Untaian Cinta Ayunda

Untaian Cinta Ayunda
Bab 12 | 15 ribu dan 3 juta rupiah


__ADS_3

Pagi ini Ayu nampak sangat kebingungan. Bahan masakan di kulkas sudah habis dimasak semalam, ia jadi tak tahu harus memasak sarapan apa untuk Brian. Roti dan selai seperti di rumah mertuanya pun tak ada di meja makan.


Inilah susahnya hidup di kota, segala sesuatunya harus membeli. Kalau di kampung Ayu biasanya akan mencari kangkung di sawah dan mengambil daun singkong di kebun untuk keperluan makan sehari-hari tanpa harus membeli di warung.


Tapi di sini, yang kelihatan hanyalah gedung-gedung pencakar langit dan deretan pedagang kaki lima yang hampir memenuhi trotoar. Di tambah lagi bisingnya kendaraan yang lalu lalang setiap hari membuat orang yang tak biasa hidup di kota merasa sangat terganggu.


Tidak ada area persawahan ataupun perkebunan. Jikalau pun ada hanya ada di pinggiran kota yang jaraknya cukup jauh dari sini.


Ayu menghela napasnya karena tak tau harus berbuat apa. Sampai akhirnya perhatiannya teralihkan pada Brian.


Brian nampak tergesa-gesa keluar dari kamarnya. Ia menggendong tas ranselnya dan menenteng sepasang sneakers untuknya kuliah.


"Bri, kamu mau ke mana?" tanya Ayu memperhatikan Brian yang nampak rapi dengan setelan kemeja dan celana jeans hitam.


"Kuliah!" jawab Brian acuh sembari mulai memasang kaos kakinya.


"Kamu nggak sarapan dulu?" tanya Ayu lagi.


"Nggak! Gue buru-buru!"


Ayu hanya mengangguk memperhatikan Brian yang fokus memasang sepatu. Aroma parfum Brian membuat Ayu tersenyum, karena ia suka aroma parfum itu sejak pertama menciumnya.


Dengan wajah sedikit tertunduk kini ayu memberanikan diri untuk meminta sesuatu pada Brian.


"Bri, apa aku boleh minta uang sama kamu?"


"Untuk apa?!" tanya Brian dengan nada sedikit membentak.


"Untuk membeli bahan masakan makan siang nanti. Cuma 15 ribu aja kok," jawab Ayu penuh harap.


"Gue nggak ada uang!" cetus Brian sembari bangkit dari duduknya dan meninggalkan rumah menuju parkiran mobilnya.


"Oh iya, Lo nggak perlu siapin makan siang buat gue, gue nggak makan siang!" ujar Brian dari dalam mobilnya pada Ayu yang sedang memantaunya dari depan pintu.


Setelah itu, Brian pun menjalankan mobilnya dan meninggalkan Ayu seorang diri di rumah tanpa meninggalkan sepeser pun uang yang Ayu minta.


Sepeninggalan Brian, Ayu hanya bisa meratapi kepergiannya. Ia tak mau memaksa apalagi membuat Brian harus membentaknya lagi pagi ini.


Ditutupnya pintu rumah dan kembali lagi ke kamarnya. Di kamar ia tambah bingung karena tidak tau harus melakukan apa di rumah baru ini. Dilihatnya sekeliling kamarnya sudah bersih dan rapi karena baru saja dibersihkan kemarin, begitu juga dengan kamar Brian, ruang tamu, dan dapur, semuanya sudah bersih.


Hanya ada satu ruangan yang belum dijamah tangannya kemarin, yaitu gudang.


Ayu keluar kamarnya dan berfikir untuk merapikan gudang tersebut.


Ceklek!


Tak dikunci sama sekali gudang tersebut.


Ayu langsung disambut debu yang beterbangan di depannya.


Reflek ia menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangan.


