Untaian Cinta Ayunda

Untaian Cinta Ayunda
Bab 14 | Kunjungan Mama Mertua


__ADS_3

Pagi ini Ayu sudah sibuk memasak di dapur. Ia bermaksud menyediakan makanan yang enak untuk mama mertuanya, karena ia sudah berjanji akan berkunjung hari ini ke rumah anak dan menantunya itu.


Tanpa berpamitan pada istrinya, Brian langsung berangkat kuliah, padahal Ayu sudah menyiapkan nasi goreng telur mata sapi kesukaannya.


Begitulah kata Bik Arum tempo hari sebelum kepindahan mereka ke sini. Saat itu Bik Arum dan Ayu bercerita banyak hal tentang Brian agar Ayu mengenal lebih jauh sosok yang telah resmi jadi suaminya itu.


Brian langsung melaju tanpa hambatan karena jalan tak terlalu ramai. Ia mengarahkan mobilnya menuju ruang Caca.


Kemarin mereka berjanji untuk berangkat kuliah sama-sama mulai hari ini sampai mereka selesai nanti.


Tak lama mengemudikan mobilnya, Brian sudah sampai di depan rumah Caca. Bermaksud memberitahu bahwa ia telah sampai, Brian pun membunyikan klakson mobilnya.


Tak lama Caca tiba dan sesekali melirik sepatu yang baru saja dibeli oleh Brian kemarin. "Selamat pagi, Sayang! Cocok nggak Aku pakai sepatu ini?" tanyanya serius.


"Wow! Cantik banget, Sayang!" kagum Brian.


Caca tertawa senang dan merasa puas dengan penampilannya.


Setelah naik, mobil pun kini mulai melaju menuju kampus.


"Aku sengaja pakai semua barang yang udah kamu beliin untuk Aku. Untuk nunjukin kalau aku tuh sayang banget sama kamu," ujar Caca.


"Makasih, Sayang," balas Brian sembari mengecup manis tangan Caca yang sedari tadi ia genggam dengan sebelah tangannya.


Terdengar suara hp Caca berbunyi. Caca pun membuka tasnya, dan mengambil hp tersebut.


"Siapa, yank?"


"Nggak tau nih, nomer baru," jawab Caca dengan wajah sedikit tegang sembari menolak panggilan tersebut lalu menonaktifkan hp-nya.


"Yaudah angkat aja, siapa tau penting," saran Brian.


"Biarin aja, lagipula orang asing," tolak Caca.


Tak lama kemudian, malah hp Brian yang berbunyi.


Brian pun memelankan laju mobilnya. "Mama," gumam Brian memperhatikan nomor mamanya sedang mengajukan panggilan suara.


"Iya, Ma. Kenapa?"


"Mama udah di jalan menuju rumah kamu nih, kalian nggak ke mana-mana, kan?"


"Bri udah berangkat kuliah, Ma. Lagipula mama kan tau kalau pagi Bri pasti kuliah."


"Oh iya, Mama lupa. Mama tunggu kamu di rumah aja deh, lagipula ada Ayu juga di sana. Dadah, Mama kira kamu masih di rumah."


Tanpa menunggu jawaban darinya, telpon langsung dimatikan Mamanya. Padahal ia dan Caca sudah berencana jalan-jalan setelah selesai kelas nanti.


"Siapa? Mama kamu, ya?" tebak Caca.


"Iya. Mamaku," jawab Brian sembari sedikit berpikir.


"O... Kenapa emangnya?" tanya Caca.


"Mama mau berkunjung ke rumah," jawab Brian gugup.


"Kan kamu kuliah, lagipula di rumah kan ada wanita iblis itu!" sindir Caca.


"Iya... Tapi Mama nungguin Aku nanti."


"Berarti nggak jadi jalan-jalan, nih?" tanya Caca dengan wajah sebal.


"Maaf ya, Ca. Kali ini kita tunda dulu deh. Kamu kan tau sendiri aku nggak bisa melawan orang tua aku sekarang," jelas Brian hati-hati, takut melukai perasaan Caca.


Caca hanya diam memasang wajah bete.


"Kali ini aja," mohon Brian.


"Ya?"


"Hm." Jawaban singkat dari Caca sudah cukup menjelaskan kekecewaannya kepada Brian.

