Untaian Cinta Ayunda

Untaian Cinta Ayunda
Bab 05 | Hilang


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Bi Arum sudah berkutat dengan bahan masakan di dapur. Mempersiapkan sarapan untuk semua majikannya. Kopi untuk Roby, roti bakar dan salad buah untuk Diana, serta nasi goreng telur mata sapi untuk tuan muda yaitu Brian. Brian sangat suka nasi goreng telur mata sapi buatan Bi Arum.


Sejenak Bi Arum tercenung. "Kasian Non Ayu. Saya benar-benar tidak menyangka kalau Den Bri punya perilaku seperti itu." Bi Arum menggelengkan kepalanya karena tak percaya dengan apa yang ia lihat semalam.


Flashback On.


Saat rumah sudah sepi karena penghuninya sudah terlelap, Bi Arum teringat kalau ia tadi memasak air panas, ia khawatir lupa mematikan kompor tadi.


Ia lantas berlarian kecil keluar dari kamarnya menuju ke dapur untuk memastikan kecemasannya.


Ia menarik napas lega karena ia tak lalai. Kalau terjadi apa-apa tentu Diana akan marah. Meskipun Bi Arum sudah dipercaya keluarga ini, tapi ia tetap tak boleh melunjak dan bersikap ceroboh.


Setelah itu ia hendak kembali ke kamarnya, namun urung karena samar-samar ia mendengar suara rintihan kesakitan. Ia berusaha mencari sumber suara itu.


"Cepatan!!" ujar Brian sembari menarik dengan kasar tangan Ayu menuju ke luar rumah, tepatnya ke halaman depan.


Sesekali mata Brian mencoba mengawasi untuk memastikan tidak ada yang melihat perbuatannya pada Ayu.


Bi Arum lantas bersembunyi di balik lemari buku ruang tamu. Betapa terkejutnya ia saat melihat tuan mudanya, Brian menarik dengan paksa tangan gadis yang baru saja tiba di rumah majikannya itu sore tadi.


"Tanganku Sakit," rengek Ayu karena Brian mencekam tangannya dengan sangat keras.


"Lo Jagan coba-coba teriak, atau Lo gue pukulin!" ancam Brian.


Bi Arum menggelengkan kepalanya, ia tak percaya tuan mudanya yang ia kenal baik itu tega berbuat demikian, meskipun ia tau kalau Brian sedikit keras kepala.


Dari kejauhan ia melihat kejadian itu dengan sangat jelas. Brian tega mengusir Ayu dari rumahnya. Sebetulnya ia merasa kasian pada gadis bernama Ayu itu, tetapi ia tak bisa berbuat banyak karena ia hanyalah seorang pembantu di rumah ini.


Sesampai di luar pagar pembatas rumahnya dan jalan raya, Brian menghempaskan lengan Ayu dan melempar tas pakaian di dekat yang punya.


"Lo tau kan apa maksud gue bawa Lo keluar dari rumah gue?!"


Ayu hanya menunduk sedih.


"Sekarang juga Lo pergi dari rumah gue, dan jangan kembali lagi! Lo bakal nyusahin keluarga gue kalau Lo masih di sini! Mending Lo jual diri biar Lo ada penghasilan dan nggak ngerepotin orang lain!"


Deg!


Ayu menatap tak percaya dengan kata-kata Brian barusan, seketika cairan bening meluncur bebas dari matanya.


"Ingat, jangan kembali lagi!!" ujar Brian sembari menutup gerbang rumahnya.


Bi Arum masih memandangi dari jauh tuan mudanya dan Ayu dari balik jendela rumah. Ia berencana menolong tetapi ia takut kalau tuan mudanya marah, apalagi Brian terkesan keras kepala, sangat sulit untuk dibantah.


Bi Arum hanya berpasrah, ia berdoa agar gadis itu tidak kenapa-napa dan bisa dipertemukan dengan orang yang baik.


Flashback Off.


"Non, silahkan. Salad buahnya sudah saya siapkan," ujar Bi Arum sembari menyajikan salad buah buatannya ke meja makan.


