu?
Malam-malam ia lalui seorang diri. Entah kedinginan, kepanasan, hujan badai, panas kemarau, semuanya dilalui seorang diri. Brian bahkan terkesan tak peduli padanya.
Ayu merasa bosan menjalani hari-harinya, mungkin dalam waktu dekat ia akan mencari aktifitas lain untuk mengisi hari-harinya. Bisa jadi bekerja lagi di caffe milik Dirga.
Namun, pertama-tama ia akan meminta ijin pada suaminya dulu karena statusnya bukanlah seorang gadis yang bisa pergi sebebasnya. Ia berstatus istri orang yang wajib bertanya pada suami saat mengambil keputusan.
Ayu pun meringkuk dalam selimut dan memeluk erat tubuhnya sendiri. Sudah lelah ia menangis akan takdir ini, sampai akhirnya ia hanya bisa tersenyum pasrah pada takdir hidupnya di hari esok.
Menangis pun tak ada artinya. Brian tak kunjung berubah. Mungkin Ayu akan membiasakan diri untuk hidup mandiri tetapi sekarang ia perlu Brian untuk membimbing dirinya. Tapi Brian tak pernah melakukan itu.
...*****...
Pagi ini Brian sudah datang seperti biasanya yang berbeda yaitu kali ini dia tak datang seorang diri, melainkan bersama kekasihnya, Caca.
Kini Brian semakin berani menyakiti hati Ayu secara langsung dengan membawa Caca ke rumah ini padahal sudah jelas statusnya sebagai suami sah Ayu. Sedangkan Caca? Siapa dia di rumah ini? Hanya tamu tak diundang!
Serasa mendidih darah Ayu melihat pemandangan yang menyesakan itu. Sakit sekali rasa hatinya.
"Sayang..." ucap Caca manja sembari mengulurkan tangannya minta diturunkan dari mobil.
Brian pun menyambut tangan Caca dengan sigap dan tersenyum senang meraih tangan kekasihnya itu tanpa merasa bersalah.
Pemandangan yang menyesakkan dada itu harus dirasakan Ayu pagi ini. Mendengar suara mobil Brian ia segera membuka pintu rumah. Sosok yang ia rindukan malah membuat hatinya teriris.
Biasanya Brian datang sendirian, Ayu merasa senang. Tapi hari ini sudah cukup menjelaskan betapa tak berharga lagi dirinya di mata Brian.
Ayu tak tau harus berkata apa lagi, ia sudah lelah dengan semua ini, ia lelah dicaci dan dimaki oleh Brian bila ia memberontak dan protes. Satu-satunya jalan yang harus ia tempuh agar tetap bertahan dengan suaminya adalah pasrah. Namun, dalam kepasrahannya tersimpan tekad yang begitu kuat untuk mendapatkan hati Brian sepenuhnya.
__ADS_1
Caca menatap sinis pada Ayu saat melewatinya di depan pintu. Dengan angkuhnya ia merangkul lengan Brian seolah hal itu tak salah. Brian pun dengan santainya berlaku seolah-olah Ayu tak ada nilainya lagi dengan menyakiti hati wanita baik seperti Ayu.
Ayu menatap datar keduanya. Air mata kini serasa menumpuk di pelupuk mata. Namun, ia berusaha menahan agar tak tumpah sekarang, ia tak mau terlihat lemah di depan pacar suaminya. Ia harus bisa membuktikan kalau dirinya adalah wanita kuat yang tak mudah dihancurkan.
"Ayu!" panggil Brian dari dapur sana.
Ayu pun segera menutup pintu dan masuk ke dapur.
"Ya?" jawab Ayu sembari mendekat.
Di meja makan, Caca sudah duduk menghadap Tudung saji.
"Lo cuma bikin satu aja sarapannya?"
"Iya. Aku hanya menyiapkan sarapan untuk kamu saja," sindir Ayu.
Caca menatap sinis pada Ayu mendengar sindiran barusan, lalu beralih memandang Brian bermaksud mengadu.
"Yaudah buat satu lagi untuk Caca!" perintah Brian seenak jidatnya.
