
Brian memacu kendaraan dengan sangat cepat untuk menuju caffe tadi yang merupakan caffe milik teman pacarnya.
Ya, Dirga adalah teman Caca. Brian tidak terlalu akrab dengan Dirga, hanya sebatas mengenalinya saja.
"Heh... Ternyata Lo nggak bisa pulang kampung, masih nyangkut di kota ini!" gumam Brian sembari tersenyum licik.
"Memang gadis kampungan! Bisa-bisanya nyusahin gue, awas aja Lo! Gue nggak main-main buat ngehancurin Lo!" tekad jahat Brian.
Sesampainya di Dirga's Caffe, Brian langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam caffe.
Melihat Ayu yang tengah meletakkan minuman ke meja pengunjung, Brian dengan cepat menghampiri dan menarik tangannya.
"Aww sakit!" keluh Ayu. Seketika nampan kosong ditangannya terjatuh ke lantai.
Pengunjung tersebut hendak menolong, tetapi Brian dengan cepat menarik Ayu keluar dari caffe tersebut.
"Sekarang juga Lo ikut gue!" paksa Brian sambil menarik tangan Ayu menuju mobilnya.
Ayu yang terkejut dengan kedatangan Brian tentu menolak.
"Nggak mau!" tolak Ayu sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Brian.
Cengkraman tangan Brian jauh lebih kuat dari tenaganya. Ia sudah berusaha sekuat tenaganya, tetap saja cengkraman itu tak terlepas, meskipun sudah ia pukuli berkali-kali tangan Brian.
"Woi! Lo apain karyawan gue?!" teriak Dirga dari dalam caffe, seketika puluhan pasang mata pengunjung menatap ke arah mereka.
Sembari berjalan ke luar caffe, Dirga menatap pria yang menarik tangan Ayu tak asing lagi di matanya.
"Oh Lo pacarnya Caca! Ngapain Lo kasar sama karyawan gue?! Dia cewek Loh, nggak seharusnya Lo kasar sama dia!"
"Lo diam aja! Gue nggak ada urusan sama Lo! Gue ada urusan sama nih cewek!" sahut Brian congkak.
Dirga tertawa remeh dengan jawaban Brian.
"Gimana gue mau diam, dia karyawan gue jadi gue bertanggung jawab untuk semua karyawan gue! Sedangkan Lo siapa?! Ngapain Lo kasar sama karyawan gue? Pengecut banget Lo!" caci Dirga.
"Gue...." Brian tak jadi mengatakan yang sebenarnya kalau dirinya adalah suami dari gadis itu.
Ayu terdiam menunggu kelanjutan perkataan Brian, meskipun tangannya masih terasa sakit dalam genggaman Brian. Ia menunggu Brian mengakui dirinya.
"Lo siapa ha?!" tegas Dirga lagi.
"Lo nggak harus tau siapa gue. Yang jelas cewek ini punya hutang sama keluarga gue sebesar 50 juta!" tuduh Brian.
Ayu membulatkan matanya mendengar hal itu. Bisa-bisanya ia dituduh memiliki hutang sebanyak itu, padahal sepeserpun tak pernah ia meminta pada keluarga Brian.
"Emangnya nih cewek ngutang apaan sama keluarga Lo?!" tanya Dirga.
"Kok Lo kepo banget jadi orang?! Emangnya Lo mau bayarin hutangnya?!" cecar Brian.
"Bukan gitu, Bro. Masalahnya, pas gue nemuin nih cewek dia nggak punya apa-apa, jangankan uang sebanyak itu, handphone aja dia nggak punya, Lo yang benar dong!" sanggah Dirga.
"Yaudah kalau Lo nggak mampu bayar, mending Lo jangan ikut campur urusan gue! Kalau masalahnya udah kelar gue balikin cewek jelek ini sama Lo! Gue nggak mau cewek bekas Lo!" Brian kembali menarik tangan Ayu sedangkan Ayu masih berusaha berontak.
"Sialan! Mulut Lo dijaga ya! Liat aja, di tangan gue Ayu bakalan jadi bidadari, gue pastiin Lo bakal nyesel udah menghina fisiknya itu!" ujar Dirga.
Brian tak menghiraukan kata-kata Dirga. Ia langsung saja membuka pintu mobil dan memaksa Ayu masuk ke dalam mobilnya. Ia pun menyusul ke kursi depan.
"Awas aja Lo nggak balikin karyawan gue! Gue susul ke rumah Lo!" teriak Dirga.
Dirga bukannya tak mau menolong Ayu lagi, akan tetapi ia membiarkan Ayu menyelesaikan permasalahan itu dengan keluarga Brian, kalau memang Ayu punya hutang sebanyak itu, maka ia rela menguras tabungannya untuk menebus hutang tersebut. Biarlah Ayu menyelesaikan permasalahan mereka.
Dirga sepertinya tak menaruh rasa pada Ayu, tetapi rasa belas kasihannya pada gadis itulah yang membuat ia seolah-olah menyukai gadis itu, padahal mereka baru bertemu semalam, mana mungkin cinta tumbuh secepat itu.