Gudang ini sangat berantakan. Kotak mie instan seperti kata Brian kemarin bertumpuk di mana-mana. Mainan berupa robot-robotan dan Boneka Barbie juga bertebaran, saking banyaknya mainan tersebut sampai keluar dari kotak wadahnya.

__ADS_1


Ayu mengambil sapu dan mulai membersihkan gudang tersebut. Kotak-kotak mie instan ia kumpulkan jadi satu, mainan yang berantakan ia kumpulkan dan masukkan kembali ke dalam kotak sehingga ruangan ini kini jadi bersih dan rapi.


Setelah selesai, kini Ayu terduduk di atas sebuah kursi yang memang di simpan di gudang ini. Dibuka nya laci meja di hadapannya kini, barangkali masih ada sampah di dalam laci meja tersebut.


Tangan Ayu tak menemukan sampah di laci tersebut, yang nampak oleh matanya hanya sebuah foto lengkap dengan Framenya.


Di usapnya foto tersebut yang tertutup debu, lalu ditiupnya untuk memastikan foto tersebut benar-benar sudah bersih dari debu.


Nampak dalam foto tersebut sepasang suami istri dengan dua anaknya, begitulah yang Ayu kira. Tapi kedua orang tua dari anak-anak tersebut tak asing di mata Ayu, seperti sudah ia kenali sebelumnya.


Dibolak-balik olehnya foto tersebut. Di belakangnya terdapat tulisan.


"Papa, Mama, Aku, dan Adik Brian."


Itulah yang dapat Ayu baca dari tulisan yang belum terlalu bagus tersebut, namun masih bisa dibaca olehnya.


Ayu memandangi dengan seksama foto tersebut. Tak salah lagi dugaannya. Kedua orang tua anak-anak tersebut adalah mertuanya, Papa Roby dan Mama Diana.


Di sana juga ada foto Brian yang masih kecil, nampak lucu karena giginya yang ompong, tapi tetap terlihat tampan.


Namun, gambar gadis kecil itu siapa? Kenapa dia ada di foto ini sedangkan ia sendiri tak pernah melihat gadis itu di keluarga suaminya. Apa ia sedang kuliah di luar negeri? Atau ikut suaminya? Tapi tak mungkin saat pesta pernikahan mereka kemarin gadis itu tak datang. Keberadaan gadis itu memunculkan pertanyaan bagi Ayu.


Ayu lantas membawanya ke kamarnya dan bermaksud menanyakannya pada Brian nanti.


Hari sudah siang. Perutnya terasa keroncongan, tetapi ia tak punya uang sepeser pun untuk membeli makanan ataupun bahan masakan.


Di rumah ini hanya ada nasi. Bahkan sebotol kecap pun tak ada untuk membuat nasi goreng.


Tanpa pikir panjang, Ayu langsung membuat nasi goreng tersebut, karena perutnya semakin lapar.


Ayu tak lagi berpikir untuk memasak makan siang untuk Brian karena Brian sudah mengatakan tidak makan siang, lagipula ia tak yakin Brian mau memakan nasi goreng tanpa kecap tersebut.


*****


Di kampus, Brian berjalan setengah berlari menyusul Caca yang berjalan bersama teman-temannya.


"Caca!"


Caca pun menoleh mendengar namanya dipanggil. Begitu juga dengan teman-temannya.


"Brian tuh, Ca!" ujar Tania.


"Malas gue!" keluh Caca sembari memutar malas bola matanya.


"Ca, gue mau ngomong sama Lo!" ujar Brian sembari mendekat pada Caca dan teman-temannya.


"Nggak perlu ngomong apa-apa lagi!" ketus Caca.


"Ca, kayaknya kalian bakalan bahas sesuatu penting deh, kita duluan ya!" pinta Tania.


"Nggak penting kok! Paling cuma minta maaf," ujar Caca malas.


"Benar, Ca. Aku mau ngomong sesuatu yang penting," ujar Brian memohon.