"Makasih Bi Arum," tutur Diana sembari tersenyum.


"Sama-sama, Non."


Bi Arum juga menyiapkan secangkir kopi dan sepiring nasi goreng telur mata sapi untuk Roby dan Brian.

__ADS_1


Tak lama setelahnya, Roby menyusul ke ruang makan dengan seragam kantornya, begitu juga dengan Brian yang pagi ini terlihat sangat fresh.


"Kamu belum masuk kuliah, Bri?" tanya Roby.


"Belum, Pa. Dikasi waktu 3 hari untuk libur, lumayan capek habis KKN kemarin," jawab Brian.


"Oh gitu," ujar Roby sembari mengoleskan selai ke roti panggang.


"Dikasi waktu istirahat Pa sama kampus. Mungkin mereka kasian sama anak-anak karena sebulan ini KKN ke desa terpencil," timpal Diana.


"Iya, Ma," kata Roby.


"Ngomong-ngomong kemana Ayu? Kok belum kelihatan?" tanya Roby sembari melirik ke arah Brian.


"Ga tau!" ujar Brian tak mau tau sembari menaikkan kedua bahunya tanda ia tak peduli.


"Bi, tolong bangunkan Ayu di kamarnya!" perintah Diana.


"Baik, Non." Bi Arum segera naik ke lantai atas, meskipun ia tau Ayu tak ada di sana.


"Udah Bri bilang, Mah, Pah. Kayaknya tuh cewek ga baik! Pemalas! buktinya udah jam segini dia belum bangun, baru aja sehari di rumah kita udah ngerepotin kayak gini!" sindir Brian.


"Mungkin dia kecapean karena perjalanan kemarin," sahut Diana.


"Ah Mama! dibela aja terus tuh cewek kampungan!"


"Bri jaga mulut kamu! Judes banget jadi anak!" potong Roby sembari melototkan matanya pada Brian.


"Udah ah, Bri mau ke kamar aja, jadi malas!" Brian meletakkan sendok ke atas piring dengan keras sehingga menimbulkan bunyi nyaring yang memancing emosi Roby pagi-pagi begini.


Brian hanya fokus pada egonya. Suara lantang sang papa tak digubrisnya sama sekali.


"Itu Anak semakin besar bukannya tambah dewasa malah kayak anak-anak terus sifatnya!"


"Udah, Pa. Jangan dipikirkan," ujar Diana menasihati sembari menenangkan suaminya.


Tak lama setelah itu, Bi Arum tiba di ruang makan dengan raut panik.


"Anu-Anu Non, Non Ayu tidak ada di kamarnya! Non Ayu hilang!"


"Apaa?!Hilang?! Kemana perginya?!" Diana dengan segala kecemasannya segera naik ke lantai atas untuk memastikan ucapan Bi Arum, diikuti Roby dan Bi Arum di belakang mereka.


"Kemana dia pergi? Apa kita bersikap tidak baik padanya?" tanya Diana sembari termenung setelah melihat kamar itu kosong seperti sediakala.


"A-anu, Non. Semalam..." ucap Bi Arum terpotong. Raut wajahnya menggambarkan ketakutan untuk berbicara.


"Semalam apa, Bi?!" desak Diana. Begitu juga dengan Roby yang meminta penjelasan Bi Arum.


"Semalam saya melihat Den Bri menarik tangan Non Ayu sambil membawa tas milik non Ayu, maafkan saya karena tidak memberi tahu kalian." Bi Arum menunduk dengan raut wajah merasa bersalah.


"Kenapa nggak bilang dari semalam, Bi?"tegas Diana kesal.


"Saya takut Den Bri marah pada saya makanya saya tidak bilang, Non. Maafkan saya."


"Lagi-lagi Brian!! Itu anak apa sih maunya? Bukannya tanggung jawab malah nambah dosa!" Murka Roby sembari keluar dari kamar tamu itu menuju ke kamar Brian.

__ADS_1


DOR!! DOR!!


"BRIAN BUKA!! BUKA PINTUNYA CEPAT!!" teriak Roby tak sabaran.


