Untaian Cinta Ayunda

Untaian Cinta Ayunda
Bab 03 | Hilang Arah


__ADS_3

"Dari mana saja kamu, udah 2 jam Papa sama Mama nungguin kamu!" bentak Roby pada Brian.


Brian yang baru saja masuk ke rumah menatap malas kedua orang tuanya, apalagi ada gadis lugu itu di dekat orang tuanya.


"Ck! Dia lagi dia lagi!" gumam Brian lalu hendak naik ke lantai atas namun terhenti dengan teriakan sang papa.


"BRIAN!!"


"Apa lagi sih, Pa?! Bri Capek, mau istirahat!" ujar Brian malas.


"Sini duduk!" pinta Roby.


"Ck!" Brian memasang wajah tak suka, apalagi raganya sangat letih. Melihat wajah lugu Ayu turut memperburuk suasana hatinya.


Setelah Brian duduk, Roby dan Diana pun mulai mengintrogasi putra mereka tersebut.


"Udah Bri bilang Ma, Pa, dia ini bukan siapa-siapa, lagipula kejadian itu cuma kesalahpahaman aja kok, Bri nggak suka cewek model beginian, Bri serius Mah, Pah," jelas Brian kala kedua orang tuanya kembali menanyakan apa yang sebenarnya terjadi malam itu.


"Lagipula Bri mau fokus kuliah, Bri nggak mau nikah dulu, apalagi sama gadis dusun yang hanya bisa menyusahkan ini!" Brian menatap jengkel pada Ayu.


Baik Roby maupun Diana sama-sama memasang wajah penuh curiga, sedangkan Ayu sedari tadi tertunduk diam di tengah keluarga ini.


"Kalian nggak percaya sama Bri?" tanya Brian melihat kedua orang tuanya menatap penuh curiga.


"Bukannya nggak percaya, mamah rasa kalian memang cocok kalau dinikahkan, benar nggak, Pa?" tanya Diana pada suaminya.


Roby mengangguk sembari tersenyum.


"Udah Ah, Bri malas kalau membahas pernikahan, apalagi dengan gadis tidak tau malu ini! Udah numpang, nggak tau malu lagi!! Pergi Lo dari rumah gue!"


Sontak Ayu menatap Brian dengan tatapan sedih. Ia bukannya tak tau malu, datang ke sini saja ia sudah mempertaruhkan harga dirinya. Ia hanya mencoba mengabdi pada sosok yang secara adat sudah menjadi suaminya ini.


"Bri! Jaga bicaramu!" balas Diana.


"Udah ah, Bri malas di sini!" Brian langsung naik ke lantai atas meninggalkan kedua orang tuanya dan juga Ayu yang saat ini hatinya terasa terkoyak-koyak.


Diana dan Roby hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Brian seperti itu.

__ADS_1


"Nggak usah dengerin omongan Bri, nanti dia juga bakalan nerima kamu, kamu cantik kok, percaya aja sama mama," ujar Diana sembari mengelus belakang kepala Ayu dan tersenyum.


"Makasih, ma," jawab ayu dengan mata berkaca-kaca, tak menyangka ada yang menyayanginya dengan tulus seperti ini.


"Yaudah, kamu istirahat sana ke kamar, kamu pasti capek. Nanti malam kita makan bersama, bibi Arum sedang menyiapkannya," ujar Diana.


"Baik, Ma. Kalau gitu Ayu pamit ya."


"Iya, silahkan istirahat."


Setelah makan malam semuanya kembali ke kamar masing-masing. Brian dan Ayu tidak sekamar, jelas alasannya yaitu Brian tak mau berbagi kasur dengan gadis lugu itu.


Ayu membuka kepangan rambut dan mengurainya. Ia menatap gambar dirinya dari pantulan cermin di hadapannya kini.


Tak ada yang salah dari penampilannya. Wajahnya putih mulus, badannya berisi sintal sangat nyaman untuk dipeluk, rambutnya yang terurai menambah aura kecantikannya.


Cekrek!


Ayu terkejut saat pintu kamarnya terbuka.


Brian sejenak tercengang melihat penampilan Ayu. Ia tak menyangka Ayu secantik ini dengan style gadis kota.


