
Pagi ini Ayu sudah bersiap karena Dirga sudah berjanji menjemput dirinya untuk dibawa ke caffe tempat dirinya akan bekerja nantinya.
Ia baru saja selesai menikmati sarapan yang diantarkan oleh pelayan di penginapan itu. Ayu awalnya menolak makanan tersebut karena ia tak punya uang untuk membayarnya, akan tetapi pelayanan tersebut mengatakan kalau makanan tersebut memang sudah dipesankan untuk dirinya dan sudah dibayarkan oleh Dirga semalam. Mendengar hal itu, Ayu tak lagi ragu untuk menikmati sarapan tersebut.
Meskipun ia merasa sedikit tak enak badan, tapi ia semangat memulai hari ini karena ini adalah hari pertamanya memulai sesuatu yang baru baginya, yaitu bekerja sebagai pelayan. Bukan pekerjaan yang paling berkelas memang, tapi bagi Ayu yang berasal dari desa, mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan saja sudah sangat disyukurinya.
Tok Tok!
Ayu pun membuka pintu kamarnya. Ia tahu itu pasti Dirga. Dugaannya benar, Dirga datang dengan pakaian casualnya.
"Mas Dirga," sapa Ayu sembari melihat sekilas dan kembali menunduk.
Dirga tersenyum melihat gadis itu, sangat manis, kata Dirga dalam hatinya.
"Yu, kamu kok pucat? Kamu sakit?"
"Ah, nggak kok. Saya baik-baik saja, Mas Dirga."
"Ya sudah, bawa semua pakaian kamu. Mulai nanti malam kamu akan tinggal di sebuah kostan di dekat caffeku." Dirga memberi tahu Ayu kalau dirinya sudah mencarikan sebuah kostan yang dekat dengan caffenya, agar Ayu lebih mudah datang ke tempat bekerja.
"Mas Dirga nggak usah repot-repot sampai segitunya, saya nggak tau mesti gimana cara membalasnya nanti."
"Kalau saya tidak Carikan kamu tempat tinggal, lantas kamu mau tinggal di mana? Kolong jembatan?" canda Dirga.
Ayu terkekeh, "makasih Mas Dirga."
"Hm, ayo kita berangkat!"
Mereka pun berangkat menuju caffe milik Dirga.
"Yu, saya boleh minta nomor Handphone-mu?" tanya Dirga hati-hati.
"Saya tidak punya handphone, Mas," jawab Ayu.
"Lho? Serius?!" tanya Dirga tak percaya.
"Terus kamu datang ke sini cuma modal nekat sama pakaian saja? Gimana kamu menghubungi keluarga kamu?"
Dirga cukup heran dengan Ayu, semalam ia mendengar ayu tak punya uang, sekarang tak punya handphone, apa ayu kecopetan?
"Kamu kecopetan?" tanya Dirga lagi.
__ADS_1
"Nggak, Mas. Saya memang tak punya uang dan tak punya handphone ketika berangkat ke sini."
"Terus?" kata Dirga, meminta kelanjutan ucapan Ayu.
"Panjang ceritanya kenapa saya ada di sini, saya rasa untuk sekarang saya tidak bisa menceritakannya pada Mas Dirga," jelas Ayu.
Meskipun Dirga penasaran akan cerita itu ia berusaha membuat Ayu nyaman di dekatnya, agar Ayu tak takut padanya, apalagi Ayu gadis desa yang masih terlihat polos dan lugu.
"Ya sudah. Maafkan saya, saya hanya khawatir, nanti keluarga kamu mencari-cari keberadaan kamu."
"Saya sudah tak punya siapa-siapa lagi, Mas, orang tua saya sudah meninggal, sedangkan saudara saya tidak punya," ucap Ayu.
"Kalau kamu tidak keberatan, bolehkah saya tau cerita hidup kamu, sampai akhirnya kamu ada di sini?" Mohon Dirga.
"Boleh, Mas. Tapi nanti, sampai saya siap lagi menceritakan semuanya, sekarang saya sedang tak ingin mengingat semuanya, saya ingin membebaskan pikiran saya dari cerita itu. Maafkan saya Mas, suatu saat ketika saya siap akan saya ceritakan semuanya. Saya juga mau berterima kasih karena Mas Dirga mau menolong saya, kalau tidak ada Mas Dirga, mungkin saya tidak tau bagaimana nasib saya semalam," jelas Ayu haru.
"Tidak perlu berterima kasih, Yu. Mungkin sudah takdir mempertemukan kita karena suatu tujuan," jawab Dirga.
"Maksud Mas Dirga?" tanya Ayu tak paham.
"Lupakan Saja!" ujar Dirga salah tingkah.