Brian yang sedang memainkan ponselnya merasa terganggu dengan suara sang Papa.


"Apalagi sih? Ganggu aja!" gumam Brian. Dirinya sedang asyik berbalas pesan dengan pacarnya. Mereka berjanji ketemuan melepas rindu sore ini di sebuah caffe.


Tak ada gerakan sama sekali dari pintu itu untuk terbuka. Hal itu kembali membuat Roby naik pitam.


"BRIAN!!!!"


Mendengar suara papanya yang semakin menggelegar, Brian akhirnya membuka pintu kamar.


Di sana sudah berdiri Papanya dengan raut wajah tajam dan emosinya yang sedng melambung. Ada juga Diana dengan raut wajah kecewa, serta Bi Arum yang tertunduk takut.


Plak!! Plak!!


"Pa jangan!" teriak Diana sembari menarik tangan suaminya dengan cepat. Begitu juga Bi Arum yang dengan sigap mencoba membuat pembatas di antara ayah dan anak itu.


"Tampar lagi Pa! Tampar lagi!" tantang Brian sambil menahan sakit di kedua pipinya. Tak terasa matanya berair karena kesakitan.


"Den Bri, jangan melawan Papa kamu, pamali!" nasihat Bi Arum.


Hampir 20 tahun lamanya ia mengabdi pada keluarga ini, baru kali ini ia melihat Roby semurka ini, sampai ia tak sadar telah menampar putranya sendiri.


"KEMANA KAMU BUANG AYU, HA?!! KENAPA KAMU USIR DIA?!! KAMU MAU MENCOBA MELEPAS TANGGUNG JAWAB KAMU SEBAGAI SUAMINYA?!!" ujar Roby dengan suara yang masih tinggi.


"BRI UDAH BILANG PA, BRI NGGGAK MAU MENIKAH DENGAN GADIS ITU! BRI NGGAK MAU NIKAH DULU!"


"PAPA NGGAK MAU TAU, POKOKNYA KALIAN HARUS MENIKAH SECARA SAH SECEPATNYA. BAIK SECARA AGAMA MAUPUN NEGARA!" paksa Roby.


"Satu lagi, papa nggak mau tau, cari Ayu sampai ketemu! Jangan coba-coba untuk menghindar! Dengar itu!!"


Setelah mengucapkan hal itu, Roby pun segera meninggalkan rumah untuk meminta bawahnya mencari keberadaan Ayu.


"Brian nggak mau nikah Ma, Bri masih ingin bebas," rengek Brian di dalam pelukan sang Mama.


Diana pun mengelus kepala putranya itu. Sejujurnya ia pun tak ingin putra mereka menikah di usia yang sangat belia itu. Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi.


"Maafkan Mama, Nak. Sebagai lelaki, kamu tidak boleh menghindar. Kamu harus tanggung jawab," nasihat Diana.


"Tapi Bri benaran nggak ngelakuin apa-apa, Ma. Mama boleh tanya cewek itu langsung."


"Seperti apapun kamu menyangkal, yang orang-orang tau kamu sudah menikah. Jadi kamu harus terima. Mama liat Ayu anak yang baik, dia sopan, dia anak yatim piatu, sudah sepatutnya kita sebagai keluarga barunya memberikan kebahagiaan untuknya." Diana mencoba membuka pikiran Brian.


"Bri mau sendiri dulu, Ma." Brian mengusir Mama dan Bi Arum dengan halus.


Brian merasa kesal lantaran tak ada yang mau berpihak padanya. Semua orang membela gadis itu.


Diana dan Bi Arum pun pergi meninggalkan Brian seorang diri di kamarnya.


Sebaik apa gadis itu di mata orang tuanya sampai mereka tega memarahi dan menjatuhkan tangan untuk putra mereka sendiri? Brian tak habis pikir, padahal mereka semua belum kenal seutuhnya gadis itu.


"Baiklah. Aku akan menikah dengannya, biarlah sekarang aku yang mengalah. Tapi lihat saja nanti! Kamu akan kubuat menderita telah menikah denganku!" gumam Brian penuh tekad.

__ADS_1


__ADS_2