Kini Ayu tak mau mengalah pada pacar suaminya itu. Apalagi ia datang ke sini meminta untuk dilayani, dasar tidak tau malu!
"Sayang... Liat wanita kampungan ini mengejekku!" rengek Ayu bak anak kecil yang mengadu pada ayahnya.
Jujur saja Ayu jijik mendengar suara yang sengaja dibuat-buat Caca barusan.
"Ayu! Lo jangan macam-macam sama pacar gue!" bentak Brian.
"Aku tidak berbuat macam-macam padanya! Aku cuma memintanya memasak sendiri, lagipula aku sedang sibuk!" bantah Ayu.
"O... Sekarang udah berani bantah gue ya Lo?! Sibuk apaan Lo, ha?!!"
Plak!!!
__ADS_1
Seketika memerah pipi kanan Ayu. Reflek tangannya memegang pipi kanan tersebut.
"Tega kamu, Bri!"
Caca terlihat gembira dengan adegan di hadapannya kini.
"Mau gue tambahin lagi?!"
Ayu hanya menggeleng tak percaya sembari menahan air matanya lalu berlalu pergi masuk ke kamarnya, sedangkan Brian menatap geram Ayu yang semakin berani membantah perkataannya.
"Sayang, kamu kok tampar dia?" tanya Caca pura-pura shock dan peduli pada Ayu.
"Biarin aja! Emang layak dapat tamparan dari tangan gue!"
Caca hanya diam. Dalam hatinya bersorak gembira karena pagi ini ia berhasil mengadu domba kedua manusia untuk bertengkar.
"Ternyata tak sulit menghancurkan perempuan iblis itu," batin Caca licik.
"Yaudah tenangkan diri kamu. Wanita seperti itu memang harus secepatnya dibuang jauh-jauh dari kehidupan kamu. Dia menghancurkan segalanya, dasar wanita iblis!!" ujar Caca menjelekkan Ayu padahal dirinyalah wanita iblis itu.
"Yaudah kita sarapan di restoran saja," kata Brian masih berusaha menenangkan dirinya.
"Setuju banget!" sahut Caca dengan gembiranya.
Jika diajak makan di restoran maka Caca adalah orang pertama yang paling girang. Saat bercerita pada Brian ataupun teman-temannya, Caca mengatakan tidak bisa makan di sembarangan tempat kecuali makanan di restoran. Entah benar atau tidak, teman-temannya hanya mengiyakan tanpa bertanya kebenarannya, mungkin mereka melihat penampilan Caca yang selalu fashionable jadi tak heran dengan perkataannya yang begitu melangit sampai ia lupa kalau dirinya sebenarnya adalah lapisan bebatuan di bumi.
Dalam hidup ini lebih baik terlihat bak lembah dalam lautan padahal sesungguhnya adalah gunung yang menjulang tinggi daripada berusaha menunjukkan bahwa dirimu adalah langit yang nyatanya hanya kerikil jalanan tak berarti. Sungguh tak ada gunanya!
Ayu yang awalnya semangat memulai harinya jadi hancur hatinya karena tamu tak diundang itu hadir tiba-tiba mengacaukan suasana rumah ini.
Meringkuk ia memeluk lututnya di balik pintu kamarnya saat mobil Brian terdengar menjauh dari rumah. Entah ke mana perginya, Brian seakan dayung yang hanyut meninggalkan kapal tanpa pengayuh. Ayu memang bisa hidup tetapi ia perlu Brian untuk membimbingnya.
Kesedihan demi kesedihan ia peroleh dalam hidupnya. Apakah hidupnya hanya berisi penderitaan? Ayu sampai berpikir demikian karena hidupnya yang tak kunjung berubah sejak kepergian orang tuanya.
__ADS_1
Dulu, satu-satunya kebahagiaan yang ia miliki adalah kedua orang tuanya. Namun, sejak kepergian mereka Ayu hilang segalanya dalam hidup ini.
Kehadiran Brian menjadi harap yang besar bagi Ayu mendapatkan kembali sebuah kebahagiaan. Namun, semuanya berbanding terbalik. Tak ada kebahagiaan yang datang dalam hidupnya, yang ada hanyalah cacian, hinaan, dan penderitaan yang tiada ujungnya.