"Baiklah," balas Ayu sembari mengangguk.
Ayu diberikan pakaian kerja oleh pelayan lainnya. Karena pakaiannya yang masih sederhana.
Setelah diperkenalkan oleh Dirga, Ayu pun mulai bekerja. Meskipun masih perlu dibimbing tetapi Ayu sangat mudah memahami apa yang harus dikerjakannya.
Sore harinya, caffe sudah mulai ramai. Banyak anak muda yang sering menghabiskan waktu di caffe yang sangat menenangkan ini karena bernuansa Alam.
Sementara itu, Roby terus meminta bawahnya turut membantu mencari keberadaan Ayu. Berbekal sebuah foto yang didapatkannya dari Kevin, ia dan bawahannya mencari sampai ke sudut-sudut kota.
"Bagaimana Gun? Sudah ada tanda-tanda kalian menemukannya?!" ujar Roby pada bawahnya melalui sambungan telepon.
"Belum, Tuan." Terdengar jawaban dari Gugun di seberang sana.
"Saya tidak mau tahu, pokoknya gadis itu harus ditemukan malam ini juga!" tegas Roby.
"Baik, Tuan," jawab Gugun.
Setelah telpon dengan anak buahnya terputus, Roby kini beralih menelpon Brian, yang menjadi penyebab hilangnya gadis itu dari rumah.
__ADS_1
"Halo! Di mana kamu sekarang?!" ucap Roby dengan nada marah.
"Bri masih di jalan menuju ke desa, Pa. Tadi Bri sempat menanyakan pada warga sekitar yang membuka kedai 24 jam, katanya tidak ada yang melihat gadis berjalan melintasi jalan ini," jelas Brian.
"Ke mana anak itu?!" gumam Roby kebingungan.
Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan Ayu, lantaran sudah banyak yang mengetahui kalau Ayu adalah menantu mereka, meskipun belum sah secara agama dan negara, tetapi melalui peristiwa kemarin tak sedikit orang yang tau kalau putranya Brian menikahi gadis itu secara adat.
Kalau terjadi sesuatu pada Ayu sudah pasti reputasinya sebagai salah satu pengusaha sukses di kota ini akan hancur, sebab orang-orang akan menilai bahwa dirinya menjadi orang tua yang tidak bertanggung jawab, Roby tentu tak ingin hal itu terjadi.
"Papa nggak mau tahu, pokoknya kamu harus bisa menemukan Ayu, klau tidak kamu tau sendiri konsekuensinya!" ancam Roby.
"Ba-baik, Pa." Karena tak ingin lagi melawan, akhirnya Brian pasrah mengikuti keinginan orang tuanya.
Setelah telpon ditutup, Brian menumpahkan kekesalannya pada kemudi mobil.
"Brengsek!!! Bisa-bisanya mereka cemas pada gadis lugu itu. Apa mereka nggak tau kalau Caca lebih cantik dan lebih baik daripada gadis kampung itu!"
Tak lama setelah ia mengamuk seorang diri dalam mobil, handphone-nya kembali berbunyi, kali ini dari pacarnya, yaitu Caca.
Caca tidak mengetahui semua permasalahan ini. Ia hanya mendengar isu-isu tersebut sedang dibahas oleh teman-temannya, ia tak percaya itu karena ia yakin Brian tak sampai hati mengkhianati dirinya seperti itu.
Semalam mereka berjanji untuk bertemu melepas rindu sekalian untuk meminta klarifikasi dari Brian sendiri.
"Ya, halo, Sayang!"
"Sayang, kamu di mana? Aku udah nunggu di caffe nih," ujar Caca dengan suara manja.
Brian memukul jidatnya perlahan sambil meracau kecil, "Haduhhh!!"
"Kenapa Sayang? Kamu di mana, aku udah nunggu nih, kalau kamu nggak bisa datang mending aku pulang saja!" ancam Caca.
"Kalau kita Cancel bisa nggak? Soalnya aku ada urusan mendadak nih, maaf ya karena nggak ngabarin, ini benar-benar mendadak banget," mohon Brian pada pacarnya.
"Terserah! Tapi ingat habis ini jangan hubungin aku lagi!" Caca merajuk terlihat dari tutur bicara dan nada suaranya.
"Sayang, jangan marah, besok aku janji deh kita ketemu seharian full," bujuk Brian.
"Nggak mau!! AKU MAU KITA PUTUS!!!" murka Caca.
"Loh, kok gitu sih, Yank? Yaudah deh aku ke sana Sekarang. Kamu tunggu aku ya!"
__ADS_1
"Terserah!" ketus Caca.
Brian pun segera memacu mobilnya menuju caffe tempat mereka berjanji untuk bertemu, tepatnya di Dirga's caffe.