__ADS_1
Ayu masih berusaha membuka pintu mobil. Sialnya ia tak tahu di mana letak knop untuk membuka pintu mobil itu.
"Mau ngapain Lo?!" bentak Brian.
"Aku nggak mau ikut kamu, aku mau turun, aku mau kerja kagi," rengek Ayu berusaha keluar dari mobil itu.
"Nggak bisa! Lo harus ngerasain juga penderitaan gue! Gegara Lo gue ditampar sama Bokap gue, dan Lo harus ngerasain juga!"
"Aku nggak mau, aku takut," rengek Ayu semakin cemas. Tapi sayang, mobil sudah bergerak meninggalkan tempatnya bekerja.
Lelehan air matannya semakin menjadi. Entah apa yang membuatnya sangat takut untuk bertemu keluarga Brian lagi, padahal kemarin mereka bersikap baik pada dirinya.
"Pakaian aku masih di sana, ayo kita balik," ajak Ayu diiringi Isak tangisnya.
"Ogah! Ngapain juga gue balik, yang ada perang mulut gue sama Dirga! Lagipula Lo nangisin apaan sih?! Pakaian jelek kayak gitu masih aja Lo tangisin, mending bakar aja!" ucap Brian remeh.
Ayu memandang belakang Brian dengan tatapan tak suka.
"Kamu jahat! Nggak punya etika! Percuma kuliah, tapi nggak bisa menghargai orang lain!" caci Ayu. Baru kali ini ia berani mengeluarkan unek-unek di kepalanya kepada Brian.
"Ouww... Udah berani Lo ya sama gue!! Udah berani ngelawan nih?!!" ujar Brian sembari memelankan dan meminggirkan mobilnya.
Setelah berhenti, Brian beralih ke kursi belakang dan mencengkram pipi Ayu dengan sangat kasar
"Berani ya Lo sama gue!!" gusar Brian.
Ayu terdiam menahan sakit. Ia lupa kalau dirinya hanya seekor kelinci, sedangkan yang ia lawan adalah singa jantan yang buas.
"Kenapa diam?! Ayo ngomong lagi! Biar gue habisin Lo sekarang!" ancam Brian.
Ayu tetap terdiam. Rasa sakit kini menjalar hampir di seluruh tubuhnya. Brian memang kasar kepadanya, bagaimana bisa ia menaruh hati untuk pria sekejam itu?
"Sekali lagi Lo ngomong, gue habisin nyawa Lo!" ujar Brian sebelum akhirnya ia kembali ke posisinya semula.
"Yang Lo rasain belum sebanding dengan yang gue terima dari bokap gue!" ujar Brian, merasa seolah tamparan dari papanya tadi pagi adalah siksaan paling buruk, padahal yang ia lakukan pada Ayu sudah lebih menyakitkan.
Ayu tak mengerti apa salahnya sehingga Brian setega dan sejahat ini pada dirinya.
Apa salahku padamu, sehingga kau siksa aku seperti ini? Batin Ayu diiringi bulir bening yang meluncur bebas di pipinya.
Sesampainya di rumah Brian, hari pun sudah gelap.
Ayu turun dari mobil setelah pintu dibukakan oleh Brian.
"Dengerin gue! Awas aja Lo ngadu sama papa atau mama, Lo bakal tau akibatnya kalau Lo berani ngadu!" ancam Brian sambil menatapnya tajam.
Ayu hanya mengangguk dengan ekspresi ketakutan.
"Hapus air mata Lo! Gue nggak mau mereka tau kalau gue buat Lo nangis!"
Ayu pun menghapus air matanya, meskipun sudut matanya masih basah.
Kemudian Brian menuntun Ayu masuk ke rumahnya. Rumah yang baru saja ia tinggalkan semalam, kini ia kembali lagi ke rumah ini.
Kemarin ia datang dan disambut baik oleh orang tua Brian. Kini ia datang lagi dan siap bila harus ditampar oleh papanya Brian, karena kata Brian dirinya harus merasakan apa yang ia rasa.
"Sini tangan Lo!" ujar Brian.
Ayu menatap bingung, kemudian mengulurkan tangannya.
Tak disangka, Brian menggenggam tangannya dengan penuh kelembutan.
"Lo jangan geer, ini cuma akting aja!" jelas Brian.
__ADS_1
Ya Tuhan ini drama apa lagi? Kenapa harus akting? Apakah ini tidak bisa dilakukan Brian secara tulus? batin Ayu.
"Muka Lo ceria dikit deh! Udah jelek, culun, cengeng lagi!" caci Brian dengan nada bercanda, tapi bagi Ayu hal itu adalah hinaan baginya.
Ayu pun mengikuti perintah Brian padanya. Ia membentuk sebuah senyuman di bibirnya, meskipun itu terpaksa.
Setelah itu, Brian menyelipkan jari jemari tangannya ke tangan Ayu, sungguh ayu tak kuasa menahan gejolak cinta di hatinya. Terasa menenangkan dan menyejukkan, sayangnya hanya akting belaka.