__ADS_1


Sesampainya di kampus, Caca langsung meninggalkan Mobil Brian tanpa berkata apa-apa.


Brian berusaha mencegah, tapi Caca tak mau berlama-lama lagi. Ia segera menuju kelasnya hari ini.


Brian pun akhirnya membiarkan Caca berlalu. Ia tau Caca marah, tapi ia lebih takut kalau yang marah adalah Mama dan Papanya.


Brian pun langsung masuk ke kelasnya hari ini. Ia dan Caca kuliah di fakultas yang sama, hanya berbeda program studi.


Hari ini Brian pulang lebih awal karena hanya ada satu mata kuliah, pun hanya 3 SKS.


Selesai kelas, Brian pun langsung pulang karena Caca sudah mengirim pesan agar Brian tak menunggunya karena ia akan pulang lama.


Brian tau Caca berbohong. Hari ini jadwal kuliah Caca sama dengannya, hanya 1 mata kuliah 3 SKS. Tetapi karena ia sadar Caca sedang marah padanya, maka Brian tak mau memaksa, karena sudah ia coba tapi Caca mengatakan akan diantar oleh Tania temannya.


Setibanya di rumah, Diana dan Ayu sudah menunggu.


"Kok awal, Bri?" tanya Diana.


"Iya, Ma. Setiap hari Bri pulang cepat kok, kasian Ayu sendirian di rumah," dusta Brian pada Mamanya.


Diana tersenyum mendengarnya, sedangkan Ayu turut tersenyum kecut mendengarnya.


"Yaudah, yok kita makan. Tadi mama sudah nyobain masakan Ayu, enak banget! Nggak salah kamu nikahin Ayu, Bri. Udah cantik, baik, ramah, pinter masak pula!" puji Diana sembari melihat Ayu di sampingnya.


Brian pun hanya tersenyum. Dalam hatinya serasa ingin muntah mendengar ibunya mengatakan Ayu itu cantik.


Tidak pandai berdandan, pakaian kuno, polos, lugu, kampungan, apa yang bisa dibanggakan dari Ayu? pikir Brian.


Di sela makan siang, Diana pun tak henti berbicara. Padahal selama beberapa jam di rumah tadi ia sudah bercerita banyak bersama Ayu.


Belum sampai seminggu mereka berpisah, tapi bahan ceritaan Diana seolah setahun tak bertemu, tak ada habisnya. Ayu dan Brian hanya mengangguk.


"Brian gimana, yu? Baik kan dia sama kamu? Nggak pernah marahin kamu, kan?"


Brian langsung membulatkan matanya pada Ayu, memberi kode agar Ayu tak mengadu.


"Ba-baik kok, Ma," jawab Ayu gugup.


"Untung aja nih cewek ngerti kode dari gue, kalau sampai dia ngadu, gue pastiin dia bakal lebih menderita!" batin Brian.


Setelah selesai makan, mereka berkumpul di ruang tamu sembari menyaksikan siaran televisi.


"Bri, coba belikan hp untuk Ayu, supaya Mama bisa menghubungi dia kalau mama kangen," celetuk Diana.


"I-iya, Ma. Nanti Bri beliin."


"Mama tunggu, ya nomornya."


Brian menganggukkan kepalanya.


Sore harinya, Diana meminta diantar pulang oleh Brian.


"Ajak Ayu sekalian, biar bisa refreshing," pinta Diana.


Brian sudah berencana setelah mengantar Mamanya akan menjemput Caca di rumah. Bila gadis kampungan itu ikut pasti semuanya akan kacau.


"Ayu di rumah saja, Ma. Lagipula Ayu akan memasak makan malam untuk kami," tolak Brian.


"Ya kan, Yu?" kode Brian.


Ayu hanya mengiyakan. Padahal sebenarnya ia sangat ingin jalan-jalan sore. Tapi karena Brian sudah mengatakan itu, ia pun tak mau membantah.


Setelah mertuanya pulang. Ayu langsung mandi dan bersiap untuk masak makan malam.


"Kamu nggak singgah dulu, Bri?" tanya Diana ketika mereka sampai.


"Nggak, Ma. Bri buru-buru balik, kasian Ayu ditinggal kalau lama-lama."