__ADS_1


"Kita duluan ya!" ujar Tania dan yang lainnya, meninggalkan Caca bersama Brian.


"Lo mau ngomong apa lagi?! Mau membela diri?! Cukup semuanya! Ternyata benar isu-isu waktu itu! Gue nggak nyangka Lo tega sama gue!" cecar Caca.


"Ca dengerin gue dulu," pinta Brian.


"Udahlah, Bri! Kita udah selesai, jadi jangan ganggu gue lagi!" ujar Caca sembari membalikkan badannya, hendak pergi dari Brian, tapi Brian dengan cepat meraih tangannya.


"Kita duduk dulu, aku jelasin semuanya."


Dengan wajah terpaksa, Caca menuruti permintaan Brian. Namun, ia tak mau melihat wajah Brian, ia sangat benci pada Brian karena sudah berbohong tempo hari.


"Gue nikahin gadis itu karena terpaksa, Ca. Isu waktu itu memang benar, Ca. Maafin gue karena nggak terus terang sama Lo waktu itu, gue kira masalahnya bakalan hilang gitu aja. Pas sampai di telinga orang tua gue, kita disuruh nikah. Jujur gue ga ada rasa sama sekali sama cewek itu, gue benaran terpaksa nikahin gadis itu. Gue berusaha nutupin dari Lo biar Lo nggak sakit hati, karena gue cinta banget sama Lo, gue nggak mau kehilangan Lo," jelas Brian.


"Lo kira dengan Lo bohong gitu gue nggak sakit hati?! Gue tetap sakit hati, Bri! Gue nggak tau di mana otak cerdas Lo!"


"Ca, gue lakuin ini semua biar Papa gue nggak nyerahin perusahaan ke orang lain! Gue khawatir kalau gue membantah Papa gue bakalan marah, makanya gue turutin kemauan mereka."


Caca hanya diam tanpa suara dan tak melihat ke arahnya sama sekali.


"Ca, please percaya sama gue. Gue cinta sama Lo, gue sayang sama Lo, kita nggak akan putus, Lo ingat kan janji kita berdua buat hidup sama-sama?"


"Nggak bisa! Gue mau kita tetap putus!"


"Ca! Hayolah! Gue nggak mau kehilangan Lo. Gue bakalan lakuin apapun buat Lo, gue bakal beliin apapun yang Lo mau, tapi please maafin gue," mohon Brian.


Mendengar Brian mau membelikan apapun untuknya, Caca pun melenyapkan egonya seketika.


"Yaudah gue maafin. Kita masih pacaran."


"Yang benar?!" tanya Brian gembira.


Caca mengangguk.


"Makasih, Sayang!" ujar Brian dengan senangnya sembari menciumi tangan Caca.


"Yaudah kamu mau dibeliin apa?" tanya Brian antusias.


"Sebenarnya nggak perlu sih, gue cuma nggak mau bohong sama hati gue sendiri kalau gue masih sayang sama Lo. Tapi berhubung Lo udah nawarin, gue cuma minta dibeliin sneakers buat kuliah."


"Asiapp. Lo mau yang kayak gimana?" tanya Brian sembari menunjukkan kumpulan sneakers wanita yang ia cari melalui aplikasi berbelanja online.


"Aku mau yang ini," ujar Caca sembari menunjuk sneakers keluaran terbaru dari brand terkenal.


"Harganya cuma satu juta lima ratus ribu di mall dekat sini, gampang lah. Lo mau berapa pasang?" tanya Brian.


"Gue mau dua pasang deh, biar bisa gantian makenya," jawab Caca.


"Yaudah, gimana kalau kita langsung ke tokonya aja sekalian makan siang," tawar Brian.


Caca pun setuju dengan tawaran Brian.


Mereka berangkat ke mall untuk membeli sneaker baru untuk Caca seharga tiga juta rupiah dan makan siang bersama di restoran mall tersebut.

__ADS_1


__ADS_2