Tadi Diana meminta Ayu untuk mengenakan pakaian yang baru saja dibelinya. Saat akan tidur, Ayu mencoba mengenakannya dan memperhatikan penampilannya dari balik cermin.


Ayu masih tertunduk, sedangkan Brian masih terdiam sampai akhirnya ia tersadar.


"Sekarang Lo kemas semua pakaian Lo! Lo ikut gue, cepatan!!" pinta Brian dengan raut wajahnya yang tajam.


Ayu memberanikan diri menatap Brian. "Ikut ke mana?" tanya Ayu khawatir.


"Ga usah banyak tanya! Lo ikutin aja maunya gue!"


"Tapi-"


"Ga ada tapi-tapian! Cepatan ikutin kata gue!!" bentak Brian, tapi nada suaranya kecil agar tidak terdengar orang tua maupun pembantu rumahnya.


Ayu sedikit ragu, tapi Brian memaksanya untuk segera mengemas semua pakaiannya ke dalam tas.

__ADS_1


"Cepatan!!" ujar Brian sembari menarik dengan kasar tangan Ayu menuju ke luar rumah, tepatnya ke halaman depan. Sesekali mata Brian mencoba mengawasi untuk memastikan tidak ada yang melihat perbuatannya pada Ayu.


"Tanganku Sakit," rengek Ayu karena Brian mencekam tangannya dengan keras.


"Lo Jagan coba-coba teriak, atau Lo gue pukulin!" ancam Brian.


Ayu hanya bisa menahan rasa sakit di lengannya.


Sesampai di luar pagar pembatas rumahnya dan jalan raya, Brian menghempaskan lengan Ayu dan melempar tas pakaian di dekat yang punya.


"Lo tau kan apa maksud gue bawa Lo keluar dari rumah gue?!"


Ayu hanya menunduk sedih.


"Sekarang juga Lo pergi dari rumah gue, dan jangan kembali lagi! Lo bakal nyusahin keluarga gue kalau Lo masih di sini! Mending Lo jual diri biar Lo ada penghasilan dan nggak ngerepotin orang lain!"


Deg!


Ayu menatap tak percaya dengan kata-kata Brian barusan, seketika cairan bening meluncur bebas dari matanya.


Sehina itukah dirinya? Sekotor apakah dirinya sehingga ia ditawari untuk menjual dirinya sendiri?


Ayu hanya mampu menangis mendengar hinaan itu. Bukan tak mampu melawan, hanya saja ia harus sadar diri setelah diperlakukan Brian seperti ini. Berarti dirinya memang akan jadi benalu bila ia terus di sini.


"Ingat, jangan kembali lagi!!" ujar Brian sembari menutup gerbang rumahnya.


Cukup lama Ayu memandangi rumah megah tersebut. Perasaannya sedih. Bukan karena harus meninggalkan megahnya rumah yang ia masuki barusan, tetapi Diana dan Roby yang baru saja ia kenalin bisa memberikan kebahagiaan dalam hatinya. Tapi sayang, hanya sebentar. Kini ia harus kembali kehilangan kebahagiaannya.


Cuaca yang sebelumnya hanya mendung bergerimis kini berganti menjadi gemercik hujan yang siap membasahi apa saja yang dilaluinya.


Ayu lantas menenteng tasnya dan berbalik badan, entah kemana ia akan pergi, hanya mengikuti kemana kakinya akan melangkah.


Sesekali ia menyapu air matanya yang tersamar air hujan.


Menangisi semua takdir hidupnya. Mulai dari ditinggal kedua orang tuanya dalam waktu bersamaan, menjual rumah untuk melunasi hutang-hutang kedua orang tuanya, tinggal di rumah kepala adat yang sering memperlakukannya seperti budak, sampai harus dipaksa menikah dengan lelaki seperti Brian. Meskipun ia kagum pada Brian, tapi ia belum kenal seutuhnya pria itu.


"Ya Tuhan... Jika memang aku dilahirkan untuk menderita, maka kuatkanlah Aku," Raung ayu di tengah guyuran hujan yang semakin deras.

__ADS_1


Tak ada niatan untuk berteduh. Ayu terlena akan kesedihan yang kini menguak dalam hati dan pikirannya. Ia benar-benar melangkah tanpa arah, hanya pasrah pada takdir Tuhan.


__ADS_2