"Kan Mama udah bilang ajak aja Ayu seklain jalan-jalan."


"Lain kali aja ya, Ma."

__ADS_1


"Yaudah kamu hati-hati."


"Iya, Ma."


Mobil Brian pun bergerak meninggalkan rumah orang tuanya. Bukannya segera pulang, Brian malah mengarahkan mobilnya ke rumah Caca.


Di depan sana, dari arah berlawanan sebuah mobil tak asing lagi di mata Brian sedang ugal-ugalan.


Brian tau itu mobil Kevin. Brian tak mau berlaku sama dengan Kevin.


Ketika mobil mereka berpapasan, Kevin sengaja menginjak pedal gas mobilnya.


"Sialan!!" rutuk Brian.


Sesampainya di depan rumah Caca, dilihatnya Caca sudah siap untuk ke luar rumah, seolah ia tahu kalau Brian akan datang.


"Yok jalan!" ujar Brian sembari menurunkan kaca mobilnya.


"Nggak mau!" tolak Caca sembari membuang muka.


Brian pun turun dan memaksa kekasihnya itu, "ayolah, Sayang..." rayu Brian.


"Kenapa nggak jalan sama cewek iblis itu?!"


"Ngapain aku jalan sama dia?! Ogah ah! Malu-maluin aja!"


Karena kelamaan merayu, akhirnya Caca menurut. Caca memang tipe cewe yang mudah dirayu, oleh karena itu Brian rela berjam-jam memaksa Caca, karena ia tahu ujungnya Caca akan melunak.


Tapi Brian harap Caca hanya berlaku demikian dengannya, bukan dengan cowok lain.


Di dalam mobil keduanya tertawa bercanda bersama. Sedangkan Ayu ditinggal sendiri hanya berteman sepi, padahal sudah hampir jam 7 malam.


Mereka jalan berduaan di pasar malam, lalu pindah ke taman kota.


"Orang tua kamu tau nggak kita masih pacaran?" tanya Caca.


"Aku nutupin ini, Ca. Mereka nggak tau kalau kita masih pacaran."


"Aku nggak mau kehilangan kamu, aku juga nggak mau nanti jadi yang kedua."


"Kamu tenang aja, Ca. Cewek kampungan itu nggak lama lagi aku ceraikan! Sekarang biarlah aku jadikan dia pembantu!"


Caca tersenyum puas.


Sementara di rumah, Ayu hanya seorang diri. Malam kian larut, gerimis mulai turun membasahi bumi, tapi Brian tak kunjung pulang.


Ayu merasa takut karena listrik juga mati.


Berbekal sebuah lilin, Ayu membaringkan tubuhnya ke atas kasur dan menatap lilin tersebut. Sesekali menetes air matanya, karena merindukan orang tuanya.


"Ayah, Ibu... Ayu kangen kalian. Kenapa kalian tinggalin Ayu sendiri?" gumamnya lirih.


"Ayu takut sendiri, Ayu takut gelap!"


Tiba-tiba saja listrik menyala. Ayu pun beranjak kaget seolah Ayah dan ibunya mendengar keluh ketakutannya.


Ia hendak ke luar rumah melihat langit malam. Namun sekilas matanya menangkap sosok gadis kecil berdiri di dekat pintu, lalu menghilang.


Ayu mengusap matanya berulang kali, takut salah lihat, tetapi gadis itu tak ada lagi di sana.


Seketika bulu kuduknya merinding. Dengan cepat Ayu menarik selimut dan menutup hingga ke seluruh tubuhnya.


Brian yang baru saja masuk ke rumah merasa jengkel karena televisi dinyalakan sedang yang menonton tidak ada. Ia bermaksud memarahi Ayu namun urung melihat Ayu membukus tubuhnya dengan selimut.


Brian pun menarik selimut itu dengan paksa.


"Jangan ganggu saya, saya takut!" teriak Ayu.


"Woy! Siapa yang mau gangguin Lo! Noh TV dimatiin!" teriak Brian.


Ayu pun tersadar setelah mendengar suara khas Brian memarahinya.

__ADS_1


Ayu pun dapat bernafas lega setelah kedatangan Brian. Meskipun tidak sekamar, setidaknya ia punya teman di rumah.


__ADS_2