Mereka pun masuk ke rumah dengan tangan yang saling bergenggaman.
Bukannya ayu tak ingin menolak perlakuan Brian, hanya saja jika ia melawan Brian akan menyiksanya lagi. Oleh karena itu ia hanya pasrah pada kata-kata Brian.
"Ma, Pa! Nih Bri udah nemuin Ayu!" teriak Brian dari ruang tamu.
Roby dan Diana yang masih di dapur segera menuju ruang tamu.
Dengan segera, Diana menghampiri Ayu dan membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang, "Kamu ke mana aja, Nak? Kami semua mencarimu," cemas Diana.
Brian menginjak kaki Ayu agar tak mengatakan yang sebenarnya tentang apa terjadi semalam.
"A- Ayu mencari rumah teman Ayu di sini, Ma," jawab Ayu berdusta.
"Lho, katanya Brian yang usir kamu?" ujar Diana.
"Udahlah, Ma. Nggak perlu bahas itu lagi, yang penting kan Ayu udah ketemu," potong Brian.
"Hm... Yaudah, sekarang kamu mandi, makan habis itu kita mau ngobrol. Kamu juga Bri, Mama sama Papa mau ngomongin sesuatu," ujar Diana pada Ayu dan Brian.
"Baik, Ma," ujar Brian lalu langsung meninggalkan mereka menuju kamarnya.
"Ayu permisi, Ma, Pa," ucap Ayu berpamitan menuju kamarnya semalam.
Selesai mandi, Ayu mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Bi Arum. Ia merasa tak enak diperlakukan seperti itu. Ia tak terbiasa dilayani.
"Bi Arum, tidak perlu repot-repot seperti itu, Ayu bisa siapkan sendiri kok."
"Tidak apa-apa, Non Ayu. Saya membantu Non Ayu biar tidak canggung di sini, takutnya Non Ayu nggak berani ngapa-ngapain di rumah ini," jawab Bi Arum.
"Terima kasih, Bi Arum," ucap Ayu sembari tersenyum kepada pembantu rumah itu.
"Sama-sama Neng cantik. Non Ayu memang sangat cantik, sesuai dengan namanya, Ayu!" puji Bi Arum.
"Bibi bisa saja," ucap Ayu tersipu malu
"Bibi minta maaf ya Non, karena semalam nggak nolongin Non Ayu," ucap Bi Arum.
Ayu menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan perlahan sembari tersenyum, "tidak apa-apa, Bi. Justeru saya yang harusnya minta maaf karena sudah masuk ke keluarga ini. Siapakah diri saya, hanya gadis desa yang kampungan, lugu, jelek, dan tidak berguna bagi mereka, pantas saja Tuan Dirga membenci saya, karena tidak sebanding dengan dirinya," ujar Ayu merendah.
"Den Dirga sebenarnya orang yang baik, Non. Saya turut merawatnya sedari dia masih balita, memang dia sedikit keras kepala, tetapi dia punya hati yang tulus pada orang yang dicintainya."
"Saya juga sadar diri kok, Bik. Kami menikah karena terpaksa. Saya tau Tuan Brian tidak mencintai saya dan seterusnya saya rasa hati Tuan Brian bukan untuk saya, melainkan untuk orang lain," sahut Ayu.
"Bagaimana ceritanya kalian bisa kedapatan berduaan dalam kamar? Maaf Non, Bibi hanya bertanya."
"Waktu itu Tuan Brian sedang mabuk karena meneguk tuak. Ketika itu ada warga yang meminta saya untuk menolong dan merawat Tuan Brian agar tidak muntah di sembarang tempat, makanya saya bawa dia ke kamar balai desa. Saya baringkan dia di kamar itu, entah kenapa pintu tiba-tiba terkunci sampai akhirnya pintu didobrak oleh kepala adat, kami tidak berbuat apa-apa di kamar itu, tapi kami dijatuhi sanksi adat. Kami dinikahkan malam itu juga, sebenarnya saya tidak mau, karena saya tak kenal dengan baik Tuan Brian. Tuan Brian pun tidak mau, kamu dinikahkan secara paksa! Mungkin karena itu, sepertinya Tuan Brian membenci saya, sehingga dia mengusir saya semalam," jelas Ayu pada Bi Arum.
Bi Arum mendengar dengan seksama cerita dari Ayu, sesekali kepalanya mengangguk penuh perhatian.
"Memang sulit kita melawan tuduhan orang-orang pada kita, meskipun kita benar, orang tatap memandang kita berbuat yang tidak baik. Saran Bibi untuk Non Ayu, jangan khawatir di sini. Selagi masih ada Bibi, Non Ayu jangan sungkan untuk bercerita pada Bibi. Bibi juga asalnya dari pedalaman sana, jadi bibi paham kentalnya adat istiadat di pedesaan sana," nasihat Bi Arum.
"Ya sudah Non, ayo makan malam dulu, Pak Roby dan Bu Diana pasti sudah menunggu," potong Bi Arum.
"Baiklah, Bi. Ayo kita ke dapur."
__ADS_1